Setiba di apartemennya, Virgo tampak tersenyum senyum sendiri. Pria itu merasa dirinya telah berhasil memperdayai Ramora yang polos.
"Sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya muda Virgo Ragesnara, Mora sayang." Ucap Virgo dengan senyum penuh kemenangan.
Setelah berhasil memperdayai Ramora dengan ide jeniusnya, Virgo akhirnya berkesempatan untuk berjalan berdampingan dengan Ramora tanpa jarak hari ini. Sepanjang sisa sore hingga malam hari, Ramora bahkan banyak tertawa lepas saat bersamanya. Sesuatu yang tak pernah Ramora lakukan selama ini, ketika mereka terpaksa di pertemukan oleh pertemuan keluarga.
Setelah puas membayangkan wajah cantik Ramora, Virgo memutuskan untuk membersihkan diri. Hari ini dia terpaksa meninggalkan rapat penting bersama para petinggi perusahaan. Semua hanya demi seorang gadis bernama Ramora. Calon istri masa depannya.
Di tempat berbeda, Ramora tak lagi memperlihatkan wajah suntuk di hadapan keluarganya. Gadis itu bahkan kembali menjadi gadis yang ceria juga cerewet.
"Malam mi, pi, kak Randy, kak Selin..." sapa Ramora mengabsen satu persatu nama anggota keluarganya dengan senyum sumringah.
Seluruh anggota keluarga itu sontak saling melempar tatapan heran. Pasalnya baru tadi pagi Ramora memasang ekspresi wajah penuh permusuhan, apalagi saat melihat mobil Virgo di halaman depan.
"Malam sayang," jawan kedua orang tuanya serentak.
"Malam juga dek, sepertinya kamu lagi happy? ada cerita apa nih? kakak jadi kepo," Selin memang sangat dekat dengan Ramora. Sejak usia Ramora 11 tahun, Selin masuk menjadi bagian di keluarga Sukmajaya.
Delapan tahun menjadi adik dan kakak ipar, membuat keduanya menjadi sangat dekat seperti layaknya adik kakak kandung.
"Ada deh, kepo aja kakak, ih..." balas Ramora tersenyum misterius. Gadis itu terpaku akan janji palsu Virgo, si om Me sum menurut versinya.
"Mami sama papi juga kepo nih, cerita dong sayang." Bujuk sang ayah yang juga penasaran dengan perubahan sikap putri kesayangannya itu.
"Aku makan aja belum, udah di berondong pertanyaan yang berat. Jawab pertanyaan juga butuh energi pi, aku makan dulu ih." Jawab Ramora manja.
Sebagai anak perempuan satu-satunya, membuat Ramora mendapatkan kasih sayang penuh dari keluarganya. Tapi sayang, Laura sang kakak ipar istri dari si tengah dalam keluarga itu tak begitu dekat dengan Ramora.
Keduanya bahkan pernah terlibat adu jambak karena sesuatu hal yang sepele. Itu sebabnya Roky memilih pindah dari kediaman orang tuanya, meski masih tinggal di perumahan yang sama.
"Sekarang cerita gih, penasaran nih mami." Desak Asha menatap putrinya dengan kedua mata berbinar. Dia berharap Ramora sudah menerima perjodohan yang mereka sepakati dengan lapang da da.
"Ishhh..mami sama kak Selin kepoan deh.."
"Abis sikap kamu tiba tiba aneh gitu, sampai merinding kakak liatnya." Celetuk Selin yang kini duduk mengapit sang adik ipar.
"Aku...aku menerima perjodohan yang kalian rancang. Maaf kalau selama beberapa minggu terakhir ini aku menjadi sangat menyebalkan. Itu karena aku hanya terkejut saja," ungkap Ramora membuat seluruh keluarganya tercengang.
Adu lemparan tatapan pun terjadi. Seakan tak percaya bila yang sedang berbicara adalah adiknya sendiri, Randy menempelkan punggung tangannya di kening Ramora.
"Apaan sih kak, aneh banget." Ketus Ramora menepis tangan sang kakak dengan delikan mata galak.
"Abis keputusan kamu tiba tiba siapa yang gak curiga sih," celetuk Randy menatap adiknya dengan tatapan menyelidik.
"Yaelah kak! harusnya kakak seneng kan, bukannya malah curiga gak jelas kaya gini." Sungut Ramora kesal.
"Kakakmu benar Mora sayang, papi saja sampai gak percaya loh dengernya." Sambung sang ayah ikut menimpali. Dari tempat duduk masing-masing, keluarga tersebut menatap Ramora curiga.
"Ya ampun Pi! jangan su'udzon sama anak sendiri kenapa?" protes Ramora tak terima dengan kecurigaan keluarganya.
"Mora cuma mencoba berpikir dewasa aja. Masa ya aku harus bersikap childish hanya karena perjodohan yang kalian rancang. Lagi pula om Virgo gak tua tua amat kok. Lumayanlah buat di pamerin sama teman teman aku, gak malu maluin lah intinya." Ungkap Ramora tetap dengan tata bahasanya yang asal keluar.
Rusdy menggeleng melihat tingkah dan ucapan sang anak yang suka kadang kadang membuat hati orang lain panas membara.
"Jadi deal, nih ceritanya?" Randy kembali memastikan. Pasalnya Ramora tak bisa di percaya seratus persen. Gadis itu seperti bunglon, bisa berubah sewaktu-waktu suasana hatinya tiba tiba berubah.
Dengan anggukan mantap, Ramora mengangguk cepat. Tak lupa senyum lebar di bibir tipisnya yang selalu membuat Virgo meleleh.
Di apartemennya Virgo sedang berbicara dengan sang kakek melalui sambungan telepon.
Pembicaraan absurd selalu mengisi percakapan keduanya di manapun ada kesempatan untuk saling berbagi kabar.
"Jadi berhasil, jurus yang kakek sarankan?" tanya Wijayanto penuh semangat.
"Berhasil dong kek, siapa dulu... Virgo..." pamer Virgo dengan bangga.
"Heh bocah genderuwo! itu ide kakek kalau saja kamu lupa," hardik Wijayanto penuh tekanan.
Virgo terpingkal mendengar umpatan sang kakek. Alih alih Virgo merasa tersinggung. Hal semacam itu sudah menjadi makanan Virgo sejak kecil. Kata kata yang menurut orang lain kasar, bagi Virgo merupakan sebuah kalimat hiburan.
Sebagai anak yatim piatu, Virgo di besarkan oleh cinta dan kasih sayang Wijayanto juga mendiang istrinya.
"Ya ya... maaf kek, Virgo lupa kakek juga masih cukup produktif dalam berpikir licik." Ujar Virgo berhasil menciptakan decakan kasar di lidah Wijayanto.
"Dasar cucu durhaka, kamu itu. Kapan pulang ke rumah? kakek kangen pengen ngalahin kamu main catur," pinta sang kakek dengan nada sendu.
"Lusa aku akan menginap di mansion, besok aku harus ke Bandung untuk bertemu dengan om Robert."
"Ck! kenapa lagi dengan om mu itu? pasti akan menyusahkanmu lagi dengan urusannya." Tuduh Wijayanto penuh curiga. Padahal Robert adalah putra bungsunya, namun Wijayanto terlihat lebih menyayangi Virgo ketimbang sang anak.
"Jangan suka curigaan kek, pamali." Tegur Virgo sok bijak. Padahal pria itu sedang menahan tawa saat mendengar kalimat tuduhan sang kakek. Pamannya memang kerap membuat masalah yang berakhir terpaksa harus ia selesaikan.
"Alahh! om mu itu produk kakek yang rusak. Lihatlah, dalam keluarga kita hanya om mu yang selalu bermasalah." Sergah Wijayanto tak mau kalah.
"Ya sudah, besok aku akan ke Bandung kakek mau pesan apa? ah ya, Ramora sukanya apa sih kek, makanan apa gitu? yang manis manis apa yang asin asin?"
Mendengar pertanyaan konyol cucunya kesayangannya membuat Wijayanto berdecak.
"Coba kamu tanyakan saja langsung, dengan begitu Ramora akan merasakan perhatianmu." Jawab sang kakek membuka pencerahan di kepala Virgo.
"Astaga! kenapa aku bisa lupa," balas Virgo menepuk keningnya sendiri.
"Baiklah kek, kalau begitu aku tutup dulu. Virgo mau pedekate sama calon istri," ucap Virgo dengan senyum sejuta watt.
"ingat umur Virgo! kamu itu sudah terlalu tua untuk mengatakan kalimat kalimat alay. Gunakan bahasa yang cocok dengan usiamu saja jangan lebay." Pesan Wijayanto tanpa perasaan.
"Ck, kakek!" desis Virgo merasa sang kakek meremehkan pesonanya.
"Aku belum tua ya, aku ini pria dewasa. Tolong kakek bedakan," ucap Virgo dongkol.
"Tua ya tua aja Virgo," kukuh Wijayanto tak mau mengalah. "Kamu dan om mu itu produk keluarga kita yang tidak laku di pasaran, sampai sampai di usia setua ini kalian berdua masih saja belum memiliki pendamping hidup. Masih saja jadi beban batin kakek di usia ini," celoteh Wijayanto menohok.
"Ya Tuhan, kenapa bisa ada orang tua yang mengatai anaknya sendiri sekejam ini." Keluh Virgo meratapi nasib sang paman.
Begitulah percakapan yang berlangsung antara kakek juga cucu kesayangan tersebut. Selalu saja tak pernah berakhir dengan perdamaian, karena sang kakek yang selalu mengeluhkan sang anak juga cucunya yang masih belum juga sold out.
To be continue
Hollaaaa.... jangan lupa tap LOVE kalau kalian menyukai cerita ini. Novel ini gak akan melebar kemana-mana, hanya akan di isi dengan drama romansa yang di balut dengan kisah kisah komedi romantis yang menguwukan hati pembaca.
Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana