Prolog
Kontes Menulis Innovel II - The Girl Power
“Lepaskan aku!”
Pria berbadan kekar suruhan Wajendra menggiring Dayuna secara kasar ke atas dek kapal kargo. Dayuna terus menerus memberontak agar bisa lepas, namun pria botak itu semakin mencengkeram kuat tangan Dayuna dan menyeretnya tanpa ampun. Padahal Dayuna baru saja melahirkan beberapa jam lalu. Akibatnya bekas jahitan pasca operasi Dayuna terbuka. Darah merembes ke pakaiannya.
“Kau tidak dengar? Aku bilang lepaskan!”
Plaakk!
Satu tamparan keras dari tangan besar pria itu mendarat di pipi Dayuna. Tubuh Dayuna terhuyung ke samping dan menghantam dinding kapal. Dahi Dayuna sobek. Dan gigi geraham kirinya lepas karena saking kerasnya tamparan yang ia terima. Dengan menahan rasa sakit yang teramat luar biasa, Dayuna mengangkat wajahnya ke arah pria botak itu dan melotot marah padanya.
“Pengecut!” Dayuna meludahinya.
“Jalang sialan…” Pria botak itu merasa terhina dan langsung menjambak rambut Dayuna. Ia hendak melayangkan satu pukulan lagi ke wajah Dayuna, namun seseorang datang dan menghentikannya.
“Berani-beraninya kau menyentuh istriku dan melakukan hal di luar perintahku?” murkanya.
“Tuan Wajendra…” pria botak itu segera melepaskan tangannya dari rambut Dayuna. Raut wajahnya yang tadinya sangar berubah seketika seolah keberanian yang baru saja ia tampakkan telah dicabut begitu saja darinya. “Maaf karena saya sudah sangat lancang bersikap kasar pada Nyonya Muda. Saya terbawa emosi. Hukumlah saya Tuan.”
“Pasti. Tapi tidak sekarang,” ujar Wajendra. “Pergilah.”
“Baik, Tuan.”
Kini hanya tinggal Dayuna dan Wajendra usai pria botak itu di perintahkan untuk pergi. Dayuna menatap Wajendra dengan penuh kebencian. Pria yang dulunya pernah menjadi orang paling penting dalam hidupnya, Pria yang begitu dicintai oleh Dayuna dan bersedia diperistri olehnya, justru telah melakukan pengkhianatan terbesar dan menjijikkan. Wajendra selama ini tak pernah mencintainya. Wajendra hanya ingin menguasai seluruh harta dan perusahaan keluarga Andaru. Bahkan dengan tidak tahu malu Wajendra terang-terangan berselingkuh dengan sahabatnya dan berniat menikahinya.
“Apa kabarmu sayang?” Wajendra mengelus pipi Dayuna sembari menyeringai. “Kau terlihat sangat kusut. Apa kau baik-baik saja? Atau anak buahku melakukan sesuatu yang jahat padamu? Ayo katakan. Tidak usah malu begitu.”
Dayuna tak menjawab. Matanya memerah penuh amarah dan menatap tajam pada Wajendra. Hatinya tak pernah berhenti mengutuk Wajendra agar segera mendapatkan nerakanya sendiri.
“Kau tidak ingin mengatakannya? Hemm?” Wajendra lalu tertawa sinis. “Sepertinya ini memang sudah menjadi kebiasaanmu.” Tangan Wajendra menjambak rambut Dayuna dan menariknya ke belakang. “Kau meremehkanku? Kau pikir aku tidak bisa melakukan sesuatu padamu? Harta dan perusahaanmu saja sudah jatuh ke tanganku. Bahkan kedua orang tuamu—mertua kesayanganku—aku sudah menyingkirkan mereka. Darah mereka berdua, mengalir di tangan ini.”
“Wajendra!” Dayuna meneriakinya dengan emosi yang sudah tidak bisa ditahan, meraih wajah Wajendra dan menghantamnya dengan kepala Dayuna.
Tak!
“Aaarrgghhh!” Wajendra mengerang kesakitan. Tulang hidungnya berdenyut. “Sialan kau!”
Plaak! Plaak! Plaak!
Wajendra kehilangan kesabarannya. Ia meluapkan rasa marahnya dengan tiga kali tamparan secara membabi buta pada Dayuna. “Dasar wanita tidak tahu diri! Kau lupa posisimu sekarang, heh? Hanya aku yang bisa menyelamatkan nyawamu. Itu pun kalau aku ingin.”
Wajendra lalu mengeluarkan ikat pinggang kulit yang terpasang di celananya dan dililitkan ke tangannya. Sementara ujung satunya dibiarkan menjuntai ke bawah.
Ctass! Ctass! Ctass!
Seolah tak memperdulikan erangan kesakitan yang keluar dari mulut Dayuna tiap kali ikat pinggang kulit Wajendra mendarat di setiap inci tubuh Dayuna, Wajendra terus mencambuknya tanpa henti.
Setelah hampir tiga puluh menit menyiksa Dayuna, Wajendra akhirnya kelelahan. Ia menatap tubuh Dayuna yang terkapar di lantai. Pakaiannya tak lagi berbentuk. Sobek sana sini dengan luka menganga di sekujur tubuhnya. Lalu karena Wajendra melihat Dayuna tidak bergerak sama sekali, ia pun berjalan mendekati Dayuna. Namun saat Wajendra hendak membalikkan tubuh Dayuna, terdengar suara cekikikan yang membuat Wajendra bingung.
“Kau…tertawa?”
Dayuna tak langsung menjawab. Ia membutuhkan tenaga yang cukup banyak untuk bangkit. Tapi karena luka-luka di tubuhnya cukup parah, Dayuna hanya bisa terduduk sambil bersandar di dinding kapal.
“Kau pikir…” napas Dayuna tersengal, “…setelah menyiksaku seperti ini, aku akan memohon ampun padamu?” Dayuna meludah ke samping. Bukan lagi air liur, melainkan darah. “Jangan pernah mengharapkan itu dariku. Aku justru berbalik mengutukmu untuk setiap luka dan rasa sakit yang kau berikan.”
Wajendra tertawa. “Mengutukku? Kau? Silahkan saja kalau itu membuat perasaanmu lega. Kutuk aku sepuasmu. Tapi akan kupastikan, semua kutukan bodohmu itu tidak akan pernah terjadi padaku. Kau mau tahu kenapa?” Wajendra berjongkok di hadapan Dayuna. “Karena sebelum kematian Ibuku, dia telah menitipkan doanya pada Tuhan dengan memberiku sebuah nama yang sangat bagus. Dewangga Wajendra. Seorang raja besar yang memiliki tubuh dan kekuatan sang dewa. Bukankah banyak yang mengatakan bahwa nama yang diberikan oleh orang tua kita adalah doa? Yang itu artinya, kutukan manusia biasa tidak akan mempan pada dewa.”
Ingin sekali rasanya Dayuna menertawai Wajendra. Jika diingat-ingat lagi kenangannya beberapa tahun silam, selera humornya sepertinya sudah cukup meningkat. Itu lelucon yang cukup bagus. Tapi kenapa hati Dayuna terasa sangat sakit? Dengan menahan tangis, Dayuna mengajukan pertanyaan pada Wajendra. “Kenapa?”
“Hem? Apanya yang kenapa?”
“Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Bukankah…dulu kau pernah bilang bahwa kau sangat mencintaiku? Kau bahkan bersedia melakukan apapun untuk membuatku bahagia. Dan disaat aku sakit waktu itu, kau rela berjaga semalaman. Tapi semenjak…” suara Dayuna tercekat. Benteng pertahanan Dayuna jebol. Airmatanya tumpah ke pipinya. “Semenjak aku mengenalkanmu dengan sahabatku, kau berubah. Kau mulai tidak peduli dan bersikap kasar padaku. Padahal kau tahu kalau aku sedang mengandung anakmu. Kenapa? Kenapa Ndra? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku padamu?”
Wajendra memegang kedua pipi Dayuna yang mulai tak bisa mengontrol dirinya dan menangis. “Ssstt…ssstt…jangan menangis. Tolong. Aku tak bisa melihatmu menangis. Karena itu hanya membuatku…” seringain jahat kembali menghiasi wajah Wajendra. “…semakin ingin melenyapkanmu.”
Dayuna tertegun. Betapa bodohnya dia. Bagaimana dia bisa lupa kalau laki-laki di hadapannya ini sama sekali tidak punya hati. “Laki-laki tidak bermoral. Iblis!”
Tawa Wajendra meledak. “Apakah itu sebuah pujian untukku?” Wajendra bangkit, dan duduk dengan angkuhnya di atas peti barang. “Sebenarnya aku sudah cukup bosan memberitahu hal ini padamu. Tidak masalah. Akan kuingatkan kau sekali lagi.” Wajendra merubah posisi duduknya dengan menyilangkan kakinya ke samping kanan.
“Dengarkan ini baik-baik. Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Aku mendekatimu karena kupikir hidupku bisa terjamin dan tidak akan kekurangan. Tapi manusia memang tidak pernah ada puasnya. Saat mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan, mereka mendadak menginginkan yang lain lagi. Mau bagaimana lagi. Memang begitulah sifat asli manusia. Jadi, aku pun memutuskan untuk mengakusisi perusahaan keluargamu dan menjadikannya milikku. Dan, soal kau mengandung anakku…aku sangat berterima kasih padamu. Sungguh. Makanya aku mencoba berbaik hati padamu dengan tidak mengusirmu. Bahkan aku berencana akan tetap menjagamu usai kau melahirkan pewarisku. Tapi coba lihat apa yang kau lakukan setelah semua kebaikanku itu? Kau malah kabur membawa putraku.”
“Dia bukan lagi putramu semenjak kau berselingkuh dengan Anna!” hardik Dayuna. Matanya menatap nyalang pada Wajendra. “Semenjak kau terang-terangan ingin menikahinya, saat itu juga aku telah memutuskan hubungan suami istri antara kita. Kau tak punya hak atas Lintang!”
“Kau pikir begitu?” Wajendra mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah video pada Dayuna.
Mata Dayuna membelalak lebar. Tubuhnya menegang seketika. Tangisan Lintang, anaknya yang baru berusia sehari, menggema di dalam video tersebut. Sekretaris Han membawa putranya pergi dari rumah sakit tempat Dayuna bersalin.
“Apa yang ingin kau lakukan pada putraku?” geram Dayuna. ”Kemana kau akan membawanya pergi? Kuperingatkan padamu, untuk tidak melakukan sesuatu pada putraku. jika terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuhmu.”
“O-o…” Wajendra mengangkat jari telunjuk sebagai isyarat bahwa Dayuna tidak akan bisa membunuhnya. “Bukan aku yang akan terbunuh, tapi kau.” Wajendra mengeluarkan pistol revolvernya lengkap dengan peredam suara, dan di arahkan ke Dayuna.
“Kau…”
Wajendra tersenyum miring. “Maafkan aku sayang. Tapi harus aku lakukan karena kau sudah menimbulkan banyak masalah padaku. Aku tak ingin mendapat masalah lagi ke depannya dan impianku untuk menguasai perekonomian dunia jadi hancur. Jadi, pergilah dengan tenang. Aku mohon. Lintang, anak kita, akan kurawat dia baik-baik. Dia tidak akan pernah merasa kekurangan. Khususnya kasih sayang seorang ibu.”
“Kau benar-benar b******n gila, Wajendra!” ngamuk Dayuna. “Biadab! Kau telah memisahkan seorang anak dengan ibu kandungnya. Baiklah. Lakukan saja sesukamu sekarang. Kau mau membunuhku? Silahkan. Tapi ingat ini baik-baik. Kau tidak akan pernah hidup bahagia. Kau akan selalu merasa kekurangan hingga untuk tidur pun kau harus menelan banyak pil tidur. Aku mungkin akan mati hari ini. Tapi tidak dengan dendamku. Suatu hari ia akan datang padamu bagai badai dan menghancurkanmu dari dalam tanpa kau sadari. Dan Anna, apa kau percaya padanya?”
“Sudahlah. Berhenti bawa-bawa nama Anna. Kau dan dia tidak sebanding.” Wajendra meremehkan.
“Percayai saja apa yang ingin kau percaya. Dengarlah apa yang ingin kau dengar. Tapi semuanya tidak akan bertahan lama. Kau akan hancur. Hidupmu akan sengsara b******n!”
Wajendra berdiri dan berjalan mendekat ke arah Dayuna sembari mengorek kupingnya. Sementara pistolnya tetap mengacung pada Dayuna. “Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang. Aku? Atau sumpah serapah bodohmu itu. Tapi aku rasa kau tidak akan punya cukup waktu untuk mengetahui siapa pemenangnya. Biar kuberitahu bocorannya. Pemenangnya sudah jelas adalah aku. So, apa ada yang ingin kau katakan lagi?”
Dada Dayuna kembang kempis. Kedua telinganya berdenging. Luka-luka di tubuhnya terus berdenyut. Dan napasnya terasa pendek dan sesak. Tinggal menunggu waktu saja sampai Wajendra menarik pelatuknya, dan ia akan meninggalkan dunia untuk selamanya. Meninggalkan Lintang.
Airmatanya langsung mengalir deras seketika saat wajah mungil Lintang terbayang di pelupuk matanya. Bisakah bayi mungilnya itu bertahan tanpa dirinya di dunia yang sangat kejam ini? Akankah Lintang mendapatkan kasih sayang seperti yang dirinya berikan? Apakah hidupnya akan bahagia? Dayuna terisak. Ia seolah ingin segera bangkit dan berlari ke tempat Lintang berada. Lalu membawanya ke tempat yang sangat jauh dimana takkan ada yang menyakitinya.
Tuhan, putraku masih sangat kecil. Dan aku takkan bisa lagi berada di samping Lintang untuk menjaganya. Aku akan ke tempat-Mu. Tapi Tuhan, setidaknya kirimkanlah seseorang yang bisa menjaga dan melindungi Lintang. Yang hatinya dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang. Hingga Lintang merasa telah mendapatkan ibu kandungnya kembali. Aku mohon…
“Hei, tanganku pegal,” kata Wajendra. “Cepat katakan keinginan terakhirmu!”
Dayuna menatap dalam-dalam wajah Wajendra untuk terakhir kalinya. Kenangan-kenangan indah di masa lalu, langsung terlintas di pikirannya. Betapa bahagianya mereka berdua saat itu. Dan sebentar lagi dalam sekejap semuanya akan terkubur bersamaan dengan kepergiannya.
“Pergilah ke neraka!”
Doorr!
***