Ayah Ariska

2292 Words

Setelah membeli minyak untuk dioleskan di tanganku yang kebiruan, kami pergi ke tempat menambal ban. Ayah Ariska bilang kalau sepeda Kak Reda terkena paku sehingga bannya kempes. Selama menunggu, Ayah Ariska terus menanyakan apa yang kumau dan tidak membiarkanku menjauh darinya. “Ute, jangan ke jalan, banyak mobil!” larang Ayah Ariska saat aku menghampiri Kak Reda yang sedang memperhatikan sepeda. “Ute diem di situ aja sama Paman, biar kakak aja yang di sini liatin sepeda,” titah Kak Reda sambil membuat gerakan mengusir dengan tangannya. Ayah Ariska menghampiriku dan menggendongku, tubuhnya yang tinggi seperti Om Randi membuatku merasa seperti terbang. Ayah Ariska mengajakku berjalan ke sekitar, sinar matahari sore yang cukup menyengat membuat kami berlindung di bawah sebuah pohon yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD