Mahen memijat dahinya melihat sosok wanita asing yang pertama kali memasuki kamarnya setelah bunda dan adiknya. Sosok wanita itu kini tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan menangis tersedu-sedu lengkap dengan kebaya putih yang masih melekat di tubuhnya. Mahen tidak mengerti, mengapa wanita itu menangis seolah telah menjadi korban dalam kekerasan rumah tangga. Meskipun memang wanita itu sama seperti dirinya yang sama-sama menjadi korban dalam sebuah pernikahan paksa. Akan tetapi, bukankah sudah terlambat jika untuk menyesalinya?
Dengan malas ia menghampiri wanita itu dan duduk di sofa sudut ruangan, jarak yang lumayan jauh. Mahen memang tidak ingin berdekatan dengan wanita itu yang dianggap seolah sebagai pembawa virus.
Mahen berdecak, "Berhenti menangis! Saya pusing mendengar suara kamu!"
Sroott
Wanita itu menghiraukan perkataan Mahen yang cukup pedas satu paket dengan raut wajah datarnya. Bahkan tanpa malu wanita itu menyedot ingusnya atau mengusapnya pada lengan kebaya yang dikenakannya, membuat Mahen mengernyit jijik. Tidak pernah dalam hidupnya menemukan wanita yang tidak tahu malu atau mungkin saja wanita itu urat malunya sudah putus.
"Jika kamu menyesal menikah dengan saya, tentu saya lebih menyesal. Saya tidak pernah mengharapkan kamu menjadi istri saya, membayangkannya pun saya tidak berminat."
Kalimat yang cukup menyakitkan jika dikatakan seorang suami kepada istrinya. Tapi siapa yang peduli? Wanita itu lebih mementingkan ingusnya yang terus berdesakan ingin keluar bersama dengan air matanya yang mengalir deras. Sialnya di dalam kamar ini, ia tak melihat selembar tisu pun. Entah pria ini jorok atau pelit, minimal tisu dua ribu perak pun tidak ada penampakannya.
"Berhenti menangis!"
"Nggak usah bentak-bentak gue! Lo kira lo siapa? Seumur-umur, Papi gue aja nggak pernah bentak gue."
Mahen mendengus, "Saya suami kamu, jika kamu lupa."
Wanita itu memutar bola mata, "Cih! Katanya nyesel nikah sama gue, tapi sekarang bawa-bawa status suami." Mahen terdiam, merasa kalah telak.
"Heh! Suami. Gue emang nyesel yah nikah sama lo, harusnya gue bisa dapet yang setingkat pangeran Inggris atau minimal aktor hollywood. Meskipun gue juga terpaksa nikah sama lo, tapi gue pengen nikah cukup sekali seumur hidup. Dan lo tahu, pernikahan sekali seumur hidup gue itu harusnya like a Princess. Bukan kayak gini! Kebaya hasil pinjam, muka lusuh, cincin minjem! Mana Papi nggak ada, sedih banget hidup gue huaaa ...."
Wanita itu—Mika—kembali menangis tersedu-sedu. Sebenarnya Mika tidak menangisi pernikahan paksa yang terjadi antara dirinya dan Mahen, walaupun pernikahan itu sangat sederhana dan terkesan tidak bermodal bagi seorang anak konglomerat seperti dirinya. Biar bagaimana pun ia seorang wanita dewasa dan seorang wanita yang lebih mementingkan logika dibandingkan perasaan. Mau itu pernikahan paksa atau pernikahan yang tidak ia inginkan sekalipun, Mika tetap ingin agar pernikahan itu terjadi sekali seumur hidup. Seperti sang Papi yang memilih untuk melajang hingga puluhan tahun hanya karena terlalu mencintai Maminya yang telah tiada.
Untuk itu, Mika tidak ingin berkutat pada rasa penyesalan atas terjadinya pernikahan paksa ini. Penyesalan itu hanya akan membuat ia membuang-buang waktu dengan hal yang tidak berguna. Memang siapa yang perlu disalahkan? Dirinya? Mahen? Atau takdir? Jelas saja semua ini sudah sekenario Tuhan yang harus ia jalani.
Namun, dibalik itu semua ada rasa kesedihan yang mendalam pada diri Mika terutama tentang Papi dan kakaknya. Pernikahan impiannya bukan seperti pernikahan dalam negeri dongeng, hanya sederhana saja yaitu menikah dengan Papi sebagai walinya. Sama halnya dengan keinginan yang sering Papi Mika utarakan, pria paruh baya itu tak akan pernah bisa pergi dengan tenang sebelum menikahkan putrinya dengan sosok laki-laki yang tepat.
Dan kini Mika menghancurkan keinginan Papinya, menikah tanpa beliau yang menjadi walinya melainkan sang kakak. Mika masih mengingat tatapan kekecewaan milik bang Adam yang mendapat telepon secara tiba-tiba dan diperintahkan untuk datang ke kampung Dira secepatnya. Bahkan abangnya itu hanya menjadi wali pernikahannya, lalu langsung kembali pulang setelah memberikan sebuah kalimat kekecewaan.
“Mika, adek abang satu-satunya. Tapi abang harus menyaksikan pernikahan Mika dengan cara seperti ini. Abang sangat kecewa, lalu bagaimana dengan perasaan Papi?”
Mika kembali meneteskan air matanya mengingat perkataan kakaknya yang kini tidak bisa ia hubungi sama sekali. Meskipun begitu, Mika bersyukur karena sang Papi yang sedang berada di luar negeri sehingga abangnya lah yang menjadi wali nikah karena pernikahannya harus segera dilaksanakan sebelum terjadi fitnah yang lebih besar. Terlebih lagi keadaan mendesak dan juga orang-orang yang memaksa.
Sedangkan di sisi lain, Mahen mengernyit bingung saat melihat wanita yang sudah menjadi istrinya itu kembali menangis bahkan tangisnya lebih keras. Wanita yang dikenalnya sebagai sahabat sepupunya Andira adalah wanita ajaib juga aneh. Mahen benar-benar tidak habis pikir melihat kelakuan wanita itu.
"Meskipun meminjam, cincin itu adalah cincin pernikahan orang tua saya."
"Iyah gue tau. Bunda emang terbaik. Tapi, tetep aja gue nggak mau pake cincin kawin orang! Pokoknya lo harus beliin gue cincin yang bagus, kalau perlu ada berliannya."
Mahen mendengus, "Nanti saya belikan cincin dengan Berlian sebesar batu akik."
Mika langsung menatapnya dengan antusias,"Serius lo? Sebesar cincin batu akik kan? Hmm ... kira-kira kalau gue jual dapet berapa duit."
Mika sepertinya mulai melupakan kesedihannya dalam sekejap. Bahkan wanita itu sudah menampilkan raut wajah berbinar ketika mendengar kata berlian. Kini, Mika sudah mulai menghitung berapa penghasilan yang akan didapatkan dirinya ketika cincin berlian itu dijual. Lalu uangnya akan ia bawa kabur agar terbebas dari pernikahan paksa.
Tuk
Mika menatap Mahen dengan sinis saat pria itu dengan tidak berperikecantikan menjitak jidatnya. Belum apa-apa ia sudah mendapatkan KDRT, bagaimana nanti?
"Dasar matre!"
"Itu bukan matre, tapi realistis. Hitung-itung sebagai ganti rugi karena lo nikahin gue nggak pake modal."
Mahen beranjak dan mendekati wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu, wanita yang tak lain adalah Mika.
"Heh! Mau apa lo! Jangan macem-macem atau gue teriak?" ucap Mika dengan gugup sekaligus takut, saat Mahen mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafasnya yang berbau mint tercium hidung mancungnya.
Mika memang memiliki rekor dengan mantan terbanyak dan dimana-mana, namun hubungan itu terjalin hanya sebatas status. Bahkan ia pernah skin skip dengan mantannya itu maksimal cium pipi, tidak lebih. Pertama, karena memang Abang dan Papinya over-protektive. Kedua, Mika takut tertular penyakit dan virus meskipun ia selalu memastikan bahwa yang menjadi pacarnya itu sehat jasmani dan rohani. Terakhir, alasan yang paling jujur yaitu Mika takut.
"Lebih baik kamu bersihkan otak kamu yang kotor itu! Saya mandi di kamar mandi luar."
Mika langsung memberengut kesal, demi apapun ia sangat malu sudah berpikiran 21++. Tapi, Mika juga bahagia mendengar ucapan Mahen yang berarti ia aman dan tak perlu memberikan hak sebagai istri Mahen. Lagi pula pernikahan ini atas dasar paksaan dan tidak ada cinta di antara keduanya. Sedangkan Mika ingin memberikan mahkotanya yang paling berharga itu kepada suaminya atas dasar saling mencintai.
"Saya tau apa yang kamu pikirkan! Pernikahan ini memang paksaan, tapi kamu harus tetap melaksanakan kewajiban sebagai istri dan memberikan hak saya sebagai suami."
Mika langsung membelalakkan kedua matanya, "Gue nggak mau! Pernikahan ini paksaan dan gue sama lo nggak saling cinta!"
"Pria bisa melakukannya meskipun tanpa cinta." Mahen menyeringai sebelum menutup pintu kamarnya.
"Woy! Dasar m***m! Tadi bilang nggak minat sama body gue, dasar munafik." Mika mengacak rambutnya dengan kesal.
Papi...
Mika pengen kabur aja
Laki-laki emang sama aja, otaknya tidak jauh dari d**a dan s**********n! Ibaratnya kucing dikasih ikan, mana mungkin nolak.
Mendesah kesal Mika membayangkan kejadian yang menyebabkan ia terjebak pernikahan dengan pria yang tidak Mika harapkan di muka bumi ini sebagai suaminya, Mahendra Prabu Angga. Mika tidak habis pikir mengapa dari bermilyar-milyar pria di muka bumi harus seorang Mahen yang menjadi suaminya? Apakah ini yang dinamakan dengan jodoh? Andaikan bisa request, sudah dipastikan bahwa Mika akan menjadi barisan paling depan untuk menukar jodohnya, kalau perlu request babang Ojun alias Park Seo Joon bukan Ojun sales panci yang biasa keliling komplek.
Memang benar adanya, bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Mika tentu tidak dapat memungkiri kebenaran kata-kata itu karena ia pun mengalaminya. Bahkan sekarang banyak yang pacaran hingga bertahun-tahun, ehh giliran nikah sama yang baru dikenal beberapa bulan. Andai saja kredit rumah pasti sudah lunas, daripada menjaga jodoh orang lain.
Jika sudah menyangkut perkara jodoh itu pasti tidak akan ada habisnya. Yang jelas dengan siapapun kita berjodoh, semoga memang itu jodoh terbaik yang telah Allah pilihkan. Dan jodoh itu bukan masalah datang cepat atau lambat, tapi harus datang di waktu yang tepat.
***
Beberapa jam sebelumnya...
"Ra ...," rengek Mika dengan menarik lengan kebaya seragam yang dikenakan Dira.
Yeah. Dira yang tomboy harus memakai kebaya seragaman lengkap dengan rok lipit dengan sangat terpaksa. Jika bukan karena ini pernikahan sepupunya Meli yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri, tentunya ia akan menolak dengan keras memakai pakaian wanita yang menurutnya super ribet. Dan yang lebih ribetnya ia juga harus meladeni Mika yang terus merengek karena tidak memakai kebaya seragam. Jika sudah seperti ini, Dira seperti meladeni anak kecil yang tengah merajuk. Mika benar-benar merepotkan!
"Masa gue jadi pengiring penganten tampilannya gini? Ntar orang-orang ngiranya gue yang nikah."
Dira mengalihkan pandangannya menatap tampilan Mika dari atas sampai bawah. Wajah cantik bak boneka barbie itu dipadukan dengan gaun putih lengan pendek dan menjuntai hingga mata kaki, terlihat seperti peri jika saja kalian tidak melihat bagaimana ia makan dengan rakusnya saat melihat berbagai macam makanan di prasmanan.
Meskipun begitu, banyak mata lelaki yang melihat ke arahnya dengan mulut yang hampir meneteskan air liur.
Tidak perlu diragukan lagi dimana pun Mika berada, ia akan selalu menjadi magnet para pria lajang bahkan yang sudah beristri.
"Ribet amat. Lagian akad nikahnya kan tadi udah selesai, tinggal nunggu Uwa bawa kebaya lo." Akhirnya Mika menganggukkan kepala dengan mulut penuh bakso.
Setelah makan dengan porsi kuli, Mika kembali mengambil cemilan yang disediakan di stand dekat prasmanan seperti bakso, pempek, siomay, atau es kuwut. Mata wanita itu mengedar melihat banyaknya tamu undangan yang sedang memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai di atas pelaminan.
"Gue kapan yah bisa nikah gitu?" ucap Mika dengan memelas.
Dira memutar bola mata malas, "Calon lakinya aja lo kagak punya!" ujar Dira sarkas.
"Kayak lo punya!"
“Seenggaknya gue nggak ngenes kayak lo. Dasar kebelet kawin!”
Mika mendelik, “Heh Dira! Itu namanya bukan kebelet kawin, tapi investasi buat masa depan.”
“Investasi pala lo!”
Seorang remaja laki-laki menghampiri Mika dan Dira, ia adalah Andra adik Dira yang terlihat tampan dengan mengenakan baju batik seragam. Remaja laki-laki itu terkekeh pelan melihat kedua wanita di hadapannya yang terlihat tidak akur.
"Teh Mika, kata Uwa kebaya teteh udah ada di kamar," ucap Andra yang membuat Mika berseru senang dan berlalu begitu saja meninggalkan Andra yang melongo dan Dira yang berdecak kesal.
"Loh?" Andra menggaruk kepalanya bingung.
Dira menepuk pundak adiknya, "Nggak usah bingung, teteh lo yang satu itu emang rada gelo," ucap Dira seraya berlalu pergi ke arah stand.
"Lohh, Aa kenapa bajunya kotor?" tanya Andra saat melihat Mahen yang berjalan tergesa-gesa dengan batik seragam yang bernoda es krim.
Mahen menghela nafas, "Tadi Aa gendong Yuna, lupa kalau dia lagi makan es krim jadinya nempel semua di baju Aa."
Andra ber-oh ria. Yuna adalah satu-satunya balita di keluarga besar mereka. Gadis kecil berumur 2 tahun itu merupakan anak dari Mang Damar--adik papanya Mahen yang tinggal di Jakarta dan baru ke sini untuk menghadiri pernikahan Meli. Entah kenapa gadis kecil itu langsung menempel dengan Mahen, meskipun pria itu beraut wajah datar. Tahu saja dengan orang ganteng.
Meskipun Mahen irit ekspresi, tapi ia seorang pria yang menyukai anak kecil dan selalu membuat anak-anak betah menempel dengannya. Bahkan cita-cita Mahen ingin memiliki anak sebanyak-banyaknya. Hanya cita-cita karena calon istri saja dia belum memiliki.
Dengan tergesa-gesa Mahen berjalan ke arah kamar tamu di rumah Andira yang biasa ia menyimpan beberapa kemejanya. Yah, disetiap rumah saudaranya pastilah ia menyimpan cadangan pakaian, sesuatu yang bisa saja dibutuhkan dalam keadaan mendesak seperti saat ini.
Setelah kepergian Mahen, Andra menggaruk kepalanya memikirkan sesuatu.
“Ada yang salah. Naon nya?” Merasa pikirannya buntu, Andra langsung pergi ke arah saudaranya yang lain.
Mahen membuka pintu dengan pelan takut mengganggu acara jika terlalu kencang, karena beberapa tamu undang memilih makan di dalam ruang tamu. Dengan perlahan ia membuka kancing batik hingga terbuka seluruhnya, lalu menghampiri sebuah lemari besar tiga pintu yang terbuka lebar.
Mengapa pintunya terbuka?
Tangannya perlahan menutup pintu lemari bersamaan dengan terlihatnya punggung putih mulus secara perlahan. Tubuh Mahen mendadak kaku. Ternyata dibalik pintu lemari itu ada sesosok wanita yang sedang berganti pakaian, yang perlahan membalikkan tubuhnya dengan kaku.
Mereka sama-sama terkejut, sebelum sebuah teriakan diiringi suara Bunda yang terkejut.
"AAKHHH!"
"Astagfirullah! Mahen, Mika ..."
Semua terasa berjalan dengan cepat, bahkan tanpa Mahen dan Mika sadari. Mahen, pria itu terlihat linglung saat digiring Bundanya dan Pak RT menuju sebuah meja dengan penghulu di hadapannya. Bahkan saat suaranya mengikrarkan sebuah akad, janji suci yang harus ia pertanggung jawabkan dihadapan Allah, pria itu jiwanya seolah melayang entah kemana.
"Saya terima nikahnya Mikaela Ratu Anjani binti Praja Mahesa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"SAH ...."
"SAH ...."
"Alhamdulillah ...."