Koridor rumah sakit selalu identik dengan warna putih. Putih yang mengingatkan pada kesucian, pada kebersihan, pada awal yang baru. Tapi juga putih yang mengingatkan pada kekosongan, pada ketiadaan, pada akhir yang tidak diinginkan.
Kududuk gelisah di kursi tunggu poli saraf, tasbih mungil berputar tanpa henti di antara jemariku. Setiap butir yang kulewati adalah doa yang kupanjatkan dalam diam. Sudah dua jam Rafli berada di dalam, menjalani serangkaian pemeriksaan yang bahkan tak berani kutanyakan detailnya. CT scan, MRI, dan entah apalagi nama-nama prosedur yang terdengar asing namun menakutkan.
"Minumlah dulu."
Bibik Maryam menyodorkan segelas teh hangat. Wajahnya teduh meski gurat kecemasan tak bisa disembunyikan dari kerutan di sekitar matanya. Ia adalah tiang penyangga Rafli selama ini—bibi yang merawatnya sejak ibu Rafli meninggal dan satu-satunya kerabat yang tersisa setelah ayahnya tiada.
"Terima kasih, Bik," jawabku, menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Sudah terlalu lama, ya? Apa biasanya selama ini?"
Bibik Maryam tersenyum tipis. "Dokter Salma sangat teliti. Dia sudah menangani Rafli sejak kecil." Tangannya yang berkeriput mengusap lenganku lembut. "Kau sangat berarti baginya, kau tahu?"
Kurasakan hangat menjalar di wajahku. "Kami hanya rekan proyek, Bik."
"Nak Zahra," Bibik Maryam menatapku dalam-dalam, "Sejak kecelakaan itu, Rafli tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam lingkaran kecilnya. Tidak ada teman dekat selain Andi, tidak ada gadis yang dikenalkannya pada saya." Ia menggenggam tanganku. "Kau yang pertama."
Tenggorokanku tercekat. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan, namun tertelan kembali saat pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka.
Rafli keluar dengan langkah berat. Wajahnya pucat, lebih pucat dari biasanya. Kemeja putih Seninnya tampak terlalu longgar, seolah tubuhnya menyusut dalam hitungan hari. Di belakangnya, seorang dokter wanita berjilbab rapi memberi isyarat pada Bibik Maryam untuk masuk ke ruangan.
"Bagaimana?" tanyaku, beranjak menghampiri Rafli yang kini duduk dengan pandangan kosong.
"Tidak baik," jawabnya singkat. Tangannya bergetar saat mengusap wajahnya. "Tumor itu tumbuh lebih cepat dari perkiraan awal."
Dunia di sekelilingku seolah berputar. Ruangan putih itu mendadak terasa mencekik, aroma antiseptik menusuk-nusuk hidungku dengan kejam.
"Tapi masih bisa dioperasi, kan?" desakku, suaraku terdengar jauh seperti bukan milikku sendiri.
"Bisa," jawabnya datar. "Tapi risikonya lebih besar sekarang. Dan waktu pemulihannya lebih lama."
"Berapa lama?"
"Minimal tiga bulan untuk pulih total."
Tiga bulan. Kompetisi final hanya dua bulan dari sekarang. Jika Rafli menjalani operasi segera, ia tidak akan bisa hadir saat presentasi akhir.
"Kau harus melakukannya," ucapku tegas, menggenggam tasbih semakin erat. "Secepatnya."
Rafli mengalihkan pandangan, matanya tertuju pada dinding putih di hadapan kami. "Dokter Salma menyarankan minggu depan."
"Bagus. Kita akan mengatur semuanya."
"Tapi presentasi tahap pertama besok lusa."
Hatiku mencelos. Benar. Besok lusa adalah penjurian tahap pertama—penentu apakah proyek kami lolos ke tahap final atau tidak. Tanpa kehadirannya, peluang kami berkurang drastis.
"Kita bisa minta penundaan," usulku putus asa. "Prof. Haidar pasti mengerti—"
"Tidak," potongnya, suaranya mengeras. "Aku akan hadir. Mempertahankan konsep kita. Baru setelah itu..." ia menelan ludah dengan susah payah, "...aku akan menyerahkan semuanya padamu."
Ingin rasanya aku membantah, memaksanya mendahulukan kesehatan di atas segalanya. Tapi sorot matanya—sorot tekad yang berpadu dengan ketakutan—membuatku terdiam. Aku pernah melihat sorot yang sama di mata Kak Salma, dulu, saat ia bersikeras pergi ke Madura meski Ibu menahannya.
"Baiklah," bisikku. "Tapi kau harus berjanji bahwa setelah presentasi, kau akan langsung menjalani operasi itu. Tak peduli hasilnya."
"Aku berjanji."
Entah keberanian dari mana, tanganku bergerak meraih tangannya yang terkulai lemah di kursi. Untuk pertama kalinya, aku menggenggam tangan Rafli—tangan yang selama ini selalu menjaga jarak, selalu menghindari sentuhan. Kurasakan keterkejutannya, tapi ia tidak menarik tangannya. Alih-alih, jemarinya perlahan membalas genggamanku.
Ribuan volt seolah menyengat tubuhku. Namun bukan rasa sakit yang kurasakan, melainkan kehangatan yang asing namun menenangkan. Tangannya yang dingin dalam genggamanku adalah pengingat akan rapuhnya kehidupan, akan sementaranya keberadaan kita di dunia fana ini.
"Zahra! Apa yang kau lakukan?"
Suara itu menghantamku seperti air es. Dengan gerakan refleks, kulepaskan tangan Rafli dan menoleh ke arah sumber suara.
Farah berdiri di ujung koridor, matanya membelalak tidak percaya. Di sampingnya, Gita tersenyum sinis, ponsel terangkat seolah baru saja mengabadikan momen tadi.
"Jadi ini yang kau lakukan ketika bilang sedang mengerjakan proyek?" Farah melangkah mendekat, kekecewaan tergambar jelas di wajahnya. "Berduaan dan berpegangan tangan dengan lelaki yang bukan mahram?"
Wajahku terbakar oleh rasa malu dan panik. "Farah, ini tidak seperti yang kau kira. Rafli baru selesai pemeriksaan, dan—"
"Dan kau lupa semua nilai yang selama ini kau pegang?" potongnya tajam. "Kau selalu jadi teladan bagi kami semua, Zahra. Penghafal Al-Quran yang selalu menjaga adabnya."
Setiap kata Farah menghujam seperti jarum. Bukan karena ketidakbenarannya, tapi justru karena kebenaran yang terkandung di dalamnya. Aku memang telah melanggar batas yang selama ini kujaga ketat.
"Ini memang salahku," ucapku pelan, menundukkan kepala. "Astaghfirullah."
"Jangan salahkan Zahra," suara Rafli memecah ketegangan. Ia berdiri dengan susah payah, tubuhnya sedikit terhuyung. "Dia hanya mencoba menenangkanku setelah diagnosis—"
"Cukup dramanya," potong Gita, melangkah maju dengan anggun. "Aku tidak peduli dengan urusan pribadi kalian. Yang kupedulikan adalah fakta bahwa kalian berdua berusaha menghalangi proyek ayahku dengan memasukkan madrasah tua itu ke dalam desain kalian."
Jantungku berdegup kencang. Bagaimana Gita bisa tahu?
"Madrasah itu layak diselamatkan," jawabku, berusaha mengalihkan topik dari kesalahanku tadi. "Puluhan anak membutuhkannya."
Gita tersenyum—senyum yang tidak mencapai matanya. "Terserah. Tapi ketahuilah, besok lusa bukan hanya desain kalian yang akan dinilai, tapi juga kelayakan moral perancangnya." Ia menggoyangkan ponselnya. "Bagaimana menurutmu jika juri tahu bahwa salah satu finalis memiliki... hubungan tidak pantas?"
"Kau mengancam kami?" Rafli maju selangkah, tangannya terkepal.
"Aku hanya menyatakan fakta," balas Gita ringan. "Ayolah, selesaikan saja dengan baik-baik. Tarik keterlibatan madrasah itu dari proyek kalian, dan foto ini akan aman bersamaku."
Aku terpaku. Inilah dilema yang tidak pernah kubayangkan akan kuhadapi—antara menjaga reputasiku sebagai muslimah teladan atau memperjuangkan keadilan bagi madrasah itu.
"Pikirkan baik-baik," Gita berbalik pergi. "Kutunggu keputusan kalian besok."
Farah menatapku sekali lagi, kekecewaan masih tergambar jelas di matanya, sebelum melangkah mengikuti Gita.
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti kami. Rafli kembali duduk, kepalanya tertunduk dalam.
"Maafkan aku," bisiknya. "Aku menyeretmu ke dalam masalah."
"Tidak," bantahku, suaraku pecah. "Aku yang memulainya. Aku yang melanggar batasku sendiri."
Kami terdiam lagi. Di ruangan serba putih itu, di bawah lampu neon yang menyilaukan, rasanya kami telah kehilangan arah. Perjuangan untuk madrasah itu, perjuangan untuk mimpi Kak Salma dan Pak Arman, kini terancam oleh kesalahan kami sendiri.
Saat Bibik Maryam keluar dari ruangan dokter, wajahnya terkejut melihat kami yang terdiam seperti patung.
"Ada apa?" tanyanya khawatir.
Aku menggeleng lemah. "Tidak ada, Bik. Hanya... sedikit masalah proyek."
Tapi di kedalaman hatiku, aku tahu ini lebih dari sekadar "sedikit masalah". Perasaanku pada Rafli telah tumbuh melebihi batas wajar rekan kerja. Dan sekarang, perasaan itu mungkin akan menghancurkan segalanya.
Putih di sekelilingku kini terasa mengancam. Putih yang mengingatkan pada kesucian yang ternoda. Pada keikhlasan yang tergoyahkan. Pada perjuangan yang mungkin akan berakhir bahkan sebelum dimulai.