8 - Belum Move On

1249 Words
Lea sudah mengambil ayam dan memesan level cabai. “Mbak, cabe empat sama es teh ya.” Setelah memesan, dia pun tidak menghiraukan Andrew yang sedang kikuk di belakangnya. Lea langsung beranjak mencari tempat duduk. Tempat ini lumayan ramai bila tidak hujan. “Mungkin gara-gara hujan kali ya jadi agak sepi,” gumam Lea sambil menaruh tas jinjing di meja dan dia duduk. “Cabe berapa, Mas?” tanya petugas warung itu. Andrew ragu hati menjawab, “Nggak pakai, Mbak.” Kini Andrew sudah duduk di depan Lea. Mereka tidak mengobrol sama sekali. Lea sibuk dengan ponselnya. Sibuk melihat isi timeline Twitter-nya. Dia suka sekali membaca tweet karena membuatnya tertawa. Banyak informasi juga di aplikasi tersebut. Serta, orangnya ramah-ramah. Andrew hanya melihat ke sekeliling warung. Tangannya mendekap satu sama lain diatas meja. Sesekali dia melirik ke arah Lea yang sedaritadi senyum-senyum sendiri, “Ngapain, sih!?” Lea merengut kecut pada Andrew. Disaat yang bersamaan, hidangan mereka sudah datang. Hidangan sudah hampir habis, Andrew terengah-engah. Rasanya seperti ada asap keluar dari telinganya.  Lidah Andrew terasa terbakar. Bulir-bulir air muncul di dahi Andrew. Dia meminum habis es teh yang dipesannya. “Too spicy! Too spicy!” jerit Andrew kepedesan. “Cabe berapa, sih?” tawa Lea. “Nol!” “Lidah bule, sih.” Lea tidak sanggup menahan tawanya lagi melihat wajah Andrew yang sudah seperti kepiting rebus itu. Andrew mendesah lega setelah meminum habis es tehnya. “Aku tidak mau lagi makan denganmu!” “Yang bilang mau mengajakmu lagi juga siapa?” Andrew mengeluarkan uang lima puluh ribunya. Ia menaruh lembaran kertas biru itu di meja makan dengan kasar. “Nih!” Lalu dia langsung kabur masuk ke mobil. Rasa perih di lidahnya masih terasa hingga ke ubun-ubun. Lea membayar di kasir. Dok! Dok! Dok! “Buka pintunya!” teriak Lea di kaca pintu mobil. Kaki Lea mundur selangkah saat Andrew mencoba keluar dari mobil. Sisi sebelah kanan mobil terlalu mepet. Jadi, Lea harus masuk melalui pintu sebelah kiri. Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Lea mengatungkan uang lima puluh ribu itu pada Andrew. “Aku mentraktirmu.” “Apa? Kau bilang aku yang harus mentraktirmu tadi?” Andrew menyentuh uang berwarna biru itu. Jemari Lea juga masih disitu. Lea semakin menyodorkan uang itu pada Andrew. “Ambilah! Aku akan menyetir.” Andrew mengambil uangnya lagi dengan kasar. “Hmm,” gumam Andrew saat memegang lembaran biru itu. Dia memasukkan uangnya lagi ke dalam dompet miliknya. Brum ... brum .... “Aku menyalakan musik ya,” pinta Andrew. Dia merasakan ketegangan diantara mereka berdua. Oleh karena itu, dia ingin memecah keheningan ini dengan menyalakan musik lagi. “Ganti,” pinta Lea saat musik sudah menyala. Jari telunjuk Andrew memencet tombol next lagi. “Ganti,” pinta Lea lagi. “Ganti.” “Maumu apa, sih?! Aku sudah menggantinya berkali-kali!” geram Andrew. “Ya terserah aku ... kan ini mobilku. Kenapa?!” protes Lea, dia merasa dirinya sekarang lebih tinggi daripada si Andrew yang menyebalkan itu. “Ya tapi—“ “Tapi apa???” pekik Lea. Andrew merasa tidak enak karena Lea sudah memberikan tumpangan padanya. Maka, dia tidak melanjutkan ucapannya lagi. Mobil ini berhenti di lampu merah perempatan besar. Hampir sampai di perumahan Andrew. Hujan di area ini sudah mereda. “Eh sial!” Lea kaget saat melihat mobil yang berada di sebelah kirinya. Matanya melotot tajam. Dia menghentakkan punggungnya ke sandaran dengan kasar. Jemari Lea menggenggam setir itu dengan sangat kuat. “Kenapa?” Andrew melihat ke sebelah kiri. “Ih! Jangan lihat kesitu!” pekik Lea sambil memukul pelan bahu kanan Andrew. “Kenapa, sih?” “Ihhh, itu mantanku sama istrinya!” Mendengar itu, Andrew terbahak-bahak. “Belum move on!” Tangan Andrew sampai mengepal menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Lea yang cemas. “Hahaha.” “Apaan, sih kamu?! Gak lucu! Aduh ... lama banget ini lampu merahnya.” Lea menggerak-gerakkan kakinya di bawah. Jemari-jemari Lea juga bergerak bergantian selagi memegang setir mobil. Perutnya terasa diaduk-aduk saat ini. Meskipun sudah dua tahun Lea berpisah dengan mantannya, hati Lea masih tersengat bila harus melihat Rey dan Sara berdua langsung seperti ini. “Hijau!” seru Lea tanggap. Lea langsung menancapkan gasnya cepat-cepat. “Kamu belum move on? Haha,” ejek Andrew. “Diam kamu!” bentak Lea pada Andrew yang menyebalkan ini. Ciiit! Lea seketika menepi di jalan. Dia berhenti. “Sana turun! Jalan kaki!” Andrew menahan tawanya dan memelas lagi. Tidak terlalu melas. Dia yakin Lea tidak akan setega itu padanya. “Aku diam.” Andrew berdeham menahan tawa yang akan keluar dari bibirnya itu. “Aih! Menyebalkan!” gerutu Lea sembari fokus menyetir lagi. Dalam beberapa menit, mereka berdua telah tiba di teras rumah Andrew. Lea memindahkan persneling mobilnya dengan kasar. Dia tidak berkata apapun. Andrew melepaskan seat belt yang mengitari dadanya. “Mmm, thanks,” ucapnya, langsung membuka pintu mobil menghindari Lea. Lea mendengus sengit. “Cowok ini!” Tangan Lea sudah mengepal hampir memukul Andrew. Namun, Andrew sudah lekas keluar dan menutup pintu mobil. Raut wajah Lea gregetan mendengar tawa kecil Andrew yang masih mengejeknya. Lies yang mendengar ada suara  mobil dari luar langsung membuka pintu rumah. “Leaaa, ayo masuk dulu,” ajaknya. Mobil Lea kedap suara sehingga dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Lies. Dia hanya menundukkan kepala dan tersenyum pada mamanya Andrew yang sedang berdiri di pintu masuk rumah. Andrew membalikkan badan melihat mamanya. Dia menunjukkan wajah kesal pada mamanya itu tanpa berucap sepatah kata pun. Lies mengedipkan mata dan berjalan mendekati Andrew. “Wah, kalian habis dari mana kok berdua?” godanya pada Andrew. “Ya dari hotel lah, Ma. Mama aja sengaja ninggalin aku disana, kan.” “Ah, tapi kan kalian jadi pulang berdua. Mama senang dong.” “Terserah Mama,” ketus Andrew sambil melangkah masuk ke rumahnya. Dok ... dok .... Lea membuka jendela kaca setelah Lies mengetuknya. “Masuk dulu yuk, Lea. Hujan deras lagi, lho, di luar. “ “Sudah Tante, terima kasih. Lea langsungan aja ada urusan di rumah.” “Oh gitu. Ya sudah, terima kasih ya, Nduk,” imbuh Lies, masih mencondongkan badannya ke arah jendela mobil yang terbuka. “Ya Tante sama-sama. Mari, Tante,” ucap Lea sembari melengkungkan bibirnya. Lea menginjak pedal gasnya sambil menutup kaca jendela dengan tombol yang ada di dekat persneling. Dia berjalan pulang ke rumahnya. Hujan mulai datang bergerombol lagi. Kaca jendela depan dipenuhi ribuan butiran air hujan. Pandangan Lea samar sehingga dia menjalankan mobilnya dengan pelan. Saking samarnya, dia menyalakan lampu depan agar jalanan terlihat. Lea mendesah pelan. Seketika wajahnya memelas. Ada gumpalan awan hitam yang sedang menyelimuti hatinya. Serta, masih ada jarum kecil yang terasa masih menancap di hati Lea. Beberapa kali dia mengambil napas dalam untuk menahan sakit yang diakibatkan oleh jarum kecil itu. Kelopak mata Lea juga menjadi sayu. “Kenapa aku harus melihat mereka, sih?” Berkali-kali Lea menghela napas mencoba mengembalikan ritme jantungnya. Untuk menepis perasaan galau, Lea memutar volume keras-keras. Dia juga berteriak saat bernyanyi. Background song: All Out of Love-Air Supply “I’m lying alone with my head on the phone. Thinking of you till it hurts ... I’m all out of love, I’m so lost without you ....” Lea menyibakkan rambutnya dengan tangan kiri. Tanpa disadari, perlahan bulir air mata keluar dari kelopak matanya. Kepedihan terasa di rongga hidungnya sebab dia mencoba menahan tangis dan sesak yang ada di paru-parunya. Tempurung tangan kiri Lea berkali-kali diletakkannya di rongga hidung karena tetesan demi tetesan mengalir.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD