Bab 4 Perasaan yang sama

1485 Words
Virgo tiba di Jakarta setelah puas membelanjakan uangnya untuk sang calon istri masa depannya. Dengan senyuman sumringah yang terus terukir, Virgo mulai menghitung jumlah pesanan yang Ramora minta. Entah gadis itu hendak mengerjainya atau memang Ramora menghendaki barang barang tersebut. Yang jelas Virgo sama sekali tak keberatan sedikitpun, uangnya di hamburkan untuk membeli apa yang Ramora listkan kepadanya melalui pesan singkat. "Semoga saja dengan ini Ramora bisa melihat ketulusanku," monolog Virgo berbicara sendiri. Tak pernah surut senyum di bibirnya sejak tadi. Bagi Virgo, usahanya untuk mendekatkan diri dengan Ramora sudah berprogres baik. Sementara di kampus, Ramora sibuk mengabsen satu persatu teman teman sekelasnya tanpa terkecuali. Rupanya gadis itu memang sengaja ingin mengerjai Virgo, dengan memesan oleh oleh khas kota Bandung tersebut dalam jumlah banyak. Gadis itu tersenyum licik karena berhasil menguras banyak uang milik Virgo untuk membeli pesanannya. Padahal bagi Virgo, jumlah tersebut hanyalah seujung kukunya saja. "Senyum kamu bikin merinding tau gak, Ra." Celetuk Suzan yang mulai jengah dengan senyuman yang terus berkembang di bibir Ramora. Ramora menoleh lalu menatap sang sahabat tanpa menyurutkan senyumannya. "Alu lagi senang banget tau gak..." balas Ramora lalu ikut duduk di sisi sang sahabat. "Perasaan kamu senang terus? kapan sih seorang tuan putri seperti kamu ini hidup susah?" komentar Suzan menatap sahabatnya yang sejak pagi bertingkah aneh. Baru saja sahabatnya itu uring uringan beberapa waktu belakangan,w karena perjodohan yang di atur oleh kedua orang tuanya. Namun lihatlah gadis itu sekarang tampak begitu berbeda. "Eh jangan salah, menjadi tuan putri di keluarga aku juga banyak gak enaknya tau." Protes Ramora tak sependapat. "Paling paling gak enaknya di suruh bangun pagi doang, sama di suruh mandi. Kamu kan paling doyan bangkong kaya ayam, sama takut air kalau pagi kaya kambing babe di kampung." Celoteh Suzan beropini. Ramora mendelik galak saat mendengar kata kata syarat kebenaran dari mulut sahabatnya. Suzan hanya memamerkan senyum cengengesan melihat reaksi sang sahabat. Sebagai anak petani desa, Suzan merasa cukup beruntung bisa berkuliah di kampus elit di jakarta. Terlebih bisa bersahabat dengan anak pemilik yayasan kampus tempatnya menimba ilmu. Ramora yang petakilan dan riang, terasa cocok untuk menjadi sahabatnya yang memiliki sifat sebelas dua belas. "Aku tuh bukan malas ya, koreksi. Aku cuma mager doang, lagian siapa sih punya gagasan harus mandi pagi? gak tau apa kalau pagi itu waktunya menikmati sisa sisa mimpi yang belum tuntas semalam. Aneh aneh aja,". sungut Ramora mengoceh. Suzan menggeleng sedih mendengar penuturan sang sahabatnya. "Yang ada juga, kamu tuh yang aneh. Di mana mana juga mandi pagi itu bukan sebuah gagasan tapi tindakan spontan karena kebutuhan akan kebersihan diri. Kamunya aja yang jorok," komentar Suzan menatap ilfil sang sahabat. "Gak apa apa jorok yang penting cantik ini, siapa yang nolak sih. Di kasih senyum manis aja kaum buaya rawa langsung mangap mangap sesak nafas." Oceh Ramora dengan bangga kemudian tertawa lepas. "Jelas lah langsung sesak nafas, wong kamunya bau jigong." Ketus Suzan. Namun Ramora sama sekali tak merasa tersinggung. Baginya ucapan sahabatnya hanya sebatas candaan meski terlihat serius ketika di ucapkan. Begitulah persahabatan mereka terjalin, tanpa kepalsuan dan sikap jaim. **************************** "Ini semua oleh oleh buat Mora?" tanya Wijayanto saat berkunjung ke apartemen sang cucu. Tatapan mengabsen terus terarah pada beberapa paper bag yang sudah tersusun rapi di atas meja juga sofa. Dengan anggukan bangga, Virgo mengangguk cepat. Tak lupa senyum lebar terpatri di bibirnya seakan enggan surut. "Kamu gak menghabiskan semua saham perusahaan 'kan, untuk membeli ini semua?" canda sang kakek namun terlihat serius. "Bahkan gak sampai seperlimanya kek," sahut Virgo pongah. "Kakek lupa kalau kekayaan keluarga kita tak akan habis hingga 21 keturunan?" lanjut Virgo sembari merangkul bahu sang kakek dengan menyunggingkan senyum jumawa. "Kamu benar, asalkan sombong dulu walaupun hanya penjual keripik singkong pun bisa." Timpal sang kakek kemudian keduanya tertawa renyah. "Go?" "Hmmm..." "Virgo..?" "Ya kek? gak lihat aku sedang sibuk?" sahut Virgo yang kembali menyortir barang yang ia khususkan untuk Ramora. "Kamu ada makanan tidak? kakek tidak sempat makan sebelum kemari," ucap Wijayanto melirik dapur minimalis milik Virgo. "Astaga! kek, bisa bisanya kakek tak memperhatikan makan sebelum bepergian. Kakek pikir apartemen aku restoran apa?" gerutuan sang cucu membuat Wijayanto mendelik. Dengan tongkat ajaibnya, pria 72 tahun itu memukul pelan kepala Virgo. "Dasar cucu durhaka, sama kakek sendiri pelit." Omel Wijayanto kepada sang cucu. "Aku gak pelit kek, cuma perhitungan aja. Sebentar lagi aku akan menikah, punya anak otomatis pengeluaran aku bakal lebih banyak. Kakek tau sendiri kan jiwa anak muda sekarang hobinya menghabiskan uang suami? aku hanya berjaga jaga saja, agar Ramora tak meninggalkan aku ketika keuanganku mulai setipis tisu." Bantah Virgo beralasan. "Hallahh! alasan saja kamu itu, bilang saja kamu berencana menyingkirkan kakek yang sudah tua tak berguna ini." Sergah Wijayanto ngambek. Virgo mengulum senyum geli. Ia hanya menggoda sang kakek siapa sangka kakeknya sedang dalam mode sensitif. Virgo beranjak dari sofa lalu menghampiri sang kakek tercinta. Wijayanto adalah sosok paling berjasa dalam hidupnya.. Orang tua kedua yang ia miliki setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat puluhan tahun silam. Virgo bahkan hampir lupa wajah kedua orang tuanya, jika saja di rumah sang kakek tak terpajang bingkai besar berisi foto ayah dan ibunya, yang sedang menggendong dirinya ketika masih bayi. "Aku hanya bercanda kek, mana mungkin aku melupakan kakek begitu saja.. Bahkan bila aku harus memilih, aku akan memilih kakek dari pada apapun di dunia ini." Terang Virgo tanpa keraguan. Sang kak kakek melontarkan tatapan menyelidik. "Termasuk membatalkan pernikahanmu dengan Ramora?" pancing sang kakek memberikan pilihan yang sulit untuk di pilih oleh cucunya. Namun siapa sangka, Virgo malah tersenyum lebar lalu mengangguk mantap. "Termasuk tak menikah seumur hidupku, aku tak keberatan. Asalkan kakek yak pernah meninggalkan aku seperti mama dan papa." Ucap Virgo sendu. Sisi lemahnya adalah kehilangan orang yang ia kasihi. Meski sangat mencintai Ramora, Virgo tetap merasa cintanya tak sebanding dengan perjuangan sang kakek juga mendiang neneknya dalam membesarkan dirinya. Wijayanto mengusap rahang tegas cucunya seraya tersenyum bangga. Namun pria itu menggeleng tak setuju dengan perkataan sang cucu. "Jangan pernah menukar cintamu, justru