Mika menyenggol lengan Dira yang nampak asik memakan cemilan dan sesekali menyeruput es buah, benar-benar tidak memerhatikan situasi dan kondisi. Apakah Dira tidak mengetahui bahwa kaki Mika sudah gemetar saat melihat wajah Kades tampan tapi songong yang ternyata anak Bunda dan kakak Uti.
Mika sebenarnya tidak takut meskipun Mahen terus menatapnya dengan sangat tajam seakan melihat seekor mangsa dan hendak mencabik-cabiknya, ia hanya merasa tidak enak hati pada Bunda dan Uti yang sudah baik kepadanya, sedangkan ia tadi menjelekkan dan menghina Mahen. Meskipun hal ini menjadi pertanyaan besar dalam benak Mika, sebenarnya Mahen itu anak kandung Bunda atau anak pungut nemu di sungai? Karena sifatnya itu 180° berbanding terbalik dengan Bunda maupun Uti. Sifat pria itu terlalu angkuh, pongah dan songong, sedangkan bunda dan Uti sangat baik. Jadi, darimana kah asal sifat laki-laki itu? Mungkinkah efek dari namanya yang penuh dengan kekuasaan sehingga ia merasa sok berkuasa.
Padahal jika ditelisik, namanya pun sama saja memiliki kekuasaan setara dengan Prabu karena ia Ratu, namun Mika merasa dirinya tidak seangkuh pria itu hanya sombong sedikit.
"Astagfirullah, Aa. Ayo masuk ke dalam bersih-bersih!" Mika langsung meringis melihat Bunda yang berseru tatkala melihat anak laki-lakinya bermandikan lumpur.
"Haha ... Aa udah kayak kucing jatuh ke selokan." Uti terkikik saat kakaknya menampakkan diri dengan tubuh yang dipenuhi lumpur.
Pria itu tidak menggubris ledekan adiknya, justru mata hitam tajam dibalik kacamata itu terfokus pada sosok cantik yang tengah duduk di sofa ruang keluarga. Sosok cantik yang nampak gugup di samping sepupunya Dira. Pria itu mendengus sinis, kemanakah sifat angkuh dan sombong wanita itu tadi? Bahkan perempuan itu bersikap kurang ajar dengannya.
"Kenapa kamu ada di rumah saya? Jika kamu di sini hanya untuk minta maaf, saya tidak tertarik!"
“Uhhukk ... uhukhh.”
Dira langsung terbatuk-batuk, Uti dan Bunda terkekeh, sedangkan Mika memutar bola mata. Pria ini ternyata selain songong, angkuh juga kepedean. Siapa juga yang ingin meminta maaf? Tidak ada dalam kamus hidup Mika untuk meminta maaf, karena sudah jelas pria itu yang bersalah. Mengapa Mika yang harus minta maaf? Lagi pula, Mika merasa meraka sudah benar-benar impas, sudah sama-sama bermandikan lumpur.
"Heh! Akang, nggak usah kepedean! Saya di sini jadi tamu Bunda, bukan mau minta maaf. Lagian yang salah kan situ, napa gue yang harus minta maaf!" Mika mencebikkan bibirnya yang dibalas dengusan oleh Mahen.
Uti dan Bunda masih asyik terkikik melihat kedua orang yang nampak seperti kucing dan tikus, tidak akur. Ini kejadian yang langka, seorang Mahen adalah orang yang keras kepala dan kadang tidak mau mengalah. Tidak ada yang berani membantah jika Mahen sudah berbicara atau memutuskan sesuatu, tapi kali ini Mika memegang rekor orang yang berani menyahuti perkataan Mahen. Bahkan Mahen terlihat tidak dapat berkata-kata. Seorang Mahen kalah berdebat dengan seorang Mika?
"Kamu! Awas urusan kita belum selesai!" seru Mahen kesal lalu melangkahkan kakinya menjauh.
"Iyah Akang ganteng, gue tunggu. Gih, bersih-bersih dulu! badan akangnya bau lumpur, apa perlu gue mandiin?" ucap Mika setengah berteriak saat Mahen sudah menjauh.
Sepertinya Mika harus segera mencuci mulutnya, jika perlu menggunakan air zam-zam setelah ia memanggil Mahen dengan sebutan akang ganteng
Yang benar saja! Harusnya tadi ia memanggilnya dengan Akang gendang, ganteng tapi minta ditendang. Yeah, bagi Mika percuma apabila seseorang hanya bermodalkan tampang atau memiliki jabatan tapi tidak memiliki good attitude. Benar-benar sangat minus di mata Mika. Saat seseorang berpendidikan tinggi tapi perilaku dan perkataannya seperti orang yang tidak pernah disekolahkan.
"Diam kamu!" teriak Mahen kesal.
"Huahahaha..." Uti langsung tertawa terbahak-bahak hingga sudut matanya berair.
"Uti, istighfar! Perempuan ndak boleh ketawa berlebihan," tegur Bunda.
"Hehe ... maaf, Bunda. Lagian lucu liat Aa yang biasanya nggak pernah mau kalah kalau ngomong, tapi tadi nggak berkutik sama Teh Mika."
"Hmm Bunda, Mika jadi nggak enak dan malu ke Bunda dan Uti. Kalian udah baik banget sama Mika, tapi Mika bikin rusuh sama anak Bunda."
Bunda tersenyum dan mengelus kepala Mika, "Nggak papa, Bunda juga harusnya minta maaf kalau Aa bikin Teh Mika kesel. Maklum aja yah, sikapnya Aa emang gitu."
"Alahh, Mika. Biasanya juga lo orangnya enak-enak aja. Nggak usah ditanggapi, Anteu. Si Mika emang suka nggak tau malu," celetuk Andira yang membuat Mika memberengut.
“Bun, kenapa sih Bunda jadi ibunya si songong itu? Harusnya Bunda jadi ibunya Mika aja.”
Wanita paruh baya itu hanya bisa terkekeh dan mengelus kepala Mika dengan lembut saat Mika memeluknya dengan manja. Tak rela jika orang sebaik bunda memiliki anak yang menyebalkan seperti Mahen. Ibaratkan bunda itu ibu peri dan Mahen itu iblis.
“Nggak usah mau, Anteu. Dia lebih songong, lebih nyebelin juga,” tukas Dira cepat.
“Heh! Nggak usah fitnah-fitnah orang cantik.”
“Jijik! Gue nggak fitnah, cuma kasih tau Anteu gue. Kasian kalau punya anak kayak lo.”
Mika mendelik, “Iri bilang!”
“Kalau mau jadi anaknya Bunda, lo nikah aja sama si Mahen.”
“Gue? Ogah!”
“Loh kenapa nggak mau? Anak bunda ganteng kan?” tanya Bunda yang membuat Mika mendengus dan Dira yang terkekeh dengan Uti.
Mengapa semua hal yang berhubungan dengan Mahen itu sangat menyebalkan di mata Mika, terlebih lagi wajah sok gantengnya yang walaupun kenyataannya laki-laki itu memang tampan. Tapi untuk menikah dengan Mahen adalah hal terakhir yang tidak ia inginkan di dunia ini. Lebih baik ia menjomblo daripada nantinya cepat menua menghadapi sikap menyebalkan Mahen.
***
Sore itu, Mika memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kampung yang udaranya nampak asri juga sejuk. Sepanjang jalan dipenuhi pepohonan, di depan rumah-rumah pun ditumbuhi berbagai pohon. Di belakang perkampungan, mata langsung disuguhkan pemandangan persawahan di bawah gunung-gunung atau bukit.
Jika matanya disuguhkan pemandangan yang tak mungkin ia jumpai di kota metropolitan dipastikan Mika akan betah di kampung Dira. Rasanya tidak ingin pulang. Walaupun Mika heran, mengapa Dira lebih memilih untuk tinggal di Kota yang panas dan penuh polusi.
"Itu lapangan tempat gue dulu maen bola sama maen layangan," ucap Andira seraya menerawang mengenang masa kecilnya.
Mika langsung memandang lapangan yang sebagian ditumbuhi rumput liar, sebagian menjadi tempat bermain bola dengan batang bambu yang dijadikan gawang. Terlihat sederhana, tapi Mika melihat anak-anak itu bermain dengan riang, berbaur dengan yang lain. Beda halnya dengan anak-anak kota yang dikurung di dalam rumah dengan tembok tinggi, mereka bermain hanya dengan sebuah gadget atau mainan mahal yang hanya bisa dimainkan seorang diri. Mirisnya, Mika merasakan itu semua. Merasakan bagaimana rasanya itu kesepian.
Bagi Mika, kebahagiaan itu bukan seberapa banyak uang atau harta yang kita miliki. Karena kebahagiaan itu sederhana tapi tak bisa dibeli dan hanya bisa kita ciptakan sendiri.
"Teh Dira!" teriak anak-anak yang sedang bermain bola, rupanya mereka mengenali Dira yang memperhatikan mereka bermain di lapangan.
"Hai." Dira melambaikan tangannya.
"Ayo, Teh main bola!"Dira langsung menatap Mika yang kini sudah memasang wajah cemberut.
"Jangan bilang kalo lo mau main bola?"
Dira menunjukkan cengirannya, "Lo mau ikut? Seru kok."
Mika mendelik, "Lo nggak bilang kalo mau main bola! Tau gitu gue nggak pakai dress."
Dira langsung terkekeh saat melihat penampilan Mika yang memang memakai dress navy sebatas lutut, wanita itu mengkuncir kuda rambut coklatnya. Kaki jenjangnya memakai sendal jepit seribu umat. Sendal pinjaman dari Uti, tidak mungkin kan Mika memakai hak tinggi?
"Yaudah, lo tunggu di sini yah. Gue mau maen dulu, ok!" teriak Dira seraya meninggalkan Mika yang sudah memasang wajah badmood.
"Tau gitu gue ajak Uti. Pasti dia mau nemenin gue. Emang si Dira temen durhaka!" Mika mencebikkan bibirnya dengan kesal.
Mika tersenyum tulus melihat bagaimana interaksi Dira dan anak-anak itu yang sedang bermain bola. Sahabatnya itu terlihat sangat bahagia hanya karena hal kecil juga sederhana.
Mika memutuskan untuk berjalan-jalan ke sawah, melihat pemandangan hamparan sawah hijau dan beberapa menguning juga beberapa petani yang mulai memanen padi. Terlihat pondok kecil atau biasa disebut saung, tempat peristirahatan petani ketika di sawah. Saung itu hanya ada di beberapa titik, tidak begitu banyak.
Hembusan angin langsung menyapa dan membelai kulit Mika dengan lembut, membuat wanita itu memejamkan matanya menghirup dan merasakan angin yang terasa sejuk. Jika seperti ini, Mika tidak memerlukan kipas angin atau AC karena sudah mendapatkan angin alami yang sepoi-sepoi dan tentunya masih bersih tidak mengandung polusi. Bahkan ketika di pagi hari, Mika merasa kedinginan dan tubuhnya seakan membeku.
"Ternyata kamu memata-matai saya!"
Seketika Mika langsung membuka matanya saat mendengar suara berat sedikit serak yang mulai ia hafal. Suara yang sangat tidak ingin Mika dengar untuk saat ini karena benar-benar merusak suasana hatinya. Si Kades menyebalkan kini berdiri di hadapannya dengan wajah angkuh, di belakangnya berdiri seorang pria dengan pakaian dinasnya membawa beberapa map. Hell! Ini di sawah loh, tapi kenapa Mika harus bertemu Mahen si Kades songong, sok kegantengan, kepedean. Semenjak kapan Kantor Kepala Desa pindah ke sawah? Dan dari banyaknya manusia mengapa ia harus bertemu Mahen lagi? Kebetulan ataukah takdir?
"Heh, Kades songong! Lo jadi orang nggak usah kepedean! Nggak ada kerjaan banget, mata-matain lo."
Mata tajam di balik kacamata bening itu menyipit, "Jika bukan untuk memata-matai saya, kenapa kamu ada di sini?"
“Nggak usah kepo!"
Mahen menggeram, ia di sini seorang Kades, semua orang menghormatinya bahkan melihatnya saja mereka menunduk hormat, tidak ada yang berani membantah ucapannya. Akan tetapi, wanita di depannya ini sungguh berani dan tidak ada sopan santunnya. Mahen akui wanita itu berwajah cantik bahkan sangat cantik, mengalahkan kembang Desa atau gadis desa yang berwajah cantik dan menjadi incaran para laki-laki. Selain itu, wanita di depannya memiliki tubuh yang diidam-idamkan semua wanita dengan dress yang melekat dengan sempurna di tubuhnya.
Pria di belakang Mahen cekikikan, "Eta teh saha? Wani pisan kepala Pak Kades." (Itu siapa? Berani sekali kepada Pak Kades?)
Mahen bingung, namanya saja Mahen tidak mengetahuinya. Yang ia tahu wanita itu sangat menyebalkan dengan mulut ceplas-ceplosnya. Entah bagaimana sepupunya menemukan manusia seperti perempuan itu.
Mika mendelik, sedikit ia tahu arti dari ucapan pria di belakang Mahen. "Lo juga! Nggak usah kepo!"
"Saya kan cuma tanya Neng, soalnya baru liat neng."
"Saya temennya Andira dari Kota."
"Oh temennya Dira toh. Pantas saja ..."
Mika melotot galak, "Pantas apa? Hah!"
“Pantas galak,” ujar pria itu dalam hati.
"Pantas cantik kayak Teh Dira."
“Hmm ... ternyata mata lo lebih normal dari orang itu,” ucap Mika dengan menatap Mahen sinis.
“Apa kamu bilang?”
Mika hanya mengibaskan rambutnya dengan sombong, lalu berlalu pergi. Lama-lama ia bisa cepat keriput dan bertambah tua. Karena terlalu ingin cepatnya Mika pergi dari hadapan Mahen, membuatnya melangkah dengan tergesa-gesa di atas pematang sawah yang kecil. Sedangkan dirinya belum pernah berjalan-jalan di atas sawah yang licin dan berlumpur.
BRUKK
"PAPI!"
"Hahaha ..."
Suara teriakan Mika beradu dengan suara tawa lepas seseorang. Wanita itu terjatuh dengan kedua kaki yang masuk ke dalam lumpur sawah. Untuk kedua kalinya, seorang Mikaela Ratu Anjani jatuh ke dalam kubangan lumpur dengan disaksikan Mahendra Prabu Angga.
Sakitnya tidak seberapa, tapi malunya itu luar biasa. Lebih parahnya lagi, ia jatuh ke dalam lumpur yang disaksikan oleh Kades songong yang sudah seperti musuh bebuyutan Mika. Lagi-lagi ia mempermalukan dirinya sendiri di hadapan pria itu.
Memalukan! Batin Mika kesal.