Meidinda Rajingga
Selepas dari perkuliahan dengan pak Alan, aku dan Mira memutuskan untuk mengobrol sebentar dengan Ririn. Sementara Anisa memilih menemui ke laboratorium bofa bersama Dion. Setelahnya kami memutuskan mampir sebentar ke kantin. Bang Thamrin dan Sahrul sudah duduk manis sambil mengobrol di bawah pohon flamboyan.
“ Kamu tadi ngapain sih Ga kok sampai ditegur pak Alan?”
“Aku cuma ngintip WA dari pak Ardy sebentar doang, Bang! Abis serem diliatin begitu. Tadinya aku kira dia nggak ngeliat. Lagian yang main gawai kan nggak hanya aku saja tadi. Kok yang ditegur cuma aku doang sih”
“Gimana bisa nggak lihat Ga, wong dia loh nggak berkedip memperhatikan kamu!”
]“ Masak sih? Aku tahu dia menatapku lama tapi masak sampai nggak berkedip sih. ”
“ Tanya Mira nih kalau nggak percaya.”
“ Lho pak Ardy diganti ya?”
“Iya, yang ganti masih muda dan ganteng, Rul.”
“ Aku dengar dia masih keponakannya ya. Alan kan namanya?”
“ Iya. Tapi nggak tahu kalau itu keponakan pak Ardy. Kayaknya naksir Iga tuh.” Thamrin terkekeh.
“ Jangan ngaco deh Bang.”
“ Kalau pak Alan naksir Iga, aku patah hati dong.” Mira terkekeh kemudian.
“ Trus si Dion mau dikemanakan?” Sindir Sahrul.
“ Nggak kemana-mana. Dia lagi nemenin Nisa ke lab Bofa.” Mira tersenyum sambil mengedipkan matanya.
“ Halah bilang aja mereka lagi dipanggil pak Andy.” Sahrul lalu melahap somay yang ada di depannya.
“ Kayaknya somaynya enak ya Rul? Aku mau pesen ah.”
“Aku ikut Ga.
“Eh Ga, aku sebelum masuk kelas tadi dititipi pesan oleh pak Ardy kamu disuruh ke ruangannya segera setelah selesai kelas.” Ucap Thamrin kemudian.
“ Wah pak Ardy sudah pulang ya.”
“ Emangnya dari mana?” Tanya Sahrul.
“ Ada lokakarya di luar kota. Ya udah deh aku pergi dulu aja ya.”
“ Sekalian tolong pesenkan siomay satu sama es teh ya Ga! Sekalian lewat kan.’
“Oke!”
Pyuh. Akhirnya sampai juga di tempat ini. Mencoba mengatur nafas agar kembali normal, tanganku merogoh tas mengambil tissue dan menghapus keringat pada dahiku. Aku duduk di bangku depan ruangan bertuliskan: Koordinator.
" Kamu ngapain di depan pintu begitu? Ayo masuk!" dikagetkan dengan suara bariton pria di belakangku. Segera aku menoleh ke belakang, ternyata pak Ardy, koordinator pembimbing. Aduhh... jadi gugup seketika aku.
"Iya Pak," jawabku kemudian sembari mengikuti langkahnya.
" Duduk!"
" Begini, saya sudah membaca proposal judul kamu, dan menyetujuinya. Beberapa kalimat bahkan paragraf memang ada yang saya coret untuk kamu ganti, tapi saya sertakan clue-nya. Juga beberapa hal perlu kamu tambahkan. Semua catatan sudah saya cantumkan di sana," kata pak Ardy sambil menyodorkan formulir yang telah kuisi dan ditandatanganinya. Aku melirik ke formulir yang telah disetujui, tertera nama dr.Alan Ghazali Wibisono, Sp.U, D.Sc. sebagai pembimbing 2 dan pak Ardyanto sebagai pembimbing 1.
"Dan ...yang menjadi pembimbing 2 tugas akhir kamu adalah pak Alan. Dia mempunyai latar belakang dokter urologi dan baru sekitar tiga semester mengajar di kampus kita. Yah, walaupun masih muda dan tapi keilmuannya sangat mumpuni juga pengalaman penelitiannya punya jam terbang cukup tinggi di luar negeri, " jelasnya.
“ Mungkin kamu tadi sudah bertemu dengannya saat farmakoterapi kan?” Aku tersenyum kecil dan mengangguk.
“ Bagaimana, enak kan cara mengajarnya tadi?” Aku hanya membalasnya dengan tersenyum canggung.
“Lumayan, tapi masih jauh lebih baik jika Bapak yang menerangkan.” Jawabku sambil menunduk, disambut dengan tawa ringannya. Masih jelas dalam ingatanku caranya menegurku di depan kelas tadi dan caranya menggempurku dengan pertanyaan membuatku sedikit kewalahan, mana jawabannya harus pakai bahasa Inggris lagi. Meninggalkan ruang kuliah farmakoterapi tadi berasa keluar dari kawah candradimuka.
“ Bukannya kalian malah bersyukur tidak diajar dosen tua yang killer?” Tawanya tambah keras yang membuat kepalaku mendongak dan memandangnya heran.
“Ya tidak juga Pak. Kami memahami dan sadar bahwa ciri khas program studi kita memang menuntut disiplin, kecermatan serta kewaspadaan tingkat tinggi. Jadi sikap Bapak dan beberapa dosen seperti itu adalah dalam membentuk karakter kami.”
“ Hem...syukurlah kalau kalian mengerti.” Pak Ardy menganggukkan kepala berulang kali sambil mengusap dagunya.
“ Untuk selanjutnya kamu bisa berkonsultasi dengan pak Alan. Dia sangat cemerlang dan saya pikir kalian akan cocok dalam satu tim penelitian. Dahulu Alan alumni kampus ini, walau beda fakultas. Baru menyelesaikan doktoralnya dari Inggris dan akan mengabdikan diri di kampus ini. Saya harap kamu bisa baik bekerja sama dengannya dan semangat menuntaskan tugas akhir berikut proposal penelitian yang sudah saya ACC ini, Meidi!"
" Insya Alloh, Pak. terimakasih "
" Assalamu 'alaikum."
"Wa alaikum salam," Kami menjawab serentak dan menoleh bersama menuju suara yang datang dari pintu masuk tadi. Betapa kagetnya aku melihat sosok yang baru muncul di ruangan ini. Namun demikian, aku sedikit mengangguk dan memberikan senyum tipis padanya.
" Wah, panjang umur. Baru saja kami membicarakan anda, pak Alan. Ini Meidinda, mahasiswi yang pernah saya ceritakan dulu. Untuk selanjutnya akan anda bimbing penelitian dan tugas akhirnya. Nah Meidinda, ini pak Alan, dosen pembimbingmu."
" Kami sudah berkenalan tadi, Pak.” Jawabnya singkat.
“Baguslah kalau begitu. “ Pak Ardy menatap kami bergantian.
“ Baiklah kalau begitu kalian bisa melanjutkan. Saya mau rapat dengan dekan dulu. Ini berkasnya pak Alan." Pak Ardy menyerahkan map biru. Sementara aku bangkit dari dudukku dan mengangguk ke arahnya. Pak Ardy berdiri di sisiku sebentar kemudian menepuk bahuku sebelum melangkah keluar ruangan.
"Assalamu 'alaikum, " salamnya dan berlalu dari hadapan kami.
"Wa alaikum salam," Kami menjawab bersama. Suasana hening sepeninggal pak Ardy. Aku menunduk dan diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Dia berjalan menuju mejanya dan duduk di kursi menghadapi.
" Silahkan duduk." Aku menuruti perintahnya. Aku langsung mempersiapkan diri, otakku disiagakan kalau tiba-tiba dia kembali menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan sulit. Beberapa menit berlalu tapi dia masih terdiam, membaca dan menelisik berkas yang baru diserahkan pak Ardy. Aku menunggunya dengan cemas. Teringat kejadian tak mengenakkan tadi. Aku berdoa supaya nggak kena semprot lagi.
Sebenarnya pak Alan itu cukup menarik. Dosen baru ini masih muda, tingginya sekitar seratus delapan puluh-an sentimeter, dengan warna kulit kecoklatan khas pria jawa. Hidungnya mancung dan sorot matanya tajam. Kalau sedang diam dan duduk begini dia tampak lebih manis dan cocok menjadi model atau artis saja ketimbang jadi dosen. Pantas saja teman-teman wanitaku banyak yang menaruh hati padanya. Tapi buatku nggak muluk-muluk kok, nggak dapat cibiran miring darinya saja sudah cukup.
" Tema judul tugas akhir kamu cukup menarik, Mei. Sepertinya judulnya baru saja mengalami sedikit perubahan. Ehm...saya setuju dengan saran pak Ardy. Lalu.....” Dia menyingkirkan menutup dan menyingkirkan map biru dan mengambil map kuning di bawahnya dan mulai membuka dan membacanya. Aku menunggu.
“ Ini proposal PKM (penelitian kreativitas mahasiswa) tim kamu?”
“ Eh, Iya Pak untuk semester depan. Kami baru mau uji pendahuluan sekarang.”
”Hem...Berikan saya waktu untuk membaca proposalmu," jelasnya setelah sekian menit kami terdiam dan meneliti berkasku yang bertumpuk di mejanya.
“ Tapi proposal itu sudah disetujui Bu Wina dan pak Ardy."
“Iya, saya tahu. Apa kamu lupa kalau pak Ardy menyerahkan semua bimbingan pada saya. Saya merasa proposal ini perlu sedikit diubah.” Pak Alan menyanggahku. Mengirim tatapan tajam yang membuatku tak bisa berkutik lagi. Sebenarnya hatiku memberontak. Dia hanya dosen pengganti dan dosen pembimbing tetap sebelumnya sudah ACC untuk melanjutkan, kenapa harus diubah lagi sih. Semestinya dia kan hanya tinggal mengawasi dan membimbing saja.
“ Kirimkan file perbaikan proposalmu ke email saya. Ini alamatnya dan minggu depan kita sudah mulai persiapan di lab."
" Baik Pak.” Dia masih terus menatapku membuatku bingung. Aku masih menunggunya mengucapkan sesuatu tapi bibirnya masih terkatup. Aku ingin keluar dari suasana canggung ini.
“Jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya ijin permisi." jawabku kemudian dan langsung beranjak pergi. Assalamu 'alaikum"
" Tunggu, berapa nomor HP mu?" Saya juga butuh jika memanggilmu atau kita bisa diskusi di WA." perintahnya. Segera kuberikan nomor HPku. Dering HPku berbunyi kemudian.
" Itu nomor saya."
" Oh iya Pak, terima kasih. Assalamu 'alaikum." jawabku sambil berlalu.
" wa 'alaikum salam waraohmatullahi wabarokatuh." jawabnya.
“Huft” Aku bersandar di pintu memegang dadaku yang masih berdatak keras. Tensi darahku mungkin meninggi jika berhadapan dengan dosen baru itu. Rasanya nano-nano ; sebal, salut sekaligus cemas seperti berhadapan dengan harimau buas yang selalu mengintai dan siap menerkam jika lengah.
Ya Alloh, masak aku terus-terusan stress kalau mau ketemu dan saat bertemu dengannya? Tolong aku keluar dari pengaruh dosen yang menyeramkan itu.
Alan.