Chapter 10

1404 Words
Sebenarnya sudah lama. Sebenarnya terasa. Sebenarnya...,cinta itu sudah ada. *** Sasi menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil. Dirinya merasa sangat lelah. Rupanya tidak hanya Sasi saja yang lelah, Raffael bahkan sudah terlelap di pangkuan Sasi. Dia memperhatikan kedua kakaknya sedang asyik membicarakan kejadian seharian tadi dan Sasi memilih diam karena malas terlibat. Pikiran Sasi melayang pada kejadian tadi siang saat bersama Elard. Kembali jantungnya berdegup, dengan lembut, Sasi membelai lembut dadanya agar jantungnya berhenti berulah.  Selama ini, jantungnya berulah hanya saat akan bertemu dan atau sedang bersama Elard, kemudian perasaan lega hadir, saat bisa terlepas dari Elard. Tapi, beberapa hari ini, jantungnya terus berdegup, bahkan saat dirinya sudah terpisah dari Elard, Duh, kenapa d**a ini? Kan ini sudah pulang. Kenapa juga masih mikirin dia, sih. Laki-laki m***m! Sasi merasakan hangat di lengan kirinya. Diusap lembut lengannya dan pikirannya melayang saat ia dirangkul juga dipaksa memakan kue yang sedianya adalah miliknya. 'Pemaksa! Pencuri! Arogan! arghhh..., semoga hari ini kamu sial!  geram Sasi dalam hati. Sasi tidak tahu bahwa di waktu yang bersamaan, Elard justru hampir jatuh tersungkur di tangga eskalator karena salah berpijak. "Ya kan, Sas..., Sas!" seru Kamania dan membuat Sasi gelagapan. "Eh...eh, apa..., apanya yang 'ya kan'?" tanya Sasi bingung. "Melamun, Sas? Ternyata Sasi kita juga berubah," ujar Mahesa sembari tertawa, diikuti Kamania. "Apa sih? orang lagi ngantuk, kok," kelit Sasi dengan sewot.  "Hahaha.... Ngantuk. Tadi kita ngomongin si Elard, kayaknya dia berubah," jelas Kamania dengan senyum simpul. "Berubah apanya? Sama aja, kok. Sok berkuasa. Ah ya..., emang ada yang berubah, sih." "Nah kan. Apa, tuh?" tanya Mahesa penasaran. "m***m!" jawab Sasi dengan mantap dan jelas. Mahesa dan Kamania saling berpandangan sejenak, kemudian pecah tawa keduanya, yang membuat Sasi justru keheranan melihat tingkah mereka. "Hahaha..., aduh..., sakit perut..., hahaha..., kok bisa m***m, sih?" tanya Kamania sambil masih tertawa dan sibuk mencari tissu karena air matanya mulai keluar. "Gak lihat apa, tadi? Dia kan ambil kue saya, plus peluk-peluk saya segala." Dengan setengah emosi, Sasi menjelaskan. "Dia meluk kamu kan untuk suapin kue. Lagipula, gak masalah kalau cuma meluk kayak tadi. Itu tandanya sayang, hahaha...," jawab Mahesa. "Hoek..., sayang? Idih, emang saya siapanya?" "Tunangannya!" Mahesa dan Kamania menjawab bersamaan dan kembali tertawa terpingkal-pingkal. "Tau ah, mau tidur saja," jawab Sasi kesal dan dipejamkannya mata, pura-pura tidur. Kenapa sih mereka? Ngetawain apa, sih? Emang ada yang lucu? Orang lagi emosi, malah ketawa. Tapi....  Kalimat itu terhenti di hati Sasi karena semua kejadian hari ini terlintas lagi. Pegangan tangan Elard, rangkulan Elard, dan senyum Elard. Tampan.... Ternyata Elard tampan dan manis. What? No, no, no..., skip, skip, skip. Sasi menggeleng-gelengkan kepala dengan keras, berharap semua bayangan tentang Elard terlepas dari pikirannya dan menggelinding sejauh mungkin. Aku benci kamu yang sudah menjebabkku dalam pertunangan konyol. Elard m***m! *** Elard berjalan santai. Dia sengaja memilih eskalator daripada lift hanya agar kebih lama menikmati kesan atas kejadian yang baru saja berlalu bersama Sasi. Lelaki tampan itu tak menyadari jika senyum manis terus tersungging di wajahnya. Membuat para wanita, menatanya dengan rasa penasaran. Elard sudah tak peduli dengan sekitar, bahkan saat hampir terjatuh dari eskalator, dia pun tak acuh. Pikirannya terus melayang pada kejadian makan siang tadi. Terselip rasa hangat yang memenuhi d**a Elard. Ia tak pernah menyentuh Sasi sesantai tadi. Ia juga tak pernah menyadari apa aroma yang selama ini ditebar Sasi melalui rambutnya. Ia pun baru tahu jika dirinya bersinggungan dengan tubuh Sasi, maka dunianya akan berkabut indah. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang dan Elard sedikit kecewa karena itu Elle. "Oh, kamu," ujar Elard sambil lalu. Raut kesal tak bisa disembunyikan dari wajahnya yang kembali dingin tanpa senyum. Elle yang menyadari perubahan wajah Elard, menaikkan sebelah alisnya, bingung. "Kenapa ada di sini? Bukannya sudah ke pusat?" tanya Elard heran. "Saya tadi kan tidak ikut kalian. Saya masih audit sebentar di atas." Elard mengangguk-angguk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju pelataran luar mal. Sopirnya sudah menunggu. "Kok, masih di sini? Tristan mana? Bukannya meeting sudah selesai sejak tadi?" berondong Elle. Wanita cantik dengan alis bulan sabit itu mengernyit. Harusnya sudah sejak tadi Elard ada di kantor pusat. Dia juga keheranan menyadari bahwa Elard seorang diri tanpa Tristan. Apakah Kak Elard menemui seseorang? Siapa? tanya Elle dalam hati. Sayangnya, mau tanya dalam hati maupun lisan, Elard tak menjawab. Sampai keduanya berpisah di pelataran parkir karena Elle membawa mobil sendiri. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor pusat, Elle gelisah. Pikirannya dipenuhi tanya akan Elard yang sendirian di mal. Dia kesal karena baru ini alpa akan kegiatan Elard. Selama ini dia tahu Elard ke mana dan bersama siapa.   Entah Elard tahu atau pura-pura tidak tahu, sejak kecil, Elle menyukai dan bahkan mencintai Elard. Elle selalu mengekor pada Elard, dari sekolah yang dipilih bahkan hobi yang ditekuni, semuanya berkaitan dengan Elard. Bahkan, alih-alih mengambil jurusan hukum, mengikuti jejak sang ayah yang seorang hakim agung, Elle justru mengambil kuliah bisnis. Saat lulus, Elle tidak ingin terlibat dalam perusahaan keluarga, melainkan bekerja pada Elard. Elle sudah terobsesi akan sosok Elard. Namun, Elle selalu menjaga kewarasannya. Tak pernah sekali pun dia memaksakan perasaannya ditanggapi atau diterima Elard. Tetap bagi Elle, asal Elard bahagia, dia tak apa-apa. Kini Elard dan Elle sudah berada di kantor pusat Blenda. Elle masih mengekor sampai di ruangan Elard. Wanita cantik ingin memberikan laporan singkat perihal Mal Blenda. Namun, ada tujuan lain sesudahnya, yaitu mengajak Elard makan siang yang kesorean. "Saya belum makan, nih," ujar Elle setelah memberikan laporan keuangan. Elard menatap Elle heran. "Kenapa belum?" "Tadinya mo ngajak Kak Elard makan sama-sama." Saat cuma berdua atau bersama orang-orang terdekat, Elle akan menanggalkan formalitas. Terdengar ketukan sesaat dan pintu terbuka. Laki-laki jangkung dengan kaoh gelap dan topi warna senada, melenggang masuk dengan senyum  manis. Lesung pipinya adalah pesona tambahan. "Wah lengkap," ujarnya sembari menatap Elard dan Elle bergantian. Dia kemudian duduk di sebelah Elle. Dengan sengaja menghadap Elle. "Apa sih, Azka!" Elle risih ditatap sedemikian rupa oleh Azka. "Hai, Beautiful." Ella tak menjawab, ia sibuk merapikan kertas-kertas laporan. "Dari mana?" tanya Elard. "Studio." "Lagu baru?" "Yup. Sekalian latihan buat show nanti." "Berlanjut?" "Lupa?" Elard mengernyit. Dia bukan lupa, hanya mungkin mengabaikan. Elard tak terlalu suka terlibat dengan kegiatan adiknya yang hingar-bingar. Dalam hati kecilnya, Elard berharap sang adik mau ikut terlibat mengembangkan perusahaan. "Mal Blenda kan meminta kita tampil untuk event khusus." Elard mengangguk mafhum atas penjelasan Elard. "Kalian sudah makan, ya?" "Elle belum," jawab Elard. Azka senyum sumringah seolah baru menang lotere, ia langsung memajukan badannya agar lebih dekat dengan Elle. Elle yang merasa terganggu akan ulah Azka, menatap Azka dengan melotot dan menggelengkan kepala. "Ayo, dong makan, ini udah jam tiga, lho. Nanti kalau atit gimana?" Azka sengaja mengeluarkan nada manja untuk menggoda Elle. Bukannya tertawa, Elle justru semakin melotot dan mengomel dengan nada berbisik. "Elle, makan saja dulu sana, sama Azka," kata Elard. Mendengar itu, Azka langsung mengusrukkan kepalanya ke lengan Sara. "Tuh, Pak Bos suruh makan, ayo!" ajak Azka sekali lagi. "Duh, apa sih!" Elle membentak Azka. "Saya gak usah makan aja, kita bisa langsung diskusikan panel produksi itu," lanjut Sara. "Makan sajalah dulu, kamu kan juga ada maag. Toh, ini masih saya pelajari dulu. Udah Azka, sana bawa Elle makan," ujar Elard dengan nada setengah memerintah. "Tuh..., Ayo, ah." Azka berdiri dan ditariknya lembut tangan Elle. Akhirnya dengan sedikit kesal, Elle mengikuti Azka. "Elle. Langsung saja pulang. Gak usah kembali lagi ke kantor," ujar Elard. Elle mengangguk. Setelah Elle dan Azka keluar ruangan, Tristan masuk. "Kamu bisa tinggalkan saya dulu, Tristan?" pinta Elard yang ingin sendirian. "Baik, Pak," jawab Tristan, sambil menganggukkan kepala, Tristan pun keluar dan menutup pintu perlahan. Kini Elard hanya sendiri, ia menyalakan laptopnya dan mulai mencari file yang diperlukan untuk dipelajari. Saat ia serius mempelajari isi file, tiba-tiba di layar laptop muncul wajah Sasi. Kejadian saat di tempat bermain, saat Sasi membalikkan badan dan menatap dirinya, saat Sasi membuka mulutnya untuk menerima kue yang di sodorkannya, semua terpampang jelas bagaikan slide picture dengan efek slow motion. Elard sempat tertegun, tetapi segera kembali pada kesadarannya. Ia menyandarkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Elard berniat untuk mengistirahatkan mata, karena ia berpikir matanya sedang bermasalah. Entah Elard sedang  sial atau beruntung, saat terpejam justru wajah Sasi semakin jelas. Kibasan ringan rambutnya saat membalikkan badan, mata yang selalu terbelalak, mulut yang setengah terbuka. Cantik..., matanya benar-benar cantik..., dan bibirnya.... Apakah manis? Astaga! Ya Tuhan! Arghhh..,. kenapa aku seperti laki-laki m***m? Arghhh...' Elard membelalakan mata dan mulai gelisah dengan pikirannya sendiri. Dia harus punya wibawa di hadapan Sasi. Bukankah selama ini Sasi mudah diintimidasi. Tapi, sejak kejadian Diana, sepertinya Sasi memiliki kekuatan baru. Sekarang keadaan berbalik, perubahan Sasi membuat Elard merasa terintimidasi dengan hasrat yang ia sendiri tak bisa memaknainya. Kenyataan itu melukai harga dirinya. Dalam hati, Elard berjanji tak akan lagi terjebak akan pesona baru Sasikirana Geofrey. Akhirnya, melalui interkom, dipanggilnya lagi Tristan. Dirinya butuh seseorang yang bisa membuatnya sibuk berpikir. Elard menghembuskan napas panjang dan tepat saat Tristan masuk, semua bayangan Sasi lenyap seketika. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD