BAB 4: TUMPUKAN KERTAS YANG BERBICARA

977 Words
Asrama putri Bait Al-Jannah selalu tenang di pagi hari. Dinding-dinding bercat hijau muda menyimpan kesyahduan, seolah mengembalikanku pada suasana pesantren di kampung halaman. Kubuka jendela kamar, membiarkan udara pagi Yogyakarta yang dingin menyapa wajah. Dari sini, kubah Masjid Al-Ikhlas kampus terlihat menjulang, berkilau keemasan ditimpa cahaya fajar. "Alhamdulillah," bisikku, mengusap sisa kantuk dari mata. Sudah menjadi kebiasaanku memulai hari dengan tilawah dan mengulangi hafalan. Di pangkuanku terbuka mushaf Al-Quran dengan tanda khusus di Surat Al-Kahfi. Hari ini aku harus menyetor hafalan kepada Ustadzah Naila via video. Tapi entah mengapa, konsentrasiku buyar. Bayangan pertemuanku dengan Rafli kemarin masih mengganggu. Ada yang tidak masuk akal tentang sosok itu. Rumor menggambarkannya sebagai mahasiswa pembangkang, anti-agama, bahkan mungkin pemilik tato. Namun sketsa pesantrennya... Telepon berdering, memotong lamunanku. Nama Ayah tertera di layar. "Assalamu'alaikum, Abah," sapaku, tersenyum. "Wa'alaikumsalam, Nduk. Bagaimana kabarmu? Sudah subuhan tadi?" Suara Ayah selalu menenangkan—berat dan dalam, seperti gema adzan di pagi buta. Di latar belakang terdengar sayup-sayup suara santri-santri kecil mengaji. "Alhamdulillah baik, Bah. Sudah, tadi jamaah di mushola asrama." Kusandarkan punggung ke dinding, membiarkan suara Ayah memeluk kerinduanku. "Bagaimana pesantren? Bagaimana adik-adik?" "Semuanya baik. Nadia baru menang lomba tahfidz tingkat kabupaten. Faiz sekarang sudah berani mengajar santri baru. Dan Dinda..." Ayah tertawa kecil, "masih sibuk dengan kucingnya." Kudengarkan cerita Ayah tentang kehidupan di pesantren Al-Hidayah Madura. Pesantren sederhana yang dibangun dari keringat dan doa, tempat ratusan anak menimba ilmu. Tempat Kak Salma dulu mengabdikan hidupnya, sebelum takdir merenggutnya dari kami. "...dan bagaimana dengan proyekmu, Nduk? Abah dengar dari Bu Naila kau terpilih untuk kompetisi penting?" Kugigit bibir. Haruskah kuceritakan tentang Rafli? Tentang kekhawatiranku bekerja dengan seseorang yang begitu kontroversial? "Iya, Bah. Kompetisi arsitektur dan diplomasi. Saya... dipasangkan dengan mahasiswa jurusan Arsitektur." "Alhamdulillah. Kesempatan baik untuk belajar tentang bidang baru. Siapa partnermu?" "Rafli Arkananta," jawabku pelan. "Dia... agak berbeda dari kebanyakan mahasiswa di sini." Hening sejenak. "Berbeda bagaimana, Nduk?" "Dia jenius, Bah. Tapi banyak rumor tidak baik tentangnya. Katanya anti-otoritas, jarang shalat, bahkan..." kutundukkan kepala meski Ayah tak bisa melihatku, "mungkin punya tato." Di luar dugaan, Ayah tertawa. "Zahra, bukankah Abah selalu mengajarkanmu tentang husnudzon? Berbaik sangka?" "Iya, Bah, tapi—" "Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak menghakimi orang dari penampilan atau rumor. Ingat kisah tentang Umar bin Khattab sebelum masuk Islam? Atau Khalid bin Walid?" Dadaku menghangat. Selalu begini—Ayah selalu tahu cara mengingatkanku pada nilai-nilai yang seharusnya kujunjung. "Maaf, Bah. Saya terbawa gosip." "Tak apa, Nduk. Tapi ingat, kadang Allah mendatangkan guru melalui orang yang tidak kita duga. Mungkin ada hikmah dari pertemuanmu dengan pemuda itu." Setelah berbincang beberapa saat, kami mengakhiri panggilan. Kembali sendiri, pikiranku melayang pada sketsa-sketsa Rafli kemarin. Desain pesantrennya begitu detail, begitu penuh pemikiran tentang kebutuhan para santri dan pengajar. Bagaimana mungkin seseorang yang jauh dari agama memahami hal seperti itu? Mungkin Ayah benar. Mungkin aku terlalu cepat menghakimi. *** Studio arsitektur terasa berbeda di pagi hari. Cahaya matahari membanjiri ruangan melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan pola-pola geometris di lantai. Beberapa mahasiswa duduk di meja masing-masing, sibuk dengan proyek mereka. Kulihat Rafli duduk sendirian di sudut, mengenakan kemeja coklat—warna Rabu, seperti yang kuduga. Begitu tekunnya ia menggambar, hingga tidak menyadari kedatanganku. "Assalamu'alaikum," sapaku, berdiri di samping mejanya. Ia tersentak, menarik napas tajam seperti orang kaget. Tangannya buru-buru menutupi sketsa yang sedang digarapnya. "Wa'alaikumsalam," jawabnya tanpa menatapku. "Kau datang lebih awal." "Aku pikir kita perlu lebih banyak waktu untuk membahas konsepnya." Kuambil kursi di dekatnya, menjaga jarak yang cukup untuk membuatnya nyaman. "Aku sudah membuat beberapa catatan tentang aspek diplomasi dari pesantrenmu." Rafli mengangguk. Ia mengeluarkan tumpukan kertas dari tasnya dan menyodorkannya padaku. "Ini rincian teknis desainku. Aku ingin kau memahaminya sebelum menambahkan elemem diplomasi." Kubuka lembaran-lembaran itu satu per satu. Ada puluhan sketsa detail—dari denah bangunan utama hingga sistem irigasi untuk kebun santri. Tapi yang membuatku terpana adalah desain ruang tahfidz dengan akustik khusus dan pencahayaan natural yang tidak menyilaukan. "Ini... luar biasa, Rafli. Kau sudah memikirkan semuanya." Untuk pertama kalinya pagi itu, ia mengangkat wajah dan menatapku sekilas. "Belum semuanya. Masih ada yang kurang." "Apa itu?" "Jiwa." Tangannya yang kurus menunjuk ke tengah-tengah sketsa. "Bangunan ini punya bentuk, tapi belum punya ruh. Seperti tubuh tanpa nyawa." Keningku berkerut. "Maksudmu?" "Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama. Itu rumah, keluarga, dan benteng pertahanan identitas." Ia menarik napas panjang. "Aku bisa mendesain tembok dan atap, tapi aku tidak paham bagaimana menciptakan rasa... belonging." Ada ketulusan dalam kata-katanya yang membuatku tertegun. Ini bukan Rafli yang digosipkan—pembangkang dan tak acuh. Ini seseorang yang benar-benar peduli dengan esensi dari karyanya. "Kau pernah tinggal di pesantren?" tanyaku hati-hati. Rafli menggeleng. "Tapi aku pernah membangun satu. Atau tepatnya, membantu membangun." "Sungguh? Di mana?" Ia terdiam sejenak, tangannya kembali bermain dengan pensil—kebiasaan yang kuamati selalu ia lakukan saat gelisah. "Di Madura, beberapa tahun lalu. Proyek kecil. Tidak selesai." Jantungku berdebar kencang. Madura? Tanah kelahiranku? "Pesantren apa? Mungkin aku mengenalnya. Aku dari Madura." Rafli mendadak berdiri, merapikan kertas-kertasnya dengan gerakan tergesa. "Sudah lama. Aku tidak ingat namanya." Perubahan sikapnya begitu mendadak, membuatku terheran. Apa yang salah dengan pertanyaanku? "Hari ini aku harus ke rumah sakit," ujarnya tiba-tiba. "Kita lanjutkan besok." "Rumah sakit? Kau sakit?" "Bukan aku." Ia memasukkan semua sketsanya ke dalam tas dengan hati-hati. "Kerabat. Routine check-up." Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Rafli sudah melangkah ke pintu. Namun, selembar kertas terlepas dari tasnya dan melayang pelan ke lantai. "Rafli, tunggu! Ada yang jatuh—" Tapi ia sudah menghilang di balik pintu. Kupungut kertas itu, berniat mengejarnya, namun langkahku terhenti saat melihat isinya. Itu bukan sketsa bangunan, melainkan gambar wajah seorang wanita muda berjilbab. Wajah yang begitu kukenal. Wajah yang selama empat tahun hanya kulihat dalam foto dan mimpi. Wajah Kak Salma. Udara serasa ditarik paksa dari paru-paruku. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Rafli memiliki sketsa kakakku? Dengan tangan gemetar, kubalik kertas itu. Di sudut bawah, ada tulisan kecil: "Salma Hasanah, Pesantren Al-Falah Madura, 2020." Tahun Kak Salma meninggal dunia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD