Meidinda Rajingga
Selama beberapa hari ini aku memang menjadi bulan-bulanan bahan ledekan teman-teman, adik dan kakakku perihal buket bunga yang selalu hadir setiap hari di rumah dan di resto Alex setelah kami manggung untuk pendanaan bakti sosial sekolah di pedalaman. Aku juga heran siapa pengirim rahasia yang iseng? Tidak ada nama pengirim atau pesan yang menyertai buket itu. Hanya saja kurirnya selalu mengatakan dengan jelas kalau untuk Iga dari seorang pria.
Aku hanya diam dan berusaha tidak mempedulikan gurauaan mereka. Untuk apa? Toh aku tidak minta dikirimi bunga. Paling buntutnya setelah meledekku juga mereka akan rebutan minta bunganya. Contohnya hari ini, ketika selesai membereskan tempat dan barang dagangan di halaman parkir toserba milik keluarga Memey datang anak lelaki yang sepertinya masih SMP- seusia Mitha adikku.
“ Permisi. Maaf mengganggu, ada kaka disini yang punya nama Iga ka?” Seketika aku menoleh pada anak itu.
“Oh saya Ade. Ada pa ka?”
“ Oh...begini Kaka Iga, saya disuruh mengantarkan ini untuk Kaka.” Ucapnya sambil mengulurkan tiga tangkai mawar merah yang sejak tadi di simpan di balik punggungnya. Aku terkejut tapi memutuskan menerimanya.
“ Terima kasih Ade, tapi siapa yang suruh ko kah? Mungkin Kaka boleh tahu da pun (punya) nama?”
“ Adooh maaf Kaka Iga, sa juga tra tau de pun nama eh. Cuma da bilang buat perempuan cantik yang layak.” Anak itu menggaruk kepalanya sembari nyengir. Aku geli melihatnya.
“Layak apa?”
“ Mungkin layak dapat bunga karena kaka cantik seperti bunga mawar itu.” Adik kecil itu tersipu malu. Tentu saja Shinta, Wiwid, Memey dan Ayu tertawa ngakak. Aku tersenyum masam.
“ Aih..ko tuh bicara sembarang lagi,” ucapku.
“Jii...benar to Kak Iga memang cantik.”
“ Aduh ade, ko masih kecil tapi su pintar merayu cewek eh...,” timpal Wiwid.
“Ah, sa tra merayu mo, sa cuma bilang yang sebenarnya saja. (Saya tidak merayu kok, saya Cuma mengatakan yang sebenarnya saja).” Kami tertawa bersama.
“ Sudah eh Kaka, sa permisi dulu.”
“ Oh ya sudah, makasih ya Ade.”
“ Sama-sama kaka cantik.” Anak itu langsung berlari sambil tertawa. Aku menggelengkan kepala, teman-temanku mulai melancarkan ledekan.
“ Sudah ... sudah, siapa yang mau nih?“
“ Kalau ko nggak mau, sini bunganya buat sa aja deh.” Ayu mulai menyeletuk.
“ Bukannya kamu sudah dapat kemarin Yu. Gantian dong buatku.,” timpal Shinta.
“ Eh, aku juga mau dong,” ujar Memey.
“ Ya sudah, ini kan ada tiga tangkai ya sudah kalian bagi rata lah, tra pake ribut,” ucapku menengahi. Aku segera berlalu kemudian menumpuk barang pada jok belakang sepedaku. Rosa membantun mengikatnya dengan tali dari bagian dalam ban.
Gawaiku berdering. Aku mengambil tas dan menrogoh untuk mengeluarkannya lalu menekan tombol hijau. Kujepitkan dengan kepala yang dimiringkan pada bahu. Kedua tanganku masih membuat simpul akhir pada jok sepeda motorku.
“Assalamu’alaikum Bu.”
“ Wa ‘alaikum salam. Ga kamu dimana?”
“ Baru selesai jualan Bu di depan toserbanya Memey. Ada apa?”
“Dagangannya bagaimana?”
“Alhamdulillah laris manis, Bu.”
“ Sekarang udah selesai kan? Cepat pulang ya Nduk. Ibu repot ini, buat kue masih belum selesai. Nanti jam empat habis ashar kita kedatangan banyak tamu. Hayo ndang muleh Nduk (Ayo cepat pulang, Nak) !”
“ Iya Bu, sebentar lagi Iga pulang.”
Aku menekan tombol merah untuk menghentikan sambungan. Baru saja memeriksa ikatan beberapa tempat kue yang tersusun di jok belakang sepedaku, Wiwid kembali untuk bertanya.
“ Ibu yang tadi nelpon Ga?” Tanya Wiwid.
“Iya Wid, disuruh cepat pulang bantuin bikin kue. Katanya habis Ashar nanti akan banyak tamu yang datang.”
“Ada arisan ibu-ibu ka di rumahmu?”
“Nggak tahu juga Shin, acara apa. ”
“ Waktunya kok mepet banget, ini saja sudah jam dua belas. Ko cepat pulang sudah, kasihan ibu tuh. Nanti sa bantu setelah sholat dzuhur.”
“ Iya..iya... ini juga mau pulang. Sabar Wid!”
“ Ne, tempo sudah, coba gercep ka “ (Cepatlah jangan lelet). Ayu menimpali sembari menumpuk kursi .
‘ Iyo, nanti torang (kami) bantu. Ko jan takut (jangan khawatir).”
“ Oke, makasih ya Mey. Sa pergi dulu eh.” Aku langsung membawa tempat kue dan mengaturnya di sepeda motor dan melajukannya.
Ketika sampai di rumah aku heran melihat susunan perabot dari teras hingga ruang tengah yang sudah berubah. Ibu mengganti semua gorden seisi rumah, sofa baru dibeli, susunan kursi pun ditata sedemikian rupa sehingga muat untuk orang banyak. Tampaknya memang akan ada acara besar sore nanti. Cepat aku susul ibu di dapur untuk membantunya. Ibu langsung memerintahkan menyiapkan beberapa panganan. Beberapa tetangga juga datang membantu termasuk bundanya Ayik dan mamanya Wiwid.
“Ga, kue yang untuk tamu apa sudah ditaruh di piring ceper? Kalau sudah langsung ditata di ruang tamu dan ruang tengah ya. Jangan lupa dikasih wrap plastic? “ Ibu agak panik mengatur semuanya.
“ Sudah ibuku sayang, lihat dulu deh ke depan.”
“ Ini sudah hampir ashar, kamu masih belum mandi lagi. Ayo cepat mandi sana!”
“ Santai ajalah Bu, Belanda masih jauh.”
“Santai gimana sih anak. Ini kan acaranya buat kamu.”
“ Kok buat aku sih Bu? Ini kan acaranya ibu atau ayah ya? Ibu aja yang duluan mandi deh, Iga mah entar aja.”
“ Heh...dibilangin orang tua juga ya. Ayo...cepat mandi, dandan yang rapi, pake make up dan parfum ya. Baju sama kerudungnya udah ibu siapkan ada di tempat tidurmu. Sepatunya juga. Ayo semuanya nanti dipake ya. Jangan malu-maluin ibu dan ayah lho Ga.”
“ Lho, yang punya acara kan ibu sama ayah, kenapa Iga yang harus rapih dan pake make up, pakai sepatu lagi.”
“Terima tamu itu harus dengan penampilan yang baik Ga. Nggak boleh sembarangan.”
“ Memangnya tamu kita siapa sih Bu?”
“ Tamu agung. Nanti aja kalau sudah rapih ayah sama ibu naik ke atas kasih tahu kamu. “
Daripada terus diomelin ibu maka aku memilih segera naik ke lantai atas menuju kamarku untuk mandi dan berganti pakaian. Aku sempat melirik kakakku yang baru mengucapkan salam dan masuk rumah. Tumben mas Edwin pulang jam segini. Biasanya dia langsung ke tempat praktek. Ada apa sih dengan hari ini, kok seperti ada yang penting ya? Beberapa kerabat dekat juga mulai datang. Kau mengernyitkan dahi, apa aku yang terlalu acuh ya sama urusan keluarga?