Kurebahkan tubuh di atas sajadah merah marun yang terhampar di lantai kamar. Malam telah merangkak jauh, namun mataku masih enggan terpejam. Di luar jendela, bulan sabit menggantung tipis di antara taburan bintang—seperti senyum Kak Salma yang masih terpatri jelas dalam ingatanku.
Tanganku bergerak perlahan membuka kotak kayu berukir yang selama ini kusimpan di bawah tempat tidur. Kotak kenangan yang hanya kubuka di malam-malam tertentu, ketika rindu terasa terlalu menyesakkan untuk ditahan. Di dalamnya, tumpukan jurnal Kak Salma yang ditinggalkan sebelum ia berangkat ke Madura—untuk tidak pernah kembali.
"Bismillah," bisikku sembari mengusap sampul jurnal paling atas.
Jemariku membalik lembar demi lembar, mencari sesuatu yang mungkin saja terlewatkan selama ini. Tulisan tangan Kak Salma selalu rapi dan konsisten, seperti kepribadiannya yang teratur. Berbeda dengan tulisanku yang kadang naik-turun mengikuti suasana hati.
Halaman demi halaman kutelusuri, hingga mataku tertumbuk pada sebuah entri yang tidak pernah kuingat pernah k****a sebelumnya:
_15 Syawal 1441 H_
_Hari ini aku bertemu seorang mahasiswa arsitektur yang luar biasa. Namanya Rafli Arkananta. Ayahnya adalah arsitek utama proyek pesantren ini. Yang membuatku terkejut, ia memiliki pemahaman mendalam tentang kebutuhan pesantren meski tidak pernah tinggal di dalamnya. Ketika aku menjelaskan impianku tentang pesantren internasional untuk anak-anak dari negara konflik, mata pemuda itu berbinar. "Itu persis yang ingin diwujudkan ayah saya," katanya. Aku merasa Allah telah mempertemukan kami untuk sebuah tujuan yang lebih besar. Mungkin akan kuceritakan pada Zahra nanti, adikku itu pasti akan tertarik dengan proyek seperti ini._
Napasku tercekat. Tulisan ini bertanggal dua minggu sebelum kecelakaan itu terjadi.
Kubalik halaman berikutnya dengan tangan gemetar.
_20 Syawal 1441 H_
_Rafli menunjukkan sketsa-sketsa desainnya padaku hari ini. Sungguh menakjubkan bagaimana ia memahami konsep pendidikan Islam dan mengaplikasikannya dalam arsitektur. Ia memiliki cara berbeda dalam melihat dunia—kadang kesulitan menatap mata lawan bicara, sangat detail pada hal-hal kecil, dan memiliki rutinitas yang tak boleh diubah. Pak Arman, ayahnya, menjelaskan bahwa Rafli memiliki Sindrom Asperger. Tapi justru karena itulah, ia mampu melihat detail-detail yang tidak terlihat oleh orang lain. Semoga Allah memberkahi bakat istimewanya._
Lembar demi lembar jurnal itu memperlihatkan bagaimana Kak Salma dan Rafli berinteraksi hampir setiap hari selama proyek itu berlangsung. Bagaimana mereka berbagi impian, gagasan, dan harapan. Kak Salma bahkan menggambarkan pertemuan mereka sebagai "bukti bahwa Allah mengatur pertemuan jiwa-jiwa yang memiliki tujuan serupa."
Tanganku berhenti pada entri terakhir, bertanggal sehari sebelum kecelakaan.
_2 Dzulqaidah 1441 H_
_Rafli menemukan masalah pada struktur bagian timur bangunan. Ia tampak sangat cemas, tapi ayahnya sedang tidak ada di lokasi. Aku menyarankannya untuk segera melaporkan ke pengawas lapangan, tapi ia takut dianggap menggurui para pekerja senior. Besok pagi, kami akan bersama-sama mengecek ulang dan berbicara dengan Pak Arman. Aku berdoa semoga tidak ada hal buruk yang terjadi. Ah ya, hampir lupa—aku minta Rafli menggambarkan sketsa wajahku untuk diberikan pada Zahra. Sudah lama aku tidak bertemu adik kesayanganku itu. Mungkin sketsa ini bisa menjadi kejutan untuknya saat aku pulang nanti..._
Air mataku jatuh, membasahi tinta yang mulai memudar di halaman jurnal. Kak Salma tidak pernah pulang. Sketsa itu tidak pernah sampai padaku hingga takdir mempertemukanku dengan Rafli empat tahun kemudian.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Namun tanpa berpikir panjang, kuambil ponsel dan menelepon nomor Rafli.
"Halo?" Suaranya terdengar terjaga, seolah ia juga tidak bisa tidur.
"Maaf menelepon selarut ini," ucapku pelan. "Aku baru membaca jurnal kakakku."
Hening sejenak, hanya terdengar deru napas dari seberang.
"Dia menulis tentangmu," lanjutku. "Tentang kalian, tentang proyek itu."
"Aku tahu." Suaranya terdengar serak. "Aku sering melihatnya menulis di jurnal itu setiap sore setelah kami berdiskusi."
"Kak Salma menulis kalau kau menemukan masalah struktur sehari sebelum kecelakaan."
"Ya." Jawaban singkat yang sarat kepedihan.
"Itu bukan salahmu, Rafli." Entah mengapa kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. "Kau hanya mahasiswa tahun pertama saat itu. Tidak ada yang mengharapkanmu untuk tahu segalanya."
"Tapi aku tahu." Suaranya mengeras. "Aku tahu ada yang salah, tapi aku tidak cukup berani. Jika aku langsung bicara, jika aku tidak menunggu ayahku kembali—"
"Dan jika aku tidak mendorong Kak Salma untuk mengabdi di pesantren terpencil, mungkin dia masih hidup," potongku. "Kita bisa terus menyalahkan diri sendiri, tapi apa itu akan mengubah sesuatu?"
Keheningan kembali merayap. Lewat jendela, kulihat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, mewarnai langit dengan semburat jingga keemasan.
"Maaf," ucap Rafli akhirnya. "Kau benar. Tapi sulit untuk tidak menyalahkan diri sendiri."
"Aku tahu." Kuusap air mata yang kembali menggenang. "Tapi mungkin sekarang saatnya kita berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai mewujudkan mimpi mereka."
"Mimpi mereka," ulangnya pelan. "Ya, itu yang selalu kucoba lakukan sejak hari itu. Menebus dengan karya."
"Dengan mengorbankan kesehatanmu," tambahku, tak bisa menahan diri. "Kuharap kau mempertimbangkan kembali soal pengobatan itu."
"Zahra—"
"Dengar," potongku lembut. "Aku membaca jurnal-jurnal kakakku. Ia sangat mengagumi bakatmu. Ia percaya Allah memberimu karunia istimewa melalui cara pandangmu yang berbeda. Menurutmu, apa yang akan dikatakannya jika tahu kau mengabaikan kesehatanmu?"
Hening lagi. Namun kali ini, hening yang berbeda—hening yang penuh pertimbangan.
"Kita akan bicara lagi nanti," ujarnya akhirnya. "Di studio, pukul sembilan pagi. Ada yang ingin kutunjukkan padamu."
Sambungan terputus. Kuletakkan ponsel di samping jurnal Kak Salma yang masih terbuka. Lalu kulipat sajadah dan bersiap untuk shalat Subuh.
***
Studio arsitektur masih sepi saat aku tiba. Hanya ada Rafli yang duduk di pojok, dikelilingi tumpukan kertas berisi sketsa dan perhitungan. Ia mendongak ketika mendengar langkahku, untuk sesaat mata kami bertemu sebelum ia kembali mengalihkan pandangan.
"Kau datang," ucapnya, nadanya sedikit terkejut. "Kukira kau akan tidur setelah begadang semalaman."
"Kau juga begadang," balasku, menarik kursi di sampingnya dengan jarak yang cukup untuk tidak membuatnya tidak nyaman.
Rafli menyodorkan beberapa lembar kertas padaku. "Ini rancangan awal ayahku untuk pesantren Al-Falah, yang kemudian kami diskusikan dengan kakakmu."
Kuamati kertas-kertas itu dengan seksama. Goresan-goresan pensil yang tegas membentuk bangunan dengan perpaduan arsitektur Timur Tengah dan lokal. Ada catatan-catatan kecil di setiap sudut—beberapa dengan tulisan yang kukenali sebagai tulisan Kak Salma.
"Dan ini," Rafli menyodorkan folder biru, "adalah pengembangan desain yang kita kerjakan sekarang."
Kubuka folder itu, dan napasku tercekat. Desain yang kami kerjakan bersama selama beberapa minggu terakhir adalah evolusi sempurna dari konsep awal. Seolah-olah jiwa rancangan ayah Rafli dan impian Kak Salma telah bertemu dan melahirkan sesuatu yang lebih indah.
"Ini... luar biasa," bisikku.
"Belum sempurna," koreksinya. "Tapi dengan bantuanmu, bisa menjadi sempurna."
Kutatap wajahnya yang kini tampak lebih pucat dari biasanya, lingkaran hitam menghiasi matanya yang lelah. Namun ada kilatan semangat di sana yang tak bisa disembunyikan.
"Kau sudah mempertimbangkan soal pengobatan?" tanyaku hati-hati.
Rafli menghela napas, jari-jarinya memainkan pensil seperti biasa. "Aku sudah bicara dengan Bibik Maryam. Aku..." ia menelan ludah, "akan melakukan pemeriksaan lanjutan minggu depan. Tapi aku tetap ingin menyelesaikan proyek ini dulu."
Tanpa sadar, tanganku bergerak hendak meraih tangannya, namun kutahan di udara, teringat ketidaknyamanannya dengan kontak fisik.
"Terima kasih," ucapku tulus.
"Untuk apa?"
"Untuk tidak menyerah pada impian ini. Untuk membiarkanku menjadi bagian darinya."
Untuk pertama kalinya hari itu, Rafli membalas tatapanku cukup lama. Tidak langsung ke mata, tapi cukup untuk membuatku menyadari betapa dalam kepedihan yang tersimpan di balik iris cokelat gelapnya.
"Tadi malam," ia memulai dengan suara yang nyaris berbisik, "Aku bermimpi tentang kakakmu dan ayahku. Mereka berdiri di lokasi pesantren yang sudah selesai, tersenyum bangga. Mungkin itu tanda bahwa kita di jalur yang benar."
Tenggorokanku tercekat. "Insya Allah, kita di jalur yang benar."
Matahari pagi mulai menembus jendela-jendela tinggi studio, menyinari sketsa-sketsa yang terhampar di hadapan kami. Dalam cahaya keemasan itu, aku melihat—mungkin untuk pertama kalinya—bahwa apa yang kami lakukan bukan sekadar proyek arsitektur atau kompetisi kampus.
Ini adalah perjalanan penyembuhan. Untuk Rafli, untuk diriku, dan untuk jiwa-jiwa yang telah pergi meninggalkan mimpi yang belum selesai.