Tiffany duduk bersandar di batang kelapa yang tumbuh condong ke arah laut. Matanya menatap kosong ke cakrawala, di mana langit dan laut tampak menyatu dalam bayangan biru kelabu. Angin pantai menyapu lembut rambutnya yang terurai, membuat beberapa helai menari-nari di wajahnya yang muram, larut dalam pikiran yang sulit untuk diterka. Ia mengingat kembali bagaimana momen itu hampir sempurna. Saat Jaka menatapnya dalam-dalam, saat wajah mereka perlahan mendekat, saat dunia seakan berhenti berdetak. Tapi tiba-tiba, sang pujaan hati mundur tanpa sepatah kata pun, seolah menolak hati yang akan menyatu - seperti seseorang yang menarik kembali harapan dan pelukan. "Kenapa, Jaka...? apakah aku bukan pilihanmu...? Pertanyaan yang terus bergema dalam benaknya. Namun dalam hatinya. Tiffany juga ta

