Tiga hari telah berlalu sejak panggilan pertama dari Somalia. Di ruang keluarga yang luas namun kini terasa dingin, Nancy Purnama duduk memandangi layar laptop yang menampilkan wajah kasar seorang pria kulit hitam berambut gimbal, mata tajam seperti elang lapar. Di belakangnya tampak lautan, dan dua sosok yang diikat: Tiffany dan Jaka, keduanya tampak kelelahan tapi masih selamat. Juru bicara perompak dengan berlogat keras: “Madam Nancy, waktu Anda habis. Di kapal kami, setiap menit bernilai mahal. Apakah uangnya sudah siap?” Nancy menatap ke arah Gilbert yang berdiri di belakangnya, tangannya menggenggam erat bahunya. Suara Nancy serak namun tegas. “Uang seratus lima puluh ribu dolar... sudah siap. Kami ingin mereka dibebaskan semuanya.” Juru bicara perompak: “Seratus lima puluh ribu

