Pagi itu, taman di pinggir kali Code diselimuti kabut tipis. Tempat ini menjadi pelarianku sejak minggu pertama tinggal di Yogyakarta—sebuah sudut kota yang jarang dikunjungi, di mana gemericik air dan kicau burung menjadi latar belakang yang sempurna untuk menyendiri. Jurnal Kak Salma terbuka di pangkuanku, sementara tanganku sibuk mencatat poin-poin penting tentang konsep pesantren yang pernah didiskusikannya dengan Rafli dan Pak Arman.
Hari ini genap seminggu sejak aku menemukan sketsa Kak Salma. Seminggu yang mengubah segalanya—persepsiku tentang Rafli, pemahaman tentang takdir yang mempertemukan kami, dan tentu saja, perkembangan desain pesantren yang kini semakin mendekati kesempurnaan.
Ponselku bergetar. Pesan dari Farah.
"Zahra, kau dimana? Sudah tiga hari kita tidak ngobrol. Aku khawatir. Dengar-dengar kau jadi dekat dengan Rafli sekarang. Semoga kau ingat batasan, ya. Aku tunggu di kantin setelah Dhuhur."
Kuhela napas panjang. Bagaimana menjelaskan pada Farah bahwa Rafli jauh berbeda dari gosip yang beredar? Bagaimana menceritakan tentang kedalaman jiwanya, kejeniusannya, dan tekadnya yang kuat tanpa terdengar seperti... apa? Seperti seseorang yang mulai jatuh cinta?
Astaghfirullah. Pikiran macam apa ini?
Kumasukkan jurnal Kak Salma ke dalam tas dan bergegas ke kampus. Hari ini Rafli berjanji menunjukkan sesuatu yang spesial—prototype 3D dari desain kami yang sudah direvisi dengan input dari dosen pembimbing.
***
Studio arsitektur telah berubah dalam seminggu terakhir. Sudut tempat kami bekerja kini dipenuhi maket, sketsa, dan sampel material yang disusun dengan sangat teratur. Bahkan pensil dan penggaris pun diletakkan sesuai ukuran—tatanan khas Rafli yang membutuhkan keteraturan mutlak dalam lingkungan kerjanya.
"Kau sudah datang."
Rafli duduk di depan komputer, mengenakan kemeja biru muda—warna Kamis. Ia tidak menoleh, matanya tetap fokus pada layar yang menampilkan model 3D pesantren dalam resolusi tinggi.
"Maaf terlambat," jawabku, meletakkan tas di kursi terdekat. "Aku mampir ke taman dulu untuk mereview catatan-catatan."
"Tidak masalah. Aku baru selesai merender model finalnya." Ia menggeser kursinya sedikit, memberiku ruang untuk melihat layar tanpa harus berdiri terlalu dekat dengannya. "Bagaimana menurutmu?"
Desain di layar membuatku terpana. Model 3D itu menampilkan kompleks pesantren yang menakjubkan—perpaduan sempurna arsitektur Timur Tengah dan Nusantara, dengan kubah-kubah kecil dan atap joglo yang harmonis. Tata letak bangunannya mengikuti pola geometri Islam, menciptakan ruang-ruang yang mengalir dengan natural.
"Luar biasa," bisikku tulus. "Kau sudah mengintegrasi semua elemen yang kita diskusikan."
Rafli mengangguk, bibirnya membentuk senyum tipis. "Lihat ini." Ia mengklik ikon pada layar, membawa kami ke dalam tur virtual ruang-ruang pesantren.
Pertama, aula serbaguna yang berfungsi sebagai ruang konferensi internasional. Lantainya didesain dengan pola geometris yang bisa berubah warna melalui pencahayaan khusus, menyimbolkan persatuan dalam keberagaman. Kedua, asrama santri dengan ruang-ruang komunal strategis yang memungkinkan interaksi lintas budaya namun tetap menjaga privasi. Ketiga, perpustakaan digital tiga lantai dengan kubah kaca yang memungkinkan cahaya alami masuk dari segala arah.
"Ini ruang tahfidz," ujar Rafli, menunjukkan ruangan berbentuk oktagonal dengan akustik sempurna. "Aku mendesainnya khusus agar suara tidak menggema berlebihan tapi tetap jernih. Pencahayaannya juga dirancang agar tidak menyilaukan saat membaca Al-Quran."
Detail seperti ini yang membuatku semakin yakin—Rafli mungkin tidak menunjukkannya secara terbuka, tapi ia memiliki pemahaman mendalam tentang kebutuhan spiritual dan praktis dalam lingkungan pesantren.
"Ada yang ingin kutambahkan," ujarku, mengeluarkan buku catatan. "Bagaimana jika kita menyediakan ruang khusus untuk terapi okupasional? Tempat di mana anak-anak dengan kebutuhan khusus bisa mendapatkan pendampingan."
Rafli menatapku sekilas, matanya melebar. "Untuk anak-anak seperti aku?"
"Ya," jawabku lembut. "Anak-anak dengan Asperger, autisme, atau trauma perang. Mereka membutuhkan pendekatan khusus dalam belajar dan beradaptasi."
Tangannya berhenti bergerak di atas keyboard. "Kakakmu pernah mengusulkan hal yang sama," bisiknya.
Desiran hangat merambati dadaku. Tentu saja Kak Salma akan memikirkan hal ini. Ia selalu memiliki kepekaan terhadap mereka yang sering terabaikan.
"Kita bisa mengintegrasikannya di sayap timur," Rafli mulai menggambar di tablet. "Dengan akses langsung ke taman sensori yang bisa membantu terapi."
Kami tenggelam dalam diskusi teknis selama berjam-jam. Perbedaan mencolok dari minggu-minggu awal kerja sama kami—kini tidak ada lagi kecanggungan atau konfrontasi. Sebaliknya, ada ritme yang nyaman, seolah pikiran kami bertautan dalam satu frekuensi yang sama.
"Zahra!" Sebuah suara memecah konsentrasi kami.
Farah berdiri di ambang pintu studio, jilbab ungu favoritnya tertiup angin dari jendela yang terbuka. Wajahnya menampakkan campuran kekhawatiran dan... kecemburuan?
"Aku menunggumu di kantin sejak tadi," ujarnya, melangkah masuk dengan ragu. Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Rafli yang kembali fokus pada layar komputer, mengabaikan kedatangan Farah seolah ia tidak ada.
"Maaf, aku lupa," jawabku jujur, baru teringat janji kami. "Kami sedang finalisasi desain untuk kompetisi."
Farah mengerutkan dahi. "Kau menghabiskan terlalu banyak waktu untuk proyek ini, Zahra. Bahkan kemarin kau melewatkan kajian rutin Forum Muslimah."
Rafli tetap diam, tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras. Ia sangat sensitif terhadap konfrontasi dan ketegangan sosial—salah satu manifestasi kondisinya.
"Kompetisi ini penting, Farah. Ini bukan sekadar tugas kuliah," jelasku, berusaha menjaga suara tetap tenang. "Ini tentang mewujudkan mimpi kakakku."
"Kakakmu?" Farah tampak bingung. "Apa hubungannya dengan—"
"Rafli mengenal Kak Salma," potongku lembut. "Mereka bekerja sama di proyek pesantren tempat kecelakaan itu terjadi."
Mata Farah membelalak, beralih dari aku ke Rafli berulang kali. "Bagaimana mungkin? Kenapa kau tidak pernah cerita?"
"Ini... rumit," jawabku. "Tapi percayalah, kami sedang berusaha mewujudkan sesuatu yang bermakna."
Farah tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi ragu. Matanya mengamati Rafli dengan sorot yang baru—campuran antara kecurigaan dan keingintahuan.
"Aku akan menunggumu di luar," ujarnya akhirnya. "Kita perlu bicara."
Setelah Farah keluar, hening merayapi studio. Rafli masih tidak bersuara, tangannya kembali memainkan pensil—tanda ia sedang gelisah.
"Maaf," ucapnya akhirnya. "Aku tidak bermaksud membuatmu menjauh dari teman-temanmu."
"Tidak, Rafli. Ini pilihanku sendiri." Kutatap profil wajahnya yang tegas. "Proyek ini memang penting bagiku."
Ia menghela napas panjang. "Zahra, ada yang perlu kuceritakan padamu." Ia membuka laci meja, mengeluarkan map coklat yang tampak usang. "Ini hasil CT scan terakhirku. Dokter mengatakan tumornya bertumbuh lebih cepat dari perkiraan."
Jantungku mencelos. "Seberapa parah?"
"Mereka menyarankan operasi dalam dua bulan ke depan." Ia menutup map itu, gerakan tangannya mengkhianati ketenangan suaranya. "Tapi kompetisi ini final presentasinya tiga bulan lagi."
"Rafli..." Suaraku tercekat. "Kesehatanmu lebih penting dari kompetisi apapun."
"Tidak," bantahnya tegas. "Proyek ini lebih penting dari apapun. Aku harus menyelesaikannya, bagaimanapun caranya."
Mataku memanas. Begitu banyak yang ingin kuucapkan, begitu banyak argumen yang ingin kuajukan. Tapi aku mengenalnya cukup baik sekarang untuk tahu bahwa tekadnya sudah bulat.
"Kalau begitu," bisikku, "kita harus bekerja lebih efisien. Menyelesaikan semuanya lebih cepat dari jadwal."
Untuk pertama kalinya sejak Farah datang, Rafli menoleh dan menatap langsung ke mataku. Pandangan yang begitu intens, begitu penuh tekad, hingga membuatku lupa bernapas.
"Terima kasih sudah mengerti," ucapnya lirih.
Di luar studio, Farah menunggu dengan sejuta pertanyaan yang belum siap kujawab. Di dalam hatiku, kekhawatiran dan tekad berperang dalam diam.