Bab 5 Pujian spontan

1632 Words
Virgo menatap bangunan megah di hadapannya dengan senyum lebar. Pria itu tampaknya begitu percaya diri bila Ramora telah masuk jauh ke dalam perangkapnya. Nyatanya, saat ini Ramora tengah dekat dengan seorang mahasiswa di kampusnya. "Aku datang Mora mi amor..." gumam Virgo lalu mulai membuka pintu mobilnya. "Mang! kemari sebentar...!" seru Virgo pada seorang penjaga rumah. Laki laki 40an tahun itu berlari kecil menghampiri mobil Virgo yang sudah terparkir hampir tiga menit lamanya. Entah apa yang pria itu lakukan di dalam mobilnya sehingga membutuhkan waktu yang lama. "Ya den, ada yang bisa mamang bantu?" tanya penjaga rumah Ramora dengan nada sopan. "Bantu aku angkat barang barang di bagasi ya... langsung bawa masuk saja semuanya, kecuali yang di jok tengah ini. Semua ini khusus untuk calon istriku juga keluarganya." Perintah Virgo. Yanto mengangguk paham lalu mulai mengeluarkan beberapa paper bag dari bagasi mobil Virgo. "Banyak amat den, buat oleh oleh non Mora ya?" tanya laki laki itu yang terlihat sedikit kewalahan. "Punya teman temannya, punya Ramora yang di tengah sini." Jawab Virgo menunjukkan beberapa paper bag berbagai brand lokal ternama. "Wah! banyak sekali den, sayang banget ya sama non Mora." Canda Yanto tertawa kecil. Tanpa di duga, pria itu mengangguk tanpa malu. "Benar mang, seumur hidup saya, Saya belum pernah jatuh cinta sama perempuan. Ramora adalah cinta pertama saya sejak usianya baru menginjak 12 tahun." Jawaban Virgo nyaris membuat Yanto terbentur pintu bagasi. Pria itu berkedip-kedip seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Menyadari bila perkataannya menggiring opini negatif, Virgo buru buru meralatnya. "Saya suka sama Ramora sejak usia anak nakal itu 12 tahun, tapi saya bukan p*****l. Saya menunggu sampai Ramora dewasa, baru saya lamar untuk menjadi istri saya. Jadi mamang jangan berpikir yang aneh aneh tentang saya," mendengar kalimat penjelasan bernada dingin, Yanto cepat cepat mengangguk paham. "Saya mengerti den, non Mora memang cantik dan imut mulai orok. Saya dan istri sudah bekerja di sini sejak non Mora berusia tiga tahun. Anaknya memang menyenangkan, gampang dekat dengan orang baru karena gak sombong." Timpal Yanto berusaha membenahi keterkejutannya. "Ya sudah, yang itu mamang bawa langsung ke dalam. Nanti tanya sama Umi taruhnya di mana. Saya masuk duluan ya mang..." Yanto hanya mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat terjeda gara gara keterkejutannya atas kalimat ambigu Virgo. "Selamat malam om, tante..." sapa Virgo saat mencapai ruang keluarga. Kebiasaannya bila datang ke sana maka Virgo akan menuju langsung ke ruang keluarga tanpa repot repot meminta asisten rumah tangga mengantarnya masuk. "Eh, nak Virgo... kapan datang dari Bandung? om pikir kamu gak bakal pulang secepat ini." Balas Rusdy menyapa calon menantunya. Kedua pria itu saling merangkul tanda keakraban memang sudah terjalin cukup erat antara mereka. "Aku gak menginap om, hanya urusan kecil saja." Sahut Virgo yang masih mengedar pandangannya seperti sedang mencari seseorang. Rusdy yang peka langsung berseru memanggil putri bungsunya. Kebetulan putrinya memang belum tidur di jam jam seperti ini. Tak lama muncullah Ramora dengan piyama tidur berwarna merah maroon. Warna yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Virgo meneguk ludah susah payah, melihat paha mulus Ramora juga belahan da da kenyal yang montok di balik belahan baju tidur Ramora. Apa dia sengaja ingin memancingku? "Hai Mora, saya pikir kamu sudah tidur" sapa Virgo basa basi. Ramora mencebik jengah mendengar sapaan klasik tersebut. Padahal jelas di wajah Virgo terpancar harapan untuk bisa bertemu dengan dirinya. Basa basi klasik om om. "Aku baru akan tidur ketika om Virgo datang," balas Ramora tersenyum kecil. "Ini semua pesenan aku?" tunjuk Ramora pada beberapa paper bag di atas meja. Dengan senyum bangga Virgo mengangguk cepat. "Sesuai pesanan tuan putri," sahut Virgo sumringah. Namun Ramora justru tak terlihat bahagia. Namun lekas gadis itu tersenyum manis seraya mengucap Terimkasih. "Wah! aku pikir om gak akan membelikan aku hadiah sebanyak ini. Terimakasih banyak ya om," ucap gadis itu lalu mulai mengecek satu persatu isi dari bawaan Virgo. "Buat teman teman aku gak ada om?" tanya Ramora lagi. "Ada, tuh..." tak lama Umi asisten rumah tangga Ramora datang dari arah dapur membawa hadiah yang di khususkan untuk teman teman Ramora. Dengan mata berbinar binar Ramora beranjak untuk memeriksa, apakah Virgo membeli semua pesanannya atau tidak. Rupanya Virgo cukup amanah. Ramora yakin tak sedikit uang yang Virgo keluarkan untuk membeli semua pesanannya. Diam diam gadis itu tersenyum melihat usaha Virgo dalam menyempurnakan sandiwara mereka. Padahal apa yang Virgo lakukan murni karena hatinya mencintai gadis usil tersebut. "Makasih banyak om, teman teman aku pasti suka." Ucap Ramora tulus. Awalnya ia berencana untuk mengerjai Virgo, namun melihat betapa baiknya Virgo membuatnya merasa bersalah. "Sama sama Mora, kebetulan aku memang sedang di luar saat kamu meminta tambahan oleh oleh. Jadi, tak masalah sama sekali." Balas Virgo senang. Melihat senyum tulus Ramora terukir khusus untuknya, hati Virgo berbunga bunga. Kenapa harus tersenyum setulus ini saat kamu hanya menganggap hubungan kita sebatas kerjasama? Virgo tak henti hentinya melebarkan senyuman manis, melihat reaksi Ramora yang tak terduga. Sedangkan dua pasang mata sejak tadi hanya melihat tanpa berkomentar apapun. Rusdy sedikit sangsi dengan sikap manis putrinya, sebagai seorang ayah yang sudah mengenal putrinya sejak lahir. Rusdy yakin Ramora tak mungkin tiba tiba berubah tanpa alasan. Ia khawatir putrinya akan bermain curang di kemudian hari dan membuat Virgo kecewa. "Ah ya, ini oleh oleh buat om sama tante. Dan ini untuk Randy dan istrinya, ini juga buat si kembar." Rusdy menyambut oleh oleh pemberian Virgo dengan senyum senang. Sejak tadi memang Virgo hanya menaruh kedua paper bag tersebut di lantai tepat di samping kakinya. Terlihat sangat spesial, sehingga Virgo tak langsung menaruhnya di atas meja. "Wah, repot repot sekali nak Virgo. Tapi Terimkasih banyak loh ini," ucap Camelia dengan senyum tulus. Mereka tau Virgo sangat mencintai putri bungsu mereka sejak pertama kali pria itu berjumpa dengan Ramora di ulang tahunnya yang ke 12 tahun, 7 tahun yang lalu. Ramora memang memiliki tubuh yang sedikit bongsor ketika masih kecil. Saat memasuki usia remaja, perlahan-lahan Ramora mulai membatasi diri untuk tak mengkonsumsi makanan ringan secara berlebihan. Kecantikannya anaknya memang sudah terpancar sejak masih bayi. Tak heran bila Virgo yang dingin dan kaku saja, bisa langsung jatuh hati pada putrinya. "Sama sama tan, aku gak merasa di repotin kok. Semoga om dan tante suka dengan hadiah kecil dari Virgo," ucap pria itu merendah. Padahal di dalam paper bag kecil itu berisi oleh oleh seharga puluhan juta rupiah. Totalitas Virgo tak main main dalam meraih hati Ramora. "Wow! lihat ini mi," pekik Ramora yang rupanya lebih gercep daripada ibunya. Melihat satu set perhiasan berlian yang ada dalam kotak merah tersebut, membuat Ramora terpukau. Gadis itu memicing tajam ke arah Virgo seolah menuntut penjelasan atas hadiah mahal tersebut. Untuk ukuran sebuah sandiwara, Virgo tak seharusnya membelikan keluarganya barang barang mahal. Namun Virgo tetap bersikap tenang. Tak apa bila Ramora menatapnya dengan tatapan sengit, asalkan Virgo bisa menatap wajah cantik Ramora dengan puas. "Ini hadiah yang mahal nak Virgo, bagaimana kami bisa menerimanya." Ucap Rusdy terselip maksud. "Ini hanya hadiah kecil untuk dua orang hebat yang telah merawat calon istriku dengan segala cinta dan kesabaran tanpa batas. Aku berhutang untuk semua kasih sayang om dan tante terhadap Ramora." Balas Virgo tulus. Pria itu menatap Ramora yang masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca. "Kami orang tua anak nakal ini, tentunya kami sangat mengasihinya walaupun terkadang suka membuat hipertensi." Seloroh Camelia terkekeh kecil. Ramora mengerucutkan bibirnya saat mendengar penuturan ibunya. "Mami ih," kesal gadis itu merajuk manja. "Emmm...om tan, apa boleh Virgo membawa Ramora keluar sebentar? tak akan lama, Virgo janji." Rusdy juga Camelia serentak mengangguk tak keberatan. Namun Ramora sepertinya yang merasa keberatan jika harus keluar berdua bersama Virgo. Melihat wajah masam Ramora Virgo merasa bersalah. Gadis itu jelas tak akan bisa menolaknya karena tak enak hati kepada kedua orang tuanya. "Siap siap gih, kamu temenin Virgo jalan jalan sana. Ajak nak Virgo mampir ke tempat tongkrongan kamu, biar teman teman kamu pada pada kenal sama calon suami kamu." Perintah sang ibu menambah rasa kesal di hati Ramora. Namun gadis itu hanya mengangguk lalu beranjak menaiki tangga menuju kamarnya. Mengajak om Virgo ke tongkrongan aku? sama saja menjatuhkan pamor aku di hadapan teman teman aku. Di sana pasti ada si ganteng Julian. Ogah lah ya... Di perjalanan Ramora tak banyak bicara. Sesekali Virgo melirik namun masih belum berani memulai pembicaraan. "Kita mau kemana sih om? perasaan muter muter gak jelas dari tadi," protes Ramora terlihat kesal. Virgo tersenyum dalam hati. Ramora akhirnya menyerah kalah untuk berbicara terlebih dahulu. "Bagusnya kemana ya? kebetulan saya belum makan malam, bagaimana kalau kita nyari makan dulu?" Ramora mencebik mendengar penuturan Virgo. "Bilang kek dari tadi," ketus gadis itu. "Muter di depan, aku tau tempat makan yang enak." Dengan semangat Virgo mengemudikan mobilnya menuju tujuan yang Ramora sebutkan. Di sinilah keduanya duduk sembari menunggu pesanan makanan yang mereka pesan. Virgo mendadak menjadi terlihat dingin. Rupanya Ramora mengajak Virgo makan di warung lesehan pinggir jalan. Meski tempatnya cukup bersih, tetap saja Virgo tak terbiasa. "Tempat ini rekomend banget, apalagi buat anak kos dengan budget jajan yang minimalis. Om pasti ketagihan deh, aku jamin." Dengan bersemangat Ramora bercerita. Virgo hanya menanggapi seadanya. Tatapan para gadis membuatnya risih. Tempat tersebut memang sangat ramai, karena berada di area padat kumpulan para mahasiswa rantauan. "Lain kali pastikan kalau tempat yang akan kita kunjungi tak seramai ini, Mora." Bisik Virgo yang mulai merasa tak nyaman. Satu satunya wanita yang mampu menenangkan hatinya hanyalah Ramora. Itu sebabnya Virgo sanggup bertahan bertahun-tahun tanpa sentuhan seorang wanita. "Ish! santai aja kali om. Mereka menatap om Virgo karena om itu tampan," ucap Ramora balas berbisik. Mendadak suasana hati Virgo langsung berubah drastis. Mendengar kalimat pujian yang Ramora ucapkan hatinya langsung bermekaran bagai kelopak bunga. Entah itu reflek untuk menenangkan hatinya atau memang tulus terucap dari dasar hati Ramora. Saya memang tampan, kamu saja yang belum menyadari pesona saya Ramora sayang. To be continue Semoga suka ya guys. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD