Tujuh

1031 Words
Masih mengenai kisahku di SD, aku akan menceritakan pengalaman yang sampai sekarang masih melekat di memoriku. Waktu kelas 5 SD, ada anak pindahan yang bernama Azizah Azalea atau biasa dipanggil Lea. Lea memiliki tubuh ideal tinggi semampai, rambutnya panjang lurus dengan warna hitam mengkilap seperti artis-artis iklan shampo, hidungnya mancung, berkulit putih dan tentu saja memiliki senyuman yang aduhai! Tentu saja teman-teman sekelas berebut untuk bisa berkenalan dan berteman dengan Lea, apalagi “geng cantik”, mereka langsung menggaet Lea dan menjadikannya salah satu dari mereka. Dengan begitu, kami (anak yang biasa-biasa saja) hanya bisa melihat Lea dari jauh. Suatu hari Bu Guru memberikan tugas kelompok pada kami dan kelompok dipilih secara acak, kebetulan aku sekelompok dengan Lea dan satu orang “member geng cantik” lainnya yang bernama Najla. Kami sepakat untuk mengerjakan tugas tersebut di rumah Najla yang terletak di dekat sekolah. Aku lupa detailnya, intinya aku sempat berbincang dengan Lea dan aku melihat sorot kesedihan di matanya. Ketika sampai di rumah Najla, aku sempat memperhatikan interaksi antara Najla dan Lea yang katanya “dekat” karena mereka satu geng. Dari apa yang kulihat, walaupun Lea sangat cantik, sepertinya ia dibully oleh teman-temannya. Pembullyan yang terjadi sangat halus. Menurutku dibandingkan teman-temannya, Lea adalah orang yang paling polos dan penurut sehingga Najla bisa dengan mudah meneriaki dan menertawakannya. Ketika ada kesempatan ngobrol dengan Lea, Najla juga begitu posesif terhadapnya seolah-olah dia nggak boleh dekat dengan orang lain selain teman-teman gengnya. Sungguh dunia yang aneh bukan? Jelek dibully, cantik pun bernasib sama. Masih berkaitan dengan stereotip “jelek” dan “cantik”, sekarang aku akan bercerita mengenai pengalaman pertamaku, Rere Senja Kala, dipuji oleh orang lain. Sungguh sangat aneh bagiku kala itu ketika ada orang yang memuji fisikku, karena sedari kecil aku sudah menilai diriku sebagai seseorang yang tidak cantik. Kejadian ini terjadi ketika aku berada di kelas 6, pada saat itu aku sedang serius mengerjakan soal, kemudian ketika jam istirahat tiba, temanku yang bernama Asyila mendekatiku dan berkata seperti ini. “Re, kamu cantik deh kalo lagi serius belajar!” Asyila berkata dengan mata berseri-seri, untuk sejenak aku hanya bisa diam dan mencoba menelusuri wajah Asyila, tetapi aku tidak menemukan raut wajah bercanda pada mukanya. Beberapa hari kemudian, “kejadian Rere dipuji” terjadi lagi. Bahkan kali ini yang memuji adalah salah satu anak dari geng cantik, namanya Naomi. Waktu itu kami duduk sebaris, aku duduk di meja paling depan sementara Naomi duduk di belakangku. Lagi-lagi ini terjadi ketika aku kelas 6 SD. Apa mungkin pada saat itu aku sedang mengalami pubertas? Sehingga aura perawanku memancar? Pada saat itu Naomi memanggilku dan aku tentu saja menoleh, kemudian Naomi berkata seperti ini. “Re, mata kamu kayak mata kucing tau! Ujungnya naik ke atas, bagus!” Lagi-lagi aku melihat mata orang lain berseri-seri ketika ia memujiku. Reaksiku masih sama seperti ketika aku dipuji oleh Asyila, diam sejenak dan berusaha menelusuri raut wajah Naomi dan lagi-lagi tidak kutemukan raut wajah bercanda pada mukanya. Mungkin bab ini akan menjadi bab terakhir yang menceritakan kisahku di SD Mawar 1. Untuk menutup bab ini, aku ingin menceritakan satu kejadian yang bagiku pada saat itu sangat