Chapter 21

1056 Words
Ternyata ada yang diam-diam turun dari langit dengan membawa busurnya. Diam tenang menanti momen untuk bidikan. Saatnya busur dilepas, bahkan langit pun tak bisa menolak tadirnya dua menjadi sejoli *** Acara adat lamaran pun berakhir. Semua bahagia juga puas, pun keluarga calon mempelai pria yang sudah pulang. Kini para kerabat dan tamu yang belum pulang kembali berkumpul, membicarakan ini dan itu. Begitu juga para sepupu dan yang menjadi center adalah duo kakak beradik Elard dan Azka. Wajar saja, karena keduanya jarang bertemu dan berkumpul. Khusus untuk Azka, ada embel-embel sebagai selebritis. "Ayolah kita foto-foto," seru seseorang bertubuh gempal dengan kamera DSLR yang sudah siap. Sontak kaum muda bersorak senang dan semua sudah mengambil posisi juga pose masing-masing dengan gaya yang lebih banyak kocaknya. "Woe...! itu yang mau kawin, suruh foto berdua. Pra-wedding," teriak seseorang dengan bahasa sunda dan jarinya menunjuk ke arah Elard dan Sasi. Seketika keriuhan terjadi. Elard menunjukkan keengganannya dan penolakan, sedangkan Sasi hanya kebingungan, ia tak mengerti apa yang dibicarakan karena hampir semuanya bersahutan dengan bahasa Sunda. Sasi merapatkan dirinya pada Elard, tetapi rupanya gerak-gerik Sasi makin memicu keriuhan dan agresifitas para pria. Dipimpin Azka, beberapa pria menarik tangan Elard dan beberapa wanita memberi semangat pada Sasi. Dengan keterpaksaan, Elard akhirnya berdiri. "Oke-oke, saya akan puaskan kalian." Kemudian Elard menunjuk kearah Azka. "And you..., you should ready for the next." "Whoaaa..., atut!" seru Azka dengan gaya yang dibuat seperti anak kecil ketakutan, dan bunyi tawa pecah, membuat beberapa orang tua mulai ikut melibatkan diri, tak terkecuali Aaron Blenda dan Vero. Elard merapikan jasnya, berpaling menatap Sasi yang tidak menutupi kegugupannya, dan itu membuat Elard iba. Elard mengulurkan tangannya ke Sasi. Tapi, Sasi justru membelalakkan matanya menatap Elard, dirinya gamang, ia tak mengerti apa yang harus dilakukannya. "Ayo, Sayang. Kita kan belum buat foto pra-wed." Elard tersenyum sangat manis yang justru membuat Sasi melongo. Sapaan 'Sayang', telah menyengat Sasi, membuatnya tak bisa mendengar kelanjutan dari kalimat Elard. Elard yang tak tahan melihat Sasi, terutama mata Sasi yang justru makin cantik saat melotot, mengambil tangan Sasi dan ia membungkuk hingga kepalanya sejajar dengan Sasi. "Mau saya gendong atau segera berdiri dan jalan sendiri..., Sayang?" tanya Elard selembut mungkin. Sapaan 'Sayang' dan dekatnya wajah Elard, tidak membuat perasaan Sasi menjadi tenang. Dalam dirinya berkecamuk rasa tak bisa dijelaskan. Kabut tipis mulai tercipta dalam pikiran Sasi. Sebagian dari dirinya, melayang-layang lembut. "Gendong, dong!" Azka mendengar tawaran Elard yang diucapkan lirih. Ini karena dia berada dekat dengan sepasang tunangan yang ajaib. "Gendong lebih mesra, dong," sahut yang lain. "Masalahnya, Kak Elard punya daya apa nggak nih buat gendong? Dia kan mana pernah olahraga. Umur juga dah tua." Tawa tak dapat dibendung atas pernyataan Azka. Elard menegakkan tubuhnya. Kepalanya setengah tertunduk, senyumnya tertarik miring, salah satu tangannya mulai melepaskan jasnya. Elard meminta Sasi memegang jas miliknya. Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Sasi manut saja. Elard kemudian melanjutkan dengan melepaskan kancing lengan kemejanya dan melinting sebagian saja. Mungkin di suasana yang formal, sikap Elard akan membuat ngeri bagi yang lain. Namun, saat ini, suasananya begitu hangat, dan sikap Elard hanya membuat geli yang lain. Ejekan bermakna canda terus mengalir untuk Elard, yang ditanggapin Elard dengan sangat santai. "Oke, Sayang. Saya akan menggendongmu," lanjut Elard. "Ap...apa?" Sasi menjawab gagap. Dia sudah tak siap akan apa pun sejak Elard menyanggupi untuk menggendongnya. "Sini, Teh." Azka berinisiatif mengambil jas Elard dari Sasi. "Tung...tunggu...tunggu." Sasi menahan d**a Elard yang sudah bersiap untuk membopongnya. "Lama. Langsung gendong saja," seru seorang wanita muda. "Gendong! Gendong! Gendong!" Bagai paduan suara, semuanya berseru menyemangati Elard. Elard merapatkan wajahnya ke telinga Sasi. Aroma citrun dan bunga mawar, terpadu manis dan lembut di penciuman Elard. "Bersiap dan jangan banyak gerak." "Tunggu..., saya tidak mau. Saya jalan." Sasi menolak. "Terlambat. Makanya jangan lambat, Sayang." Elard semakin terbiasa menyapa Sasi dengan 'Sayang'. Sedangkan Sasi, setiap sapaan 'Sayang' keluar dari bibir Elard, maka tiap itu juga Sasi membeku. Dan sepertinya Elard menemukan kelemahan Sasi itu. "Ayo, Sayang. Pegangan, ya." Tanpa sempat Sasi menyiapkan diri. Tanpa aba-aba. Elard langsung menggedong Sasi dengan mantap. "Whoaaa!" Sorak-sorai kembali memenuhi ruangan. Elard menggedong Sasi ke depan, tempat di mana Aileen dan Jojo bertukar cincin. Dekorasi yang manis dengan aneka bunga dominan ungu dan biru, menjadikan kesan yang romantis dengan adanya pose Elard menggedong Sasi. Entah Elard memang sengaja dan sadar kamera, ataukah memang sudah momentumnya. Elard dan Sasi saling memandang. Kedua tangan Sasi memeluk leher Elard dengan tepat. Tubuhnya menjuntai lembut dalam gendongan Elard. Elard sendiri terlihat kokoh menggedong Sasi. Ada kelembutan saat menjaga tubuh Sasi agar tidak jatuh. Posisi keduanya membuat suasana menjadi senyap karena terpesona. "Kuat juga gendongnya, Bung!" celetuk seorang pria yang disambut tawa. "Elard.... Turun," pinta Sasi. "Oh...." Elard menurunkan Sasi perlahan. Diterima jas dari Azka dan ulai dikenakannya lagi. Sasi sendiri merapikan gaunnya. "Mau gaya gimana nih, Ndro?" tanya Elard, kepada pria bertubuh gempal yang dari tadi sibuk mengambil foto. "Gaya apa sajalah, yang penting romantis. Yang tadi juga sudah perfect. Udah keambil posenya," sahut Ndro sambil mengerlingkan mata. "Pelukan!" sahut seorang dengan sengiran lebar. "Dibelai juga rambutnya!" kali ini suara seorang wanita dengan pakaian batik modern. "Jangan lupa..., cium!" teriak Azka, dan disambut sorak-sorai semua orang, menyetujui ide Azka, yang kemudian menyemangati Elard untuk mencium Sasi. Elard merasakan tangan Sasi menjadi dingin. Sasi adalah wanita yang kikuk, hal ini bisa membuat Sasi kebingungan sekaligus resah. Dibaliknya lembut tubuh Sasi agar menghadap dirinya. Elard sengaja meletakkan salah satu tangan Sasi di dadanya, sedang tangan Sasi yang lain masih digenggamnya. Dengan salah satu tangan yang bebas, Elard memegang dagu Sasi dan mengangkat wajah Sasi hingga kedua mata mereka beradu. Elard dan Sasi berada dalam momen di mana waktu tiba-tiba terhenti. Suasana menjadi sunyi dan tidak terdengar lagi kericuhan sorak-sorai, yang terdengar hanyalah detak jantung dan napas masing-masing. Dengan kesadaran yang masih tersisa, ditengah gejolak niat yang hampir tak terbendung, perlahan Elard menunduk, mencium lembut kening Sasi. Saat itulah, waktu kembali berjalan dan keriuhan pun terdengar di telinga keduanya. Sasi memundurkan tubuhnya, ia menunduk malu. Sedangkan Elard justru tersenyum lebar dan mengerling pada Ndro sang fotografer yang dibalas dengan acungan jempol. "Ayo, bubar semua, istirahat! Besok, semuanya harus bangun subuh, 'kan?" seru Oma Sofia sambil bertepuk tangan dan diamini para kerabat yang lain. "Udah. Romantisnya berlanjut besok lagi," goda Aaron. Sang istri tertawa geli, tapi tetap memukul lengan suaminya. Satu per satu, mulai membubarkan diri. Elle sendiri sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam. Sedikitnya dia kesal dengan adegan romantis Elard. Ketidakrelaan menyelip di hati. Sasi melepaskan tangan Elard. Tak ada lagi kata-kata yang keluar termasuk kata pamit. Dengan menunduk dan melangkah secepat yang dia bisa, Sasi meninggalkan Elard. Ada perasaan kehilangan menyusup di hatri Elard, saat menatap punggung Sasi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD