Menara Masjid Al-Ikhlas menjulang angkuh di tengah gerimis sore. Farah duduk di seberangku, jari-jarinya mengaduk es teh yang mulai mencair. Kafe Sahara lengang, hanya beberapa mahasiswa yang berteduh dari hujan. Aroma kopi dan roti bakar menguar, berbaur dengan wangi tanah basah yang menyelusup dari jendela yang terbuka separuh.
"Jadi selama ini kau menyembunyikan semua ini dariku," ujar Farah akhirnya, memecah keheningan yang terasa mencekik. Suaranya terdengar terluka, tapi ada tuduhan tersirat di dalamnya.
Kupandangi tetesan hujan yang berlomba turun di permukaan jendela. "Bukan menyembunyikan, Farah. Aku sendiri baru mengetahuinya beberapa minggu lalu."
"Tapi kau tidak bercerita padaku." Matanya menyipit. "Padahal kita sahabat sejak semester satu. Kau malah menghabiskan waktu berjam-jam dengan..." ia menelan ludah, "...dengan Rafli."
Ada nada sinis saat ia menyebut nama itu—nada yang membuat dadaku sesak oleh rasa bersalah dan defensif secara bersamaan.
"Apa ada yang salah dengan itu?" tanyaku, berusaha menjaga suara tetap tenang. "Ini proyek penting yang menghubungkanku dengan kenangan Kak Salma."
"Tapi dia itu Rafli Arkananta!" Farah mencondongkan tubuh, suaranya mengecil menjadi bisikan tegas. "Orang yang jarang shalat. Yang mengkritik dosen-dosen agama. Yang bahkan tidak pernah terlihat di masjid kampus."
Angin dingin berembus dari luar, mengirimkan percikan hujan ke wajahku. "Kau salah menilainya, Farah. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui tentang dia."
"Seperti apa? Bahwa dia memiliki alasan untuk semua kelakuannya?" Farah mendengus. "Zahra, kau mulai terdengar seperti orang yang membela mati-matian seseorang karena..." ia terdiam, menatapku dengan mata membulat. "Astaghfirullah, kau tidak jatuh cinta padanya, kan?"
Jantungku berdegup kencang. "Tentu saja tidak!" Sangkalku, mungkin terlalu cepat. "Ini murni profesional. Kita punya tujuan yang sama—membangun pesantren impian Kak Salma."
"Dan kau percaya padanya? Pada orang yang hadir saat kecelakaan itu terjadi?"
Pertanyaan itu menghantamku seperti batu. Farah selalu tahu cara menusukkan kata-kata tepat di titik rawan.
"Dia tidak bersalah atas kecelakaan itu," bisikku, lebih kepada diriku sendiri. "Dia hanya mahasiswa tahun pertama saat itu, Farah."
"Hmm." Farah menyesap tehnya perlahan. "Kau tahu tidak, Gita dan kelompoknya mulai menyebarkan rumor tentang kalian."
Keningku berkerut. "Rumor apa?"
"Bahwa kau dan Rafli merencanakan sesuatu untuk menghambat proyek pembangunan gedung kedokteran." Farah mengeluarkan ponselnya, menunjukkan beberapa pesan di grup angkatan. "Mereka menggali informasi tentang keterlibatan Rafli di pesantren tempatmu memimpin demonstrasi kemarin. Kebetulan yang mencurigakan, kata mereka."
Kuambil ponselnya, membaca pesan-pesan itu dengan tangan gemetar. Tuduhan-tuduhan tanpa dasar, namun disusun dengan kesan seolah-olah ada konspirasi besar.
"Ini tidak masuk akal," gumamku. "Proyek kami sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembangunan kampus."
"Tapi madrasah Al-Hidayah yang kau bela itu ada." Farah menatapku tajam. "Dan keluarga Gita sangat berkepentingan dengan pembangunan itu. Jika mereka menghubungkan Rafli denganmu dan demonstrasi itu—"
"Mereka tidak punya bukti apapun!"
"Mereka punya pengaruh, Zahra. Itulah yang kutakutkan." Farah menggenggam tanganku. "Aku mengkhawatirkanmu. Beasiswamu, masa depanmu."
Kulepaskan tangannya perlahan. "Terima kasih, tapi aku tidak akan mundur hanya karena ancaman terselubung."
"Keras kepala seperti biasa." Farah tersenyum tipis. "Setidaknya berhati-hatilah. Dan..." ia ragu sejenak, "jaga batasan dengan Rafli. Bagaimanapun kalian bukan mahram."
Wajahku memanas. "Kami selalu di tempat terbuka, Farah. Studio arsitektur bukan tempat privat."
"Bukan hanya batasan fisik yang kukhawatirkan," bisiknya, tatapannya melembut. "Tapi batasan hati."
***
Langit Yogyakarta telah menyerah pada malam ketika aku meninggalkan kafe. Gerimis berubah menjadi hujan deras, mengirim semua orang berlari mencari tempat berteduh. Tapi kakiku justru melangkah perlahan, membiarkan tetes-tetes air menghapus kebimbangan yang menggantung di benakku.
Kata-kata Farah bergema. Batasan hati.
Ponselku bergetar dalam genggaman. Pesan dari Rafli.
"Bisa bertemu di lokasi madrasah Al-Hidayah sekarang? Penting. Aku sudah di sini."
Keningku berkerut. Madrasah Al-Hidayah? Di tengah hujan seperti ini? Tanpa pikir panjang, aku mengarahkan langkah ke arah selatan kampus, di mana madrasah tua itu berdiri dengan kokoh sejak puluhan tahun lalu.
Dua puluh menit berjalan di bawah hujan, dan aku sampai di depan bangunan kayu bercat putih dengan kubah kecil di atasnya. Lampu-lampu menyala dari dalam, menandakan masih ada aktivitas meski langit telah gelap.
Rafli berdiri di bawah pohon beringin tua, mengenakan jaket hitam dengan tudung menutupi kepalanya. Meski begitu, aku bisa melihat bahwa wajahnya lebih pucat dari biasanya.
"Maaf memanggilmu kemari di cuaca seperti ini," ucapnya, menyodorkan payung lipat yang tidak dibukanya sendiri. "Tapi kau harus lihat ini."
Kubuka payung itu, menempatkannya di antara kami sehingga kami berdua terlindungi. Rafli sedikit menjaga jarak, tapi tidak menjauh dari perlindungan payung.
"Lihat apa?"
Ia menunjuk ke bagian belakang madrasah. "Mereka mulai memasang tanda batas untuk eksekusi penggusuran. Minggu depan."
"Apa?" Kuperhatikan tiang-tiang besi dengan pita kuning yang baru dipasang, menandai batas wilayah yang akan digusur. "Tapi mereka bilang penundaan sampai semua dokumen diperiksa ulang!"
"Mereka berbohong." Suara Rafli terdengar dingin. "Aku punya informasi dari pekerja konstruksi. Keluarga Gita mempercepat semuanya."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Pak Burhan," jawabnya singkat. "Tukang bangunan yang dulu bekerja dengan ayahku. Sekarang dia dipekerjakan untuk proyek ini."
Hatiku mencelos. Puluhan anak yatim dan dhuafa di madrasah ini akan kehilangan tempat belajar mereka. "Kita harus melakukan sesuatu."
"Itulah kenapa aku memanggilmu." Rafli mengeluarkan ponselnya yang terbungkus plastik anti air. "Aku punya rekaman percakapan antara mandor dan pengacara keluarga Gita. Mereka sengaja mempercepat penggusuran untuk menghindari protes lebih lanjut."
Kubuka rekaman itu, mendengarkan dengan saksama di tengah gemuruh hujan. Jantungku berdebar kencang. Ini bukti nyata adanya permainan kotor.
"Dengan ini kita bisa mengajukan tuntutan hukum," bisikku bersemangat.
"Tapi mereka akan tahu siapa yang membocorkan informasi ini," balas Rafli. "Pak Burhan bisa kehilangan pekerjaannya."
Kupandangi madrasah tua itu, dengan lampu-lampunya yang hangat di tengah dinginnya hujan. Dari jendela, tampak beberapa anak masih belajar mengaji, wajah-wajah polos yang tidak tahu bahwa tempat mereka menimba ilmu akan segera rata dengan tanah.
"Kita bisa memasukkannya ke dalam desain kita," ucapku tiba-tiba.
"Apa maksudmu?"
"Pesantren internasional kita—bagaimana kalau kita memasukkan madrasah ini sebagai pilot project? Membangun ulang madrasah ini dengan desain baru yang terintegrasi dengan rencana besar pesantren internasional."
Mata Rafli membelalak, kilatan pemahaman terpancar dari sana. "Itu... brilian, Zahra. Dengan begitu, kita punya alasan resmi untuk menunda penggusuran ini. Kompetisi kita disponsori langsung oleh Kementerian Agama!"
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Rafli tersenyum lebar. Senyum yang mencapai matanya, mengubah seluruh raut wajahnya yang biasanya serius. Senyum yang membuat jantungku berdegup tidak karuan.
"Kau jenius," bisiknya, terpana.
Di bawah naungan payung yang sama, di tengah hujan yang semakin deras, aku merasakan batasan-batasan yang selama ini kupertahankan mulai memudar. Perasaan yang tak seharusnya ada mulai tumbuh, seperti tunas yang menembus tanah keras setelah hujan pertama.
Dan aku takut—takut pada perasaan ini, takut pada konsekuensinya, takut pada kenyataan bahwa waktu Rafli mungkin tidak banyak.
Tapi malam itu, di bawah langit Yogyakarta yang menangis, aku memilih untuk tidak menghiraukan ketakutan itu. Setidaknya untuk saat ini.