Bab 9 Tetangga resek

1191 Words
Virgo keluar dari mobilnya dengan langkah lebar menuju ke sebuah klinik. Di lobby klinik sudah menunggu seorang wanita muda yang cantik tampak tersenyum manis pada Virgo. "Kenapa lama sekali?" Rajuk Laura menekuk wajah cantiknya. Virgo terkekeh kecil lalu menjawil hidung mancung Laura dengan gemas. "Maafkan aku baby, aku harus menyiapkan sarapan untuk nyonya muda Sukmajaya terlebih dahulu. Ah ya, aku akan mengajakmu sarapan sebelum bayi mungil di dalam perutmu melayangkan protes padaku. Ayo!" keduanya berjalan beriringan menuju kantin klinik. Laura tampak lebih ceria semenjak kedatangan Virgo. Banyak hal ia ceritakan kepada pria tampan itu. Sampai sampai kedua telinga Virgo merasa kebas dan panas karena suara Laura yang cempreng. "Kita sudah sampai, pesanlah sesuatu yang bisa mengenyangkan. Jangan sarapan pagi dengan mie instan lagi," ucap Virgo mengingatkan. Laura tiba tiba mengalami kontraksi beberapa waktu lalu dan harus di larikan ke rumah sakit. Usut punya usut Laura ternyata hanya mengisi perutnya dengan semangkuk mie instan dan juga melupakan susunya. Untuk itu Virgo selalu mewanti wanti wanita itu agar tak lagi mengulangi kesalahan yang sama. "Aku bukan anak kecil lagi, lihat ini...aku bahkan sudah bisa memproduksi seekor bayi cantik." Ujar Laura bangga. Wanita muda itu mengelus permukaan perutnya yang membuncit menyerupai bola namun tak begitu bulat. Wajar saja, laura mengandung bayi perempuan. "Ck! jangan menyindirku baby, atau aku akan kembali pulang bergumul dengan istri kecilku." Balas Virgo bercanda. Namun Laura nampak kesal saat mendengar Virgo mengungkit wanita lain di tengah mereka. Virgo merasa bersalah hanya bisa meminta maaf, juga membujuk Laura agar tak lagi memperlihatkannya wajah masam di hadapannya. "Maaf baby, aku tak bermaksud. Sekarang pesan makanan sehat untuk putri kecil kita," Laura terlihat sumringah saat Virgo menyebut anak yang ada di dalam kandungnya dengan sebutan yang begitu manis. "Aku ingin sarapan bubur ayam ekstra potongan hati dengan sedikit sambel pete. Sejak kemarin aku sudah mengidamkan makanan di kantin ini sampai-sampai aku tak berselera makan. Apalagi mengingat bila ayah putriku sedang melangsungkan pernikahan tanpa mengundangku." Sindiran Laura membuat Virgo terdiam. Hubungan di antara mereka cukup rumit, dan hanya bisa di jelaskan oleh waktu yang bergulir bagai air mengalir. Di kediaman minimalis dua lantai yang Virgo hadiahkan untuk Ramora, tampak seorang wanita tengah merenung di tepi kolam renang dengan kedua kaki menjuntai ke dalam air kolam. "Kalau om Virgo sudah memiliki seorang kekasih, lalu kenapa om Virgo malah nguber ngeberin aku buat di ajak nikah? kan aneh ya? apa karena kakek tidak merestui? ah masa sih? kakek kan orangnya asyik gitu..." berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Ramora. Gadis cantik itu mulai menyimpulkan berbagai spekulasi mengenai Virgo berdasarkan apa yang ia dengar pagi tadi. Virgo cukup tampan, bahkan sangat tampan. Ramora mengakuinya tanpa paksaan. Hanya saja Ramora terlalu gengsi untuk mengakuinya secara terang-terangan. "Aiishhh! buat apa aku malah mikirin om Virgo sih! kan bagus kalau dia punya pacar, pernikahan ini bisa lebih cepat berakhir dari yang aku perkirakan. Dengan begitu aku bisa deh pendekatan sama Kevin," Ramora bermonolog dengan di akhir tawa cekikikan atas pencerahan konyol yang baru saja menyapa pikirannya. Tak ingin berlarut larut memikirkan suami yang tak ia inginkan, Ramora memilih untuk bersiap keluar mencari angin segar. Rumah tersebut sudah ia ketahui atas namanya sebagai hadiah kecil dari Virgo. Untuk itu Ramora besar kepala dalam memperlakukan Virgo sesuai kehendaknya. "Eh? akhirnya bisa juga ketemu langsung sama tetangga baru. Halo mbak, nama saya Rina rumah saya persis di samping rumah mba. Tuh, yang cat abu abu monyet sebelah kanan." Tunjuk wanita yang mengaku bernama Rina tersebut. Ramora hanya mengangguk sembari tersenyum tipis. "Halo juga mba, salam kenal ya saya Mora... semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik dan rukun dengan gak saling kepo dengan urusan pertetanggaan masing masing." Balas Ramora tersenyum kecil. Seketika wajah sang tetangga langsung masam saat mendengar kalimat lugas yang Ramora lontarkan. "Tenang saja mba, saya gak suka kepo kok orangnya. Kecuali..." si tetangga terdiam sejenak sembari menilik tetangga barunya dengan tatapan entah. Ramora sedikit risih namun tetap diam seolah dirinya tak penasaran dengan kalimat gantung tetangganya itu "Sebelum mba tinggal di mari, ada satu perempuan lagi yang pernah tinggal di sini beberapa bulan. Mungkin ada kali ya, dua bulanan gitu. Lagi hamil waktu itu, mungkin sekarang udah deket lahiran." Lanjut Rina menatap iba kepada Ramora. Namun ekspresi Ramora yang biasa saja membuat Rina kian penasaran. "Oh..itu..itu sepupu suami saya kebetulan suaminya gugur di medan perang. Tapi sekarang sudah pulang ke kampung halamannya kok, mbak benar, bentar lagi sepupu suami saya lahiran." Timpal Ramora terlihat begitu meyakinkan. Tak lupa senyum lebar ia perlihatkan agar kecamuk dalam benaknya tak terlihat di wajah cantiknya. "Ah masa? ko saya sering lihat perempuan itu suka manja manjaan tuh sama suami mba Mora. Masa sepupu seperti itu sih..." tandas Rina mematahkan argumen yang susah payah Ramora karang bebas. Meski hatinya mulai dongkol, Ramora tak memperlihatkannya. Dengan tawa hambar Ramora menepuk lengan Rina sepenuh hati. Terlihat ringisan di wajah Rina akibat sapuan telapak tangan Ramora yang cukup keras. "Sepupu suami saya itu anak perempuan satu satunya mba Rina, jadi wajar kalau terlihat manja walaupun sudah menikah dan sekarang menjadi janda. Lagi pula aku gak keberatan kok, sesama keluarga memang harus saling mengasihi, bukan? apalagi sepupu suami saya itu, kan janda, lagi hamil pula. Kasihan gak sih mba..." selancar kereta listrik berkekuatan sonic, Ramora kembali mengarang cerita yang bahkan ia sendiri merasa geli. Rina terlihat mengangguk anggukkan kepalanya, entah wanita itu mengerti atau tidak. Yang jelas Ramora sama sekali tak peduli. Satu hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah pergi dari hadapan tetangga resek, yang memiliki Kekepoan tingkat tinggi tersebut. "Mbak nya baik banget ya, kalau saya beda lagi ceritanya. Saya orangnya cemburuan mba. Lah wong suami saya sungkeman sambil peluk manja mertua saya aja saya cemburu berat mbak." Timpal Rina dengan ekspresi sinis. Ramora langsung meringis. Sengeri inikah cinta buta, Ramora berdoa agar dirinya tak harus mengalami fase labil sebagai seorang istri, selama dirinya masih terikat pernikahan dengan Virgo beberapa bulan ke depan. Membayangkan dirinya menjadi wanita pencemburu, Ramora langsung bergidik ngeri membuat Rina keheranan. "Kenapa mbak? pengen pipis?" sontak Ramora melotot namun sepersekian detik kemudian Ramora langsung mengangguk cepat. "Ya mbak Rina, maaf ya saya tinggal dulu. Kebelet banget soalnya, udah di ujung nih. Permisi ya mbak, saya masuk dulu." Ramora langsung berbalik meninggalkan Rina dengan langkah kaki selebar mungkin. Sedangkan Rina hanya menatap punggung Ramora dengan wajah kecut. Dirinya masih belum puas mengorek tentang perempuan hamil, yang sejak tadi ni tak pernah Ramora sebutkan namanya. Rina semakin di landa rasa penasaran. Ia yakin Ramora berbohong kepadanya. Sebagai seorang yang sudah matang dalam dunia pergibahan, Rina tau ada yang salah dan coba Ramora sembunyikan darinya. "Akan aku cari tau sendiri kebenarannya mbak Mora, tetangga baruku sayang. Jangan panggil aku Rina si ratu hibah, kalau gak bisa mengusut tuntas misteri rumah tangga mbak Ramora yang sedikit mengusik sanubari ini." Gumam Rina menatap pintu rumah Ramora yang menjulang bak istana. Sedangkan Ramora mengintip di balik gorden kamarnya, dan melihat sang tetangga yang komat kamit seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra. "Ck! baru juga sehari tinggal, langsung di kirim ujian bertubi-tubi. Gimana kalau sebulan, bisa bisa aku di kirim badai yang dahsyat." Keluh Ramora kesal. To be continue Yang mampir terimakasih banyak ya Penuh cinta author Rose Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD