Hujan turun pelan membasahi kaca jendela kafe di sudut kota Jakarta. Lampu temaram dan musik jazz lembut membuat suasana terasa hangat, namun di sudut ruangan paling sepi, dua sosok tampak duduk berhadapan dengan wajah serius — Gilbert dan Sherly. Gilbert memandang pria di depannya dengan senyum tipis, jemarinya menggenggam cangkir kopi yang sudah mulai dingin. “Sudah kubilang, bekerja dengan wanita itu bukan ide yang buruk kan?” ujarnya pelan, mata indahnya menatap Gilbert penuh arti. Gilbert mencondongkan tubuh, berbicara lirih. “Aku tahu, Sher. Semua berjalan sesuai rencana. Nancy sudah semakin percaya padaku. Dan sekarang, dia bahkan mulai menyerahkan urusan keuangan pribadi ke tanganku.” Sherly tersenyum miring, matanya berkilat licik. “Bagus. Itu berarti langkah kita tinggal satu