jadikan cintamu menjadi dasar yang kokoh bagi orang orang terkasihmu. Semakin banyak kita mencintai seseorang maka ujiannya akan semakin besar pula. Untuk itu terkadang kita membutuhkan dukungan banyak anggota keluarga, kerabat juga para sahabat untuk bisa meraih puncak kebahagiaan yang sempurna." Nasihat Wijayanto bijak. Ia tak ingin Virgo mengorbankan kebahagiaannya hanya karena hutang jasa. Ia dan mendiang istrinya sangat menyayangi Virgo selayaknya mereka mencintai mendiang putra sulung mereka yang telah tiada. Virgo bagai setetes air di kala dahaga menerpa. Kehilangan seorang anak nyaris membuat Wijayanto depresi. Namun keberadaan Virgo membuat hatinya menjadi lebih baik. "Aku berjanji akan selalu mencintaimu kek, meski kelak aku telah memiliki keluarga kecilku sendiri. Kakek dan om Robert adalah keluarga yang aku miliki di dunia ini jauh sebelum aku membentuk keluarga kecilku kelak." Ucap Virgo tersirat cinta yang begitu besar untuk sang kakek juga pamannya. Robert dan dirinya hanya terpaut usia tiga tahun. Robert bukanlah putra kandung sang kakek, namun Wijayanto tak pernah membedakan Kasih sayangnya meski kerap memberikan hukuman kecil terhadap putra bungsunya itu. Namun Robert sama sekali tak merasa di anak tirikan. Ia tau sang ayah hanya ingin melihat anaknya hidup dengan benar dan bahagia bersama wanita yang baik. Di kota lain, Robert masih belum pulang dari rumah sakit. Pria itu dengan setia menemani Nurah di depan pintu ruang operasi, selama ibu dari wanita itu masih dalam tindakan operasi. "Mas Robert pulang saja, pasti capek kan?" Robert menggeleng cepat, meski geli mendengar panggilan baru dari Nurah. Tapi ia sudah berjanji akan membiasakan diri dengan panggilan tersebut. "Ak gak capek, tenang saja. Aku malah mengkhawatirkan dirimu, berbaringlah di pangkuanku." Ujar Robert menepuk pahanya. Nurah menatap paha Robert kemudian menggeleng samar. "Ck, bukankah kita sudah berjanji untuk bertobat? aku tak akan bereaksi hanya karena tersentuh oleh kepalamu. Kecuali kamu sengaja menyenggolnya," ujar Robert dengan sedikit candaan. "Aku khawatir saja, berjaga jaga lebih baik, bukan? mas Robert seperti putri malu, tersentuh sedikit saja langsung bereaksi. Bedanya putri malu mengatupkan kuncup daun daunnya. Kalau mas Robert kan langsung menjulang seperti tower indoset di kampung." Tutur Nurah bercanda, membuat Robert mencebik. "Aku bereaksi juga tau tempat, Nur." Sungut Robert mendelik. "Gak ah, aku duduk saja. Nanti aku malah ketiduran lagi," tolak Nurah tetap kukuh. "Terserah kamu saja, aku mau keluar sebentar. Kamu mau titip sesuatu?" Nurah menggeleng pelan. "Kalau semisal mas Robert mau langsung pulang juga gak apa apa kok. Terimakasih banyak ya atas bantuan mas Robert buat ibu. Nanti aku bakal kerja keras untuk mencicilnya," ucap Nurah sembari tersenyum simpul. "Ck, kenapa bicaramu selalu seperti itu. Apa tidak bisa menganggap bantuan ku sebagai bantuan seorang kerabat dekat." Dumel Robert kemudian berjalan meninggalkan Nurah yang masih menatap punggung lebar Robert. "Aku hanya takut perasaanku semakin besar dan tak bisa aku hapus sama mas Robert." Gumam Nurah berbicara sendiri. Rupanya wanita muda itu pun memendam perasaan yang sama terhadap mantan pelanggan tetapnya itu. To be continue Jangan lupa follow serta tap favorit agar tetap terhubung dengan cerita ini ya guys!! Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD