Alan Wibisana
Setelah pertemuan dengan keluarga pak Suryono di Yogya dan kesepakatan dua keluarga besar perihal perjodohan kami yang aku setujui, aku mulai mencari informasi tentang Iga atau Jingga. Ya, calon istriku itu tak lain adalah Meidinda, salah satu mahasiswi di kampusku. Menurut pak Suryono, ada kemungkinan anak perempuannya itu akan menolak karena wataknya yang keras kepala. Kesepakatan untuk merahasiakan perjodohan ini pun akhirnya dibuat. Aku diamanahi ayahnya untuk menjaganya saat di Bandung.
Dari informasi tante Nirmala, adik ipar pak Suryono aku tahu kalau Meidinda atau Iga kerap tampil di resto dan cafe milik orang tua Mira, sahabatnya. Setiap akhir minggu aku selalu hadir di sana dan menyamar menjadi pengunjung biasa. Aku membuntuti sepeda motornya dari belakang ketika dia pulang setelah manggung hingga masuk ke halaman rumah kosnya. Begitu pula dengan kegiatan di kampus. Jadwal kuliah, praktikumnya bahkan kegiatan penelitian pun aku pantau dengan cermat. Saat dia bekerja di lab sampai malam pun aku berusaha mencari alasan untuk dekat juga menungguinya. Tetap berusaha mengikuti sepeda motornya dari belakang ketika pulang hingga dirasa aman sampai ke tempat kosnya. Kalau aku berhalangan maka pak Pardi atau Ali yang menggantikan tugasku memantaunya dengan senang hati.
Aku tahu kalau Meidinda mulai curiga dan kelihatan selalu menghindar. Dia sudah tak pernah mengirim laporan lewat chat WA dengan alasan lupa karena kesibukan. Dia juga memilih jalan memutar jika sudah melihatku dari jauh. Itu membuatku semakin gemas. Aku sempat mencuri dengar obrolannya di kantin saat Meidinda bersama teman-temannya tentang kepulangannya saat liburan nanti. Dia tidak tahu kalau aku dan keluargaku yang menjadi alasan kepulangannya.
Sebenarnya ada sebuah program pengabdian dokter ahli di pulau itu selama dua bulan lebih dan aku telah memutuskan untuk mengisinya lalu mengajukan cuti. Papua dan pulau karang kecil itu bukan tempat yang asing bagiku. Kami sempat menikmati liburan ke pulau kecil tempat tinggal Meidinda dan keluarganya. Jadi aku sudah cukup faham kondisi di sana. Mungkin dengan mendaftar program ini, aku bisa lebih dekat dengannya juga keluarganya.
" Aku dengar kamu ikutan program pengabdian dosen itu, Lan ?" Andi muncul di labku.
“ Iya, ada apa Ndi ?"
" Ambil dimana rencananya ?"
" Di Biak, Papua."
" Biak itu pulau karang ya? Aku lihat videonya sepertinya punya pemandangan yang indah?"
" Yup, betul sekali."
" Kok jauh sih, nggak ambil yang dekat-dekat saja."
" Yang dekat terlalu mainstream, aku pengen yang jauh, tempat yang tenang dan sepi. Kerja rasa berlibur, he..he..he.."
" Eh, ada lho mahasiswi kita asal sana," Eko temanku yang juga dosen muda menimpali.
" Oh ya ?"Aku pura-pura antusias.
" Iya, dia dulu ambil kelas aku di anfis (anatomi fisiologi). Namanya Meidinda Rajingga, anaknya cantik dan pintar."
" Ooh...." Ucapku pura-pura tidak tahu, padahal mereka tidak tahu kalau data Meidinda sudah lengkap berkasnya di tanganku.
" Anaknya baik dan pintar. Sosok istri impian. Sayang dia terlalu judes dan dingin. " Seru Eko.
" Ha...ha...ha.. kamunya aja yang terlalu agresif, Ko. Coba lihat caraku mendekati dia pelan tapi pasti, sangat elegan. Anaknya memang lempeng banget sih, susah didekati sekaligus bikin penasaran. "
" Lho bukannya Meidinda itu sedang didekati pak Yudi ya? Kemarin istrinya tanya sama aku yang mana yang namanya Meidi. Bu Ana juga sempat cerita kalau prof. Farida juga sedang dekati Meidinda lho." Febri teman dosen lain menimpali.
" Ah masa... Pak Yudi nyari istri kedua, trus Bu Farida untuk apa ? Dijadikan madunya begitu?", Tanyaku heran. Pertanyaan ku disambut riuh tawa sesama dosen dalam ruangan. Tapi jauh di dalam dadaku terasa panas.
" Ya nggak lah pak Alan. Bu Farida dan pak Yudi sedang berlomba menjadikan Meidinda menantu untuk anak bujangnya. Anak pak Yadi lulusan STAN bea cukai dan anaknya Bu Farida yang kerja di oil company baru pulang ambil master d USA. "
" Ooh... Begitu yah ?" Aku tersenyum miris. Ternyata sainganku banyak sekali. Meidinda, anak itu memiliki sejuta pesona bagaikan magnet yang menarik orang di sekitarnya. Padahal sosoknya sangat bersahaja, tapi rupanya itulah daya tariknya. Ah, semakin tersulut semangatku untuk mendapatkannya. Harus gerak cepat, dan susun strategi jitu yang efektif kalau begini. Aku nggak mau keduluan ditikung yang lain.
Sudah tiga hari sudah berada di pulau karang ini. Aku tinggal bersama kerabat Meidinda yang kebetulan memiliki hotel melati dan rumah makan di tepi laut. Tampaknya aku harus mulai mengikuti orang-orang di kota ini yang selalu memanggilnya Iga. Aku sampai di bandara dijemput oleh Edwin, kakak Meidinda. Sejak pertemuan keluarga di Yogya waktu itu, aku makin akrab dengan pak Suryono dan putra sulungnya Edwin. Mengobrol dengan Edwin sangat asyik hingga tidak terasa kami sudah menghabiskan waktu berjam-jam. Banyak hal yang membuat obrolan kami terasa nyambung. Mungkin karena profesi kami yang sama juga hobi kami yang suka bola.
Meidinda sama sekali tidak mengetahui kedatanganku ke kota kelahirannya. Keluarganya memang belum memberitahu tentang perjodohan ini karena khawatir dia akan menolak. Beberapa kali Meidinda menceritakan pada keluarganya tentang sikapku yang seolah memusuhinya. Padahal murni aku lakukan itu karena cemburu karena banyak pria yang mendekatinya di kampus saat itu. Aku telah berbicara jujur dan mengkonfirmasi pada ayahnya dan Edwin. Untung mereka cepat paham dan hanya menanggapi dengan santai dan penuh canda. Semua ini membuatku lega.
Aku datang karena memang melaksanakan tugas pengabdian bersama dua orang temanku yang berangkat bersama, tapi hanya aku yang punya misi khusus menaklukan salah satu primadona pulau karang ini. Aku juga menghubungi Marco, salah seorang kenalanku.
Semua yang dilakukan Iga selama kepulangannya liburan ini sepenuhnya kudapatkan informasi yang lengkap dari pak Suryono dan Edwin, bahkan sahabatnya Marco. Pertemuanku dengan Marco tidak sengaja saat kepulanganku dari sebuah simposium di Perancis enam bulan yang lalu. Marco duduk di sebelahku dalam sebuah penerbangan pulang kembali ke Jakarta.
Dia taruna Akademi Angkatan Laut yang selesai melakukan tugas lawatan mewakili institusinya. Kami ngobrol cukup akrab saat itu, dia banyak bercerita tentang asal daerahnya di pulau karang ini. Obrolan kami cukup nyambung karena aku pernah tiga kali berlibur ke pulau ini saat masih bersekolah di ibukota propinsi Papua (dulu Irian Jaya). Aku pernah menyempatkan menemuinya saat seminar di Surabaya sebulan yang lalu untuk bertanya tentang Meidinda. Saat Marco ada acara dinas ke Jakarta, dia berusaha mengontakku dan kami sempat jajian untuk bertemu. Aku benar-benar menggali informasi tentang Meidinda dari kaca mata sahabatnya.
Aku sudah mengontak Marco saat rencana pengabdian selama beberapa bulan di Biak. Dan mujurnya bersamaan dengan jadwal cuti Marco yang pulang kampung. Marco segera menemuiku di losmen dan kami sempat mengunjungi air terjun Carmen, menerobos hutan untuk melihat danau eksotis dan bermain di pantai selama dua hari. Ini semacam recharge energy sebelu bertugas. Marco banyak menjelaskan budaya dan tradisi di pulau ini dan benar-benar membuatku jatuh hati pada alam dan budayanya. Tidak hanya aku, tapi kedua temanku juga.
Dari Marco aku mengetahui rencana kegiatan yang akan dilakukan bersama teman-temannya termasuk Meidinda dan kami ingin ikut serta. Lalu kubiarkan Marco mengatur rencana. Semua urusanku menyangkut Meidinda sudah kuutarakan padanya dan bersyukur dia mau membantuku. Aku berpesan padanya untuk pura-pura tidak tahu tentang aku dan kedatanganku di kota ini, dan marco menyetujuinya. Ya, Marco adalah mata keduaku mengamati dan menjaga Meidinda.
" Jadi Bang Alan serius mau melamar Iga?"
" Iya Marc. "
" Pak Suryono sudah tahu belum Bang?"
"Alhamdulillah sudah. Minggu depan adalah hari yang menjadi kesepakatan kedua keluarga pada pertemuan sebelumnya."
"Pertemuan sebelumnya?"
" Ya. Sebenarnya keluarga kami sudah pernah bertemu dengan keluarga besar dari pihak pak Suryono di Yogya untuk menyampaikan niat baik ini dan mereka menyetujuinya. "
"Ooh..." Perasaanku saja atau mataku yang salah melihat kalau raut wajah Marco berubah ya. Mungkinkah dia juga menyimpan perasaan yang sama pada Meidinda? Aku berusaha berpikir positif dan menyampingkan pikiran itu.
" Jadi pihak keluarga Iga sudah menyetujui dan merencanakan ini semua?" Tanya Marco ragu dan aku pun mengangguk mantap.
" Yang aku tidak tahu itu, apakah keluarga Meidinda sudah mengatakan hal ini langsung padanya. Jika kami terikat perjodohan yang dibuat oleh kakek-kakek kami jauh sebelum kami lahir."
" Maksudnya Bang Alan?" Aku tersenyum melihat Marco yang sangat terkejut dengan kalimat terakhirku. Aku menarik nafas panjang dan pelan-pelan aku menjelaskannya.
"Abang nggak menolak sama sekali perjodohan itu?" aku menarik nafas panjang.
" Awalnya saya menolak, Marco. Namun Mamahku stress dan jatuh sakit. Sebelumnya dia sudah mengidap komplikasi jantung dan ginjal. Melihat mamahku tak berdaya seperti itu, maka aku terpaksa menuruti apapun keinginannya termasuk perjodohan ini. Saat itu stress namun tak berdaya. Akhirnya aku pasrah menerimanya.
Awalnya berat sekali, karena pada saat yang sama aku sedang jatuh cinta pada salah satu mahasiswi di kampus namanya Meidinda Jingga Hapsari yang jadi sahabatmu, Marc." Kami terdiam beberapa lama. Marco menatapku lekat, pandangannya seolah menyelidik.
" Apa saat itu Abang nggak tahu kalau perempuan yang dijodohkan dengan Abang itu adalah Iga?"
" Tidak sama sekali. Saat itu aku menghindar dan tidak ingin tahu semua informasi tentang perjodohan. Aku hanya tahu ayahnya bernama Suryono, kakeknya bernama Pudji Rahardjo, dan perempuan yang dijodohkan denganku itu bernama Iga. Mana aku tahu kalau Meidinda dan Iga adalah orang yang sama.
Lalu dalam perjalanan menuju Yogya, Meidinda menghubungiku kalau dia baru saja mengantar ayahnya yang ada di Papua. Lalu aku bertanya tentang asal dan nama ayahnya. Dari sana aku baru sadar kalau Meidinda yang dijodohkan padaku. “ Aku terdiam sesaat. Marco masih mengawasiku.
“Kamu ingat aku pernah chat kamu tentang sahabat kamu yang menjadi mahasiswiku kan, Marc? "
" Iya"
"Nah itu untuk memperkuat dugaan kalau Iga adalah Meidinda."
" Oalah Bang...kalau kata wong Suroboyo iku ceritane sampean iku mbulet ae...(ruwet)." Marco menirukan dialek suroboyo-an dan tertawa ngakak. Aku pun ikut tertawa.
" Ora popo mbulet, sing penting dadi to?" (nggak papa ruwet, yang penting jadi kan) marco tertawa kembali.
“ Aku ra ngiro awakmu pinter boso Jowo tiba e.” (Aku nggak mengira ternyata kamu bisa bahasa Jawa)
“ Telung taun urip nang Suroboyo Bang. Kebangetan yen ra ngerti boso Suroboyo-an.” Aku kagum dengan kecepatan adaptasi Marco. Kami berbincang banyak hal setelah itu. Tampaknya Marco juga sedang membuat penilaian padaku.
" Oke, terus sekarang maunya abang apa sekarang? Lalu apa yang bisa aku bantu?"
Seperti yang disarankan Marco dan kulakukan di Bandung dahulu setiap malam sabtu dan malam minggu menonton konsernya. Baru sekali aku mengajak pertunjukan musik Meidinda, kedua kolegaku menaruh apresiasi tinggi terhadap permainan musik mereka. Mulai saat itu aku selalu menyiapkan bunga dan khusus memberikannya untuk Meidinda di akhir pertunjukan. Bukan hal mudah untuk mendatangkan bunga-bunga itu untuknya. Tidak ada yang menjual bunga segar di Biak. Aku rela membayar mahal untuk itu dan harus bekerja sama dengan kru pesawat dan beberapa orang maskapai penerbangan. Aku ingin dia merasakan perhatianku. Kedua teman sejawatku dalam pengabdian ini hanya bisa geleng-geleng kepala saat kuutarakan niat dan misi khusus itu.
*****