Bab 10 Rasa penasaran Ramora

1101 Words
Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam tapi Virgo tak kunjung kembali. Ramora mulai merasa jenuh, bukannya ia kesal karena mengetahui Virgo mengunjungi seorang wanita. Tapi dirinya tak suka fi tinggal sendirian di tempat yang baru saja ia tempati. "Ck! apa seharian tidak cukup untuk berkencan..." Dumel Ramora kesal. Tak lama terdengar suara deruman mesin mobil Virgo memasuki halaman rumah. Berikut suara garasi yang terbuka otomatis. Ramora segera berlari ke dalam kamar untuk menghindari pertanyaan konyol yang akan menjatuhkan harga dirinya. Beberapa menit kemudian, Virgo masih belum ada tanda tanda menyusulnya ke dalam kamar. "Ngapain sih di bawah lama banget," sungut Ramora yang mulai penasaran dengan aktivitas Virgo di lantai bawah. Krek Ramora tersentak saat mendengar suara handle pintu yang di buka dari luar. Ramora langsung kembali masuk ke dalam selimut seolah dirinya sudah tidur. Virgo menatap punggung mungil Ramora kemudian tersenyum geli. Ia melihat bagaimana Ramora berlarian menaiki tangga menuju kamar mereka saat dirinya memasuki halaman rumah. "Sudah tidur, padahal aku mau ngajak makam mie ayam. Sayang banget," celetuk Virgo sengaja memancing reaksi Ramora. Ia tau jika mie ayam adalah makanan favorit istrinya. Hampir setiap hari Ramora juga sahabatnya nongkrong di kedai mie ayam dekat kampus mereka. Dengan langkah lelah Virgo berjalan menuju kamar mandi. Menemani Laura membuat energinya terkuras tak main main.. Keong wanita hamil itu cukup membuat Virgo terkena vertigo. Laura yang manja dan selalu merengek untuk banyak hal, membuat Virgo harus ekstra menahan kesabarannya. Ramora menyingkap sedikit selimut yang menutupi wajahnya untuk memastikan Virgo tak lagi berada di dalam kamar. "Hufss! mie ayam? kok bisa kebenaran ini ya, pas banget aku lagi pengen makan mie ayam." Monolog Ramora heran. Tapi bukan itu masalahnya, dirinya sudah berpura-pura tertidur bagaimana caranya agar dirinya terbangun karena terusik oleh suara gaduh yang Virgo lakukan. "Ck! kenapa juga sih harus pake pura pura tidur segala.." rutuk Ramora kesal sendiri. Mendengar nama makanan kesukaannya membuat imannya benar benar runtuh seketika. Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan parahnya Ramora tak sempat berpura pura lagi. Dengan gaya khas orang yang terbangun dari tidurnya, Ramora menguap lebar sembari mengucek kedua matanya. "Baru pulang?" tanya Ramora basa basi. Ia harus mengusir kecanggungan tersebut agar aktingnya terlihat natural. "Hmmm.." jawab Virgo tampak acuh. Pria itu meraih ponselnya untuk mengecek beberapa pesan yang sengaja ia spam demi bisa fokus terhadap Laura. Dan tampak ekspresi kecewa karena dirinya tak mendapati satupun pesan dari istrinya. Virgo kembali meletakkan ponselnya kemudian berjalan menuju walk in closet. Ramora kebingungan Ramora terbengong-bengong karena di respon tak sesuai harapan. "Sok cool, awas saja nanti aku bales baru tau rasa." Sungut Ramora jengkel. Dengan langkah malas Ramora berjalan menuju sofa. Ada yang ia ingin sampaikan dan itu semua berhubungan dengan wanita yang pernah tinggal di sana, yang di tebak pasti wanita bernama Laura yang tak sengaja ia dengar tadi pagi. Virgo keluar dengan memakai pakaian santai, celana pendek juga kaos putih. "Kenapa malah duduk di sana?" tanya Virgo heran. "Aku mau ngomong sama om, ini penting." Jawab Ramora lugas. Virgo hanya mengangguk lalu ikut menyusul duduk di sofa yang sama. Beruntung sofa tersebut cukup panjang sehingga masih memberikan jarak di antara keduanya. Virgo menatap ke arah Ramora yang masih enggan untuk melihat ke arahnya. "Coba kalau bicara dengan orang itu jangan di sampingin bisa?" tegur Virgo lembut. Ramora mendengus kasar mendengar teguran tersebut. "Sama saja, lagi pula saya bosan lihat muka om." Ketus Ramora jutek. Gadis itu menopang kedua tangannya ke da da tanpa mau memutar tubuhnya menghadap Virgo. "Ya sudah, ceritakan apa yang ingin kamu katakan saya ngantuk, capek." Ujar Virgo mengalah. "Cape habis jalan jalan sama pacar om, ya?" semprot Ramora yang sudah tak lagi mampu memendam rasa penasarannya. Virgo terkejut namun kemudian menyunggingkan senyum simpul. Virgo menyimpulkan bila Ramora pasti juga mengawasi dirinya, tanpa ia ketahui bila Ramora mendengar percakapannya tadi pagi dengan Laura melalui sambungan telepon. "Kenapa kalau saya jalan sama pacar saya? kamu cemburu? bukankah kamu sendiri yang mengatakan kita tidak boleh saling mencampuri privasi masing masing. Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?" todong Virgo memojokkan Ramora. Meski dalam keadaan terpojok, Ramora tetap berusaha terlihat tenang. "Sorry dory ikan teri ya om, aku cemburu? yang bener saja! memangnya om siapa sampai sampai aku harus cemburu segala, iyyuuhh!" balas Ramora tegas. Virgo tersenyum miring melihat reaksi istri kecilnya. Ia yakin Ramora pasti mengetahui sedikit hal tentangnya saat ini, sehingga gadis itu bersikap labil. "Katakan saja intinya, apa yang ingin kamu sampaikan." Desak Virgo tak sabar. Kepalanya masih berdenyut karena seharian penuh harus menuruti keinginan Laura sampai hal hal yang tak masuk akal sekalipun. "Sebelum aku, siapa yang tinggal di rumah ini?" tanya Ramora to the poin. Virgo mematung nyaris terdesak. "Itu...hanya seorang teman. Dari mana kamu mengetahuinya?" balik Virgo yang bertanya. Ia yakin Ramora bukan orang iseng yang akan mencari tau tentang dirinya melalui para tetangga di sana. Ia sangat mengenal bagaimana Ramora yang tak mudah dekat dengan orang asing. "Jawab saja yang benar," desak Ramora kesal. Ia merasa Virgo berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. "Benar, hanya seorang teman. Dia membutuhkan tempat tinggal sementara jadi aku berpikir kenapa tidak tinggal di sini saja sementara rumah ini masih kosong." Terang Virgo terlihat meyakinkan. "Lalu, siapa Laura?" kali ini pertanyaan Ramora benar benar membuat Virgo kehilangan kata-kata. Ia tak menyangka Ramora akan mengetahuinya secepat ini. Virgo bahkan belum menyiapkan jawaban bila sampai Ramora menanyakan pertanyaan yang kini telah lebih dulu Ramora ajukan secara dadakan. "Laura? siapa Laura? dari mana kamu mendengar namanya? maksudku, kamu baru sehari tinggal di sini dan sudah mengajukan dua pertanyaan menyelidik padaku. Apa yang terjadi selama aku pergi seharian ini? apa kamu mengirim seorang mata mata untuk membuntutiku?" tebak Virgo memicing curiga. "Ck! aku bukan orang yang iseng dan kurang kerjaan. Seorang tetangga bertamu kemari dan bercerita tentang seorang wanita hamil yang pernah tinggal di sini. Dia curiga bila om telah menghamili wanita itu lalu menyingkirkannya setelah menikah denganku." Karang Ramora. Meski berbohong bukan keahliannya, tapi Ramora hanya ingin menggiring Virgo pada kenyataan yang berusaha pria itu simpan darinya. "Aku lelah, tidurlah setelah pikiranmu jernih." Ujar Virgo tanpa menjelaskan apapun. Pria itu berjalan menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata. Pikirannya kini semakin pusing dengan segala fakta baru yang Ramora ketahui tentang Laura. Entah bagaimana dia menjelaskan, bila ada wanita lain yang tengah mengandung anaknya saat ini. Ramora jelas tak akan bisa menerimanya. Belum juga berhasil membuat Ramora mencintainya, gadis itu terlebih dahulu mengetahui rahasia yang sedang ia tutup rapat. Ramora hanya bisa menahan gusar karena tak mendapatkan jawaban atas semua rasa penasarannya. Gadis itu menatap punggung lebar Virgo dengan tatapan tak terbaca. To be continue Hadir lagi, jangan bosan menunggu ya guys! Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD