BAB 42

1805 Words

Rey duduk memperhatikan wajah pucat Jingga yang berbalut perban di kepala dan tangan. Istrinya mengalami benturan cukup keras di kepala dan tangannya retak di bagian bahu sebelah kiri akibat tabrak lari yang dialaminya beberapa jam lalu. Mengusap tangan sang istri yang tidak dipasang selang infus Rey tak kuasa membendung bulir bening yang melesak di sudut mata. “Maaf, Sayang ... aku minta maaf ...,’ lirih Rey, “tolong bangun, aku nggak bisa liat kamu kaya gini.” Dadanya terasa sesak, nyeri melihat orang yang dicintai terbaring tak berdaya. Kalau boleh minta biarkan dia saja yang menanggung rasa sakit itu asal jangan istrinya. “Aku janji bakal temuin orang yang coba celakain kamu.” Rey tahu, kecelakaan itu tidak mungkin tidak disengaja mengingat nomor polisi mobil yang digunakan pelaku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD