Meidinda Rajingga
Aku berjalan cepat setelah mengunci sepeda motorku di area parkir, ketika berbelok ke selasar gedung mataku menumbuk bayangan sosok lelaki tinggi tegap yang berjalan berlawanan arah denganku. Dia adalah salah satu orang yang sangat aku hindari untuk bertemu hampir enam bulan terakhir ini. Siapa lagi kalau dosen muda pengganti pak Ardi. Ya, Alan Wibisono. Dia berjalan menatap lurus ke depan. Karena nggak enak hati dan takut dianggap tak punya sopan santun, maka aku mengangguk padanya ketika berpapasan dan mengucapkan salam. Tapi wajahnya datar dan tidak ada tanggapan. Seolah aku ini makhluk halus yang tak kasat mata. Suaraku tadi memang pelan, tapi aku pikir cukuplah untuk terdengar sampai telinganya, karena di selasar itu yang berpapasan hanya kami berdua dan belum ramai.
Sudah dua minggu ini aku memang tidak pernah melihatnya, meskipun hanya berpapasan di koridor. Rasanya nyaman sekali. Terus terang saja, aku merasa terintimidasi jika berada di dekatnya. Mungkin tadi adalah waktu apesku. Terakhir aku mengabari laporan penelitianku itu saat mengantar ayah ke stasiun Bandung. Ketika itu dia menanyakan tentang ayah dan tempat asalku Karena kesibukanku yang padat, aku lupa kalau harus mengabarinya sehari dua kali. Aturan yang aneh. Aku bersyukur sudah diberi lupa kemarin.
Tak berselang lama dari itu tak sengaja badanku berbalik, aku melihatnya tertawa bersama Prof. Farida dan Bu Wina. Nah, itu bisa juga dia tersenyum dan tertawa. Mengapa hal itu susah sekali dilakukan pada mahasiswanya? Aku menarik nafas dan beristighfar dalam hati. Nggak mau mengotori pikiran dan merusak suasana hati, aku mencoba mengabaikannya.
Ternyata lift hari itu masih dalam perbaikan, maka dengan terengah-engah menaiki tangga akhirnya sampai juga di lantai tiga. Segera kuberlari memasuki laboratorium analisis instrumen untuk mengikuti praktikum. Kalau melihat jadwal sih praktikum mulai berlangsung masih dua puluh lima menit lagi. Namun sekitar sepuluh menit sebelumnya biasa diadakan pre tes. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk menghadapinya. Bang Thamrin berjalan mendekatiku.
" Aku pinjam catatanmu dong, Ga!"
" Sebentar." Aku menyerahkan buku catatanku padanya. Dia membolak balik buku catatanku dan membacanya dengan cermat.
" Eh Ga, maksud dari diagram ini apa ya? Coba sih kamu jelaskan!"
"Yang mana? Ooh yang ini ya Bang?"
Selama beberapa menit aku sibuk berdiskusi dengan Bang Thamrin, Luki, Annisa dan Ririn yang barusan datang. Luki melontarkan canda dan membuat kami tertawa. Lumayanlah bisa jadi pengurai ketegangan sebelum pre tes dan praktikum.
"Assalamu'alaikum Pak"
" Wa alaikum salam warrohmah"
" Selamat pagi, Pak."
" Pagi..."
Aku menoleh dan melihat dosen muda itu berjalan melewati kami. Semua salam dan ucapan selamat dijawabnya walau tanpa senyuman. Eh, kok dijawab ya? Lha aku tadi dicuekin aja. Berupaya menenangkan hati dan mengendalikan pikiran agar selalu positif, aku mengikuti langkah kaki teman-temanku memasuki laboratorium.
Mas Budi, asisten laboratorium membagi kami dalam beberapa kelompok untuk wawancara pre tes. Tapi, lho kok aku digiring menuju pak Alan? Bukankah dia penguasa lab mikro ya? Lho kok ada di sini? Penguasa lab. ini bukannya pak Andi dan bu Aina ya. Namun hanya ada bu Aina, pak Andi kemana ya? Lha kan biasanya kalau pak Andi nggak ada, masih ada mas Budi dan Teh Titin sebagai asisten yang menggantikan, Lha kok ini malah pak Alan? Beragam pertanyaan muncul di benak membuatku celingukan dan tertinggal agak jauh dari kelompokku, hingga gelombang suara teguran sampai ke gendang telingaku dengan keras .
" Iya kamu yang celingukan, ke sini!" Suara tegas itu membuatku tersentak dan menatap ke depan, berjalan cepat menyusul kelompokku. Sialan, dia kan tahu namaku. Kenapa nggak mau panggil langsung namaku saja sih? Ah, dasar dosen rese.
" Kamu kan tahu jam berapa biasanya kita pre tes? Ini sudah terlambat, masih celingak-celinguk saja seperti anak ayam kehilangan induknya. Apa sih yang kamu cari?" Pak Alan menatapku dengan tajam, sementara hatiku mendadak protes. Perasaan dua minggu yang lalu dia baik-baik saja deh, dia sudah jinak. Kenapa sekarang jadi murka begini ya? Apa karena aku lupa mengabarinya melalui WA ya. Meskipun demikian, aku tetap melaporkan perkembangan penelitianku padanya lewat email. Masak sih tidak dibaca? Kok jadi jengkel ya aku? Iih...benar-benar dosen naga, asem benar kelakuannya seperti belimbing wuluh.
"Eh, kok Bapak ada di sini? Bukannya pak Andi yang biasa menemani kami praktikum ya? memangnya Pak Andi kemana ya Pak?" Dia masih menatapku tajam. Aku melihatnya mengeraskan rahang, seperti menaham geram. Aku menunduk dan berkata pelan.
"Maaf Pak, saya hanya bertanya. Sama sekali tidak ada maksud apa-apa. Permisi" Aku bersiap-siap kabur dari hadapannya ketika suaranya menghentikanku.
" Kamu kecewa? Asal kamu tahu saya dimintai tolong untuk memberikan pre tes sementara pak Andi masih ada urusan dan kemungkinan akan datang terlambat." Aku hanya diam dan tetap menunduk.
" Tolong ya yang lain, kalian kan sudah biasa praktikum di laboratorium ini. Jadi kalau sudah waktunya pre tes ya langsung saja datang, nggak usah pakai celingukan segala- Fokus sama materi yang akan kita uji dan praktekan!"
"Siap pak."
Kulirik arloji di tangan kiriku, hampir setengah enam sore. Akhirnya aku bisa bernafas lega hari ini. Setelah melipat jas lab dan memasukkannya ke dalam tas, aku melangkah ke ruang persiapan untuk pamit pada asisten dan dosen yang masih ada di sana. Pak Andi, pak Alan, bu Aina, dan Mas Budi masih terlihat berdiskusi. Mas Budi, pak Andi menyapaku ramah, bahkan bu Aina dan mas Budi masih sempat mengajakku bercanda. Aku meladeninya dengan senang hati. Namun pada pak Alan, aku hanya menganggukkan kepala saja. Takut salah sikap, nanti bisa berakibat fatal.
Aku heran dengan sikapnya yang banyak di lab. instrumen hari ini, ketimbang lab. mikro yang biasa menjadi tempat mangkalnya. Tadinya aku dan teman-temanku mengira kalau pak Andi sudah datang maka pak Alan akan menyingkir ke tempatnya semula. Namun hal itu tidak terjadi. Dia hanya keluar sebentar lalu balik kembali. Ah, mungkin dia terlibat penelitian dengan bu Aina dan pak Andi. Aku malas berpikir yang ruwet, karena hidupku saja sudah cukup berat.
******
Suara dering ponsel menghentikan langkahku. Tanganku merogoh dan mengambilnya. Ayah meneleponku.
"Assalamu 'alaikum Yah."
"Wa'alaikum salam."
" Kamu masih di kampus Ga?"
"Iya Yah. Ada apa?"
" Bukannya di sana sudah maghrib ya? Kok masih di kampus?"
" Baru selesai praktikum. Ini baru sampai di parkiran mau ambil motor dan pulang ke kosan."
" Ya udah hati-hati di jalan. Kamu libur semster kapan Nduk?"
" Bulan depan Yah. Ada apa?"
" Pulang ya Nduk. Tadi ayah sudah transfer uang untuk tiketmu pulang. Besuk segera urus tiketmu."
" Lho, Iga kan sudah pamit sama ayah dan ibu nggak bisa pulang tahun ini karena ngejar semester pendek. Biar cepat selesai kuliahnya."
" Iya, apa kamu nggak kangen to Nduk sama ayah, ibu, mas dan adekmu?"
" Ya kangen sih, tapi kan ayah ibu sering ke Jawa, pulang ke Yogya dan Semarang. Rencananya kan ayah, ibu, Mitha dan mas Erwin mau ke Yogya. Lebaran ini kita kumpul di rumah Eyang. Nggak jadi to?"
" Rencananya berubah Nduk. Eyang, pakde, bude, om dan tantemu mau berlibur ke Biak. jadi ayah dan ibu memutuskan nggak jadi pulang ke Jawa. Kamu saja yang pulang ya."
"Ya...ayah, Iga sudah kan hampir daftar es pe (semester pendek). "
" Masih hampir kan? Batalkan dulu saja ya. Kapan lagi kita kumpul keluarga di sini. Paman dan Bibi di Semarang juga mau datang lho."
" Kok tumben sih Yah?"
" Makanya kamu pulang ya nduk?"
" Ya deh. Besuk Iga urus tiketnya."
" Nah gitu dong. Itu baru namanya anak ayah. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Ayah mau ada pengajian dan rapat di masjid. Assalamu'alaikum."
" Wa alaikum salam wa rohmah."
Ketika kubelokkan sepeda motorku keluar dari area parkir gedung fakultasku, nampak mobil range rover hitam mengikutiku. Aku hafal siapa pemiliknya, siapa lagi kalau bukan si belimbing asyem. Aku memelankan laju kendaraanku bermaksud memberi kesempatan padanya untuk menyalip, tapi tampaknya dia tidak ingin mendahuluiku. Ya sudahlah, terserah dia saja- Yang penting aku tidak dirugikan. Memang aneh orang itu.
Aku menyempatkan mampir ke pasar swalayan dan menunaikan shalat maghrib di mushalahnya. Ketika aku menunduk dan hendak memakai sepatu, seseorang yang berdiri tepat di depanku mulai menyapa.
“ Kamu belum pulang Mei? Kenapa masih ada di sini?” Awalnya hanya melihat sepasang sepatu dan celana panjang biru dongker lalu ketika pandanganku mengarah ke atas, raut wajah tampak jelas di hadapanku.
“ Eh, iya...Saya mau belanja dulu ke pasar swalayan, kebetulan besuk ada acara Pak.”
“Oohh....” Wajah pak Alan tetap datar, lempeng.
“ Kok Bapak juga masih di sini?”
“ Ya... saya mau berbelanja juga. Karena tujuan kita sama, ayo kita ke sana.” Aku tersenyum kecut, dan mengangguk mengikuti langkahnya. Ya Alloh, kok apes ya hari ini ketemu dia terus. Bisikku dalam hati.
“ Hem...permisi Pak, saya ijin mau ke sana dulu.” Aku mengangguk lalu berbalik meninggalkannya.
“Ooh kebetulan, saya juga mau ke sana.” Keningku berkerut heran, namun kuteruskan langkahku mendorong troli menyusuri lorong-lorong pasar swalayan . Kok aneh ya orang ini. Kelihatannya dia sentimen seharian tadi di kampus, lalu mengapa sekarang seperti menguntitku? Dosaku apa ya Alloh, kok seharian bertemu terus dengan orang gak jelas begini?
Aku berupaya tidak memedulikannya; mengeluarkan kertas daftar belanjaan yang sudah kucatat dari dalam tas, dan sibuk mencari barang sesuai daftar.
“ Untuk seukuran anak kos, apa belanjaanmu itu tidak terlalu banyak, Mei?” Aku menoleh ke samping, kulirik keranjang belanjaan yang digenggamannya masih kosong.
“ Kita sudah berjalan berkeliling sejauh ini dan saya sudah mendapatkan banyak barang, kenapa bapak belum dapatkan barang satu pun?” Aku melihatnya tekejut lalu tersenyum tipis. Wajahnya yang ganteng itu terlihat manis dan lebih manusiawi kalau tersenyum begitu. Sering-sering dong Pak tersenyum. Senyummu terhadap saudaramu itu sama dengan sedekah. Gumamku dalam hati.
‘Eh..ini saya sudah dapat barangnya.” Dia tiba-tiba mengambil barang yang ada di kiri dan kananku. Aku sampai bingung menghindar ketika dia menyorongkan tubuhnya hampir menabrakku. kuhela nafasku lega ketika aksi serangannya berakhir. Aku mengernyitkan keningku memandangnya, kemudaian berbalik dan melanjutkan mendorong troli berpindah ke lorong berikutnya. Pak Alan mensejajari langkahku, aku pura-pura tidak menyadarinya.
" Kamu nampaknya sedang mempersiapkan acara ulang tahun ya?"
" Kok tahu?" Tanyaku tanpa menoleh padanya.
" Itu tadi kamu mengambil lilin dan topi ulang tahun. Kok lilinnya banyak sekali? Apa orang yang mau dirayakan ulang tahun sudah tua ya?" Aku cuma mengedikkan bahu tanpa suara lalu meneruskan mendorong troli berpindah ke lorong. Dia terus mengikuti langkahku, dan aku tetap tidak mempedulikannya.
" Kelihatannya orang yang ulang tahun ini sangat spesial buat kamu ya Mei? " Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Ingin rasanya melotot sambil mengomelinya dan bilang : 'Sok tahu deh, bukan urusanmu Pak!' Tapi nggak mungkin kan? Akhirnya aku memandangnya miris dan memasang senyum lalu berkata :
" Ada deehh... mau tahu aja atau mau tahu banget?" Pak Alan tercenung sesaat, namun sebelum tersadar aku segera meninggalkannya menuju kasir. Daftar belanjaanku sudah lengkap memenuhi troli.
Dia berusaha mengejarku, namun aku sampai duluan di kasir dan berupaya sejauh mungkin dengannya. Akhirnya kami selisih tiga orang saat mengantri membayar. Kuatur strategi agar bisa lepas dari pantauannya dan dia kesulitan mengejar.
" Saya duluan Pak," ucapku sambil mengangguk lalu berjalan cepat setelah menyelesaikan pembayaran di kasir. Aku nggak bisa mengenali tatapannya yang aneh ketika aku pamit. Hanya kalimat ; "Mei, tunggu...!" yang sempat terdengar di telingaku.
Melajukan sepeda motor kembali ke jalan raya, hatiku disisipi rasa merdeka yang menggembirakan. Akhirnya, bisa juga aku mengerjai si belimbing asem itu. He...he..
******
Hari ini memang jadwalku untuk mengunjungi panti melati. Jam tujuh pagi aku sudah sampai di sana. Seperti biasa aku membawa beberapa kudapan dan kue taart. Hari ini Yoga dan Yuna berulang tahun dan aku membuat tiga buah black forest kecil untuk si Kembar juga Argi yang juga berulang tahun hari itu. Kue itu kuhias cantik dan kuberi boneka-boneka kecil kesukaan mereka. Mira dan Ririn membantu menghias tiga black forrest itu dan beberapa kue muffin. Setiap kue muffin kami beri satu lilin kecil. Sehingga tidak ada kecemburuan di antara mereka. Setiap anak bisa berdoa dan mengungkapkan harapannya sebelum meniup lilin.
Anggota geng ku komplit semua. Kami membuat pesta ulang tahun yang sederhana itu benar-benar meriah dan berkesan. Dion dan Luki bermain gitar sedangkan aku bermain biola. Bang Thamrin dan Mira bernyanyi. Ririn dan Annisa masih sibuk mengurusi konsumsi. Semua bersenang-senang dan aku benar-benar gembira. Hingga akhirnya ponselku berdering, ketika aku akan mengangkatnya sambungan telepon itu terputus. Notifikasi WA ku berbunyi beberapa kali. Aku membukanya dan seketika aura gelap menyelimutiku. Si belimbing asyem itu mengirimkan perintah untuk segera menghadap di ruangannya segera. Jam sepuluh pagi ini, yang artinya tiga puluh menit dari sekarang.
Dengan perasan kesal, aku pamit pada teman-temanku untuk segera kembali ke kampus. RefleksKutunjukkan pesan dari pak Alan pada mereka. Aku menerima tatapan kasihan padaku setelahnya.
"Sabar Ga, semua indah pada waktunya," ujar Dion dengan tatapan prihatin.
" Nggak mungkin kan kuliah lurus-lurus dan mulus terus, nggak seru untuk diceritakan pada anak cucu nantinya," ucap Bang Thamrin.
" Semangat Ga, banyak-banyak baca shalawat." Annisa memberiku dukungan.
" Di jalan banyakin dzikir Ga, semoga Alloh melembutkan hati pak Alan." Ririn menepuk bahuku.
" Aamiinn," jawabku.
Begitu pintu lift terbuka, aku langsung berlari menuju ruangannya. Nafas kuatur hingga nyaris normal sebelum mengetuk pintu.
"Masuk" Jantungku berdegup kencang. Cemas menghinggapi benakku. Aku kuatkan tekadku untuk membuka pintu.
"Assalamu 'alaikum Pak."
" Wa 'alaikum salam" Pak Alan mendongak, lalu melihat jamnya.
" Kamu terlambat satu menit tujuh belas detik!" Refleks aku melihat arloji di pergelangan tanganku : 09.48. Terlambat bagaimana? Jam sepuluh masih kurang dua menit lagi. Tapi ya sudah lah, aku malas berdebat, nggak akan menang juga. Gelagatnya sih dia bakal sibuk mengomel dan menyalahkan sepanjang pertemuan ini nih. Aku berdoa semoga Tuhan menguatkan hatiku untuk menghadapinya.
Benar saja, dia sibuk mengomel dan menyindirku selama lima belas menit. Setelah puas, kami baru mulai berdiskusi tentang penelitianku. Dia sudah menurunkan nada suaranya, dan kembali layaknya profesional. Lama kami berdiskusi lalu pintu diketuk dari luar.
" Masuk!"
"Assalamu 'alaikum Pak."
" Wa 'alaikum salam" Kami menjawab bersama.
" Maaf Pak, saya terlambat."
" Kamu terlambat empat puluh lima menit, Winda. Ya sudah, duduk saja! “ Matanya mengikuti gerakan Teh Winda dengan sabar hingga dia duduk dengan baik.
“Mana grafik yang saya suruh kamu buat kemarin?" Aku terperangah melihat Teh Winda mulai membuka tasnya dan mengajukan beberapa kertas ke depan pak Ana.
“ Saya nggak suka jam karet, Winda. Kamu tahu itu. Jadi besuk kalau janjian dengan saya lagi, jangan seperti hari ini ya.”
“Siap Pak.” Jawab Teh Winda singkat. Aku bisa melihat kelegaan dari wajahnya yang selamat daru amukan pak Alan.
Eh, ini gak salah nih? Telat empat puluh lima menit nggak diomelin dan disindir? Nggak marah? Lha, aku tadi telat satu menit tujuh belas detik, ngomelnya sepanjang lima belas menit. Aku mengamati pak Alan yang sedang berbicara dengan Teh Winda. Lelaki di depanku ini tinggi dan tampan, badannya mantap dengan d**a yang bidang. Kalau soal fisik dia memang oke lah, nggak kalah sama model dan artis sinetron. Masalah intelegensia juga sudah tidak diragukan lagi, kecakapan dan keilmuannya tinggi. Tetapi kelakuan, ampun deh. Ini tidak adil, aku tidak terima. Bukankah salah satu kecakapan kepribadian dosen itu harus mampu bersikap adil dan bijaksana pada seluruh mahasiswanya? Nama aja boleh Wibisana, artinya kebijaksanaan, tapi kelakuan jauh dari harapan. Padahal orang tuanya sudah menabur harapan dan mendoakan yang baik untuk dirinya lho. Fix sudah ─ Aku benci dia!
*********