Chapter 15

1278 Words
Bagai kisah Lutung Kasarung. Aku pun menyembunyikan milikmu. *** "Ada apa?" Dengan nada dibuat tinggi, Elard mengajukan tanya terlebih dahulu. Hal itu dilakukannya untuk menutupi rasa kalut yang tidak biasa dirasakan dan untuk mengintimidasi Sasi. Dalam hati, Elard berharap Sasi tidak sadar kalau ponselnya sudah tidak ada. "Eh? Enggak. Gak ada apa-apa, kok." Sasi sedikit terjekut karena dibentak Elard. Dia mulai tidak nyaman karena hanya berdua saja dengan Elard. Sebenarnya Sasi ingin mengajukan tanya, kenapa tak dibangunkan jika memang sudah sampai, tetapi diurungkannya setelah dibentak Elard. Elard kemudian merasa bersalah. Dia tak suka Sasi yang sekarang. Kikuk dan ketakutan, karena itu membuat mata indah Sasi redup. "Ehem..., kita masuk aja," ajak Elard sambil membuka pintu mobil. Sasi hanya mengangguk dan ikut membuka pintu mobil. Saat di luar, angin lembut menyapa Sasi, mempermainkan rambut Sasi dengan liar. Sasi tersenyum dan menikmati sejuknya angin. Elard diam terpukau. Adegan dihadapannya membuatnya menggila, ada hasrat aneh yang timbul. "Bunga kambojanya cantik. Saya belum pernah melihat bunga kamboja secantik ini." Suara Sasi menyadarkan Elard. Dilihatnya Sasi memegang sekuntum bunga kamboja. Bunga kamboja itu memang berbeda. Kelopaknya seperti bukan putih, melainkan semburan warna merah muda yang tipis. Dari bagian dalam begitu jingga dan transisi menjadi kuning cerah. "Itu dari Hawai," jawab Elard. "Hawai? Wah, wah…, kamu jauh juga, yah. Pantas kamu cantik." Sasi tersenyum dan membelai lembut kelopak bunga kamboja itu. Elard segera berlalu, dirinya tak mau lagi terjebak akan hasrat yang sepertinya sudah menggila. Tetapi, baru beberapa langkah, Elard menyadari bahwa Sasi tak mengikutinya. Ia memutar tubuhnya dan terjebak lagi akan sesuatu yang dilakukan Sasi. Sasi sedang mematutkan dirinya di depan kaca gelap mobil belakang. Bunga kamboja hawai, terselip di telinganya dengan sangat manis, ditemani angin yang masih bermain di seputar rambut Sasi. Sasi menoleh ke arah Elard, dia tersenyum sangat manis. Semua itu bagaikan adegan slow motion bagi Elard. Hatinya terdiam, otaknya tak bekerja, tubuhnya kaku bergeming. Melihat reaksi Elard, Sasi merasa dirinya konyol. Segera Sasi melepaskan kamboja yang tadinya tersemat manis di telinga. Dengan menunduk, menyembunyikan malu, Sasi bergegas mendekati Elard. Kini keduanya saling berhadapan, cukup dekat. Elard menjadi gelisah, terlebih Sasi menatap dirinya dengan matanya yang indah. Pantulan matahari sore, membuat kilau emas di mata madu Sasi.  "Mmm..., apa kita masuk, Elard?" Nada suara Sasi ditangkap Elard berbeda. Ada getaran yang langsung mengena ke ulu hati. Elard tak menjawab, ia justru berbalik dan mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah, sedangkan Sasi hanya mengikuti dalam diam. Terlihat dari arah rumah, pasangan Wardah dan Priadi, pelayan keluarga Blenda, berjalan menghampiri keduanya dengan tergesa-gesa. "Aduh, kalian ini," ujar Wardah sambil mengelus d**a, tanda kelegaan. Sedangkan Priadi yang berdiri di belakang istrinya, tersenyum saja menatap Elard dan Sasi. "Kami baik-baik saja, Bu Wardah," sahut Elard manis. Sasi melirik ke arah Elard dan ia terpukau akan senyum Elard. "Ya sudah..., ayo masuk. kalian belum makan, 'kan? Oma Sofia mencari kalian," ajak Wardah dan dijawab dengan anggukan kepala dari Elard. Elard dan Sasi melangkah masuk lewat gerbang samping, sedangkan Wardah dan Priadi masih berdiri mengamati keduanya  masuk. "Pasangan itu masih saja kaku, satu dengan yang lainnya." Wardah menghela napas. "Biarkan. Beri mereka waktu, terutama untuk Mas Elard," jawab Priadi. "Apa Mas Elard masih trauma, ya? Aduh, padahal saya suka sama Mbak Sasi. Orangnya lembut, kalem, cantik. Lengkap dan sempurna." "Hush! Sudah, ayo masuk," ajak Priadi sambil mengapit lengan istrinya yang kelihatan enggan masuk, karena ia masih ingin menyuarakan isi hati kepada suaminya. *** Suasana di dalam rumah Oma Sofia sangat riuh. Beberapa orang terlihat sibuk mempersiapkan acara adat narosan atau lamaran untuk nanti malam. Para kerabat menyapa Elard dan ditanggapi dengan ramah oleh Elard, Sasi pun diperkenalkan. Sasi tidak bisa santai jika berada di lingkungan baru, apalagi ramai begini. Ia akan merasa gelisah. Tanpa sadar Sasi menempel pada Elard dan tangannya mengapit lengan Elard. Elard bukan tak menyadari tindakan Sasi, tetapi dia memilih bersikap tak acuh. Elard menjaga perasaan Sasi agar tak semakin kikuk. "Duh, mesranya. Tapi tunangan aja, kapan nikahnya?" tanya seorang wanita paruh baya yang sedang merangkai bunga. Pertanyaannya disambut tawa dan senyum orang-orang disekitar mereka. "Nanti pasti akan ada kabar gembira," jawab Elard sambil mengedipkan mata. Sontak yang lain menjawab dengan sorak-sorai menggunakan bahasa sunda yang tidak dimengerti Sasi. Elard kembali melanjutkan langkahnya ke dalam, dengan Sasi yang masih menempel di sisinya. Setelah melewati beberapa ruangan, akhirnya mereka memasuki ruangan yang luas. Ada meja makan yang cukup panjang dan kursi-kursi berwarna emas mengelilingi meja. Ada juga beberapa meja prasmanan yang ditata manis di sudut lain, sepertinya meja-meja itu sengaja ditambahkan karena banyaknya keluarga yang datang. Juga ada beberapa sofa tambahan. Sasi melihat Azka dan Elle duduk berdekatan di sofa kecil yang memang bisa diisi untuk dua orang. Azka menepuk sofa lain disisinya sebagai isyarat bahwa mereka sudah menyediakan tempat duduk bagi Elard dan Sasi. Sasi hanya tersenyum dan mengangguk. Elard melangkah ke meja makan utama, di mana beberapa kerabat yang lebih tua sedang duduk mengitari meja makan. Di ujung meja, tampak seorang wanita yang sudah berumur, tetapi masih terlihat kecantikannya. Tatapannya tajam ke arah Sasi, tidak terlihat senyum di wajahnya, justru membuat Sasi ketakutan setengah mati. Sasi meremas kuat lengan Elard, yang dibalas Elard dengan usapan lembut pada jari-jemari Sasi. "Oma...," sapa Elard, dengan sedikit membungkuk hormat pada wanita tua yang tidak tersenyum. Sasi tidak berani mengangkat kepalanya, dia hanya menunduk. Wanita yang disapa Oma, terus menatap Sasi. Menilai dari atas ke bawah, menelengkan kepala ke kanan, ke kiri, hanya agar lebih jelas melihat Sasi yang menunduk. Semua terdiam, bahkan Aaron dan Veronica yang duduk tepat di sisi Oma juga diam dan ikut-ikutan mengamati Sasi. Elard merasakan getar halus dari lengannya. Rupanya kini tidak hanya jemari Sasi saja yang gemetar, tubuh mungilnya. Refleks, Elard meremas jemari tangan Sasi, berharap apa yang dilakukannya bisa menenangkan Sasi.  Tiba-tiba, ditengah-tengah ketegangan yang dirasakan Sasi, terdengar suara Oma yang tertawa. "Hahaha..., tegang, yah? Sini kamu." Tangan Oma melambai ke Sasi, isyarat agar Sasi mendekat. Sasi menatap Elard yang tersenyum kepadanya. Perlahan Sasi melepaskan tangannya dari lengan Elard dan ragu-ragu berjalan mendekati Oma. Oma mengulurkan tangannya dan menggapai jemari Sasi. "Siapa namamu?" tanya Oma dengan senyum menenangkan Sasi. "Sasikirana Geofrey." "Nama yang sangat cantik. Pas dengan pemiliknya," seloroh Oma yang diiringi tawa halus yang lain. "Saya neneknya Elard. Sofia Blenda. Panggil saja Oma Sofia." Oma Sofia masih mengamati Sasi yang berdiri kikuk. Sedikitnya, ia sudah mendengarkan cerita Aaron Blenda—putranya—kalau Sasikirana ini adalah pilihan Elard. Entah kenapa cucunya memilih Sasi, tapi sebagai seorang yang tua, ia bisa melihat kelembutan tiada batas dari diri Sasikirana. "Kamu jangan kelamaan tunangan. Kamu juga jangan lepasin dia, auranya bawa rejeki buat kamu. Awas kalau lepas!" ujar Oma yang berbicara dengan bahasa sunda, sembari melotot ke arah Elard. Seketika semuanya tertawa dan beberapa di antaranya bersahutan mengejek Elard. Tak ada tanda-tanda marah dari Elard, ia bahkan tertawa. Semuanya berbicara dengan bahasa sunda, membuat Sasi berprasangka jika orang-orang, termasuk Elard sedang menertawakan dirinya. "Sasi, kemari, Nak." Vero memanggil Sasi untuk mendekat. Sasi menurut dan berdiri di dekat Vero. "Nah, itu Om Andro dan Tante Haura, orang tua Aline, calon pengantin wanita," terang Kanaya dan seterusnya Kanaya memperkenalkan seluruh kerabat yang duduk melingkari meja makan. Kemudian, Kanaya menyarankan Elard dan Sasi menuju ke meja prasmanan, untuk mengambil makanan, yang dituruti Elard dengan menggandeng tangan Sasi. Tak ada pemberontakan dari Sasi, ia hanya mengikuti Elard. Bahkan setelah makanan sudah di piring, Sasi mengikuti Elard menuju satu-satunya sofa tersisa di dekat Azka. Sasi baru menyadari, jika sofa itu berukuran sedang. Cukup luas untuk satu orang, tapi akan sangat sempit jika untuk dua orang. Duh, kok sofa ini. Kayak gimana duduknya? Bakal dempetan ini, gumam Sasi dalam hati. Sasi lupa, keengganannya berdekatan dengan Elard adalah percuma, karena sedari tadi, dirinya sudah menempel pada Elard. Elard yang melihat kerisauan Sasi, menjadi gemas dibuatnya. Tanpa aba-aba di tariknya tangan Sasi, membuat Sasi limbung dan terpaksa duduk manis di sebelah Elard. Sasi melotot dan dibalas Elard dengan kerlingan. Tanpa memedulikan Sasi, Elard mengunyah makanannya dengan santai, membuat Sasi gemas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD