Bab 1: Penyelamat Bersuara Dingin
[POV Evalia]
"Laptop lo udah bersih dari virus. Yang paling penting, data skripsi lo aman," ucapku, mendorong laptop itu ke hadapan klienku.
Aku merapatkan ritsleting jaket oversize andalanku. AC kafe ini lumayan dingin.
"Dua hari gue begadang demi nyelamatin data lo yang hampir lenyap," tegasku. "Sesuai kesepakatan awal, lima ratus ribu bayarannya, Dim."
"Lima ratus? Buat neken satu tombol delete doang? Kemahalan banget, Va. Temen gue aja bisa ngerjain beginian seratus ribu. Ini gue kasih dua ratus. Ambil noh!"
"Kalau temen lo beneran bisa, kenapa kemarin lo mohon-mohon ke gue?" Nada bicaraku pelan, menjaga agar pengunjung kafe lain tidak menoleh. "Tanpa gue, laptop lo udah mati itu. Bayar sisanya, Dimas. Gue butuh uang itu sekarang."
"Gue nggak peduli!" Suara Dimas meninggi, mengabaikan tatapan sinis dari meja sebelah. "Ambil dua ratus, atau lo pulang dengan tangan kosong. Nggak usah meres gue cuma karena lo butuh duit! Cari kerja beneran, jangan nipu."
Tanganku mengepal di atas paha menahan amarah. Dua ratus ribu? Buat makan seminggu aja nggak cukup! pikirku.
Mataku berkaca-kaca menatap dua lembar uang merah yang tergeletak di meja. Kalau aku melawan Dimas, sekuriti pasti akan mengusirku dari sini.
Wangi maskulin khas earl grey memenuhi penciumanku. Sesosok tubuh jangkung melangkah dari belakang menghampiri mejaku, membuat kepanikanku perlahan mereda.
Pria pemilik mobil Eropa itu berdiri di samping mejaku. Kemejanya tergulung, menampilkan lengan kokoh yang bersedekap santai. Dia menatap Dimas dengan wajah datar. Mendapat tatapan sedingin itu, pemuda arogan di depanku ini langsung menegakkan punggungnya, nyalinya menciut.
"B-Bapak?" suaraku lolos begitu saja. "Kok ada di sini? B-Bapak nggak lagi ngelacak saya buat nagih utang tiga juta itu sekarang, kan?"
Pria itu mengabaikanku dan langsung meraih laptop Dimas.
"Kerusakan mesin ini parah. Menyelamatkan data di dalamnya bukan sekedar memencet satu tombol," ucapnya santai, tapi tegas. "Di divisi IT perusahaan saya, pekerjaan memulihkan data seperti ini nilainya jauh di atas lima ratus ribu."
Wajah Dimas pucat. "Bapak ini siapa? Nggak usah ikut campur. Ini urusan gue sama Eva."
"Saya Dirga," balasnya datar. "Dan saya sangat tidak suka melihat kesepakatan dilanggar. Apalagi, perempuan ini punya utang tiga juta kepada saya." Dirga mencondongkan tubuh sedikit. "Kalau haknya kamu potong, otomatis cicilannya ke saya ikut terganggu."
Aku melongo. Dia pakai alasan nagih utang buat ngebela gue di tempat umum?! batinku.
"Itu bukan urusan gue!" Dimas memaksakan diri bersuara meski terdengar goyah. "Dia cuma mencet tombol delete. Terus mau dibayar lima ratus ribu, itu pemerasan namanya!"
Dirga meletakkan laptop itu kembali. Gerakannya pelan, tapi entah kenapa membuat suasana makin tegang. "Kamu Mahasiswa bisnis?"
"Iya. Kenapa?" jawab Dimas cepat.
"Seharusnya kamu tahu kesepakatan lisan itu mengikat secara hukum," jelas Dirga. Ia memasukkan satu tangan ke saku celana. "Menuduh menipu di tempat umum juga bisa dipidana. Bayar haknya sekarang, atau tim legal saya yang akan mengurus pencemaran nama baik ini langsung ke rektoratmu."
Dimas terdiam seribu bahasa. Ketegasan pria di sebelahku membuat gertakannya terdengar serius dan tak bisa dibantah.
"Oke! Gue bayar sekarang!" Dimas menarik tiga lembar seratus ribuan dari dompetnya lalu melemparnya ke meja. "Ambil! Puas kalian berdua?!"
Sebelum dia berubah pikiran, kusambar lima lembar uang itu dan kumasukkan ke dalam ransel.
Dimas menarik laptopnya dengan kasar. "Gue nggak bakal pakai jasa lo lagi seumur hidup, Va! Dan buat Bapak," dia menatap Dirga, urat lehernya menonjol, "jangan mentang-mentang kaya dan berkuasa, Bapak bisa seenaknya nindas orang di tempat umum!"
"Saya tidak menindas siapa pun," balas Dirga tenang. "Saya sekedar mengedukasi cara berbisnis yang benar."
Wajah Dimas memerah menahan malu karena menjadi tontonan pengunjung kafe. Tangan kanan pemuda itu mencengkeram gagang cangkir berisi kopi yang masih mengepulkan uap panas di atas meja.
"Sialan lo berdua!" umpatnya.
Tanpa aba-aba, Dimas mengayunkan cangkir itu ke arahku.
Lututku lemas. Mataku terpejam erat, bersiap merasakan kopi panas itu mengenai wajahku.
Satu detik berlalu. Tidak ada rasa panas di wajahku. Ternyata, Dirga langsung memajukan tubuhnya menghalangi cairan panas itu.
Tanganku yang refleks berpegangan pada kemejanya bisa merasakan otot pria itu menegang kaku menahan panas. Hebatnya, tak ada sedikit pun ringisan dari mulutnya. Posisi berdirinya juga tidak bergeser dari depanku.
Aku perlahan melongok dari balik punggungnya. Uap panas mengepul dari d**a dan lengan kemejanya yang basah kuyup. Kain berwarna terang itu berubah gelap, menempel pada kulit yang tersiram kopi panas.
Aku panik bukan main. "Astaga, B-Bapak!" jeritku histeris.