Ada yang mengintip di balik rindangnya sayang. Ada yang penasaran di balik lebatnya cinta. Sengaja aku sembunyikan, karena kamu bersembunyi.
***
Sasi menunduk dan kembali bermain-main dengan bunga Jacaranda. Dirinya bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Jika ia menjawab jujur, maka akan kelihatan betapa materialistis keluarganya, terutama ayahnya. Menerima Elard menjadi tunangan bukanlah pilihan. Itu adalah ketetapan yang diberikan sang ayah untuk Sasi. Semua terlandaskan pada obsesi materi. Sungguh tak mungkin bagi Sasi berkata jujur.
Namun, dirinya tak suka berbohong. Selama bersama Elard, tak pernah sekali pun Sasi berbohong. Hanya kalau diingat-ingat, Elard sendiri memang tak pernanh bertanya ini itu yang aneh-aneh. Dan buat Sasi, pertanyaan Azka termasuk aneh.
Dalam kebimbangannya, Sasi tidak tahu jika di sudut lain, cukup tersembunyi di balik salah satu pohon. Tidak terlalu jauh dari Azka dan Sasi, berdiri dalam diam, Elard.
Tadinya Elard menjenguk Buyut Eva. Dilihatnya pintu geser belum ditutup gorden, saat itulah dia melihat bayangan dua sosok yang dikenalnya sedang duduk bersisian di taman. Ada perasaan tak suka, menyadari Sasi dan Azka duduk bersisian tanpa terlihat canggung.
Elard sudah berdiri cukup lama. Sangat cukup baginya untuk melihat sisi Sasi yang lain. Sasi terlihat sangat santai. Wanita cantik itu bahkan tak sungkan memukul lengan Azka. Tawanya pun sangat lepas membuat Elard gemas.
Sejak dulu, Sasi memang terlihat lebih santai jika di dekat Azka. Mungkin karena keduanya dalah teman sekolah selama enam tahun. Walaupun begitu, sore ini Elard disergap rasa cemburu. Sasi tidak pernah senyaman itu padanya.
Lain dari rasa cemburu yang menyelip, sebenarnya Elard sedang gelisah. Jantungnya berdebar-debar menunggu jawaban Sasi atas pertanyaan Azka.
"Hmmm.... Mmm...." Sasi menggumam pelan, sampai-sampai Azka harus sedikit mendekat. Pun Elard yang semakin merapat ke pohon dan menajamkan pendengarannya.
"Biar Elard sendiri yang bertanya," lanjut Sasi, membuat Elard mengepalkan tangan karena geregetan. Sedangkan Azka justru tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..., sungguh-sungguh bijaksana. Ya 'kan, Kak Elard?" Azka sengaja mengeraskan suaranya saat menyebut nama Elard.
Azka tidak yakin sudah berapa lama Elard bersembunyi di sana. Hanya tadi, tak sengaja dia melihat kelebat bayangan mencurigakan. Menyadari itu kakaknya, dengan sengaja Azka iseng melontarkan pertanyaan menjurus pada Sasi.
Sasi maupun Elard sama-sama terkejut. Sasi melotot dan segera mengikuti arah mata Azka. Seketika jantungnya langsung berdegup keras, demi melihat sosok Elard yang berdiri sedikit tersembunyi dari balik pohon.
Ya Tuhan. Itu Elard! Sejak kapan ia di sana? Apa saja yang sudah didengarnya? Apa ia juga mendengar tentang skenario wawancara? Ya Tuhan. Bagaimana ini? benak Sasi berkecamuk tidak menentu. Sasi cemas, terlebih kini Elard menatapnya dengan tajam.
Elard pun memiliki kegelisahan yang sama dengan Sasi.
Sial, dasar monyet kecil. Arghhh..., kalau dia tahu saya di sini, harusnya tutup mulut. Bikin harga diri jatuh aja. Bagaimana kalau Sasi mengira saya suka menguping? Sial! Tak henti-hentinya Elard memaki diri sendiri dan juga memaki Azka di dalam hati.
Sedangkan Azka terlihat sangat senang, ia tertawa cekikikan. Azka merasa lucu melihat Sasi dan Elard yang begitu kaku. Tak habis pikirnya, bagaimana dua orang yang sangat bertolak belakang, bisa bertahan tiga tahun lamanya.
Dengan segala sisa harga diri yang dimilikinya, Elard melangkah menghampiri Azka dan Sasi. Tatapannya tak dilepaskan dari sosok Sasi. Ada sedikit kegembiraan saat melihat Sasi mulai terintimidasi. Kegelisahan Sasi tak bisa disembunyikan dan Elard puas, dengan begitu dia masih bisa menyelamatkan kehormatannya.
"Ngapain kamu masih di sini?" tanya Elard yang sudah berdiri di hadapan Sasi. Yang ditanya justru hanya melongo, menatap Elard yang berdiri menjulang di hadapannya, bagaikan raksasa.
Tiba-tiba angin berembus, menjatuhkan lagi beberapa kelopak bunga ungu dari pohon Jacaranda, yang salah satunya terjatuh di antara rambut Sasi. Elard membungkuk, mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sasi.
Ini adalah jarak paling dekat diantara keduanya. Sejajarnya mata Elard dengan mata Sasi, membuat Elard bisa leluasa mengagumi mata Sasi yang sedang terbelalak. Mata Elard turun ke bibir Sasi yang terbuka. Getar halus merasuk dalam diri Elard, hasratnya terusik dan Elard menyadarinya.
Elard hampir saja merealisasikan hasrat akan bibir Sasi, ketika tiba-tiba Sasi mengeluarkan suaranya. "Saya..., mmm..., mau masuk." Setengah berbisik Sasi bicara.
Mata Sasi bergerak-gerak gelisah dan dibasahi bibirnya yang terasa kering. Apa yang Sasi lakukan atas bibirnya, hanya makin menyiksa Elard.
Elard kemudian mengangkat tangan kirinya, membuat Sasi terperangah. Sasi berpikir Elard akan menamparnya. Tapi kemudian Sasi merasakan tangan Elard di atas kepalanya. Jantung Sasi berdegup tidak karuan. Ada rasa nyeri yang tidak tahu di bagian mana.
Sasi merasakan tangan Elard membelai kepalanya. Hanya sekali usapan, tapi mampu membuat Sasi blingsatan sendiri. Sasi ingin segera berlari dari situasi yang tidak bisa dijelaskan ini. Ini sudah semakin menyiksa Sasi.
Sedangkan Elard, sangat menikmati momen itu. Elard bersyukur ada sekuntum bunga yang jatuh di kepala Sasi. Diambilnya kesempatan untuk membelai rambut Sasi yang tergerai indah dan lembut. Hanya sekilas, tetapi setidaknya sedikit dari sekian besar hasrat yang tadi timbul, kini sudah terpenuhi.
Disodorkannya bunga ungu Jacaranda ke hadapan Sasi. Sasi terperangah, karena ternyata Elard hanya berniat mengambil bunga dari kepalanya. Sasi sangat malu akan dirinya sendiri. Sontak ia berdiri, yang justru membuat Elard maupun Azka terkejut, apalagi tindakan Sasi hampir membuat kepalanya beradu dengan kepala Elard yang masih membungkuk.
"Permisi," pamit Sasi dengan suara berbisik.
Sasi bergeser sedikit dan mulai melangkah melewati Elard. Langkahnya tiba-tiba terhenti, tangan kanannya dipegang Elard, dan saat Sasi masih terkejut, tiba-tiba dirinya sudah ditarik Elard.
Tarikan tangan Elard, membuat Sasi berbalik dan menempel ke tubuh Elard. Jantung Sasi berdegub keras. Sasi khawatir suara jantungnya tidak hanya terdengar oleh Elard tapi juga bisa dirasakan Elard.
Sasi tak bisa memegang dadanya, hanya untuk sekedar menyembunyikan atau menenangkan jantungnya yang berdebar, karena tangannya yang satu masih dipegang Elard dan tangannya yang lain memegang d**a Elard, sebagai penahan agar dirinya tidak benar-benar menempel pada Elard.
Sebenarnya, Elard berada dalam situasi yang sama dengan Sasi. Aroma rambut Sasi dan tangan Sasi yang ada di dadanya, membuatnya blingsatan tidak karuan. Mati-matian ia menahan salah satu tangannya yang terbebas, agar tidak memeluk pinggang Sasi, karena jika ia nekat melakukannya, dipastikan ia tak bisa menahan hasrat liar yang tadi dibendungnya.
"Pertanyaan tadi belum dijawab." Elard mengingatkan.
"Per...pertanyaan apa?" tanya Sasi tak mampu menyembunyikan resah.
"Yang tadi ditanya Azka."
"Oh...."
"Oh?" Sebelah alis Elard terangkat naik dan itu hanya membuat Sasi susah berpikir.
"Trus apa?"
Di titik ini, Elard benar-benar ingin mencium Sasi. Dirinya butuh pengalihan agar waras. Teringat bunga Jacaranda di tangannya, Elard kemudian dengan sengaja menyelipkan ke telinga Sasi.
"Pertanyaan Azka tadi, terhitung hutang jawaban. Saya akan tagih nanti. Masuk dan berdandanlah."
Sasi merasakan nada perintah dari kalimat Elard, apalagi tidak ada senyum di wajah Elard. Merasa kesal dan gemas, dengan kekuatan yang tersisa, Sasi menyentak tangan Elard. Bergegas dia melangkah menjauhi Elard.
"Sasikirana Geofrey!" seru Elard. Menghentikan langkah Sasi dan Sasi menoleh.
"Jangan bikin malu saya dan berdandanlah yang cantik," perintah Elard dengan suara berat.
Sempat terlihat kilatan cahaya emosi dari mata Sasi sebelum kemudian berlalu, membuat Elard tersenyum lebar. Seperti anak kecil, di hatinya justru sedang bersorak. Elard telah memenangkan permainan.
"Jangan bikin malu saya, berdandanlah yang cantik. Wuah... romantis sekali," sahut Azka sambil tertawa menggoda.
Elard memutar tubuh menghadap Azka dan melotot kearahnya. "Ooo..., jadi kalau di belakang, kalian sering menggosipkan saya, ha?"
Azka tertawa keras menghampiri kakaknya. Dikalungkan sebelah tangannya ke leher Elard, dengan sedikit menggoda, Azka bertanya pada Elard, "Dan..., apakah si batu es ini mulai merasakan namanya cemburu?"
Azka mengedip-ngedipkan matanya dengan lucu, tetapi Elard membalasnya dengan memberikan jitakan di kepala Azka.
"Aduh, sakit!" seru Azka. Dielusnya kepala yang tadi dijitak Elard.
"Makanya, jangan ngomong sembarangan." Elard tertawa ringan sembari berjalan meninggalkan Azka dan Azka segera mengejar Elard untuk menggodanya lagi.
***