7 - Rumahku Kosong

1132 Words
Suara gemuruh hujan semakin jelas serta adanya rintik-rintik air yang jatuh di pipi Lea. Lea segera membuka pintu mobilnya itu. “Eh ... udah mau hujan, lho. Kamu tidak mau pulang sama aku? Ya sudah ...,” ejek Lea. Andrew tidak menjawab. Dia sangat geram dengan mimik wajah Lea yang seolah mengoloknya. Lea menengadahkan telapak tangannya, merasakan rintikan hujan yang akan semakin deras. “Wah, udah mau hujan. Aku pulang dulu ah.” Lea sudah menundukkan kepala. Dia berniat masuk ke dalam mobil silver itu. “Tunggu!” pekik Andrew yang seketika cemas bagaimana caranya untuk pulang. Sedangkan langit sudah terlalu kelabu. “Apa?” tanya Lea menahan tawanya. “A-aku boleh ikut, kan?” Lea mengembuskan napas kesalnya. “Gimana ya? Asal kamu tidak membahas bemper mobil itu lagi. Kan kamu yang salah.” “Eh kamu ... baiklah!” gerutu Andrew yang tidak bisa berkutik lagi. “Kali ini aku akan menuruti apa maunya. Hanya kali ini saja. Besok? Besok tetap akan aku tagih!” geram Andrew dalam hati. “Masuklah!” teriak Lea sambil menutup pintu. Andrew berjalan membawa ponselnya ke dalam mobil. Dia menahan malu telah meminta tolong Lea agar dia bisa menumpang pulang ke rumah. Buk! Pintu mobil sebelah kiri menutup. Lea segera menyalakan mobilnya. Sepersekian detik kemudian, hujan langsung mengguyur mobil Lea. Suara air yang begitu deras terdengar hingga ke dalam mobil. “Wah, untung saja kamu masuk mobilku ya. Kalau tidak ....” “Diam kamu,” suruh Andrew. Lea hanya mengerucutkan bibirnya. Seolah mengejek Andrew. Lea harus menunggu beberapa menit untuk memanaskan mobilnya. Dia mengulurkan tangan pada layar LED mobilnya itu. Bermaksud menyalakan musik. Background song: Bad Liar – Anna Cover Lea menginjak gas mobil matic itu. Sekarang, mereka berdua berada dalam satu mobil. Lea menyetir sambil bersenandung. “So look me in the eyes, tell me what you see ... But I’m a bad liar ....” Andrew bergumam, “lagu Tik-Tok nih pasti.” “Sok tau ye.” “Emang iya kan?” debatnya. “Lagunya Imagine Dragons kali. Bukan lagu Tik-Tok. Odong emang ya. Maklum kita beda generasi,” ledek Lea pada Andrew. Semua kata yang terucap dari bibir Andrew membuatnya geli dan kesal. Andrew menatap ke arah jendela. Dia menopangkan sikunya di tepi kaca pintu mobil. “Ya itu maksud aku.” “Hmm,” gumam Lea. Lampu merah demi lampu merah telah terlewati di Jalan Parangtritis itu. Kini mereka hampir berada di tengah kota Jogja. Selama perjalanan, mereka terdiam setelah pembicaraan tadi. Hanya suara lagu dan hujan deras yang mengisi ruang dalam mobil itu. Lea sudah menyetir sampai ujung Ring Road Selatan. Dia menaiki Flyover ditengah derasnya hujan. Sayang, kota Jogja jadi tidak terlihat dari atas sini. Jalanan juga sedikit banjir. “Mana rumah kamu?” tanya Lea beku. “Di Casa—“ “Oh itu. Aku tau.” Lea menyetir mobilnya hingga memasuki gerbang perumahan elit itu. Jaraknya sekitar 20 menit dari saat Lea bertanya tadi. “Disitu.” Andrew menunjukkan rumahnya. Lea bergumam dalam hati, “Besar banget.” Dia menepikan mobilnya di teras rumah Andrew. Gerbangnya tidak tertutup sehingga Lea bisa langsung masuk. Mobil Lea terhenti di teras. Tepat di depan pintu masuk rumah Andrew. Diatas teras ini terdapat beranda sehingga mobil Lea tidak terkena air hujan. “Kayaknya ... rumahku kosong deh,” papar Andrew sembari mengecek jendela rumah yang semuanya tertutup. Dia melihat tanda-tanda bahwa rumahnya kosong. “Kamu tunggu bentar ya aku lihat garasi dulu,” pinta Andrew sembari memegang pembuka pintu mobil. “Dih. Emangnya aku mau nungguin kamu? Mendingan aku pergi makan.” Lea cemberut. Merasa malas sekali bila harus menunggu Andrew. Tetapi begitu, melihat wajah Andrew yang memelas membuatnya iba. Andrew keluar dari mobil menuju ke garasi. Dia mencoba mendorong pintu geser garasinya namun sama sekali tidak terbuka. “Ck,” decaknya. “Lhah, kamu gak bawa kunci?” ujar Lea seraya Andrew membuka pintu mobil lagi. “Kan aku sudah bilang. Aku tidak membawa apa-apa selain dompet berisi lima puluh ribu dan ponsel yang hampir mati ini!” bentak Andrew. Dia agak kesal dengan keadaan ini. “Mana ada. Kamu aja gak bilang apa-apa.” “Benarkah?” tanya Andrew. Dia menggaruk-garuk kepalanya saat menilik masuk ke dalam mobil meski kepalanya tidak terasa gatal. “Mama tega banget sih!” gerutunya. Lea mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di setir mobil. Dia berpikir. “Hmm, cepatlah! Gimana ini? Aku udah lapar mau makan!” “Boleh pinjam hape kamu buat telepon mamaku?” Lea mengulurkan ponselnya kasar. “Nih! Cepet.” Ponsel Andrew juga sudah ada di genggamannya. Namun, saat Andrew baru saja mengetikkan angka nol dan delapan di ponsel Lea, ponsel Andrew tiba-tiba mati. “Bangs*t emang! Hape gue mati!” “Apaan dah pakai misuh segala,” nyinyir Lea melihat Andrew yang sedang marah-marah. “Aaargh!” “Dah lah! Kamu mau ikut aku makan atau menunggu disini?” Andrew melirik tajam pada Lea. “Disini.” Lea mengulurkan tangan. “Ya udah sini kembaliin hapeku.” Lea menerima ponselnya kembali. Diletakkannya di dalam tas lagi. Suara gemuruh masih terdengar. Apalagi dengan suasana hati Andrew yang juga terdengar seperti gunung berapi yang sedang erupsi. Meletup-letup tak karuan karena emosi. “Eh?”panggil Andrew, “a-aku boleh ikut makan?” Lea terkekeh kesal karena Andrew plin-plan. “Asal kamu mentraktirku.” Andrew mendengus, “Heh? Fine! Yang murah aja. Aku cuma pegang lima puluh ribu!” Saat memasuki mobil, Andrew sedikit membanting pintu. Gerakannya ini membuat Lea tak karuan ingin memarahinya. “Hais! Ini mobilku ya jangan banting-banting seenaknya.” Lea memutar bola mata mengarah ke setir lagi. Dia menginjak pedal gas pelan dan keluar dari halaman rumah mewah itu. Tak ada suara yang dikeluarkan oleh Andrew. Dalam perjalanan ke rumah makan ayam geprek yang diinginkan Lea, tak lama dia tersadar bahwa ada suara dibawah dashboard. Suara yang membuat Lea sedikit geli dengan kelakuan cowok yang baru saja ia kenal ini. Itupun dikenalkan oleh keluarga. “Diem bisa gak, sih?” Suara kaki Andrew yang menjejak-jejak bawah dashboard itu membuat Lea berpikir bahwa Andrew masih seperti anak kecil yang marah terhadap orang tuanya. Kelakuan Andrew membuat hati keci Lea tertawa. Namun, dia menahannya. “Kenapa kita dijodohin, sih?” tanya Andrew. “Santai aja, sih! Aku juga nggak mau nikah sama cowok kayak kamu. Kenal juga nggak,” sewot Lea membalas pertanyaan Andrew. “Gimanapun caranya aku akan membatalkan rencana Mama,” batin Lea. Sambil menepikan mobil setelah lima belas menit perjalanan, Lea berkata, “aku mau makan disini. Terserah kamu mau makan atau tidak.” Lea berhenti di seberang warung tenda. Di depan mobil Lea, ada beberapa motor yang parkir disitu. Ada atap yang menutupi tempat parkir sehingga terbebas dari hujan. “Kita makan disini?!” “Iya lah. Kenapa?!” gumam Lea menjawab Andrew. “Sana keluar.” “Kok aku, sih? Kamu kan keluar lewat situ bisa.” “Ini, lho! Sempit banget.” Lea melotot dan sewot pada Andrew. Dia senang sekali bisa menggerutu pada Andrew. Merasa seperti sedang aksi senioritas. Tangan Lea mendorong Andrew agar segera keluar. Dia sudah tidak bisa menahan laparnya lagi. Saat mereka sudah berdiri menatap warung tenda itu, Andrew menghela napas. Dia mengernyit. “Pasti dia tidak pernah makan di tempat ini,” ucap Lea tersenyum sinis saat melihat Andrew. Lea menyebrangi jalan menuju warung itu. Andrew dengan kesal mengikutinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD