Dua orang pria tengah duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatasnya. Sama-sama memiliki aura kepemimpinan yang menunjukkan kewibawaan yang tak terelakkan, kedua pria tersebut memiliki sifat kaku yang sama pula. "Apakah anda sudah melakukan apa yang nona muda inginkan, tuan Dirga?" Akhirnya Niko membuka suara terlebih dahulu setelah menikmati keheningan cukup lama. "Seperti instruksi anda, semua berjalan lancar tanpa kendala. Kini kendali perusahaan kecil itu berada dalam genggaman tanganku." Dirga tersenyum miring, kerja samanya dengan Adam adalah hasil konspirasinya dengan Niko. Hutang nyawa membuat Dirga mau tak mau mengikuti alur konspirasi tersebut. "Bagus. Jadi sekarang pertemuan kita cukup sampai di sini, dan pertemuan sebelumnya, itu tidak pernah terjadi. Aku permisi, terimaka