memalukan. Kejadiannya terjadi pada hari Jum’at tepat pada hari ulang tahunku ketika aku berada di kelas 6. Pada saat itu aku berencana untuk menraktir Jani, Aira, dan Vanka makan mie ayam yang ada di seberang sekolah, tentu saja menggunakan uang yang telah diberikan oleh Ayah. Sebenarnya aku sudah mengira bahwa uang yang kubawa untuk menraktir mereka pas-pasan, aku memang tidak meminta uang lebih pada Ayah atau Bunda. Ketika kami berempat sudah selesai memesan makanan dan minuman, aku menghitung di dalam pikiran bahwa sepertinya uangku kurang 500 perak alias gope. Pada saat itu perasaanku campur aduk: bingung, kesal, marah, gemas, dan sedih menjadi satu. Pada saat itu aku berpikir tidak mungkin aku meminjam gope kepada mereka di saat aku sedang menraktir mereka. Pada akhirnya yang kulakukan adalah ‘mencuri’ gope yang tergeletak di meja, entah itu uang siapa, intinya yang kuingat aku berusaha sebisa mungkin mengalihkan perhatian Jani, Aira, dan Vanka sehingga mereka tidak melihat aksiku ketika ‘mencuri’ uang 500 perak itu. Akhirnya, aku bisa membayar mie ayam tanpa rasa malu. Itulah pengalaman pertamaku mengutil barang orang. Pengalamanku bersekolah di SD Mawar 1 telah membentuk kepribadian dan pemahamanku akan hidup, bahwa penampilan dan status sangatlah penting untuk bisa bertahan di tempat yang aman. Disini aku juga bertemu dengan sahabat-sahabatku, Jani, Aira, dan Vanka yang sekarang kami sudah sepenuhnya lost contact. Aku tau Jani berkuliah di salah satu universitas negeri ternama dan dia juga senang mendaki gunung, aku bisa tau karena melihat laman Instagramnya. Jani tetaplah Jani yang periang dan manis, aku bisa tau dari senyumannya. Sementara Aira juga bernasib sama baiknya dengan Jani, dia menjadi salah satu mahasiswi kedokteran gigi di salah satu universitas negeri di Bandung. Aira tetaplah Aira, dengan kecantikan dan sifatnya yang tertutup, aku bisa tau dari laman Instagramnya yang tidak banyak mengungkap mengenai hidupnya. Lain lagi dengan Vanka, aku sepenuhnya hilang kontak dengannya. Kami tidak saling berteman di i********: karena kami berpisah begitu saja sewaktu memasuki SMP. Memang aku, Jani, dan Aira lulus di SMP 45 yang merupakan SMP Favorit di kota kami karena nilai UTN kami yang tinggi, sementara Vanka setauku memutuskan untuk masuk pesantren. Semenjak itu hubungan kami memudar dan putus sepenuhnya. Vanka, kamu apa kabar? Aku rindu. Di SD Mawar 1 aku juga merasakan yang namanya ‘jatuh cinta’. Ya walaupun kalian para orang dewasa sering kali meremehkan perasaan kami itu, tapi biar kuberitahu pada kalian ya! Perasaan itu sama nyatanya seperti perasaan yang kalian rasakan ketika sedang jatuh cinta! Pada saat aku sedang kasmaran, aku seringkali menuliskan diary yang penuh dengan emot <3. Rasanya ingin sekali aku tuliskan beberapa contohnya disini agar kalian bisa merasakan nuansa kasmaran khas anak SD, sayangnya setelah aku obrak-abrik laciku aku hanya bisa menemukan diary-diary zaman SMP-SMA-Kuliah, tetapi diary SD-ku tidak dapat kutemukan. Pada chapter berikutnya, kita akan masuk pada ceritaku di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Cerita di SMP benar-benar berbeda 180 derajat dengan cerita di SD! Di SMP aku benar-benar seperti kupu-kupu yang baru saja bermetamorfosis dari ulat menjijikan. Banyak cerita-cerita manis yang terjadi di SMP, aku tidak sabar menceritakannya pada kalian!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD