"Hufftt ...."
"Kenapa lo?" tanya Dira saat melihat Mika yang menghembuskan nafas kasar dengan wajah memberengut.
"Gue masih kesel Dira, masa kebaya seragaman buat gue kekecilan."
"Yaudah sih, tar kan dibenerin sama Uwa."
Uwa = Panggilan kepada kakak orang tua, baik laki-laki atau wanita.
"Gue kan pengen pakai buat besok akad nikah, masa tar gue doang yang beda sendiri."
“Pengantin kan juga beda kebayanya.”
Mika mendelik, “Itu kan pengantin, bukan gue.”
Dira memutar bola mata, Mika dan segala keribetannya. "Yang penting tar pas resepsinya lo pakai tuh kebaya, nggak usah bikin ribet napa!"
Mika mendelik. Dira kadang tidak mengerti apa yang ia inginkan, karena menurut Andira--si tomboy segala sesuatu itu jangan dibuat ribet dan Mika itu perempuan dengan segala keribetan. Yang kadang membuat Mika lupa bahwa Dira itu wanita, karena terlalu simple dan tak mau ribet seperti wanita kebanyakan. Andaikan dirinya juga memiliki pemikiran sesimple Dira.
Besok adalah hari-H pernikahan Meli. Mika dan Dira yang baru saja pulang ke rumah Dira langsung disibukkan dengan segala persiapan pernikahan termasuk kebaya seragam yang akan dikenakan para wanita dari keluarga kedua mempelai sedangkan khusus para laki-laki mengenakan batik seragam.
Saat giliran Mika mencoba kebaya yang khusus dibuatkan untuknya, justru kebaya itu kekecilan di bagian pinggul dan d**a. Hal ini membuat Uwa Lasmi—kakak dari Ayah Dira yang menjahit kebaya seragam itu harus mempermak kembali. Dan itu membutuhkan proses hingga besok pagi dikarenakan kesibukan persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan besok. Demikian, hal yang membuat Mika kesal saat Mahen si Kades yang tidak ingin Mika lihat wajahnya, setelah insiden tercebur ke dalam kubangan lumpur sawah.
Lagi-lagi Mika melupakan sosok Mahen yang merupakan salah satu sepupu Meli yang otomatis pria itu juga ikut mencoba pakaian seragam pernikahan. Adanya Mahen dan juga perkataan yang keluar dari mulut pria itu membuat Mika yang sudah kesal bertambah semakin kesal.
"Mungkin kamu gendut," ucap Mahen dengan wajah mengejek saat Mika mengeluh saat kebayanya kekecilan.
Hell! Siapa wanita yang tidak marah saat dirinya disebut gendut secara terang-terangan. Kadang hanya sebatas candaan atau kata lain dari gendut pun wanita langsung merasa tersinggung, bagaimana secara langsung? Dan lebih parah lagi di hadapan keluarga besar Dira dan mempelai pria.
Dasar pria mulut kurang aja! Laki-laki kok suka nyinyir dan bermulut seperti perempuan, maki Mika dalam hati.
Untunglah Mika masih memiliki sopan santun, sehingga tidak memaki Mahen di hadapan keluarganya. Bukannya Mika takut imagenya rusak, tapi Mika hanya tidak ingin keluarga besar Mahen malu karena betapa kurang ajarnya mulut seorang Mahendra Prabu Angga yang katanya Kades tapi mulutnya tidak mencerminkan seperti orang yang berpendidikan dan attitudenya nol besar. Jangan-jangan pria itu menjadi Kades lewat jalur orang dalam.
"Maaf yah, Pak Kades terhormat. Sepertinya kacamata Bapak harus ganti lensa--atau bapak perlu tambahan kacamata, soalnya nggak bisa liat perempuan cantik."
Mahen mengangkat alisnya, “Perempuan cantik? Kamu? Tidak salah?”
Mika mendelik ke arah Mahen yang menatapnya dengan tatapan meremehkan seolah ia hanyalah si Itik Buruk Rupa. Padahal Mika merasa menjadi wanita paling cantik, melihat banyaknya tatapan iri pada gadis Desa bahkan kembang Desa sekalipun tidak dapat menandingi kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Terdengar sangat PD? Tentu saja Mika sangat percaya diri karena tidak ada istilah insecure atau rendah diri dalam hidupnya. Bagi Mika, insecure hanya untuk orang-orang yang tidak bersyukur. Mengapa demikian? Karena hidup mereka hanya berkutat pada kekurangan tanpa mau melihat kelebihan.
“Saya? Tentu aja cantik. Emangnya Pak Kades nggak bisa liat?” ucap Mika mengejek.
“Kamu mau bilang kalau saya buta?” Sepertinya Mahen mulai terpancing emosi.
“Ups ... bukan saya yang bilang loh, Pak,” ujar Mika yang membuat Mahen seketika bungkam.
Lalu bagaimana reaksi keluarga besar Mahen atau Dira? Tentu saja mereka tercengang dan kaget ada orang yang berani menanggapi perkataan Mahen. Seorang Mahendra Prabu Angga adalah orang yang tidak mau kalah dan tak terbantahkan, bahkan terkesan egois juga angkuh. Meskipun begitu, dalam hal kepemimpinan ia sosok yang tegas dan bertanggung jawab seolah sikap egois dalam diri Mahen hanya berlaku pada kehidupan pribadinya.
"Mika ndak usah khawatir, tar pagi bajunya sudah siap dan Uwa taruh di kamar," ujar wanita paruh baya mengusap kepala Mika pelan.
Mika benar-benar dibuat terharu akan kebaikan dan juga kasih sayang yang ditunjukkan keluarga Dira padanya. Bahkan mereka tidak membedakan anatar dirinya dan Dira, seolah Mika memang bagian dari keluarga mereka. Inilah yang Mika sebut dengan sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang, yaitu keluarga. Mika memang memiliki banyak uang, harta kekayaan, tapi Mika tidak bisa membeli keluarga yang lengkap dan utuh seperti keluarga Dira. Sesuatu yang membuat Mika iri dengan Dira.
Mika meringis malu, betapa baiknya Uwa Lasmi. "Aaa ... Uwa baik banget, makasih yah Uwa."
"Yaudah, ndak usah mikirin kebaya. Kita makan bareng-bareng. Tadi, Bapak udah ampar daun pisang." Kali ini Ibu Dira bersuara yang disambut seruan semua orang yang perutnya sudah menahan lapar.
"Ayo, Teh Mika harus coba ikan yang aku pancing tadi." Seorang remaja laki-laki merangkul bahu Mika dengan akrab. Andra—adik Dira.
"Alahh ... Dapet satu aja belagu. Semua orang juga tahu yang jago pancing ikan kan bapak mu, Dra," sahut Ari—anak Uwa Lasmi yang sepantaran dengan Andra—seraya menggandeng lengan Mika.
"Teh Mika ntar harus coba sambel terasi buatan ibu buat cocol lalapan, terus pake nasi liwet yang masih anget," seru bocah laki-laki yang merupakan adik Dira yang paling bungsu.
"Hmm ... pasti enak banget, Teteh jadi nggak sabar buat cobain."
Rasanya air liur Mika sudah ingin menetes membayangkan betapa enaknya makan bersama dengan menu makanan kampung yang sederhana tapi rasanya luar biasa, jangan lupakan juga kebersamaannya yang semakin membuat nikmat. Mika baru mengetahui bahwa makan bersama ini merupakan adat papahare atau papadangan yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai makan masakan sendiri secara bersama-sama di suatu tempat.
"Teh Mika hebat, langsung bikin bocah-bocah pada nempel." Meli terkikik saat melihat Mika yang menjadi rebutan pada sepupu laki-lakinya.
"Teh Mika kan tetehnya Uti," Ujar Uti sombong.
"Ihh nggak ada mirip-miripnya atuh kalo dibandingkan sama kamu."
"Biarin nggak mirip, yang penting Teh Mika itu tetehnya Uti," ucap Uti ngotot.
Dira memutar bola mata malas melihat perdebatan kedua sepupunya itu. Yah, Mika dengan segala pesonanya mampu membuat semua orang nyaman dan ingin dekat dengannya. Tak terkecuali keluarganya yang langsung akrab dengan Mika seolah sudah mengenal Mika dalam waktu yang lama. Sesuatu hal yang membuat Dira bahagia, karena bisa memberikan kehangatan keluarga yang tidak bisa Mika dapatkan.
"Heh, Bocah! sejak kapan Mika jadi teteh kamu? Lagian mana mau si Mika kawin sama kakak mu itu."
Uti memberengut menatap Dira kesal. Tapi wajahnya langsung ceria saat sang Bunda yang baru saja datang dari dapur ikut menyahuti ucapan Dira.
"Ndak boleh gitu, Dira. Kalau sudah jodohnya, sudah datang takdirnya, akan dipersatukan dengan hal yang nggak kita duga sekalipun," nasihat Bunda.
"Tuh! Teteh dengerin kata Bunda."
“Tetep aja si Mika mana mau sama anak Ateu yang songong itu.”
“Jodohkan nggak kemana.” Harap Bunda yang memang menginginkan Mika menjadi salah satu bagian dari keluarganya.
Kali ini Dira yang memberengut seraya berdoa dalam hati. Semoga saja ucapan Ateunya itu tidak berhubungan dengan takdir yang mengikat Mika dan Mahen. Sungguh ia tidak rela jika melihat Mika yang harus memiliki ikatan dengan manusia sejenis Mahen, meskipun Mahen sepupunya tentu saja rasa sayangnya pada Mika lebih besar. Terlebih lagi mengingat bagaimana sikap angkuh dan menyebalkan Mahen.
***
"Lu ngapain bawa guling sama selimut?" tanya Mika heran dengan wajah menahan kantuk.
Setelah persiapan pernikahan selesai hingga pukul 1 dini hari, mereka semua langsung beristirahat. Namun, baru saja Mika terlelap ia dikejutkan dengan ketukan pintu. Lalu menampilkan sosok Andira yang memakai baju tidur dengan membawa guling juga selimut berdiri di depan kamar tamu yang Mika tempati.
"Malem ini gue tidur sama lu," ucap Dira cuek seraya masuk ke dalam kamar meninggalkan Mika yang terbengong dengan nyawa yang belum terkumpul.
"Emang kamar lo kenapa? Nggak kangen sama kamar lo yang bertahun-tahun di tinggal? Terus Meli tidur sama siapa?"
Dira mendengus mendengar serentetan pertanyaan Mika.
"Meli udah gede. Lagian biasanya juga dia sendiri, apalagi besok udah kawin." Mika lantas beroh ria dan merebahkan dirinya di samping Dira.
"Tumben lo mau tidur bareng gue."
"Iyah, biasanya gue ogah. Lo kan tidurnya kayak orang mati, bikin gue takut."
Mika mencebikkan bibirnya, "Dari pada lo tidur kayak jarum jam, muter-muter."
Hening.
Lantas kedua sahabat itu tertawa, menertawakan sikap keduanya yang banyak tidak akurnya yang sedari dulu tidak pernah berubah dan semoga tidak akan berubah. Kalau kata Mika, bersama Dira tanpa adu mulut itu bagaikan sayur tanpa garam, terasa hambar. Seolah memang kelakuan mereka itu sudah menjadi rutinitas tersendiri.
"Entah kenapa, gue ngerasa ini terakhir kalinya gue tidur bareng lo."
Mika menatap Dira horor. Sungguh Dira dalam mode serius itu lebih menakutkan dibandingkan Dira yang cuek bebek. Bahkan Mika merasakan bulu kuduknya berdiri, merinding sekali.
“Serius, Ra. Lo jangan bikin gue takut. Sampe gue merinding gini.”
Dira mendelik, “Lo kira gue setan.” Mika langsung menunjukkan cengirannya.
"Lo kan bisa nginep di rumah atau apartemen gue, terus kita pajamas party meskipun cuma berdua," ucap Mika yang disambut kekehan Dira.
"Iyah yah. Napa gue jadi lebay begini, pasti nular dari lo."
"Enak aja!"
Dira menatap Mika, sahabatnya yang mau menerima ia apa adanya tanpa memandang status sosial. Bahkan dalam bayangan Dira sekalipun, ia tidak mungkin bisa mengenal bahkan bersahabat dengan anak konglomerat. Terlalu sulit untuk seorang anak kampung macam dirinya. Jangankan anak konglomerat, yang dari keluarga biasa saja tidak mau berteman dengannya yang katanya hanya anak kampung dan tidak selevel dengan mereka yang anak Kota.
"Ra, nggak tau kenapa jantung gue rasanya deg-degan terus."
"Kalau jantung lo nggak deg-degan, berarti mati. Gitu aja kagak tau!"
Mika mendelik, "Kalau itu gue juga tau!"
Mika menerawang merasakan jantungnya yang berdegup kencang.
"Ra, kok gue ngerasa ada sesuatu hal besar yang bakal terjadi," lirihnya.
"Gue tau!" seru Dira.
"Apaan?"
"Kayaknya itu efek jomblo, terus lo bayangin malam pertama pengantin baru."
"Sialan, Dira! Itu sih bukan gue, tapi lo!"
"Hahaha ..."
Dira langsung tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya, bahkan Dira tidak juga menghentikan tawanya meskipun Mika memukulnya beberpa kali dengan bantal. Rasanya menyenangkan saat berhasil menjahili Mika.
“Ra, gue jadi kepikiran,” ucap Mika dengan wajah serius yang membuat Dira menghentikan tawanya dan menatap Mika dengan serius.
“Kepikiran apa? Utang di warteg?”
Mika mendengus, “Sial! Gue nggak pernah ngutang.”
Dira langsung tergelak melihat wajah Mika yang terlihat masam dan memendam kekesalan kepadanya. Jika Mika takut dan merasa horor jika Dira dalam mode serius maka kebalikannya dari Mika, Dira justru mellow jika Mika mendadak serius. Mengenal Mika hampir belasan tahun membuat Dira begitu hafal bagaimana karakter dan kepribadian Mika yang terlalu santai bahkan jarang serius, sekalipun menyangkut pasangan hidup. Saking santainya Mika mudah sekali mendapatkan kekasih, lalu memutuskan dalam sekejap. Jadi, jika Mika dalam mode serius itu artinya akan ada perkataan yang membuat hati terenyuh hingga meneteskan air mata dan itu jarang sekali terjadi.
“Oke ... oke ....”
Hening. Hingga Mika kembali mengeluarkan suara dan menatap Dira dengan tatapan dalam yang sulit diartikan.
“Gue selalu berpikir, entah gue duluan atau lo duluan yang memutuskan untuk menikah. Masih bisakah kita kayak gini, Ra? Masihkah persahabatan kita seerat ini?” ucap Mika pelan.
“Lo ngomong apa sih, Ka? Tentu aja persahabatan kita masih erat. Apapun yang terjadi, kita akan terus sama-sama seperti yang dulu lo bilang saat kita mulai menjalin persahabatan,” ujar Dira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mika menghela nafas dan menatap langit-langit kamar dengan menerawang, “Dulu, gue juga merasa kalo persahabatan gue dan Nesya sangat erat. Bahkan setelah dia jadi kakak ipar gue, gue tentu sangat bahagia. Namun, perlahan gue mulai merasa ada dinding tak kasat mata antara kita. Sekarang, gue mulai merasa kehilangan dia sebagai sahabat. Kita jarang curhat bareng, bahkan quality time bertiga kayak dulu. Menurut lo, apa pemikiran gue salah?”
Dira mengusap lengan Mika. Ia tahu dan sangat paham apa yang Mika rasakan karena ia juga merasakan hal itu. Akan tetapi, dibandingkan dirinya tentu saja Mika yang lebih merasa kehilangan karena Mika dan Nesya bersahabat lebih lama. Begitupun Dira yang lebih dekat dengan Mika meskipun sifat keduanya berbanding terbalik. Tak bisa dipungkiri bahwa setelah menikah dan memiliki anak, Nesya memilih menjadi ibu rumah tangga seutuhnya dengan mengabdikan dirinya pada sang suami dan merawat anak. Hingga tak jarang wanita itu sulit untuk diajak quality time seperti travelling bareng, atau hanya sekadar jalan-jalan di mall. Selain suaminya yang posessif, Nesya juga sudah nyaman menjadi ibu rumah tangga.
Dira tak bisa memihak pada Mika atau Nesya karena keduanya sama-sama sahabatnya. Begitupun keduanya memiliki keputusan sendiri dalam memilih jalan hidupnya masing-masing. Yang ia lakukan hanyalah bisa mendukung apa yang terbaik menurut sahabatnya itu.
“Nggak ada yang salah di antara kalian, selama persahabatan kita baik-baik aja. Ada baiknya apa yang lo rasain sekarang ini nggak lo pendam seorang diri. Lo perlu cerita sama gue, terutama Nesya. Inget, Ka! Persahabatan itu nggak harus selalu quality time bareng atau liburan bareng, tapi juga selalu menjaga komunikasi dan saling mengerti satu sama lain.”
“Makasih, Dira. Lo emang sahabat gue yang paling unchh ....”
Dira langsung mengernyit jijik dan menyingkir dari Mika yang hendak memeluknya, “Nggak usah peluk-peluk gue! Jijik tau nggak sih!”
“Sensi mulu lo. Awas aja gue nikah, tar lo kangen.”
“Pret... kayak lo mau nikah besok aja. Dasar halu!”
“Lo emang temen laknat! Jomblo seumur hidup baru nyaho.”
Dira memutar bola mata malas, “Jomblo teriak jomblo.”