BAB 11: KABUT YANG MULAI TERANGKAT

1141 Words
Detik-detik setelah mematikan panggilan dengan Ayah, sesuatu berubah di antara kami. Seperti pintu yang sedikit terbuka, membiarkan cahaya merembes dari celahnya. Rafli berjalan di sampingku, tatapannya menerawang ke langit malam yang berbintang. Bibirnya sesekali bergerak, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri—kebiasaan yang kudapati semakin sering ia lakukan belakangan ini. "Ayahmu tidak seperti yang kubayangkan," ujarnya memecah keheningan. "Memangnya kau membayangkan apa?" tanyaku penasaran. "Entahlah. Mungkin sosok yang lebih..." ia menggerakkan tangannya mencari kata yang tepat, "...keras? Tegas? Kakakmu selalu bercerita tentang betapa disiplinnya didikan pesantren." Senyum terbit di bibirku. "Abah memang tegas, tapi dengan cara yang lembut. Beliau percaya bahwa kelembutan lebih efektif daripada kekerasan dalam mendidik." Kami mencapai pertigaan jalan. Ke kiri menuju asramaku, ke kanan menuju kosannya. "Terima kasih sudah memperkenalkanku pada ayahmu," ucap Rafli, tangannya kembali memainkan ujung kemejanya—kebiasaan saat ia merasa canggung. "Itu... berarti banyak bagiku." Ada sesuatu dalam nada suaranya—ketulusan yang jarang terungkap—yang membuat jantungku berdebar lebih kencang. Kutatap wajah Rafli dalam temaram lampu jalan. Garis-garis tegas rahangnya, mata yang selalu bergerak gelisah, dan bibir yang jarang tersenyum. Dalam keremangan ini, ia tampak lebih rapuh dari biasanya. "Kau baik-baik saja?" tanyaku, menyadari wajahnya tampak lebih pucat. "Hanya sedikit pusing," jawabnya, tangan kanannya menyentuh pelipis. "Sudah biasa." Tapi aku tahu itu tidak biasa. Semakin hari, tanda-tanda fisik kondisinya semakin sulit disembunyikan—lingkaran hitam di bawah matanya, pucat yang tidak alami, dan sering kali ia tampak kehilangan fokus di tengah pembicaraan. "Besok kita ke rumah sakit, kan?" tanyaku lembut, berusaha tidak terdengar khawatir. Ia mengangguk. "Insya Allah." Tatapannya teralih ke langit, seperti mencari sesuatu di antara bintang-bintang. "Tapi sebelum itu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat besok pagi. Sebelum Subuh. Bisa?" Keningku berkerut. "Sebelum Subuh? Ke mana?" "Kejutan," jawabnya singkat. "Aku akan menjemputmu di asrama pukul empat. Jika kau berminat." Aku ragu sejenak. Pergi dengan Rafli sebelum Subuh? Apa yang akan dikatakan Farah dan teman-teman asrama lainnya? Tapi rasa penasaran mengalahkan keraguan. "Baiklah. Aku akan siap pukul empat." Sebuah senyum tipis terlukis di wajah Rafli. "Pakai pakaian yang nyaman untuk berjalan. Dan bawa sajadah." *** Pukul empat pagi, Yogyakarta masih terlelap dalam gelap. Udara dingin membekukan setiap napas menjadi kepulan uap putih. Aku berdiri di depan asrama, mengenakan celana panjang dan tunik hangat berwarna hijau muda. Jilbab pastelku terasa menyerap dingin, membuatku menggigil sedikit. Dari kejauhan, sebuah sosok berjalan mendekat. Rafli, dengan jaket tebal dan ransel di punggungnya. "Kau datang," ucapnya, nada terkejut terdengar jelas dalam suaranya. "Tentu saja," jawabku, menyesuaikan langkah dengannya. "Kau pikir aku akan membatalkannya?" "Terkadang orang berubah pikiran." Kami berjalan dalam diam menyusuri jalanan sepi. Sesekali terdengar suara ayam berkokok dari kejauhan, menyambut pagi yang belum tiba. Langit masih gelap, tapi ada secercah kebiruan di ufuk timur—tanda fajar yang mulai merangkak. "Kita mau ke mana?" tanyaku, setelah lima belas menit berjalan menuju arah yang tidak pernah kukunjungi sebelumnya. "Ke tempat di mana Yogyakarta terlihat paling indah," jawabnya misterius. Lalu aku menyadari bahwa kami berjalan menuju sebuah bukit kecil di pinggiran kota. Jalannya menanjak, membuat napasku sedikit tersengal. Rafli melambatkan langkahnya, menyesuaikan dengan ritme langkahku. Setelah hampir empat puluh menit berjalan, kami sampai di puncak bukit kecil. Pemandangan yang menyambut membuat napasku tercekat. Dari sini, seluruh Yogyakarta terbentang—lautan lampu kecil berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Di kejauhan, siluet Gunung Merapi tampak samar, sementara kubah-kubah masjid berkilau memantulkan cahaya bulan yang hampir tenggelam. "Subhanallah," bisikku takjub. "Ini... luar biasa." Rafli tidak menjawab. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan dua sajadah dan termos kecil berisi teh hangat. Dengan hati-hati, ia menggelar sajadahnya menghadap kiblat, lalu menggelar sajadah satunya lagi di sampingnya dengan jarak yang cukup. "Dulu ayahku sering membawaku ke sini," ujarnya, suaranya bergetar sedikit. "Untuk melihat matahari terbit, lalu shalat Subuh bersama. Dia bilang, ketika kita berada di tempat tinggi dan melihat dunia dari atas, kita akan menyadari betapa kecilnya kita di hadapan Allah." Ini adalah kali pertama Rafli berbicara tentang ayahnya dengan nada seperti ini—penuh kerinduan dan kasih sayang. Selama ini, ayahnya hanya disebut dalam konteks kecelakaan dan proyek pesantren. "Dia pasti ayah yang luar biasa," ucapku tulus. Rafli mengangguk, tatapannya menerawang. "Dia satu-satunya yang memahamiku. Yang tidak menganggapku aneh atau cacat. Yang melihat kondisiku sebagai karunia, bukan kutukan." Perlahan, langit mulai berubah warna. Gelap pekat menjadi biru tua, lalu ungu kemerahan, dan akhirnya semburat jingga keemasan mulai menghiasi ufuk timur. Kami duduk dalam diam, menikmati pergantian warna yang menakjubkan itu. "Terima kasih sudah membawaku ke sini," bisikku, tidak ingin merusak keheningan yang khidmat. "Aku ingin berbagi tempat ini dengan seseorang yang mengerti," jawabnya, matanya masih menatap lurus ke depan. "Seseorang yang bisa melihat keindahan dalam diam." Jantungku berdegup kencang. Ada makna tersembunyi dalam kata-katanya, makna yang tidak berani kuartikan lebih dalam. Matahari mulai mengintip dari balik gunung, memancarkan sinar keemasannya yang pertama. Cahayanya menyentuh wajah Rafli, menyoroti garis-garis ketegasan yang selama ini tersembunyi di balik sikapnya yang sering kali dingin dan distraktif. Azan Subuh berkumandang dari berbagai penjuru kota, menciptakan harmoni spiritual yang indah. Rafli berdiri, menepuk-nepuk celananya dari debu. "Waktunya shalat," ucapnya singkat. Kami berdiri di atas sajadah masing-masing, terpisah jarak yang cukup, namun terhubung oleh intensi yang sama. Suara Rafli yang melantunkan takbir terdengar jernih dan dalam di udara pagi yang hening. Aku tidak pernah mendengarnya membaca Al-Quran sebelumnya, dan kenyataan bahwa bacaannya begitu indah dan khusyuk membuatku terpana. Selama ini, semua gosip tentangnya—bahwa ia jarang shalat, bahwa ia tidak religius—ternyata hanya prasangka. Di hadapanku berdiri seseorang yang shalatnya lebih khusyuk dari banyak orang yang kukenal. Setelah shalat, kami duduk kembali menikmati termos teh yang dibawa Rafli. Matahari kini telah sepenuhnya terbit, menyinari Yogyakarta dengan cahaya keemasan. "Zahra," Rafli memecah keheningan, "jika nanti... jika nanti aku tidak bisa menyelesaikan proyek ini..." "Jangan bicara seperti itu," potongku cepat, tidak ingin mendengar kelanjutannya. "Tidak, dengarkan dulu," ia bersikeras, untuk pertama kalinya suaranya terdengar mendesak. "Kita harus realistis. Tumorku bertumbuh lebih cepat. Bahkan dengan operasi, dokter tidak bisa menjamin..." "Rafli, kumohon," bisikku, air mata mulai menggenang. "Aku ingin kau berjanji," lanjutnya, tatapannya lurus ke arah matahari yang terbit. "Janji bahwa kau akan menyelesaikan pesantren ini. Bahwa mimpi Kak Salma dan ayahku tidak akan terkubur bersama kami." Dadaku sesak oleh emosi yang tidak bisa kubendung. Kami berdua terdiam, matahari semakin tinggi, menyinari air mata yang kini mengalir di pipiku. "Aku janji," bisikku akhirnya. "Tapi kau juga harus berjanji untuk berjuang. Untuk tidak menyerah pada penyakit ini." Rafli mengangguk perlahan. Lalu, dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyodorkan sapu tangan bersih ke arahku—tanpa menyentuhku, tapi cukup dekat untuk kuraih. "Terima kasih," ucapnya lirih. "Untuk segalanya." Di puncak bukit itu, di bawah sinar matahari pagi yang hangat, kabut yang selama ini menyelimuti sosok Rafli Arkananta mulai terangkat. Yang kulihat bukan lagi mahasiswa eksentrik dengan reputasi buruk, tapi jiwa yang mendalam, yang mencintai keindahan dan kebenaran dengan caranya sendiri. Dan mungkin, tanpa kusadari, hatiku mulai membuka ruang untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD