Pagi yang Memerah

1238 Words

Tepat saat matahari penuh muncul dari horizon. Cahaya keemasan menyinari wajah tampannya. Tangannya memegang pisau yang masih berdarah. Detak nafasnya tenang, dan sorot matanya tajam, terasa sunyi namun penuh badai. Raja sang pembunuh telah tewas. Satu nyawa berakhir, di bawah mentari yang baru lahir. Tapi Jaka tak sempat berpikir lama. Dari kejauhan, ia mendengar suara langkah. Tiffany… masih bertarung dengan Raju. "Tiffany...!" Dengan kaki yang tertatih tapi tekad sekeras baja, Jaka berlari ke arah suara pertempuran berikutnya. Di belakangnya, ombak menghantam jasad Raja, menarik perlahan tubuhnya ke arah laut. Seolah dunia ingin menghapus jejaknya... larut dalam keindahan sunrise yang pura-pura tak berdosa. Pertarungan semakin sengit. Pasir beterbangan, suara pukulan dan tendangan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD