Seorang wanita cantik berjalan keluar rumah menuju mobil yang terparkir di halaman. Bosan di rumah sendirian dia memutuskan untuk nongkrong di kafe sahabatnya, Mira yang juga teman Rey. Mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk sekadar mengobrol.
Tidak sampai dua puluh menit mobil yang Lembayung kendarai sampai di tempat tujuan. Dia mematikan mesin mobil kemudian turun dan berjalan santai ke pintu utama kafe yang segera dibuka oleh si pemilik karena sebelumnya mereka sudah saling berkirim pesan.
Mira menyambut hangat kedatangan sahabat yang sangat dia ridukan. Bagaimana tidak, sudah dua tahun mereka tidak bertemu semenjak terakhir kali Lembayung berkunjung ke makam adiknya yang ada di Jakarta. Tujuan kepulangannya kali ini pun sama untuk mengunjungi makam Lian.
“Hai, orang Turki ... kirain udah lupa jalan pulang?” sapa sang pemilik kafe sambil berpelukan ala mereka.
“Ah, bisa aja,” sahutnya terkekeh.
“Yuk, duduk dalem aja.” Mira mengajak Lembayung masuk ke ruang yang lebih privat agar bisa mengobrol lebih santai. Tak lupa dirinya menanyakan pesanan sang sahabat.
Tak lama kemudian pelayan datang membawakan pesanan yang langsung disambut hangat wanita berambut cokelat itu. Menyesap kopi kesukaannya. “Hmm ... nikmat seperti biasa," komentar Lembayung membuat keduanya tertawa.
“Beberapa hari lalu Rey mampir tapi cuma bentar, bis ngamar dia ... biasa,” ungkap Mira mengingat kedatangan teman prianya tempo hari.
“Gue juga dari bandara langsung mampir ke apartemen dia. Tapi fokus gue malah ke cewek yang dia bawa, loh. Cewek berhijab! Lo tau lah gimana bejatnya tuh anak. Namanya Jingga,” cerita Lembayung menggebu.
“Dia nggak ada cerita apapun sama gue.”
“Bilangnya sih ART baru tapi gue nggak percaya. Entah kenapa gue pingin tahu lebih jauh tentang cewek itu.”
“Cemburu ya?” goda Mira sambil menaikturunkan sebelah alis.
“Enak aja, gue masih doyan suami, Jhon! Nggak ada ya gue suka sama cowok modelan Rey, udah ketebak brengseknya. Lo kali tuh yang tergila-gila ma dia, hayo ngaku!” Senjata makan tuan. Berniat menggoda malah kena goda. Seketika pipi Mira merona menahan malu.
“Gue juga nggak ngerti kenapa bisa suka sama dia padahal kita tau dia b******k,” akunya kemudian.
Mulut Lembayung menganga mendengar penuturan sahabat bodohnya ini. Bodoh karena sudah tahu Rey b******k masih saja suka.
“Jadi bener?” tanyanya tidak percaya. “Tapi ... bukan mau bikin lo pesimis ya, cuma menurut gue mending lo move on deh. Nggak baik buat kesehatan hati lo. Kita tahu dia luar dalem, lah.”
“Tenang aja gue nggak buta karena cinta kok. Gue pasti bisa move on.” Keduanya tertawa bersama sambil bercerita banyak hal yang mereka lewatkan selama dua tahun terakhir.
Melirik arloji di pergelangan tangan kiri Lembayung berseru, “Eh udah malem loh, lo nggak tutup? Gue mau balik nih.” Wanita itu menoleh pada beberapa pelayan yang sedang beberes.
“Bentar lagi, gue lagi nunggu seseorang,” ucap Mira mencurigakan.
“Dih, udah punya gebetan masih aja ngarep yang ono,” cibir Lembayung membuat Mira tergelak.
“Yah, siapa tau yang ono berbalik." Gadis itu terkekeh. "Nggak sih, gue udah coba move on kok. Kalo nggak mana mungkin sekarang punya gebetan.”
“Baguslah kalo gitu. Gue balik yah, lain waktu mampir lagi.” Mereka berpelukan setelahnya berjalan beriringan menuju pintu kafe.
“Ati-ati, Lea, thanks udah mampir.” Lembayung menautkan ibu jari dan jari telunjuknya sambil tersenyum, masuk mobil dan meletakkan kotak mika pemberian Mira di kursi penumpang sampingnya kemudian mulai melaju.
“Mampir ke Rey aja kali ya? Nggak mungkin kan cake sebanyak ini aku lahap sendiri, bisa gendut nanti,” monolognya sambil melirik kotak di samping sebelum berbelok arah menuju apartemen pria itu.
Tok Tok Tok
“Lea .... ” seru Rey tersenyum lebar melihat tamu yang datang malam-malam ternyata sohibnya.
“Gue bis dari kafe Mira, dibawain oleh-oleh.” Lembayung mengangkat cake pemberian Mira yang ditentengnya. “Nggak mungkin gue makan sendiri, baik kan?” pujinya pada diri sendiri membuat pria yang diajak bicara memutar bola mata.
Lembayung berjalan ke dapur untuk mengambil piring. Suara gemericik air tertangkap indera pendengarannya. Berpikir Jingga sedang mandi dia berjalan kembali ke ruang tv menghampiri Rey yang sudah duduk di sana. Wanita itu menata cake dalam piring kemudian mulai menyantap diikuti sang sahabat. Mereka makan sambil sesekali diselingi obrolan ringan.
Lima puluh menit berlalu Lembayung teringat Jingga yang sedang mandi. Lama juga mandinya. Begitu dia pikir.
“Jingga mandi lama banget, Rey?” tanya wanita itu yang belum melihat Jingga keluar dari kamar mandi padahal sudah cukup lama.
“Astaga!” Rey bergegas bangkit, berlari menghampiri pintu kamar mandi dan membuka kunci kemudian masuk ke dalam. Lembayung yang tidak tahu apa-apa mengekor. Heran karena pintu kamar mandi dikunci dari luar.
Lembayung menutup mulut yang terbuka karena kaget melihat penampakkan di hadapan. Jingga tergeletak di bawah kucuran air shower dengan pakaian masih melekat. Sementara Rey segera mengangkat tubuh lemas itu. Setengah berlari membawa Jingga ke kamar gadis itu. Tubuhnya terasa sangat dingin.
Masih setia mengekor Lembayung ikut masuk ke kamar Jingga. “Biar gue yang gantiin baju!” interupsinya saat Rey berjalan ke arah lemari untuk mengambil baju ganti. "Lo tunggu di luar!” titahnya.
Menurut, Rey membiarkan sahabatnya itu mengganti pakaian sang istri. Di luar pintu dia berjalan mondar-mandir, panik. Merutuki kebodohannya yang lupa mengunci gadis itu di dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Lembayung keluar. Menatap tajam ke arahnya. “Apa yang lo lakuin? Lo bisa bunuh dia, Rey!!” desisnya tajam.
Rey hanya bungkam karena merasa bersalah. “Maaf.” Satu kata yang dia ucap tapi sarat akan penyesalan.
“Gue nggak ngerti sama lo!” Tatapan kecewa Lembayung tunjukkan. Dia tidak menyangka sahabatnya bisa melakukan hal sekejam itu. “Gue nggak ngerti apa yang terjadi antara lo sama Jingga, gue juga nggak berhak ikut campur tapi nggak harus dengan cara kayak gini dalam nyelesein masalah, Rey. Telat bentar aja dia bisa lewat. Lo mau jadi pembunuh?” marahnya masih tidak percaya dengan tindakan pria itu. “Gue nginep sini temenin Jingga takut lo aneh-aneh,” lanjutnya.
Membalas dengan anggukan Rey beranjak menuju kamar untuk mengambil bantal dan selimut. “Lo tidur kamar gue!” titahnya.
“Nggak, gue tidur bareng Jingga aja.” Jelas Lembayung tidak mau kecolongan.
“Ya udah.” Rey menatap punggung wanita itu yang masuk kembali ke dalam kamar istrinya kemudian berlalu.
Lembayung merawat Jingga dengan telaten. Beberapa kali mengompres kening gadis yang semalam demam tinggi itu. Rey yang melihat itu merasa bersalah. Niat menghukum malah berujung petaka. Beruntung Lembayung datang di waktu yang tepat.
Jingga mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata. Ternyata sudah pagi. Melihat berkeliling tatapannya bertemu dengan Lembayung dan ... Rey. Pria kejam yang semalam menyiksanya itu tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Tatapan sayu Jingga berubah datar membuat suasana menjadi canggung.
Lembayung yang memahami itu bangkit. “Gue ke dapur dulu,” pamitnya membiarkan dua insan berbeda sifat itu menyelesaikan masalah mereka. Memilih membuat bubur ayam untuk sarapan, Lembayung menyiapkan beberapa bahan, mencuci beras kemudian mulai merebus air. Dengan cekatan dia berkutat dengan alat dapur. Lahir dari keluarga berada tak lantas membuatnya malas sehingga apapun yang menjadi pekerjaan seorang wanita terbiasa dilakukannya.
Tiga puluh menit berlalu semua masakan selesai, Lembayung mengambil semangkuk bubur ayam dan segelas air putih lalu membawanya ke kamar Jingga. Mengetuk pintu kemudian masuk setelah dipersilakan.
“Loh, Rey mana?” tanyanya.
“Tadi keluar, Kak.” Jingga menjawab dengan senyum di wajah pucatnya.
Kok Lembayung tidak melihat? Mungkin karena sibuk dengan masakannya. “Makan dulu ya, abis itu minum obatnya.” Lembayung menaruh nampan di depan Jingga kemudian memberikan obat yang tadi sempat dia beli di apotek. “Mau aku suapin?” tawarnya.
“Eh, nggak Kak, makasih.” Jingga menggeleng merasa tidak enak merepotkan wanita cantik itu.
“Jingga, aku boleh nanya sesuatu nggak?” tanya Lembayung ragu-ragu.
“Boleh, Kak.” Mendongak, perhatian Jingga fokus pada wanita yang semalam merawatnya.
“Sambil dimakan dong.” Lembayung melirik bubur Jingga yang masih utuh. Gadis itu mulai memakan buburnya setelah mengangguk. “Jujur aku penasaran sama kamu.”
Jingga terkekeh. “Kayak yang Rey bilang, Kak, aku ARTnya.” Gadis itu menyadari ada yang salah dengan kalimatnya melihat kernyitan di dahi Lembayung. “Maksudku, tuan Rey,” ralatnya telihat sekali berbohong.
“Bukan itu. Maksud aku ... tentang kehidupan kamu. Tapi kalo kamu keberatan nggak pa pa kok, aku cuma penasaran.”
Jingga tersenyum manis sekali. “Nggak ada yang menarik dari kehidupan aku, Kak. Dari kecil aku tinggal di Batu bersama ibu. Sedangkan ayah punya usaha meubel di Jakarta. Awalnya usaha ayah cukup maju hingga setelah lulus SD ayah memboyong kami ke sini. Beberapa tahun setelah itu ada masalah dengan rumah tangga mereka. Aku nggak tahu masalah orang dewasa, yang aku ingat waktu itu ayah yang dulu penyayang jadi sering lakuin kekerasan sama ibu. Tiap hari ayah main judi dan mabuk-mabukan. Harta yang kami punya ludes hingga ibu pergi gitu aja ninggalin kami. Sampai sekarang ... aku nggak tahu keberadaan ibu,” lirihnya setelah bercerita panjang lebar.
Tanpa Jingga sadari setetes air mata menitik. Karena ulah ayahnya juga lah sekarang dia ada di sini bersama pria laknat nan kejam itu. Tentu saja tidak dia ceritakan pada Lembayung. Bisa dibunuh sama Rey kalau sampai dirinya buka mulut.
“Maaf, aku nggak bermaksud bikin kamu sedih.” Lembayung merasa tidak enak hati mengingatkan Jingga pada kisah kelam masa lalu keluarganya. Dia mengusap pundak gadis itu yang terlihat rapuh.
“Nggak pa pa, Kak. Aku nggak pernah menyesali masa lalu. Banyak pelajaran yang bisa aku petik.”
“Hubungannya sama ... Rey?” Ragu Lembayung bertanya tapi dia ingin memastikan yang dikatakan pria itu tentang Jingga. “Kamu bener kabur dari pernikahan?”
Jingga mengangguk canggung. Lebih tepatnya terpaksa mengangguk karena harus menutupi kebohongan suaminya.
Lembayung mengusap kembali pundak gadis itu. Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan tapi tidak tega melihat Jingga bercerita saat kondisinya sedang tidak baik seperti ini.
Tanpa mereka tahu sepasang telinga mencuri dengar percakapan mereka di balik pintu.