Chapter 20

1017 Words
Ketika seekor ulat membungkus dirinya menjadi kepompong. Maka... hal yang paling mendebarkan adalah... akan menjadi kupu-kupu seperti apakah ia? Secantik apa ia? Sungguh tak sabar. *** Elard mempercepat langkahnya. Perasaannya kesal kepada Sasi. Sangking kesalnya, ia sampai harus melompati dua anak tangga sekaligus agar segera sampai ke lantai atas, di mana kamar Sasi berada. Lelaki itu tidak suka ketidakteraturan apalagi keterlambatan. Semua harusnya sudah dipersiapkan sebelumnya. Sesampainya di anak tangga terakhir, langkah Elard terhenti. Dilihatnya Sasi yang baru keluar dari dalam kamar. Sasi menggunakan gaun berpotongan sederhana namun masih terlihat sangat elegan dan manis. Berbahan brokat, warna pink lembut dengan aksen bros berkilau di bagian pinggulnya, justru menampilkan kemolekan Sasi. Rambutnya tertata sedemikian rupa, menonjolkan lehernya yang jenjang. Di rambutnya terselip jepitan berbentuk pita dengan  ornamen cantik yang berkilau. Mungkin karena hiasan rambutnya sudah berkilau, hingga Sasi tak perlu lagi menggunakan kalung, dan itu justru makin membuat Sasi menawan sekaligus anggun. Sasi melangkah tenang ke arah Elard, tetapi sebenarnya terjadi, perasaan Sasi tak menentu. Dia cukup tahu jika dirinya terlambat. Sempat Sasi ngedumel dalam hati. Andai Elle memberitahukan sejak awal, Sasi pasti sudah mandi dulu dan berias lebih dulu. Semakin dekat dengan Elard, langkah tenang Sasi mulai gamang. Tatapan tajam Elard mempengaruhi kepercayaan diri Sasi. Apalagi, Sassi merasakan hal yang berbeda dari tatapan Elard. Sesuatu yang tak biasa. Bukan marah, tetapi Sasi tidak paham apa. "Nggg..., mmm..., apa acaranya sudah mulai?" tanya Sasi gugup. Pertahanannya untuk tenang, sudah runtuh. Kedua tangan Sasi menggenggam erat clutch bag. Beberapa bulir kecil keringat bermunculan di kening Sasi. Entah itu karena udaranya yang lembab ataukah karena kegugupan Sasi sendiri. Elard tidak menjawab, ia justru mengulurkan tangannya untuk mengambil clutch bag Sasi. Dibukanya tas Sasi dan diambilnya selembar tissu. Tiba-tiba tangan Elard terulur ke wajah Sasi. Refleks Sasi memundurkan tubuhnya. Namun, Elard jauh lebih cekatan. Dia menarik pinggul Sasi dan membuat keduanya merapat. Sontak jantung Sasi berdegup jauh lebih cepat. Mata Sasi melebar, terpatri di dalam mata Elard. Nafas Sasi terhenti dan tubuhnya bergeming. Sasi tidak tahu harus apa dan bagaimana. Tubuhnya kaku bagaikan manekin. "Punten..., permisi lewat." Mbak Maya dan asistennya berdiri di dekat Elard dan Sasi. Wajah Mbak Maya dan Asisten tersenyum penuh makna. Bahkan si asisten menunduk sembari menutup mulutnya. "Mbak..., yang merias calon istri saya?" tanya Elard tanpa merubah posisi sedikit pun dan masih memeluk Sasi. Entah bagaimana warna rona wajah Sasi. Penyebutan 'calon istri' membuatnya malu setengah mati. Dan malunya bertambah karena Elard tak melepaskannya. "Iya, Mas. Oh, ini calon suami Mbak Sasi. Saya Maya dan ini Puput, asisten saya." "Terima kasih banyak, Mbak Maya, Mbak Puput. Tak salah saya mengontak kalian." Elard melepaskan pelukannya, berpindah posisi tepat di sebelah Sasi, dan merangkul pinggang Sasi. Sikap Elard membuat kagum Mbak Maya dan asistennya. Apalagi melihat pasangan tersebut berdiri bersisian, bak pangeran dan putri dalam cerita dongeng. "Sama-sama, Mas. Kami permisi dulu." "Silahkan." "Terima kasih Mbak Maya, Mbak Puput." Akhirnya Sasi bisa mengeluarkan suaranya. Pelajaran etika yang kuat, membuat Sasi tak lupa untuk selalu berterima kasih. "Sama-sama, Mbak Sasi. Permisi." Sempat Sasi melihat kerlingan jenaka dari Mbak Maya untuk dirinya. Sungguh malunya Sasi tak terkira. Disikutnya pinggul Elard. "Ada apa?" tanya Elard santai. "Lepaskan. Jangan begini." Sasi mencoba melepaskan tangan Elard yang anteng di pinggangnya. "Kenapa?" "Yah..., jangan begini aja." "Begini yang bagaimana?" Rasanya Sasi frustasi dengan sikap dan pertanyaan Elard. Seolah bola basket yang sedang di pantulkan ke lantai, pantulannya akan kembali. Akan lebih baik jika Sasi bisa menangkap bolanya, ini Sasi bahkan kewalahan untuk menangkap, tetapi kemudian melempar bola baru. "Tidak ada yang aneh dengan ini dan itu saya terhadap kamu. Bahkan jika di bawah tangga itu ada sejuta umat. Mereka juga tidak akan menertawakan kita." Mbak Maya sama Mbak Puput tadi tertawa. Pura-pura gak lihat atau memang gak lihat,sih? keluh Sasi dalam hati. Dia sudah kehabisan kata, untuk sekedar menolak atas apa yang Elard lakukan. Elard kemudian memutar tubuhnya dan kembali pada posisi semula. Berhadapan. Kali ini kedua tangan Sasi berada di d**a bidang Elard. Pertahanan yang sia-sia, karena Elard jauh lebih keras kepala. Kembali tangan Elard yang memegang tissu terulur ke wajah Sasi. Sasi menahan pergelangan tangan Elard. "Mau apa?" "Menurutmu apa?" Sasi memejamkan mata sebentar. Mencoba meredakan kesal. "Bisakah tanya saya tidak dijawab dengan pertanyaan baru?" Senyum Elard begitu lebar. Dia sangat puas jika bisa membuat Sasi kewalahan. "Kalau begitu..., bisakah kamu tidak banyak tanya dan percaya pada saya?" Sasi tak menjawab. Tak ada pilihannya baginya, selain menurut. "Jangan bikin malu saya dengan banyaknya keringat di keningmu yang indah. Kamu kan bukannya selesai nguli," ujar Elard yang dengan lembut menyeka bulir keringat dari kening Sasi dengan tissu. Elard kemudian meniup wajah Sasi dan kemudian tertawa kecil karena melihat reaksi Sasi yang tiba-tiba seperti tersadar setelah menjadi batu. Kelopak mata Sasi berkedip-kedip, bulu matanya yang lentik membuat Elard gemas. "Ayo!" ajak Elard. Dia tak mau lama-lama menikmati pesona Sasi. Keadaan bisa terbalik. Penguasaannya bisa runtuh. Sudah tak bisa lama-lama dekat dengan Sasi. Akal sehat Elard bisa hilang. "Apa kita terlambat?" tanya Sasi yang merasa tidak enak. "Belum. Keluarga Jojo juga tadi menelepon akan sedikit terlambat. Jalanan jam segini juga kan agak macet." Sesudahnya, Elard tak mengerti akan diri sendiri yang mengalir menjelaskan. Biasanya juga cukup dengan jawaban singkat. Elard melihat Azka yang melambaikan tangan dan menunjuk kursi di sebelahnya. "Hai, Teh. Kamu cantik malam ini," puji Azka yang mempersilahkan Sasi duduk. Sasi hanya tersenyum dan duduk di sebelah Elle, kemudian Elard yang duduk di sebalah Sasi. "Genit," lirih berucap mengarah pada Azka. Azka tersenyum geli dan menunduk. "Kamu cemburu?" tanya Azka yang juga mengecilkan suaranya. "Dih!" Elle melengos dan mengalihkan pandangan ke sisi lain. Masih terdengar tawa geli Azka yang renyah. "Ada apa?" tanya Elard. "Enggak. Gak ada apa-apa. Cuma tadi ada kucing mengeong manja." "Kucing?" Sasi celingukan ke bawah, begitu juga Elard. Sedangkan Elle, diam-diam mencubit pinggang Azka, membuat Azka hanya bisa melipat bibirnya agar tak keluar kata mengaduh. "Sakit" desis Azka yang kemudian melotot ke arah Elle. Bukannya gentar, Elle pun membalas melotot. "Makanya jangan berulah!" "Kalian kenapa, sih? Ribut sendiri. Itu tamunya sudah pada mau masuk. Acaranya sudah mau mulai," tegur Elard. Rupanya beberapa tamu sudah datang dan acara akan dimulai. Seorang pembawa acara mengumumkan bahwa rombongan keluarga Jojo sudah bersiap untuk masuk. Andro dan Haura selaku orangtua Aileen, berdiri. Bersiap menyambut keluarga calon besan, diikuti Oma Sofia, Aaron, Vero, dan beberapa keluarga lainnya. Sedangkan yang lain tetap berdiri di dekat kursi yang sudah ditempati, dan prosesi adat sunda untuk meminang dimulai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD