Di layar televisi, tampak sosok gagah: Inspektur Jaka Permana. Wartawan sedang mewancarainya, menanyakan perasaannya menjelang keberangkatannya menuju ibukota. Dengan suara tegas dan penuh wibawa, Jaka menjawab: "Saya hanya menjalankan tugas. Dimanapun ditempatkan, saya akan tetap berdiri melawan setiap kejahatan. Jakarta membutuhkan kami, dan saya selalu siap." Nancy sontak terpaku. Matanya membesar, tangannya bergetar samar. Ingatan lima tahun lalu berkelebat jelas--detik-detik di tepi jurang, pistol para perampok, lalu sosok pemuda yang tubuhnya bersimbah darah namun tetap berjuang melindungi mereka. Hatinya berguncang, napasnya tercekat. "Jaka... kau akhirnya kembali lagi. Detektif pemberani yang namanya tak lekang oleh waktu - putriku Tiffany selalu memujamu sampai sekarang," bisik

