Bakpau

1016 Words
Meidinda Rajingga    Kulangkahkan kakiku ringan sembari bersenandung kecil keluar dari area parkir. Baru saja berbelok menuju taman kecil di bawah pohon flamboyan depan kantin kampus, namaku sudah bergema di udara. Kutolehkan kepala menuju asal suara dan menemukan Annisa dan Luki yang sedang berjalan cepat ke arahku. Aku tersenyum dan menyapa mereka. Bersama kami menuju bangku paling sudut yang terhalang pagar tanaman setinggi satu setengah meter. Waktu masih menunjukkan jam 05.54 WIB dan pengelola kantin baru saja datang.  “ Lapar aku Ga, kita makan yuk.” “Emangnya kamu bawa bekal Luk?” “Bawa tadi sempet dibungkusin Ibu,” jawab Luki dengan mata berbinar. “Ibumu datang dari Padang?” “Iya Nis. Kangen sama anak bujang nan ganteng ini." Ucapan dan kekehannya membuatku dan Annisa berdecih dan tertawa geli. " Iih...pe de banget sih kamu, Luk!" "Lebih baik percaya diri kan dari pada minder?" Luki menampilkan raut menggoda, kami menanggapinya dengan tertawa. " Nis, cobain deh masakan calon ibu mertua ini, ada rendang, ada sayur daun singkong juga. Rendangnya aku bawa beberapa kalau kamu mau nyicipin.” “ Makasih deh Luk, aku baru saja sarapan di kost-an. Iga aja tuh.” "Mau Ga?" “Aku bawa nasi goreng sama telur dadar sih. Kayaknya ini juga bakal bersisa, tapi mau deh.  Aku ambil satu ya buat makan siang aja.”  " Makan sekarang juga nggak papa kok." " Rendang, terlalu berat buat sarapan, Luk." “Nis aku bawa bakpau kacang ijo nih, siapa tahu kamu mau.” Aku membuka tas tentengku dan mengeluarkan tempat makanan dari plastik dan menyerahkannya pada Annisa. “Tahu aja kamu Ga, kesukaan aku.”  “Katanya udah kenyang, tapi bakpau mau.”  “Yah, makan bakpau satu mah nggak bakalan kenyang banget kali Luk...”  “Aku ambil satu yah Ga, buat nanti.”  “Mangga atuh Kang (silahkan kak)!”  “Wah...sepertinya ada makan besar nih.”  “ Eh, pak Andi dan pak Eko. Mangga pak, ini ada bakpau buatan Jingga.”  “ Jingga? Saha Luk (Siapa Luk)?”  “Iyeu Pak  orang na.” Luki menunjuk ke arahku, karena nggak enak maka aku mengarahkan pandangan kedua dosen dan mengangguk sekaligus mamasang senyum. Kedua dosen muda itu tersenyum lebar ke arah ku lalu keduanya saling pandang sebelum mengarahkan pandangan padaku lagi. “Meidinda? Kok jadi Jingga sih?”  “Ehm...namanya kan Meidinda Jingga Hapsari, kalau panggilan akrabnya di kalangan keluarganya dan teman-teman adalah Jingga,” Luki berusaha menerangkan.  “ Oohhh...kitu,” sahut pak Andi dan pak Eko bersamaan seperti koor paduan suara.  “Eh, nggak apa-apa nih? Ngurangin jatah kamu dong.” Pak Eko menggaruk kepalanya. “Saya tadi cuma bercanda saja.”  “ Nggak apa-apa Pak Eko. Saya bawa banyak kok. Mangga...” Annisa kemudian berinisiatif membawakan kotak kue ke hadapan mereka. Kedua dosen muda itu bergerak mendekati kami dan mengambil tempat di sebelah Luki, berhadapan dengan aku dan Annisa. “ Hem..enak nih rasanya. Manisnya pas, dan tekstur bakpaunya juga lembut.” Pak Andi memberi tanggapan.  “ Kamu buat sendiri Mei?” Tanya pak Eko.  `          “ Dibantu teman kos sih Pak. Seminggu yang lalu ada teman kos dapat kiriman kacang hijau hasil panen dari orangtuanya di Garut. Lalu dia bingung mau diapakan karena terlalu banyak. Akhirnya saya kasih ide buat bikin bakpau saja yang mudah. “             “ Lha kamu bawa kue segini banyaknya, apa teman-teman kamu di kosan kebagian, Mei?” “ Tenang saja Pak, di kosan masih banyak. Kami menanaknya pakai dua dandang besar. Masih tersisa bakpau di dua dandang itu penuh.“ Aku menjawab sambil tersenyum. “Eh, maaf Pak, ini saya jadi makan nasi goreng sendiri. Maaf Cuma menyediakan satu porsi, he...he...he..”  “ Lain kali boleh menyediakan dua porsi sama saya, Mei.” Ucapan pak Andy sambil melirik ke arahku membuat Luki dan Annisa terbatuk. “Tiga porsi dong Mei, saya juga diperhitungkan.”  Eko juga menanggapi yang kubalas hanya dengan senyuman. Karena nggak tahu harus membalas dengan kalimat apa akhirnya aku menunduk. Berharap kalau keduanya segera beralih topik pembicaraan. “Eh, itu ada pak Alan,” seru Annisa. Kami semua mengarahkan pandangan mengikuti telunjuk Annisa. “Pak Alan, mari ke sini dulu!” Andi berteriak yang membuat nama yang dipanggil menghentikan langkahnya dan berpaling pada kami. Beberapa saat tatapan kami bersirobok. Dia diam sejenak di tempatnya, seperti sedang menimbang mau bergabung bersama kami atau melanjutkan langkah menuju ruangannya. Ajakan provokatif dari Luki, pak Andi dan pak Eko akhirnya menuntun langkahnya ke arah kami. Aku merinding sekaligus sesak, mood-ku kacau, rusak seketika. Rasanya seperti lewat kuburan saat tengah malam jum’at kliwon. Aku melirik ke sebelahku. Wajah Annisa yang memerah pipinya sedang  matanya berbinar ceria, menatap pak Alan penuh kekaguman. Aneh, orang  serem begitu kok bisa dikagumi ya? Bisikku dalam hati. “Selamat pagi Pak. “ Ucap Luki. “ Hem, yah...selamat pagi. Sepertinya seru sekali di sini,”  jawabnya dengan senyum kecil. Dalam pandanganku senyum itu nanggung, kayak nggak ikhlas aja waktu melepasnya. “Sudah sarapan Pak? Cobain deh bakpau ini enak sekali. Boleh diambil kok, gratis!” Ucap pak Eko. “Siapa yang bawa?”  “ Meidinda. Saya nggak nyangka aja dia punya keahlian memasak yang luar biasa. Saya pikir kamu jago urusan penelitian di lab. saja.” Pak Andi menjawab yang menyebabkan pandangan Pak Alan beralih padaku untuk beberapa saat hingga membuatku canggung. Aku nggak bisa mengartikan tatapannya padaku yang awkward itu, jadi kupilih menunduk saja menghindarinya. “ Hem... saya ambil satu ya. Thanks. Saya pamit dulu.” “ Nggak rugi? Cuma satu nanti kurang lho! Saya sudah habis tiga nih,” ucap pak Andy. Pak Alan hanya tersenyum menanggapinya. “Saya sudah sarapan tadi di rumah. Ini saja sudah cukup. Maaf saya harus mempersiapkan untuk kuliah jam 08.00. Saya harap kalian tidak telat masuk ruangan nanti.” Ucapnya sambil menyorot matanya pada kami bertiga sebelum beranjak pergi. Pak Eko mulai berdehem. “ Saya pikir juga kami harus segera bersiap. Terimakasih ya Meidi, Luki dan Nissa atas kudapannya. Eh, saya bawa satu lagi ya. “ Pak Eko menepuk pundak pak Andi kemudian berjalan mengejar pak Alan. Pak Andi pun mengikuti langkah pak Eko setelah mengucapkan terima kasih pada kami.    *******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD