Rey mengendarai mobil dengan cepat menuju rumah sakit. Hari ini adalah hari pernikahannya. Walau tak menghendaki pernikahan itu nyatanya dia begitu antusias menyambut hari bersejarah tersebut. Entah karena bahagia menikah dengan Jingga atau karena tidak sabar untuk menyiksa gadis itu yang sudah berani menolaknya.
Sementara di rumah sakit sang gadis terlihat gugup luar biasa. Pikirannya berkecamuk. Beberapa kali menghela nafas untuk mengurangi kegelisahan. Sang ayah yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecut. Pernikahan mewah yang diharapkannya untuk sang putri tidak akan bisa terwujud. Semua karena dirinya, karena kebodohannya.
“Nak, maafkan Ayah, ya?” Rendi menatap anak gadisnya dengan tatapan menyesal. Jingga hanya membalas dengan senyum miris. “Kamu harus bahagia, karena kalau tidak Ayah akan sangat menyesal. Sampai saat ini Ayah masih berkeyakinan bahwa pak Rey adalah pria yang tepat untukmu. Walaupun saat ini belum ada cinta di antara kalian, Ayah yakin suatu saat kalian akan menemukan kebahagiaan.”
Tok tok tok
“Assalamualaikum,” sapa seorang pria paruh baya yang Jingga yakini adalah pak Kiai dan beberapa orang anak buah Rey.
“Waalaikumussalam,” jawab Jingga dan Rendi bersamaan.
“Pak Rey belum datang?” tanya Rendi pada anak buah Rey.
“Bos sedang dalam perjalanan.” Salah satu dari mereka menjawab.
Sepuluh menit berlalu yang ditunggu datang. Tanpa mengucap sepatah kata Rey masuk kamar rawat inap Rendi.
“Selamat siang Pak Rey, bagaimana, sudah bisa dimulai?” tanya pak Kiai kepada pria dingin di hadapannya.
Tidak ada keramahan sedikit pun di wajah calon mempelai pria itu, hanya mengangguk menjawab pertanyaan pak Kiai. Tatapannya tertuju pada Jingga yang masih menunduk namun terlihat jelas oleh Rey pancaran wajah yang putih bersih. Make up tipis dengan sedikit polesan di bibir saja sudah membuatnya tampak menawan. Dengan balutan kebaya berwarna putih gading sederhana yang Rey berikan kemarin. Sedetik, dua detik Rey terpesona namun buru-buru memalingkan wajah tak ingin ketahuan memperhatikan sang calon istri.
“Mulai sekarang saja, Pak!” jawabnya datar.
“Baik kita mulai sekarang.”
Pak Kiai menjabat tangan Rey. “Saudara Reynand Wiratmaja, saya nikahkan anda dengan saudari Jingga Prameswari binti Rendi Permana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas senilai seratus gram dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Prameswari binti Rendi Permana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” ucapnya dalam satu tarikan nafas.
Setiap orang yang mendengar pasti beranggapan bahwa Rey mengucapkan dengan sepenuh hati mengingat cara penyampaiannya sang sangat fasih, tapi di balik itu, entahlah.
“Bagaimana saksi, sah?” Pak Kiai bertanya sambil menoleh ke samping tempatnya duduk.
“SAH”
“Alhamdulillah.” Pak Kiai memimpin do’a setelahnya.
Air mata Rendi menetes tanpa bisa dicegah. Anak gadisnya telah menjadi istri orang. Kini hari-harinya akan terasa sepi tanpa Jingga. Tapi bukan hanya itu yang jadi beban pikirannya. Bagaimana pun Rey adalah pria yang kejam. Akankah putrinya mendapatkan perlakuan baik atau bahkan sebaliknya.
“Karena acara sudah selesai, saya pamit undur diri, Pak, Bu,” pamit pak Kiai menoleh bergantian pada Jingga dan Rey.
“Iya, terima kasih banyak, Pak,” balas Jingga sambil menundukkan kepala. Sementara tidak ada sahutan apapun yang keluar dari mulut Rey, hanya anggukan.
Setelah pak Kyai keluar ruangan, baru si pria kejam ini bersuara, “Aku akan bawa istriku ke apartemenku, Pak tua. Sesekali kamu boleh mengunjungi atau sebaliknya selama aku mengijinkan.”
“Terima kasih, Pak.” Rendi menjawab sementara Jingga memilih diam.
“Roy, urus kepulangan orang tua ini. Pastikan dia sampai di rumah dengan selamat!” titahnya pada sang anak buah kepercayaan.
Rendi sedikit mengulas senyum, walaupun Rey tidak menganggapnya sebagai mertua tapi paling tidak pria ini masih dijaga hingga selamat sampai di rumah.
Tanpa berpamitan pada Rendi, Rey segera menarik tangan Jingga untuk pergi dari sana sebelum si empunya tangan menahan karena ingin berpamitan pada sang ayah.
“Ayah jaga kesehatan, ya.” Gadis itu memeluk erat tubuh kurus ayahnya, air matanya luruh begitu saja. “Jangan main judi lagi, Yah. Aku nggak mau Ayah celaka,” pintanya dengan tatapan memohon.
”Ayah janji nggak akan judi lagi, Ayah akan cari kerja untuk memenuhi kebutuhan Ayah, kamu nggak usah khawatirkan Ayah. Putri Ayah harus bahagia ya, Sayang.” Tak kuasa Rendi membendung air mata, pun dengan sang putri yang air matanya mengalir semakin deras.
“Sudah selesai dramanya?” Pertanyaan dari seseorang membuat pelukan keduanya terlepas.
“Jingga pamit, Yah. Ayah jaga diri baik-baik, ya.”
“Iya Sayang, kamu juga.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam.”
**
Pulang dari kampus Aron buru-buru ke rumah sakit untuk menemui Jingga. Sesampai di rumah sakit kamar tempat ayah Jingga di rawat sudah kosong. Dia berlari menuju meja resepsionis kemudian bertanya pada suster yang berjaga di sana.
“Sus, pasien atas nama Rendi yang dirawat di ruang Lotus dipindahkan ke mana, ya?” Aron pikir Rendi dipindah ruang mengingat dua hari lalu waktu terakhir kali bertemu kondisinya belum terlalu baik.
“Pasien atas nama Rendi sudah pulang dua jam lalu, Mas,” sahut suster cantik ramah lengkap dengan senyum manis setelah melihat layar komputer untuk mengecek daftar pasien.
“Oh gitu, ya udah makasih, Sus.” Aron sedikit mengulas senyum kemudian berlalu. Merogoh ponselnya untuk menghubungi Jingga. “Nggak aktif, tumben banget ni anak.” Mencoba lagi sampai beberapa kali memang tidak aktif. “Aku ke rumahnya aja deh.”
Berlari menuju mobil Aron menyalakan mesin mobil melaju cepat menuju kediaman gadisnya. Yah, Aron menganggap bahwa Jingga adalah gadisnya. Setidaknya sampai dia tahu bahwa gadis itu sudah menikah.
Sampai di rumah sederhana bercat putih yang sudah kusam di beberapa bagian itu Aron menghentikan mobil, turun kemudian berjalan menuju teras.
“Assalamualaikum.”
Tiga kali mengetuk tidak ada jawaban dari dalam. Aron coba mengintip dari celah tirai pada jendela, juga kosong. “Sepi, ke mana mereka?” gumamnya.
Berlari kembali menuju mobil mencoba melakukan panggilan telepon dan lagi-lagi dirinya harus menelan kekecewaan karena ponsel gadis itu tetap tidak aktif. Aron jadi khawatir. Terakhir kali melihat Jingga seperti sedang ada masalah tapi gadis itu memilih tidak bercerita.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” Aron jadi bingung sendiri. Akhirnya dia memutuskan pulang ke rumah orang tuanya.
Aron adalah anak tunggal dari pasangan Renata dan Edwin Pramudya. Salah satu pasangan pengusaha ternama yang sudah tidak diragukan lagi sepak terjangnya di dunia bisnis. Namun pria itu tidak pernah menunjukkan pada orang lain kecuali Jingga. Aron lebih memilih tinggal di apartemen dekat kampus walau tetap yang dipilihnya bukan apartemen biasa.
“Sore, Mah, Pah,” sapanya pada kedua orang tuanya begitu memasuki rumah. “Tumben sore gini Papah sama Mamah udah di rumah?” Aron menghampiri mereka yang duduk di ruang keluarga sambil menikmati teh hangat.
“Masih ingat pulang?” Bukan menjawab Edwin malah balik bertanya dan dibalas kekehan sang putra.
“Aku sibuk skripsi, Pah.” Biasa, berkilah. Aron hanya tidak betah di rumah. Baginya tempat ini terlalu besar untuk ditempati mereka bertiga dan para ART. Sepi, itu yang dia rasakan di tengah rumah mewah ini. Apalagi orang tuanya sibuk bekerja, sering kali mereka keluar kota bahkan keluar negeri untuk urusan bisnis membuatnya merasa bosan tinggal di rumah.
“Alasan aja kamu.” Edwin tidak mau kalah.
Renata yang melihat interaksi dua pria terkasihnya itu hanya tersenyum, bahagia melihat sang putra yang sekarang sudah terlihat dewasa.
“Kapan ajak pacar kamu ke rumah? Udah mau lulus kuliah kok belum punya pacar. Nggak selaku itu apa anak mamah?” canda Renata menggoda putranya.
“Enak aja, gini-gini Aron most wanted di kampus, Mah.” Memang benar, Aron adalah salah satu cowok paling dicari di kampus tempatnya kuliah. Jingga saja yang bodoh tidak mau memberi kesempatan pada dirinya sendiri untuk lebih dekat dari sekedar sahabat, padahal dia tahu perasaan pria itu padanya.
“Halah, most wanted kok jomblo!” cibir sang papah.
“Ah, nggak asik nih Mamah sama Papah, ngejek mulu. Arion cabut kamar, Pah, Mah!”
Edwin dan Renata hanya tersenyum sambil geleng kepala melihat kelakuan putra semata wayang mereka.