BAB 5: RAHASIA YANG TERKUAK

983 Words
Sketsa itu gemetar dalam genggamanku. Jari-jariku sedingin es meski matahari pagi bersinar cerah di luar studio. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Rafli memiliki gambar Kak Salma? Kepalaku berputar, mencari penjelasan yang masuk akal, tapi tak satu pun terbentuk. Kubawa kertas itu mendekat ke wajah, mengamati setiap goresan pensil yang membentuk senyum Kak Salma. Senyum yang sama, yang selalu kuingat—lembut dengan sudut bibir yang sedikit terangkat ke atas, mata yang selalu tampak berkilau oleh semangat. Bahkan lesung pipit kecil di pipi kanannya tergambar sempurna. Ini bukan kebetulan. Ini bukan sketsa acak. Rafli mengenal kakakku. Tanpa berpikir panjang, aku menyambar tas dan berlari keluar studio. Lorong-lorong kampus kulewati dengan tergesa, mengabaikan tatapan heran mahasiswa lain. Air mata menggenang tanpa kusadari, mengaburkan pandangan. Aku bahkan tak tahu ke mana harus mencari Rafli. Dia bilang ke rumah sakit, tapi rumah sakit mana? "Zahra!" Farah memanggilku dari kejauhan, namun kulanjutkan langkah. Tidak sekarang. Aku tidak bisa menjelaskan pada siapapun tentang sketsa ini. Tentang gemuruh di d**a yang terasa seperti akan meledak. Langkahku terhenti di halte bus. Napasku tersengal, pikiran berserak. Aku perlu berpikir jernih. Di mana aku bisa menemukan Rafli? Siapa yang mungkin tahu? Andi. Teman dekatnya. Kukeluarkan ponsel, mencari nama Andi di grup angkatan. Beruntung, kami pernah tergabung dalam kepanitiaan yang sama tahun lalu. Dengan jari gemetar, kuketik pesan. "Assalamu'alaikum Andi, ini Zahra HI. Maaf mengganggu. Apa kau tahu Rafli pergi ke rumah sakit mana hari ini? Urgent." Jawaban datang lima menit kemudian: "Wa'alaikumsalam. Biasanya RS Sardjito, poli saraf lantai 3. Ada apa?" Poli saraf? Kecemasan baru menghampiri. Apa Rafli sakit? Tapi ia bilang untuk kerabat. Bus hijau berhenti di depanku. Tanpa ragu, kunaiki dan memilih kursi paling belakang. Perjalanan ke RS Sardjito hanya lima belas menit dari kampus, tapi terasa seperti berjam-jam. Sketsa Kak Salma kusimpan dengan hati-hati di dalam buku catatan. Rumah sakit selalu membuatku gelisah. Bau antiseptik, lorong-lorong panjang bercat putih, dan suara langkah perawat yang tergesa—semuanya mengingatkanku pada hari-hari terakhir Kak Salma. Tiga hari di ICU sebelum Allah memanggilnya pulang, setelah kecelakaan di lokasi pembangunan pesantren. Lift bergerak naik menuju lantai tiga. Hati-hati kucoba mengontrol napasku. Apa yang akan kukatakan pada Rafli? Bagaimana menjelaskan bahwa aku menemukan sketsa tersembunyi ini? Dan lebih penting lagi, apa hubungannya dengan kakakku? Pintu lift terbuka. Poli saraf terletak di ujung koridor, dengan ruang tunggu yang cukup penuh. Mataku menyapu setiap sudut, mencari sosok pemuda berpakaian coklat. Dan di sanalah ia—duduk sendirian di pojok ruang tunggu. Tapi bukan itu yang membuat jantungku serasa berhenti. Di sampingnya duduk seorang wanita paruh baya berkerudung sederhana, yang tangannya dengan lembut mengelus punggung Rafli. Dan pemandangan itu, entah mengapa, membuat sesuatu dalam diriku terenyuh. Rafli yang selalu tampak kuat dan dingin, kini terlihat begitu rapuh. Langkahku melambat, mendadak ragu. Haruskah aku menghampirinya sekarang? Di saat ia tampak begitu rentan? Terlambat. Rafli mengangkat wajah dan pandangan kami bertemu. Matanya membelalak kaget, tubuhnya menegang. Wanita di sampingnya menoleh, mengikuti arah pandangnya. "Zahra?" Suara Rafli terdengar parau. "Maaf," ujarku pelan, mendekati mereka. "Aku... ada yang perlu kubicarakan." Wanita itu menatapku dengan mata yang entah mengapa terasa familiar. "Siapa dia, Raf?" "Partner proyekku, Bi," jawab Rafli, bangkit berdiri. "Zahra, ini bibiku. Bibik, ini Zahra." "Zahra Hasanah," tambahku, mengulurkan tangan. Wanita itu menatapku lekat, seolah mencari sesuatu dalam wajahku. "Hasanah? Dari Madura?" Jantungku berdegup kencang. "Iya, Bu." Tatapan bibik Rafli berubah, campuran kaget dan sesuatu yang tak bisa kuartikan. Ia menoleh cepat ke arah Rafli, yang kini mengalihkan pandangan ke lantai. "Aku perlu bicara dengan Zahra sebentar, Bi," ujar Rafli. "Bisa tunggu di sini?" Tanpa menunggu jawaban bibinya, Rafli melangkah ke arah tangga darurat. Aku mengikuti dalam diam, berbagai pertanyaan berkecamuk. Di balik pintu tangga yang tertutup, Rafli berhenti, bersandar pada dinding. Wajahnya pucat, tangannya bergetar halus. "Bagaimana kau tahu aku di sini?" tanyanya datar. "Andi." Kukeluarkan sketsa dari buku catatanku, mengulurkannya perlahan. "Tapi lebih penting lagi, bagaimana kau mengenal kakakku?" Rafli menatap sketsa itu tanpa mengambilnya. Napasnya tertahan, matanya terpejam sejenak. "Jadi dia kakakmu," gumamnya, lebih pada diri sendiri. "Aku sudah menduga sejak awal, tapi tidak yakin. Kalian memiliki mata yang sama." "Rafli, jawab aku. Bagaimana kau mengenalnya?" Ia mengambil sketsa itu dengan tangan gemetar. "Aku salah satu arsitek junior yang membantu proyek pesantren Al-Falah. Proyek terakhir ayahku sebelum ia meninggal." Dunia seolah berhenti berputar. Pesantren Al-Falah—tempat Kak Salma mengabdikan tahun terakhir hidupnya. Tempat ia meninggal karena kecelakaan konstruksi. "Kau... kau ada di sana saat..." Suaraku tercekat. Rafli mengangguk, matanya masih menghindari tatapanku. "Saat kecelakaan itu terjadi. Ya." Napasku terasa sesak. Ingatan tentang hari itu kembali menghantam—telepon dari kepala pesantren, jeritan Ibu, wajah Ayah yang mendadak menua, dan perjalanan panjang ke rumah sakit hanya untuk mendengar bahwa Kak Salma sudah tiada. "Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?" Suaraku bergetar. "Sejak awal kau tahu siapa aku, kan?" "Aku tidak yakin awalnya. Nama Hasanah cukup umum. Tapi saat melihat pin bunga di jilbabmu..." Ia menunjuk pin kecil yang selalu kupakai. "Kakakmu juga selalu mengenakan itu." Air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya jatuh. Pin bunga ini—hadiah terakhir Kak Salma untukku, yang dikirimlnya sebelum kecelakaan itu terjadi. "Semua ini... kebetulan?" tanyaku lirih. "Aku tidak percaya kebetulan." Rafli menatap langsung ke mataku untuk pertama kalinya hari itu. "Prof. Haidar tahu tentang hubungan ini. Dialah yang meminta kita dipasangkan." "Tapi kenapa?" "Itu..." Rafli mengalihkan pandangan, "sebaiknya kau tanyakan langsung padanya." Keheningan mengambang di antara kami. Begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, begitu banyak kejanggalan yang belum terurai. Namun satu hal menjadi jelas—pertemuan kami bukan tanpa tujuan. "Aku harus kembali ke bibiku," ujar Rafli akhirnya, menyodorkan kembali sketsa itu. "Simpanlah. Itu untukmu." "Tunggu," kucegah langkahnya. "Bibikmu tadi... sepertinya mengenalku?" Rafli tersenyum tipis—senyum pertama yang kulihat darinya. "Bibik Maryam. Dia terapis okupasional yang mendampingiku sejak kecil. Dan ya, kakakmu sering bercerita tentangmu padanya. Pada kami semua." Dengan itu, ia meninggalkanku sendirian di tangga darurat—dengan sketsa Kak Salma dalam genggaman, dan ribuan tanya yang masih menggantung di udara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD