Bab 3. Queen Ling

660 Words
Setelah mendengar ucapan gadis itu dan ada jeda singkat seperti ia sedang menunggu lawan bicara bicara dan lelaki berkacamata menghentikan rekaman, lelaki bertubuh kekar itu mulai menerjemahkan. "Damian, ini aku, Queen Ling" katanya mengulang kalimat gadis itu kedalam bahasa Estan. Dylan Jepsen yang memperhatikan ekspresi gadis dilayar itu mengerutkan kening setelah mendengar suara sang penerjemah. Queen Ling? Ia merasa akrab dengan panggilan itu, begitupun dua lelaki yang berada di ruangan yang sama dengannya. Sang penerjemah yang kekar dan galak nampak tertekan setelah mendengar panggilan akrab itu. Ia mengangkat kepala dan memandang dua orang yang pasti telah membayarnya untuk sampai di Estan. Tiba-tiba saja ia dijemput orang yang tidak dikenal, menawarkannya uang dalam jumlah fantastis, menandatangi kontrak dan diterbangkan ke Estan dengan jet pribadi. Katanya hanya menerjemahkan bahasa Mokku dan ia langsung setuju. Bayaran yang ia terima memang besar, tapi setelah mendengar nama Queen Ling, ia jadi bertanya-tanya apakah keputusannya benar? "b******k Damian, kau harus bersedih karena aku masih bernafas dan bersiap-siaplah penismu untuk dikibiri" Setelah menerjemahkan kalimat selanjutnya, jantung lelaki berbadan kekar itu berdetak dengan kencang. Jika suara wanita itu benar-benar milik Queen Ling yang asli, dan sampai ketahuan ia menerjemahkan percakapan rahasia kepada orang-orang Estan, apakah ia masih punya kesempatan hidup? Sang penerjemah nampak dua kali tertekan. Dylan cukup kaget mendengar terjemahan, sulit baginya untuk percaya. Benarkah wanita itu bicara dengan begitu kotor? Ia menatap penerjemah dengan curiga, mungkinkah penerjemah tidak mengatakan yang sebenarnya? Jika tidak, ia sudah berencana menggantungnya di tiang. Setelah mendengar percakapan, sekali lagi lelaki kekar bertato menerjemahkannya dengan takut-takut "Sialan, kau cari otakku yang hilang dulu. Kenapa aku memutuskan untuk pensiun satu tahun lalu? Mengapa aku kembali ke Estan? Katakan itu dan kau tidak bisa mengunakan penismu lagi. Aku baru saja membeli pemotong pisang otomatis, kau mau coba? Ayo. Ada juga pemecah kenari, kawat perak panas, atau capitan kepiting hidup, oh ya, aku mendengar gigitan kura-kura juga bagus, kau bisa pilih salah satu. Ah benar, aku jadi mengingat sebuah cerita tentang pemberontakan peladang Sisilia yang dimasukkan ke sumur kematian karena tidak mau menyerahkan tanah mereka, tapi sebelumnya p***s mereka di potong dan di sumpal ke mulut" Spontan dua lelaki itu menundukkan kepala menatap 'sesuatu', mengikuti sang penerjemah yang lebih dahulu menatap 'sesuatu', dengan ngeri setelah mendengar arti kalimat wanita itu. Metode yang ditawarkannya membuat lelaki manapun yang mendengar mungkin ngilu. Dylan Jepsen mulai yakin sang penerjemah tidak mempermainkannya, jika memang wanita itu Queen Ling, maka percakapan dan ancamannya tidak lagi aneh, juga bisa menjelaskan alasan dibalik tingkahnya yang waspada dan hati-hati. "f**k, benar juga. Aku saja tidak tahu apalagi kau pemilik IQ enam sembilan, aku sungguh tidak mengerti Damian, aku menikah dan tolong katakan padaku dimana otakku saat itu berada?" Aura dingin tumbuh disekitar Dylan Jepsen setelah mendengarkan terjemahan dan orang pertama yang mengetahui itu adalah asistennya. Sang asisten langsung merasa menggigil. Wanita itu berani mempertanyakan letak otaknya saat menikahi bos? Dia mencari kematian. Tapi, jika ia benar Queen Ling, ia tentu tidak takut mencari kematian. Tapi, Mengapa ia nampak tidak berdaya sebelumnya? Nampak lemah dan kehilangan semangat hidup. "Damn! kapan aku bercanda denganmu? aku pasti sudah gila karena pensiun dan menikah" sekali lagi suara sang penerjemah terdengar. Pensiun? Kata itu terus berulang. Apakah Queen Ling berhenti dari dunia bawah tanah? "Siapa? Suamiku? Bahkan seujung kukupun tidak bisa dibandingkan dengannya. Cukup tampan dan tipe arogan, apatis, sombong, penyendiri dan tempramen yang buruk dan satu lagi, sepertinya ia tipe yang dominan, egois dan tukang atur. Lebih parah ia punya kekasih. Yah, pernikahan penuh drama, rating terbaik dalam karirku" Dylan Jepsen hampir mengertakkan gigi, Sungguh berani wanita itu mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya. Keinginan untuk mencekik wanita itu tercermin dimata Dylan Jepsen, semakin lama semakin tumbuh dengan besar. Aura dingin langsung merayap ke seluruh ruangan, penerjemah kekar tak hanya tertekan dengan kenyataan ia menerjemahkan percakapan Queen Ling, tapi juga satu ruangan dengan seorang lelaki dingin dengan aura membunuh. Penerjemah mengusap lengannya ke kening. Takut sebelum ditemukan Queen Ling, ia lebih dahulu mati tercekik suasana kantor yang mencengkram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD