Ruang pertemuan fakultas terasa mencekam. Udara dingin dari pendingin ruangan menyapu tengkukku, membuat bulu kuduk meremang. Atau mungkin itu karena tatapan tajam Prof. Haidar yang tertuju padaku dan Rafli secara bergantian.
Di atas meja kayu jati yang memisahkan kami, tergeletak proposal revisi desain yang kami siapkan semalaman. Tinta pada beberapa lembar belum sepenuhnya kering—bukti kerja terburu-buru di tengah keputusasaan.
"Jadi kalian ingin mengubah seluruh konsep desain dua minggu sebelum penjurian tahap pertama?" Prof. Haidar mengusap jenggot putihnya perlahan. "Dan mengintegrasikan madrasah yang akan digusur ke dalam proyek kalian?"
"Bukan mengubah, Pak," Rafli menjawab dengan suara tenang. Jemarinya tidak lagi memainkan pensil—tanda ia telah mempersiapkan argumen ini dengan matang. "Kami mengembangkannya. Konsep utama tetap sama, hanya diperluas untuk mencakup implementasi awal dalam bentuk percontohan."
Kuanggukkan kepala, mendukung penjelasan Rafli. "Madrasah Al-Hidayah menjadi lokasi uji coba ideal. Dengan begitu, proyek kami tidak hanya konseptual, tapi memiliki dimensi praktis yang langsung bermanfaat."
Prof. Haidar membuka kembali halaman-halaman proposal kami. Kacamatanya merosot ke ujung hidung sementara matanya menyipit membaca detail-detail teknis yang kami tambahkan.
"Ini... cukup brilian," gumamnya akhirnya. "Tapi kalian sadar bahwa ini akan membawa kalian berhadapan langsung dengan keluarga Gita? Mereka tidak akan tinggal diam."
Kubagi pandangan singkat dengan Rafli. Kami sudah mendiskusikan risiko ini semalaman.
"Kami siap, Pak," jawabku mantap. "Ini bukan sekadar kompetisi akademis lagi, tapi perjuangan untuk keadilan."
"Dan kemanusiaan," tambah Rafli. "Anak-anak di madrasah itu perlu tempat belajar."
Prof. Haidar melepas kacamatanya, memijat pangkal hidung dengan gerakan lelah. Di matanya kulihat pergulatan—antara dukungan pada visi kami dan kekhawatiran akan konsekuensinya.
"Tahukah kalian bahwa ayah Gita adalah salah satu donatur terbesar universitas kita?" tanyanya, suaranya mengecil menjadi bisikan. "Dan bahwa ia memiliki koneksi kuat di Kementerian Pendidikan?"
Jantungku mencelos. "Maksud Bapak?"
"Maksudku," Prof. Haidar menghela napas panjang, "jika kalian melangkah di jalur ini, kalian mungkin menghadapi konsekuensi yang lebih besar dari sekadar kalah dalam kompetisi. Beasiswa. Reputasi akademik. Masa depan kalian."
Keheningan menggantung berat di udara. Dari sudut mataku, kulihat Rafli mengepalkan tangannya di bawah meja—gestur yang hanya kulihat ketika ia sangat tertekan.
"Bapak tidak mendukung kami?" tanyaku akhirnya, suaraku nyaris berbisik.
Prof. Haidar tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Zahra, Rafli, kalian adalah dua mahasiswa terbaik yang pernah kutemui. Tentu saja aku mendukung. Tapi sebagai pendidik, aku juga berkewajiban mengingatkan kalian tentang apa yang dipertaruhkan."
Ia menutup proposal kami, tangannya terhenti sejenak di atas sampulnya.
"Aku akan menyetujui revisi ini," ujarnya akhirnya. "Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Pak?" Rafli bertanya, kewaspadaan terdengar dalam suaranya.
"Kau," Prof. Haidar menunjuk Rafli, "harus berjanji akan segera menjalani pengobatan setelah penjurian tahap pertama."
Tubuh Rafli menegang. Ia tidak menyangka Prof. Haidar akan mengungkit masalah kesehatannya.
"Saya sudah menjadwalkan pemeriksaan lanjutan minggu depan," jawab Rafli diplomatis.
"Bukan hanya pemeriksaan. Aku ingin komitmen untuk menjalani pengobatan. Operasi, jika diperlukan."
Kutatap Rafli dari samping, jantungku berdegup kencang menunggu jawabannya. Selama ini ia bersikeras menunda semua bentuk pengobatan invasif hingga proyek selesai. Hingga pesantren impian kami mendapat restu untuk dibangun.
"Baik," ucap Rafli akhirnya, membuat kami berdua terkejut. "Saya berjanji."
Prof. Haidar mengangguk puas. Ia mengeluarkan pena dari saku kemejanya, menandatangani proposal kami dengan gerakan mantap.
