Pulang

2812 Words
Meidinda Rajingga   Aroma segarnya pagi terkuak tatkala kubuka jendela kamarku. Segera kunikmati udara sedalam mungkin yang mampu kuhirup kemudian menghempaskannya perlahan. Kutatap langit yang tampilan birunya mendominasi disertai warna jingga di penghujung cakrawala. Alunan kicauan burung menyertai saat kuedarkan pandangan di sekitar halaman samping rumah. Deretan pohon alpukat, sirsat dan jambu air di ujung halaman mulai berbakti dengan buahnya yang lebat dan mulai ranun. Deretan beberapa tanaman hias di tengah halaman serta anggrek yang ditata apik cukup membuatku tersenyum. Alhamdulillah ya Alloh, akhirnya bisa di rumah juga aku hari ini. "Ga, kamu sudah bangun ? Ayo sarapan dulu, Nduk. Itu ayah, adik dan masmu sudah menunggu di bawah". Segera kupalingkan wajahku dari jendela dan kuberi senyuman manis untuk ibu. " Iya bu, sebentar lagi. Iga masih mau merapikan pakaian yang ada di koper dulu. Kan baru sampai dinihari tadi." "Ya sudah, ibu tunggu ya. Cepetan lho! " Suara lembut ibu dan senyumannya adalah obat untuk kegalauan dan stress yang aku alami leboh tiga bulan terakhir. Aku berlari kecil dan memeluknya dari belakang. Ibu terkejut dan tertawa kecil. "Kamu kenapa to Nduk?" Aku mendusel-dusel punggung dan lengan bagian belakang ibu sehingga membuatnya terkikik kegelian. " Igaa...udah ah. Ayo kita sarapan dulu. Ibu masih banyak pekerjaan lain!" Dia menepuk pinggangku lalu mencoba mencubit, tapi aku berhasil berkelit dan tertawa.  "Tunggu sebentar lah Bu, Iga masih kangen. " Aroma tubuh ibuku selalu bisa buat aku tenang. Senang rasanya bisa menciumnya lagi. " Sudah....sudah... Ayo turun!" Aku mengikuti langkah ibu menuruni tangga menuju ruang tengah. " Mbaaakk..... " teriakan adikku yang langsung memelukku saat aku tiba di anak tangga terakhir.  "Mbak Iga kok kurusan sih?" "He... He... He... Tunggu aja sampe kamu kuliah, Dek. Biar tahu rasanya capek kuliah, praktikum, dan menyelesaikan tugas sampai tak bisa tidur ." "Tapi kayaknya Mbak tambah putih dan cantik deh." Kedua tangan adikku ditangkupkan pada kedua sisi pipiku lalu ditekannya dan digerakkan ke kiri dan kanan. " Sakit Dek." Mitha, Adikku melepas tangannya dari wajahku. Kesempatan ini kupakai untuk menjitak pelan keningnya. " Aduuh...Mbak," ucapnya meringis. " Makanya jangan suka usil." "Hei...sudah...sudah. Baru ketemu kok sudah berantem!" Ibu melotot pada kami sambil berkacak pinggang. "Nggak berantem kok Bu, " ucapku lagi. Aku berjalan menuju meja makan. Paramitha mengikutiku. "Mbak, rajin perawatan wajah ya di Bandung?" " Boro-boro Mit, mana ada waktu Mbak Iga buat itu. Ke salon paling cuma buat potong rambut dan creambath doang." "Tapi kok  wajah Mbak bisa tambah putih dan mulus gitu? Pake apa sih?" " Nggak pake apa-apa kok. Mbak pake bedak sama sunscreen yang ada pelembabnya aja. Itu doang." " Bedak sama pelembabnya pasti yang mahal ya?"  " Wah anak kos kalau beli bedak sama pelembab mahal mah bakalan tekor. Akhir bulan bisa nggak makan. Hem... mungkin karena air dan udara Bandung yang sejuk kali ya yang jadi penyebabnya.  Orang Bandung kan senang lalapan sayur dan makan buah-buahan, jadi Mbak ketularan gitu deh. Nah itu tuh yang bikin kulit kita bagus dan mulus." "Ooh... gitu. Bu, nanti kalau kuliah Mitha mau di Bandung aja Yah sama Mbak Iga. Pengen cantik dan putih." " Iya...iya...kamu SMA aja belum, kok mau kuliah," jawab Ibu. " Eh, ada satu lagi Mit." " Apa tuh Mbak?" " Rajin wudhu dan shalat sunnah jadi wajahnya cerah." " Hei, jangan ngobrol di situ, ayo kita sarapan!" Ayah  tertawa  sambil  melambaikan tangannya ke arah kami. Aku dengan seketika berlari memeluknya dan menciumnya. "Yaaah, Iga kangen sekali sama ayah". Ayah pun membalas pelukanku dengan senyum lebarnya sambil ikut merangkulku. " Lho...tadi pagi yang jemput Mbak Iga kan Ayah, kok baru sekarang Ayah dipeluk?" "Tadi udah Dek, cuma belum puas aja." Aku terkekeh menjawab pertanyaan adikku dan tambah erat memeluk ayah. Ayah tertawa dan balik menggenggam erat tanganku lalu mencium pipi kiriku.  "Duh, sudah mahasiswi semester enam, masih aja suka kolokan (manja) sama ayah. Gimana nanti kalau sudah punya suami?" Ibu meledekku sambil tersenyum. "Ya. .. Ibu, boro-boro punya suami, pacar aja nggak punya," dengusku kesal. " Wah, berarti adikku gak laku dong," jawab Edwin kakakku yang tiba-tiba muncul di ruang keluarga, dan disambut suara tawa mereka kecuali aku yang mengerutkan keningku tanda tak suka dan menjulurkan lidah ke arahnya.   " Sudah...sudah...semua sudah hadir. Ayo kita berdoa dulu!"  Setelah itu, acara makan pun dimulai. "Apa rencanamu hari ini, Ga? " ayah bertanya padaku. " Masih belum tahu, Yah", jawabku. "Kalau nggak ada acara, bagaimana kalau mbak Iga anterin dan jemput aku ke sekolah aja yah", timpal adikku yang masih duduk di bangku kelas sembilan SMP. "Yee.... enak bener kamu, Dek. Aku nih pulang mau liburan, bukan mau jadi ojek pribadi kamu lho," jawabku meledek. "Hem... Ibu, mbak Iga tuh, " rengek adikku cemberut. Aku tertawa menggodanya. "Wani piro... ?" Jawabku sambil tertawa dan mengangkat sebelah alis. "Mbakmu itu masih jetlag, Dek. Baru dini hari tadi sampai. Yo biar istirahat dulu to, masak langsung disuruh anter kamu sekolah. Besuk saja ya? Sekarang biar diantar Mas Edwin dulu." ujar ibu kemudian. " Nggak apa-apa Bu, biar nanti Iga yang antar Mitha. Ayah kan harus mengajar di sekolah, takut terlambat. Mas Edwin juga harus bergegas. Sudah ditunggu banyak pasiennya di puskesmas." " Beneran nggak papa? Kamu nggak pusing to Ga?" " Insya Allah Iga sanggup dan masih sehat, Bu. Lagian udah  kangen banget mau keliling kota." " Ya sudah kalau begitu, terserah kamu aja. Tapi hati-hati lho Ga, nggak usah ngebut." " Iya Bu."  Setelah mengantar adik bungsuku ke sekolah, kuniatkan berkeliling kota kecilku sebentar dengan motor bebek lama milik ibu. Hari masih pagi dan sudah kudapati ramainya jalan. Aku tersenyum mengetahui kotaku belum banyak berubah sejak 3 tahun yg lalu saatku pergi meninggalkannya. Tin.... tin... Ciiiittt..... Suara klakson keras diiringi bunyi gesekan ban beradu aspal membuyarkan lamunanku dan segera kutarik tali rem sepeda motorku dan berhasil berhenti mendadak. Untung aku nggak sampai terjatuh karena kaget. 'Siapa sih orang yang kurang ajar ini, berani benar dia menghadangku di jalan? Untung aku nggak apa-apa', jerit batinku. "Hei Iga, Iga,... Jingga kan? Masak kamu nggak kenal saya ?" Baru saja hendak mengomel dengan pengendara sepeda motor yang kurang ajar itu, eh malah dia sudah nyerocos duluan. "Ya ampuunnn serius, kamu lupa ya? Kamu Jingga kan, adiknya Edwin? Anaknya pak Suryono?" Orang itu masih saja sok kenal padaku. Dia belum membuka helm teropongnya dan memberikan tatapan menyelidik padanya.  "Kapan datang, Non? " Aku masih diam dan memicingkan mata. 'Siapa sih nih orang?'  Batinku masih menyimpan sejumlah pertanyaan. Eh, sepertinya aku kok kenal ya suaranya. Dia kemudian membuka helmnya karena aku tak bergeming sama sekali. Aku bengong ketika  melihat keseluruhan wajahnya.  " Udah lupa yah sama saudara sekaligus sahabat yang paling ganteng sedunia?" Dia  berkacak pinggang "Masya Alloh... Ayiik stegi (gila)", jeritku. Beberapa klakson kendaraan di belakang kami menghentikan percakapan ini. "Eh, kita ke Best Key yuk! Ngobrol di sana aja lebih asyik sekalian sa juga belum sarapan nih," lanjutnya. "Ok Boss", timpalku sambil menstarter sepeda motorku dan mengikuti ninja kawasakinya. " Ko ikut di belakang ya!" "Ok" Kami mengendarai sepeda motor beriringan hingga sampai di bukit dimana terhampar pemandangan indah hamparan semak belukar yang terlihat bagai permadani hijau, rumah penduduk, landasan pacu bandara Frans Kaisiepo dan lautan di kejauhan. “ Ko macam kapal kayu saja Ga.” “Bah, kenapa ka?” “ Pulang ke Biak tra bilang-bilang. Kapal kayu kan tra punya stoom toh.” (kapal kayu tidak punya bel pemanggil yang suaranya sangat kencang. Orang Papua menyebutnya stoom). Aku tertawa melihat bibir Ari yang maju. Aku benar- benar rindu dengannya. “Kemarin waktu aku telpon ngajakin pulang bareng, kamu jawabnya : nanti dulu lah, masih nunggu seminar dulu , belum acc judul, masih ada kegiatan sosial, inilah, itulah.... Lha ini tiba-tiba muncul di hadapan. Ada apa sebenarnya ?” Ari mulai merepet, padahal kami  belum duduk. Tepatnya masih jalan mencari tempat duduk yang strategis, tidak mencolok, tidak kepanasan, sekaligus mendapat pemandangan yang tidak terhalang tembok atau kaca. Hari itu langit Biak sangat cerah. Sayang rasanya kalau berada di dalam ruangan. Aku cuma bisa tertawa ringan sambil garuk-garuk kepala.  “ Banyak banget pertanyaannya, Yik. Kita duduk dulu lah!”  Baru saja menghempaskan tubuhku di kursi kayu pelataran kafe,  Ari mulai menyerangku dengan rentetan pertanyaan lagi. " Ko bilang waktu itu  pengen cepet-cepet magang dan selesaikan penelitian biar cepat wisuda. Eh, tiba-tiba seperti hanti muncul nyalip sa pun sepeda motor. Tadinya sa pikir hantu ka pa. Tapi penasaran siapa yang bersama Mitha? Ibu kok terlihat masih muda mana kurus sekali. Mas Edwin dan Ayah juga nggak mungkin lah, karena berkerudung. Makanya sa ikuti sampai ke sekolah Mitha. Pas Mitha teriak: "Makasih Mbak Iga..." baru sa sadar kalau itu benar-benar koi Ga." Ari menjawab dengan ekspresi sebal padaku. Aku cuma bisa tertawa melihatnya. “ Eh, jawab dong. Jangan bikin penasaran deh!” Raut muka sebal masih terpasang diwajahnya. Pelayan menghampiri kami membawakan pesanan, dan Ari langsung menyambar gelas jus dan segera meminumnya. "Mbak pesan jus jeruknya satu lagi ya!" "Masya Alooh Ayiiikkk...itu aja belom habis, udah pesan lagi. Pelan-pelan kenapa sih minumnya, nanti kamu bisa tersedak lho!"  " Haus banget Ga." Aku cuma senyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Saudara sekaligus sahabat terbaikku.  Dia yang kupanggil Ayik memiliki nama lengkap Aryan Setiadhi, rumahnya cuma selisih dua rumah dari tempat tinggalku. Dia teman mainku sejak mulai bayi (kata ibuku), bahkan lebih dari itu. Dia saudara susuanku. Ibu pernah sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit ketika aku masih berusia tiga bulan. Karena saat itu aku menangis dan rewel, maka bundanya Ari nggak tega melihatku yang nangis terus sampai malam hari dan digendong bergantian oleh eyang putri dan budeku. Akhirnya memberanikan diri meminta ijin menyusuiku. Menurut cerita mereka, waktu itu aku langsung tenang dan tertidur lelap setelah memperoleh ASI dari bunda Asri, ibunya Ari. Sumber cerita itu berasal dari eyang putri dan budeku. Bunda Asri adalah sahabat ibuku saat SMA dulu di Semarang. Mereka menikah dengan lelaki yang sama-sama di tempatkan di pulau kecil di wilayah Papua yang sangat indah ini. Ayahku seorang guru, sedangkan ibu dan bapak Ayik adalah perawat dan pegawai penerangan kala itu. "Heh, ditanya kok malah bengong sih? Mikirin apaan? " Katanya kesal sambil mencolek tanganku. " Ko tanya apa sih Yik?" Arik mendengus kesal. " Koi tuh ... kenapa tiba-tiba memutuskan pulang ke Biak?" " Ooh itu... ko mau tahu aja, apa mau tahu banget?" Aku menggoda saudara susuanku semberi memberikan lirikan usil padanya. Rasanya kok senang bikin dia kepo bin penasaran. Ari cemberut menatapku. Gembira sekali aku bisa menggodanya lagi. Aku kangen menjahilinya, berantem dan tertawa bersamanya seperti waktu kami kecil dan remaja lalu. Setelah terdiam beberapa saat dan geli melihat wajahnya yang jengkel, aku menjawab pertanyaannya. "Sa su selesai ambil SP semester lalu, Tuan besar. Semester ini mulai Tugas akhir, tapi biar cepet proposalnya sudah sa cicil membuatnya dari semester kemarin. Itu sesuai saran dosen supaya cepet selesai dan nggak lama," jawabku sambil meliriknya dan memberi penekanan intonasi di akhir kalimat. “Ko nggak capek ka? Apa lagi kegiatan banyak seperti itu?” “ Ya capek lah. Tapi karena memang suka ya dijalani enak aja.” Jawabku sambil menyeruput es jeruk. “ Iih ... makanya badan sampai kurus kering begitu.” Ayik berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala. Aku mencebik kesal. “ Kurus sih iya, tapi nggak pakai kering juga kali, Yik. “ Aku menjulurkan lidah kepadanya. Asli, aku memang sudah kangen untuk bertengkar dengannya seperti dahulu kala. “ Hidup tuh harus dinikmati Ga.” “ Ini juga dinikmatin Yik. “ “ Sa penasaran, kok bisa terjun ke dunia penelitian gitu. Waktu tahu ko yang menang pimnas kemarin, terus terang aja agak nggak percaya sih. Biasanya kan ko cuma mentok juara satu tingkat propinsi aja. Ajang nasional paling cuma dapat juara harapan. “ “ Eh... “ Aku mendelik. Ari nyengir tanda sukses membuatku sewot. “ Iya… iya … sa tahu dulu ko  pernah juara tiga nasional.” Dia menjulurkan lidah padaku yang kubalas hal yang sama. Kami sama-sama menikmati es jeruk ini yang entah kenapa terasa nikmat sekali. Aku menjulurkan tanganku memanggil pelayan untuk menyiapkan satu es jeruk kembali. Tentu saja aksiku memancing ejekannya dan kami sudah berbalas ejekan beberapa saat kemudian. Itulah yang kurindukan darinya, saling ejek, bertengkar kemudian tertawa keras bersama. Hari masih pagi tapi kami sudah membuat suasana cafe dan resto ini begitu ramai seperti pasar kaget. “ Ayo lanjutkan” “ Apanya?” “ Ya ceritanya lah.” “ Yang mana?” “ Iih… cekik orang dosa nggak sih?” Aku tertawa ngakak. Senang sekali bisa  menggodanya.  “ Apa? Penelitian itu? Waktu itu sa cuma diajak sama kakak tingkatku yang jadi asisten dosen. Ya udah ikut aja, lama-lama jatuh cinta.”             “ Sama kakak tingkat atau sama dosennya?” Aku melempar gulungan kertas tissue padanya.             “ Sama penelitian Tuan Besar.” Dia terkekeh.             “ Jadi kamu cuma anak bawang di sana?”             “ Ya gitu deh, anak bawang yang beruntung. Tapi aku juga kerja keras loh, meskipun kadang seperti kacung yang sering disuruh ini dan itu. Tapi aku dapat banyak pengalaman juga ilmu yang lebih banyak dari pada yang hanya mengikuti kuliah biasa. Relasi juga jadi lebih luas.”             “ Nggak capek apa?”             “ Ya capek lah. Tapi karena sejalan dengan perkuliahan, jadi anggap saja pendalaman dari materi kuliah. Hadiahnya juga lumayan, buat tambah jajan dan jalan-jalan.“             “ Masih sempat jalan-jalan?”             “ Sempatlah yang dekat-dekat aja. Masak belajar terus, sesekali refreshing dong. Itu juga jarang sekali. Ko sendiri bagaimana di Yogya?”             “ Biasa aja. Nggak ada yang istimewa. Semua berjalan normal. Kalau libur, hiburanku aku naik gunung. Seputar Jawa aja. Tahun ini rencananya mau naik Rinjani. “ “No pict is Hoax.” Aku mengejeknya. “ Nanti sa tunjukkan foto-fotonya. Semua ada di rumah. Sa kepengen kejar beasiswa ke German atau Perancis, Ga.” “ Keren tuh. Trus Wiwid gimana?” Alis matanya bertaut. “Kok Wiwid sih? Apa hubungannya?” Aku mencibir.           “ Kalian kan TTM. Teman tapi mesra, benci tapi cinta, ribut tapi rindu.” Ayik yang sedang menyeruput es jeruknya tersedak. Aku malah mentertawainya. Matanya melotot menatapku. “ Bukannya ditolong Ga…” “Halah ko nggak bakal mati juga kok. Heh, berarti yang sa ucapkan tadi benar kan?”  Ari menjitak kepalaku dan kami menjadi ribut lagi. Untunglah posisi kami di pelataran yang letaknya paling jauh sehingga keributan kami nggak sampai mengganggu yang lain. “Sa pun pertanyaan belum ko jawab ga. Trus kenapa akhirnya ko pulang?” Tanyanya setelah kami selesai dengan keributan. "Tadinya niat mau ambil semester pendek dan jeda waktu SP itu bisa dipakai untuk garap penelitian. Kami juga sudah dapat ijin pakai lab. Lalu aku dan temanku juga sudah buat jadwal kerja. Rencananya saat lebaran nanti aku ke Yogya karena rencana awal ayah, ibu, mas Edwin dan Mitha juga datang dari Biak. Nggak tahu kenapa ayah dan ibu suruh aku pulang segera. Dan kumpul keluarga di Yogya dibatalkan. “ Aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. " Akhirnya yah.... sa disuruh pulang. Mas Edwin juga ikut-ikutan baribut telpon terus suruh pulang ke Biak. Nah, setelah sampai di sini, aku baru tahu nih  kalau bulan depan keluarga bude, om bersama eyang putriku yang ada di Yogya dan Semarang juga akan datang ke sini setelah lebaran.", jelasku. " Kok tumben sih? Kan jarang banget tuh keluargamu ngumpul berlebaran di sini. Mengingat kampung halaman orangtua kamu kan di Yogya dan Semarang. Aneh.... " Ya...mungkin mau halal bi halal sekaligus rekreasi keluarga kali, Yik." " Hm... Biasanya nih Ga, kalau keluarga ngumpul begitu, ada tiga hal. Kalau nggak ada pernikahan, arisan keluarga, atau ada kematian", jelasnya. " Iiih....yang terakhir tuh menyeramkan. Naudzubillah min dzlik, Yik.. ", jawabku ketus sembari memukul lengannya. " Eh, ngomong-ngomong Wiwid kapan datang ya, Yik? " tanyaku. " Nanti malem", sahutnya singkat. " Wih... Asyik, Three musketeers kumpul lagi ", kataku bersemangat. " Mau ikutan jemput nggak?" " Hayo..tapi aku ijin sama ayah dulu ya." Hahay, My partners in crime sebentar lagi hadir lengkap. Membayangkan masa kecil kami bertiga dahulu yang penuh kenakalan dan masa remaja kami yang penuh petualangan seru membuatku senyum-senyum sendirian. Kami masih menghabiskan waktu mengobrol di kafe itu hingga tanpa terasa matahari naik hampir pada titik tertingginya.  "Ga, kamu dari mana aja. Pergi nganter adekmu sekolah ko lama sekali, mana hapemu tertinggal. Tuh di meja makan lagi," ibu menegurku. "Gimana Iga mau bisa cepat pulang Bu, kalau dicegat Ayik di tengah jalan trus ngobrol di cafe,"  jawabku. "Oh iya ya... Ibu lupa memberitahumu kalau Ari sudah pulang sejak seminggu yang lalu. Nggak capek to Nduk kok langsung keluyuran? Kamu kan habis perjalanan jauh. Mbok ya istirahat dulu lah" " Capek sih Bu, tapi hati Iga senang sekali. Kalau masalah istirahat sih, selama penerbangan enam jam kemarin, Iga puas tidur terus di pesawat. "  " Ya tapi kakimu kan tertekuk, tidurnya nggak enak. Nggak pulas." " Mungkin karena hati Iga gembira sekali akhirnya bisa pulang, jadi nggak rasa capek." "Ya sudah, kalau belum capek. Ayo sekarang bantuin ibu", lanjut ibu sembari berjalan ke arah dapur. Dan aku mengikuti di belakangnya.    ******                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD