Masjid Al-Ikhlas di sudut kampus selalu menjadi pelarianku saat jiwa terguncang. Kubah emasnya menyimpan ribuan doa yang dipanjatkan para penuntut ilmu. Di sinilah aku berlutut setelah meninggalkan rumah sakit, mencari ketenangan dalam bisikan ayat-ayat yang kulantunkan.
Empat tahun berlalu sejak kepergian Kak Salma, tapi lukanya masih terasa nyeri. Kami hanya berbeda dua tahun, namun ia selalu menjadi panutanku—dalam keteguhan, dalam kelembutan, dalam caranya mencintai ilmu dan Islam. Saat ia memutuskan mengabdi di pesantren terpencil di Madura alih-alih melanjutkan kuliah di luar negeri, banyak yang tidak mengerti. Tapi aku paham. Kak Salma selalu mendahulukan yang lain daripada dirinya sendiri.
Dan kini, takdir mempertemukan aku dengan seseorang yang hadir di saat-saat terakhirnya.
"Ya Allah," bisikku, menyandarkan dahi pada sajadah. "Apa maksud dari semua ini?"
Adzan Ashar berkumandang, menggema di seluruh penjuru kampus. Beberapa mahasiswi mulai berdatangan untuk shalat berjamaah. Kusudahi munajatku dan bergegas ke tempat wudhu.
Setelah shalat, alih-alih kembali ke asrama, kulangkahkan kaki menuju ruangan Prof. Haidar. Hatiku sudah mantap—aku perlu jawaban hari ini juga.
"Masuk," suara berat Prof. Haidar menyahut ketukan pintu.
Ruangannya masih sama seperti terakhir kali—penuh buku dan aroma kopi. Namun kali ini, tatapanku padanya berbeda. Ada tanya yang menggantung, ada kecurigaan yang harus dibuktikan.
"Assalamu'alaikum, Prof."
"Wa'alaikumsalam, Zahra." Ia menurunkan kacamatanya. "Ada yang bisa kubantu?"
Tanpa basa-basi, kukeluarkan sketsa Kak Salma dari buku catatanku dan kuletakkan di atas mejanya.
"Kenapa Bapak tidak pernah memberitahu bahwa Rafli terlibat dalam proyek tempat kakak saya meninggal?"
Prof. Haidar tidak tampak terkejut. Ia menatap sketsa itu lama, kemudian menghela napas panjang.
"Duduklah, Zahra."
Aku mematuhinya, meski jantungku berdebar kencang.
"Jadi Rafli sudah memberitahumu," ujarnya pelan.
"Tidak secara lengkap. Dia menyarankan saya bertanya langsung pada Bapak."
Prof. Haidar bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman kampus. Cahaya sore membayangi wajahnya, membuat raut lelahnya semakin kentara.
"Kau tahu kondisi Rafli?"
"Kondisi apa?"
Ia berbalik menghadapku. "Rafli didiagnosis dengan Sindrom Asperger—spektrum autisme tingkat ringan—sejak kecil. Ditambah PTSD setelah kejadian di pesantren itu."
Napasku tercekat. Sindrom Asperger? Itu menjelaskan banyak hal—ketidaknyamanannya dengan kontak mata dan sentuhan fisik, sikapnya yang sering salah diartikan, kemampuan mengingatnya yang luar biasa.
"Bibiknya, Maryam, adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan yang sama dengan kakakmu."
Dunia seolah berputar di sekelilingku. Ayah Rafli juga meninggal dalam kecelakaan itu? Bagaimana mungkin aku tidak pernah tahu?
"Tapi... berita tentang kecelakaan itu hanya menyebutkan kakak saya dan dua pekerja bangunan," bisikku, mencoba mengingat.
"Arman Arkananta tidak disebutkan sebagai korban kecelakaan di pesantren karena permintaan keluarga. Beliau arsitek terkenal, dan mereka tidak ingin kasus itu menjadi sorotan media."
Kusandarkan punggung ke kursi, mencoba mencerna semua informasi ini. "Jadi itulah alasan Bapak memasangkan kami dalam kompetisi ini? Karena kecelakaan itu?"
Prof. Haidar kembali ke kursinya, tatapannya melembut. "Tidak sepenuhnya. Kalian memang dua mahasiswa terbaik di jurusan masing-masing. Tapi ya, ada alasan personal."
"Yaitu?"
"Rafli tidak pernah benar-benar pulih dari trauma itu, Zahra. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayahnya dan kakakmu."
"Tapi kenapa? Dia bahkan masih sangat muda saat itu."
"Ia yang menemukan kelemahan struktural di bangunan pesantren itu, tapi tidak langsung melaporkannya karena takut ayahnya kecewa. Keesokan harinya, bagian itu runtuh."
Dadaku terasa sesak. Ingatan tentang hari itu kembali menghampiri—hujan deras yang mengguyur Madura, telepon dari kepala pesantren, perjalanan panjang ke rumah sakit di tengah badai.
"Ia baru delapan belas tahun saat itu, Zahra. Masih mahasiswa tahun pertama. Dan hari itu mengubah hidupnya selamanya."
"Lalu apa hubungannya denganku? Kenapa Bapak mempertemukan kami sekarang?"
Prof. Haidar menyatukan jemarinya di atas meja. "Karena Rafli punya mimpi yang belum selesai. Desain pesantren yang ia kerjakan denganmu—itu adalah pengembangan dari rancangan awal ayahnya untuk Al-Falah. Rancangan yang tidak sempat terwujud."
Tenggorokanku tercekat. Pesantren internasional untuk anak-anak dari negara konflik—itu mimpi Kak Salma juga. Ia sering membicarakannya, menuliskannya dalam jurnal-jurnalnya.
"Dan Bapak pikir kami berdua bisa mewujudkannya?"
"Aku yakin kalian bisa mengubah tragedi menjadi harapan, Zahra. Tapi keputusan tetap di tanganmu."
Kepalaku terasa berat oleh informasi yang baru kuterima. Rafli bukan sekadar partner proyek lagi. Ia seseorang yang terikat dengan masa laluku melalui benang takdir yang rumit.
"Satu hal lagi," tambah Prof. Haidar saat aku bersiap meninggalkan ruangannya. "Kondisi kesehatannya."
Jantungku mencelos. "Maksud Bapak?"
"Pertemuannya di rumah sakit hari ini bukan hanya untuk terapi rutin. Rafli didiagnosis dengan tumor otak empat bulan lalu."
Dunia seolah berhenti berputar. "Tumor... otak?"
"Stadium awal, masih bisa dioperasi. Tapi ia menolak pengobatan sebelum menyelesaikan proyek ini."
Tanganku gemetar saat meraih gagang pintu. "Kenapa... kenapa Bapak memberitahu saya semua ini?"
Prof. Haidar menatapku dengan sorot mata yang dalam. "Karena kalian berdua punya luka yang sama, Zahra. Dan terkadang, orang yang terluka adalah yang paling mampu menyembuhkan luka orang lain."
***
Malam menyelimuti Yogyakarta saat aku melangkah gontai ke arah kosan. Langit bertabur bintang, namun hatiku dipenuhi kabut. Bagaimana mungkin dalam waktu sehari, seluruh persepsiku tentang Rafli Arkananta berubah total?
Teleponku berdering. Nomor tidak dikenal.
"Assalamu'alaikum," sapaku ragu.
"Wa'alaikumsalam." Suara Rafli terdengar lebih lembut dari biasanya. "Maaf menelepon malam-malam. Aku... hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
Angin malam berembus, membawa aroma melati dari taman kosan. "Aku baru saja bertemu Prof. Haidar," jawabku jujur.
Hening sejenak. "Jadi kau sudah tahu semuanya."
"Termasuk tentang kesehatanmu." Suaraku bergetar. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Karena itu tidak relevan dengan proyek kita."
"Tentu saja relevan!" Nada suaraku meninggi tanpa kusadari. "Kau... kau menolak pengobatan demi proyek ini. Bagaimana itu tidak relevan?"
Terdengar helaan napas panjang dari seberang. "Zahra, aku punya alasan sendiri. Dan aku harap kau menghormatinya."
Kuusap mataku yang mulai basah. Ya Allah, kenapa hatiku terasa begitu sesak untuk seseorang yang baru kukenal?
"Aku ingin melanjutkan proyek ini denganmu," ujar Rafli tiba-tiba. "Tapi aku akan mengerti jika kau memilih partner lain setelah semua ini."
"Tidak," jawabku tegas. "Kita akan menyelesaikannya bersama. Demi Kak Salma, demi ayahmu, dan demi anak-anak yang akan mendapatkan manfaatnya kelak."
Hening lagi. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda—penuh dengan kata yang tak terucap, dengan harapan yang tak terkatakan.
"Terima kasih, Zahra," bisiknya akhirnya. "Besok aku akan menunggumu di studio."
Sambungan terputus, meninggalkanku berdiri di bawah langit malam yang berbintang. Kusimpan nomor Rafli di ponselku, memberinya nama kontak baru.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak empat tahun berlalu, kuberanikan diri membuka kembali jurnal-jurnal Kak Salma yang selama ini tersimpan rapi di dalam koper. Mungkin, di antara lembar-lembar tulisannya, tersimpan petunjuk tentang mimpi yang kini menjadi tanggung jawabku untuk diwujudkan.
Mungkin, dalam takdir yang dirajut-Nya, pertemuan kami bukanlah sebuah kebetulan.