"Sekarang, persiapkan diri kalian. Pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai."
***
Matahari hampir tenggelam ketika kami meninggalkan ruang fakultas. Langit Yogyakarta membentang luas, melukis gradasi jingga dan merah muda yang memukau. Di kejauhan, kubah-kubah masjid kampus berkilau keemasan, menciptakan siluet yang selalu membuatku merasa damai.
"Kau serius dengan janjimu tadi?" tanyaku, memecah keheningan di antara kami.
Rafli mengangguk, tatapannya lurus ke depan. "Ya. Tapi bukan karena Prof. Haidar memintanya."
"Lalu kenapa?"
Langkah Rafli melambat. Ia mengenakan kemeja merah gelap hari ini—warna Jumat. Jemarinya menyisir rambut hitamnya yang semakin panjang, kebiasaan yang kuliah menandakan ia sedang memikirkan kata-kata yang tepat.
"Karena aku tidak ingin kau khawatir," jawabnya akhirnya, suaranya begitu lirih hingga nyaris tersapu angin sore.
Dadaku menghangat. Untuk sekian detik, aku kehilangan kemampuan untuk menjawab.
"Aku juga punya janji pada kakakmu," lanjutnya, masih tanpa menatapku. "Dan pada ayahku. Aku tidak bisa memenuhinya jika aku tidak ada."
Angin lembut berembus, membawa aroma melati dari taman kampus. Ada sesuatu yang menggetarkan dalam kata-kata Rafli, sesuatu yang lebih dari sekadar tekad profesional untuk menyelesaikan proyek.
"Kita akan menyelesaikannya bersama," ucapku. "Madrasah itu. Pesantren kita. Semuanya."
Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, menciptakan jalur cahaya keemasan di sepanjang jalan setapak kampus. Kami berjalan dalam diam, menikmati keindahan senja dan kelegaan setelah mendapat persetujuan Prof. Haidar.
Ponselku berdering, layarnya menampilkan nama Ayah. Hatiku mencelos—sudah hampir seminggu aku tidak meneleponnya.
"Assalamu'alaikum, Abah," sapaku, rasa bersalah mewarnai suaraku.
"Wa'alaikumsalam, Nduk. Bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak menelepon."
Suara Ayah selalu membuatku merasa seperti kembali ke rumah. Hangat, aman, dan penuh kepercayaan.
"Maaf, Bah. Akhir-akhir ini sangat sibuk dengan proyek kompetisi."
"Tidak apa-apa. Abah mengerti." Suara ayah terdengar lelah namun tetap bersemangat. "Abah punya kabar baik. Santri kita, Ahmad, juara pertama MTQ tingkat provinsi."
Kami berbincang beberapa menit tentang perkembangan pesantren dan kabar adik-adikku. Selama percakapan, Rafli berdiri menunggu dengan sabar di sampingku, tatapannya menerawang ke langit yang semakin gelap. Ada kedamaian dalam posturnya yang jarang kulihat.
"Abah," ucapku tiba-tiba, "ada seseorang yang ingin kuperkenalkan."
Tanpa pikir panjang, kuaktifkan video call dan mengarahkan kamera pada Rafli yang tampak terkejut.
"Ini Rafli Arkananta, Bah. Partner proyekku. Dia..." kutelan ludah, "dia mengenal Kak Salma. Bekerja bersamanya di proyek pesantren itu."
Wajah Ayah di layar membeku sejenak, matanya melebar penuh keterkejutan. Lalu perlahan, sebuah senyum hangat mengembang.
"Assalamu'alaikum, nak Rafli."
"Wa'alaikumsalam, Pak Kyai," jawab Rafli dengan penuh hormat, sedikit membungkukkan badannya. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, meski hanya melalui layar."
"Salma sering menceritakanmu dalam suratnya," ujar Ayah, matanya berkaca-kaca. "Arsitek muda berbakat, katanya. Yang memahami jiwa pesantren meski tak pernah menjadi santri."
Rafli tampak terkejut. "Dia... menulis tentang saya?"
"Tentu saja. Salma selalu bisa melihat kebaikan dalam diri seseorang."
Percakapan mereka berlanjut, meninggalkanku sebagai penonton yang terpana. Ada kehangatan dan pengertian mutual yang segera terbentuk di antara mereka—seolah takdir memang telah merajut benang-benang yang menghubungkan kami semua.
Ketika panggilan berakhir, kutatap Rafli dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk menghormati Ayah. Untuk mengingat Kak Salma dengan baik."
Rafli mengangguk. Untuk beberapa detik, ia menatap langsung ke mataku—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. Dan dalam tatapan itu, kulihat refleksi dari apa yang mungkin juga terpancar dari mataku sendiri.
Sesuatu yang tidak berani kunamai. Sesuatu yang belum boleh kumiliki.