Delapan

998 Words
Sebelum masuk ke kisah romansa zaman SMP, ada satu kisah mengenai Ayah yang ingin kuceritakan pada kalian. Seperti yang kukatakan di awal cerita, kedua orangtuaku memang bekerja di Ibukota dan menitipkan kami pada pengasuh (Mbok Nati). Ayah dan Bunda adalah orang yang sangat giat bekerja, terlebih Ayah. Ayah hanyalah seorang pengantar surat atau kurir di suatu Bank Swasta, tugasnya adalah mengantar dokumen-dokumen dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Sementara Bunda adalah seorang pegawai toko keramik, tugasnya serabutan; menerima dan melayani tamu, menurunkan keramik-keramik yang baru dipesan dari mobil pick-up ke toko, dan juga bersih-bersih. Tetapi setauku Bunda cukup ahli dalam hal melayani dan menangani pelanggan yang ingin membeli keramik. Ayah bekerja dari hari Senin sampai Jumat, sementara Bunda dari hari Senin sampai Sabtu. Makanya setiap hari Sabtu yang menjemputku ke sekolah adalah Ayah. Ayah memiliki sifat yang supel dan mudah akrab. Setiap hari Sabtu ketika sedang menungguku keluar kelas, Ayah pasti sedang bercengkrama dengan salah satu penjemput murid, entah itu orangtuanya atau supirnya. Ayah juga sangat terkenal di kalangan ibu-ibu karena sifatnya yang ramah dan humoris. Setiap Sabtu aku pasti akan memanfaatkan kesempatan untuk bisa jajan karena dijemput Ayah. Biasanya sebelum pulang aku akan meminta dibelikan crepes atau burger. Ayah juga penyelamat hidupku loh! Waktu SD aku sama sekali nggak bisa berenang, sementara sekolahku selalu mengadakan penilaian renang setiap satu bulan sekali. Anehnya pada saat sesi renang, aku tidak diajari cara berenang oleh guru olahraga. Sepertinya tugas beliau hanyalah mengambil nilai renang, jika tidak bisa artinya nilai olahraga kami jelek. Suatu hari ketika nilai pengambilan renang diadakan di hari Sabtu, Ayah ikut mengantar dan menungguiku. Ayah tau bahwa aku tidak bisa berenang, tetapi mungkin Ayah tidak terlalu cemas karena ada guru olahraga dan murid lain juga banyak yang tidak bisa berenang. Nasib jelek menimpaku pada saat itu, aku lupa bagaimana kejadiannya bermulai, yang kuingat adalah pada saat itu aku tenggelam dan megap-megap meminta bantuan. Tak lama kudengar bunyi ‘BYURRR!’ yang sangat kencang seperti sesuatu yang berat masuk ke dalam air dan ternyata itu Ayah. Ayah memang berbadan tambun, dan saat itu Ayah dengan sigap masuk ke dalam kolam renang dan menyelamatkanku. Ketika Ayah bercerita mengenai kejadian itu, wajahnya selalu menampakkan seringai geli dan kemudian ia akan berkata, “Waktu itu Ayah nggak sempet ngeluarin dompet dan HP loh, Kak!” Sekarang mari kita mulai “kisah kasih di sekolah”. Aaah… Sekolah Menengah Pertama, begitu berbeda kisahmu dengan kisah masa SD. Dengan nilai UTN-ku yang tinggi, aku tak perlu khawatir mau masuk SMP mana, aku tinggal tunjuk dan pasti akan diterima. Pada masa itu, belum ada sistem zonasi seperti sekarang yang mengutamakan anak-anak yang domisilinya dekat dengan sekolah tujuan. Tentu saja aku memilih SMP 45 yang merupakan salah satu sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Ayah dan Bunda tentu saja sangat bangga padaku ketika aku berhasil mendapat nilai UTN yang tinggi dan melenggang masuk SMP 45. Kurasa mulai dari situ aku dianggap sebagai seorang anak yang “pintar” oleh keluargaku. Aku ingat hari itu, hari ketika aku mendaftar ulang ke SMP 45 karena sudah dinyatakan lolos pada sistem ranking nilai UTN. Lagi-lagi yang mengantarku adalah Ayah. Memang Ayah adalah garda terdepan bagi anak-anaknya kalau urusan pendidikan. Ayah sangat mengutamakan pendidikan dan selalu berusaha memasukkan aku dan Anne pada sekolah-sekolah favorit dan tentu saja berkualitas, walaupun dengan begitu ia harus bekerja ekstra untuk membiayai pendidikanku dan Anne. Aku duduk di pinggir lapangan bersama Ayah, memperhatikan sekolah baruku yang sangat luas dan terlihat “sangat serius” dibandingkan SD-ku dulu. Tidak kutemukan gantungan bergambar bintang atau buah, yang ada hanya gantungan yang betuliskan kata-kata seperti “Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina”. Jani dan Aira juga lolos di SMP 45, begitu juga sebagian besar teman-temanku dari SD Mawar 1. Memang dari tahun ke tahun, SD Mawar 1 menyumbang banyak anak didiknya ke SMP 45 untuk melanjutkan pendidikan. Sayangnya kisah persahabatanku dengan Jani dan Aira tidak berlanjut di SMP. Kami seperti ingin memulai lembar yang baru dengan berteman dengan teman-teman yang baru. Lingkungan baru = teman baru. Tapi itu tidak masalah karena memang kisah SMP bukanla tentang mereka. Kembali ke topik mengenai sekolah baruku, SMP 45 adalah sekolah favorit dan sangat bergengsi di kotaku. Sama seperti SD Mawar 1 yang dipenuhi oleh anak-anak dari kalangan atas, begitu juga dengan SMP 45. Sekolahku memiliki dua lapangan besar yaitu lapangan utama yang biasa digunakan untuk upacara, bermain bola basket dan futsal, sementara lapangan yang satunya lagi adalah lapangan voli. Kedua lapangan tersebut dipisahkan oleh masjid ditengah-tengah. Kelas-kelas berjejer dengan rapi dengan cat berwarna kuning kecoklatan, di depan kelas terdapat pagar-pagar pembantas lapangan yang dirambati dengan tanaman rambat yang cantik. Kantin juga dipenuhi dengan para pedagang makanan dan minuman serta bangku-bangku yang terbuat dari kayu dan besi yang dicat berwarna-warni dan didesain untuk makan secara berkelompok karena satu meja memiliki 6-8 kursi. Pada hari pertama aku masuk sekolah, tentu saja aku mengikuti MOS (Masa Orientasi Sekolah. Kegiatan MOS dipenuhi dengan warna-warna kertas karton yang mencolok; oren, ungu, biru, hijau, kuning, dan merah yang akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan topi toga sebagai penanda kelompok. Aku ingat pada hari pertama MOS, aku bangun pagi-pagi sekali dan ketika sampai di gerbang sekolah, sudah ada kakak-kakak OSIS dengan jas almamaternya yang berwarna biru dongker menunggu kami dengan tampang galak. Tentu saja pada saat itu orangtua kami sudah mengetahui akal bulus kakak-kakak OSIS yang memang berniat menakut-nakuti kami dengan memasang tampang galak, tapi lain lagi dengan kami. Jangan tanya bagaimana perasaanku kala itu, aku begitu ketakutan, tetapi anehnya juga sangat menikmati pengalaman tersebut. Kami berjalan dalam barisan panjang menuju lapangan utama yang ternyata sudah dipenuhi oleh anak-anak yang ternyata sudah datang lebih pagi dari aku. Di bawah topi toga oren yang kukenakan, aku mencoba mengamati raut wajah calon teman-teman baruku kala itu. Ada yang menunduk ketakutan, tetapi ada juga yang menunduk setengah tertidur. Ada wajah yang telihat seperti menantang kakak-kakak OSIS yang berbaris di depan kami dengan tangan-tangan mereka masuk ke dalam saku jas almamater, menampakkan kewibawaan yang luar biasa bagiku kala itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD