Chapter 16

1157 Words
Pertanyaan baru dimulai. Perlu tahu kenapa ada penerimaan? Agar hati dan perasaan tenang menjalani, bersamamu. *** Hari beranjak senja, semua orang semakin giat dan sibuk dengan tugas masing-masing yang sudah diarahkan. Tidak ada yang bisa dilakukan Sasi, semua sudah dikerjakan oleh tenaga profesional atau yang diperbantukan. Setelah berkenalan dan ngobrol singkat dengan Aline, si calon pengantin, Sasi berkeliling rumah Oma Sofia. Rumah itu sangat megah, besar juga luas. Ada banyak ruangan, bahkan ada banyak pintu tembus, tiap ruangan punya fungsi dan ornamen yang berbeda-beda, membuat siapa pun menjadi takjub dan kagum. Pada akhirnya, Sasi menyadari dirinya tersesat. Dia berada di tengah lorong. Bingung antara terus maju menuju ruangan lain atau mundur dan menelusuri lainnya. Terdengar denting bel angin dari salah satu ruangan. Sasi melangkah mencoba mengikuti arah asal suara. Ditemuinya sebuah kamar yang besar dengan pintu yang sebagiannya terbuka. Sasi melongok ke dalam kamar. Seketika siur angin senja membelai wajah Sasi. Di sisi lain ruangan ternyata ada pintu geser yang terbuka. Terlihat wanita yang jauh lebih renta dari Oma Safia, duduk di atas kursi roda yang sudah dimodifukasi. Sandarannya dibuat sedikit lebih rendah dari kursi roda pada umumnya, dan juga ada tambahan penampang agar kaki tidak selalu ke bawah, melainkan bisa diselonjorkan. Sasi ragu menghampiri, tetapi khawatir mengingat angin sore terasa dingin. "Permisi...." Sasi memberi salam dengan mengetuk perlahan pintu. Si wanita tua menoleh perlahan dan tersenyum. Tangannya yang kurus, terangkat lemah dan melambai ke arah Sasi. "Nek." Lembut Sasi menyapa sembari berjalan masuk. Dilihatnya gantungan bel angin yang masih terus berdenting.  "Nenek sedang apa? Udah mau malam, lho. Nenek mau apa?" tanya Sasi. Dia kini berjongkok tepat disebelah si nenek. Nenek hanya tersenyum saja dan kemudian menunjuk ke arah tempat tidur. "Nenek mau tidur, ya?" Dan lagi-lagi pertanyaan Sasi dijawab dengan senyuman, tetapi kali ini si nenek membelai rambut Sasi. "Ya udah, hayuk lah, hehehe...." Sasi mulai mendorong kursi roda masuk. Walau awalnya semangat, tapi dalam hati, Sasi ragu bahwa ia bisa mengangkat si nenek ke tempat tidur. Sampai di sisi tempat tidur, Sasi memutar otak, mencari cara untuk mengangkat si nenek. Sasi menegakkan sandaran kursi agar nenek duduk lebih tegak, kemudian Sasi mencoba membopong si nenek dan gagal. "Sas..., eh..., Teh!" Tersengar suara Azka dari pintu kamar. Sasi menoleh dan tersenyum lega. "Buyut mau tidur?" tanya Azka sembari melangkah mendekat. Dengan sigap Azka membopong si nenek ke tempat tidur. Sasi segera menyelimuti si nenek dan merapikan anak-anak rambut di sekitar wajah si nenek dengan sayang. "Ini buyut?" tanya Sasi, sambil tetap membelai si nenek dengan sayang. "Iya. Buyut Eva," jawab Azka, yang kemudian rebahan di sebelah Buyut Eva. "Usianya 97 tahun. Hmmm..., atau sudah 100 tahun, yah," lanjut Azka yang menerka-nerka usia Buyut Eva. "Aduh kamu ini. Kok segitunya gak yakin, sih." "Sebenarnya, setiap tahun ada pesta ultahnya. Tapi, you know-lah, saya kan artis, gak bisa selalu hadir, hehehe...." Sasi hanya mencebik membuat Azka tertawa "Tapi, kok Buyut Eva gak ada yang jagain? Kasihan kan kalau sampai kemalaman di luar seperti tadi." "Ada suster yang jagain sebenarnya. Tadi dia ke dapur untuk isi termos dengan air panas baru. Rupanya ada kerabat yang gak tahu apa-apa kemudian main minta tolong aja untuk bantu ngerjain sesuatu. Karena suster ini orangnya gak enakkan hati, dia manut aja. Untung tadi aku lihat dia di dapur lagi iris-iris. Dari dia aku tahu Buyut Eva masih di luar." "Mungkin baiknya dikasih bel yang bisa di bawa ke mana-mana." "Saranmu bener juga. Nanti aku sampaikan ke Oma." Setelah yakin Buyut Eva lelap, perlahan keduanya turun dari tempat tidur. Azka kemudian memberi isyarat dengan kepalanya, agar Sasi mengikutinya. Keduanya bersama-sama keluar melalui pintu geser yang langsung mengarah ke taman belakang, rumah Oma Sofia. Sasi terpesona dengan taman di rumah Oma Sofia, sangat mewah dan artistik. Ada begitu banyak pohon dan bunga, juga ornamen yang ditempatkan dengan pas, semuanya mengingatkan Sasi akan gaya rumah-rumah mewah di film-film Korea atau Jepang. Azka mengajak Sasi duduk di bangku taman yang terbuat dari batu, tepat di bawah pohon yang berbunga ungu. Sasi takjub dengan keindahan pohon yang hampir seluruhnya berwana ungu. Azka menepuk tempat kosong di sebelahnya, agar Sasi duduk. Sasi memungut salah satu bunga ungu yang gugur. "Ini apa Azka? Indah...." tanya Sasi kagum. "Ini namanya pohon Jacaranda, bunganya berwarna ungu begitu. Bibitnya di dapat dari Afrika Selatan." "Wah..., tanaman di sini semuanya impor, ya." "Hahaha.... ya begitulah, beberapa sih. Oma Sofia kan suka travelling dan bercocok tanam." "Perpaduan hobi yang keren. Nanti kalau punya rumah sendiri, saya mau minta bibitnya ke Oma Sofia, ah." "Idih ngapain minta ke Oma? Pergi sendiri dong sama Kak Elard." Kemudian Azka mendekat ke Sasi dan membisikkan sesuatu, "Sekalian bulan madu." Sontak wajah Sasi memanas dan memerah, dipukulnya lengan Azka, gemas. Bukannya kesakitan, Azka justru tertawa. "Sas..., eh, Teh." Azka meralat sapaannya ke Sasi. "Udah, panggil Sasi aja, kan cuma ada kita berdua," ujar Sasi dengan tersenyum. "Hehehe..., oke deh. You know me so well." Dan keduanya kembali tertawa. "Sas..., gimana caranya kamu menghadapi si batu es?" tanya Azka. "Batu es?" Sasi menelengkan kepala ke arah Azka, kebingungan dengan siapa yang dimaksud. "Tuh, tunangan tercinta yang bertemu di depan pintu itu, lho," terang Azka, sengaja menggoda Sasi dengan mengutip kata-kata Elard ketika diwawancara oleh majalah Eksekutif. Sekali lagi Sasi melayangkan tinjunya ke lengan Azka.  "Apa sih ah...," jawab Sasi setengah merajuk. "Eh, tapi kok batu es?" tanya Sasi kemudian. "Itu julukan yang dikasih para fans Kak Elard." "Kenapa batu es? Sama gak sih ama es batu?" "Hahaha..., entahlah. Katanya sih, kalau es batu, air yang jadi es, jadi akan ada masa mencair. Nah kalau batu es, batu yang beku, jadi gak akan pernah cair." "Wah, filosofi yang mengerikan." Sasi tertawa geli. "Tapi bahkan walau batu es, punya fans, ya." "Dulu, di masa sekolah dan kuliah, setiap valentin, kenaikan kelas, atau tahun baru, selalu ada tumpukan surat dan macam-macam bingkisan, yang isinya coklat, bunga, boneka, baju, dan lain sebagainya," jelas Azka, sambil diliriknya Sasi, mencari tanda-tanda cemburu. Tapi, Sasi hanya diam. "Kok diam? Cemburu, ya?" Disikutnya lengan Sasi dengan lembut. "Ah enggak, kok. Saya cuma heran saja. Batu es begitu, punya fans yang loyal. Mmm..., kalau begitu banyak yang mengidolakannya, kenapa dia tidak memilih satu di antara mereka, ya?" Sasi bicara perlahan di akhir kalimat, seolah bicara pada dirinya sendiri. "Kalau itu, lebih baik kamu cari tahu sendiri, Sas. Tapi, bukankah kamu cinta pertamanya? Perempuan yang memesona di ambang pintu masuk, hahaha...." "Itu karangan dia dan Elle. Sesaat sebelum wawancara, saya diberi skenario yang berisi pertanyaan dan apa yang harus dijawab." "Ha? Elle? Skenario?" Azka terlihat kebingungan dan Sasi hanya menjawab dengan anggukan. Azka kemudian hanya menggeleng-gelangkan kepala dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagian mana yang skenario? Tapi, apa Sasi benar-benar tidak ingat kejadian di depan pintu rumahnya? Dan lagi, siapa yang membuat skenario? Kak Elard? Elle? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benak Azka. Ditatapnya Sasi yang masih berkutat dengan bunga-bunga Jacaranda yang berguguran. Ada banyak rumor di sekitar Sasi saat sekolah dulu. Dari yang Sasi anak angkatlah, sampai tentang Sasi yang anak dari simpanan ayahnya. Itu kenapa katanya perlakuan keluarga berbeda terhadap Sasi. Namun, saat itu Azka tak terlalu peduli. Apalagi sebenarnya Sasi adalah sosok yang menyenangkan dan menenangkan, walau sangat pendiam dan mudah gugup. "Sas...." Sasi mengangkat kepalanya, dan menatap Azka. "Kenapa kamu menerima Kak Elard?" tanya Azka kemudian. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD