Pagi ini, Alice terbangun dengan sebelah ranjangnya yang lagi-lagi kosong. Dengan sarapan yang masih menguarkan aroma gurih di atas ranjang. Melirik ke arah koper di bawah almari, ternyata barang-barangnya sudah dikemas dengan rapi. Alice mendesah malas. Ia menaikkan lagi selimutnya ke atas kepala. Sisa malam tadi, ia tidak bisa tidur dengan tenang. Entah karena takut jika mimpi buruk itu datang lagi, atau karena keberadaan Levin yang teramat dekat dengannya? Ya Tuhan, bahkan pria itu tidak melakukan apapun! Suara pintu terbuka tidak membuat Alice beranjak dari posisinya. Lagipula, dia juga masih sangat kesal karena hanya menghabiskan dua hari liburannya di sini. Padahal masih banyak tempat-tempat yang ingin ia kunjungi... Tarikan di ujung selimutnya membuat Alice memasang raut jengk

