Setelah mengantarkannya ke penthouse, mengecup keningnya dalam dan berpesan agar Alice tetap berada di sini sampai ia kembali, Levin segera pergi. Ya, seperti yang ia katakan; menyelesaikan pekerjaan mendesak. Cih. Dasar orang kaya. Maka, setelah punggung Levin lenyap ditelan pintu, Alice segera membersihkan diri dan berbaring terlentang di ranjang. Pandangannya mengarah pada langit-langit kamar. Ya, untung saja Levin tidak menempatkan banyak pengawalnya di penthouse ini. Jadi Alice bisa tenang melakukan apa pun yang ia mau, tanpa takut ada yang mengawasi. Seketika, dorongan untuk ke minimarket di lantai bawah dan membeli seplastik es krim terdengar begitu menggoda. Alice baru akan menyambar tas slempangnya sebelum suara ponsel terdengar. Nama Clara muncul di layar. Alice menggeser i

