Ketuk Pintu

3956 Words
Meidinda Rajingga     Tok...tok...tok “Masuk,” ucapku sedikit keras sembari menyapukan kuas blush on ke pipi dan rahangku. Wajah ayah muncul. “ Boleh kami masuk kan Ga?” Aku mengerutkan kening. Sejak kapan sih ayah minta ijin masuk kamarku? Apalagi dengan gaya seresmi ini.Jika ditilik dari penggunaan kata ‘kami’, artinya yang mau masuk kamarku bukan hanya ayah saja.. Dan benar saja, Ibu dan mas Erwin menguntit di belakangnya. Aku masih sibuk memakai bros pada jilbabku dan merapikan lipstik. Mereka memperhatikanku dan duduk berjejer di ranjangku. Aku memperhatikan mereka dari pantulan kaca. Ibu terlihat gelisah, ayah pun agak tegang. Hanya Mas Edwin yang terlihat biasa saja. ‘ Baru kali ini ayah minta ijin resmi sekali untuk masuk ke kamarku. Apalagi ibu, biasanya main selonong masuk aja.” Ucapku membuka percakapan. “Ibu nggak gitu ya, selalu ketuk pintu kalau mau masuk.” “ Tapi seringnya kan langsung buka pintu aja dan masuk.” “Namanya juga sidak. Mana ada sidak pakai pemberitahuan dulu.” Aku diam saja. Aku berbalik menghadap mereka. “Kamu sudah sholat ashar belum?” “Sudah Yah.” “ Sini duduk dulu di sini kalau sudah selesai dandannya, ayah dan ibu mau ngomong,” ucap ayah sambil menepuk pinggir ranjangku. Ada space kosong di antara ayah dan ibu. Aku menurutinya. Mas Edwin mengambil kursi dan duduk di hadapanku. Aku mengedarkan pada ketiganya. “ Iga heran deh, kenapa ya hari ini semua aneh.” “ Nggak ada yang aneh, semua baik-baik saja.” Ucap ibu sambil meraih satu tanganku dan menggenggam erat. Ibu memandangiku dari samping dengan tatapan yang sulit aku artikan. “Ada apa sih Bu?’ “ Ayah dan ibu mau ngomong sesuatu, jadi persiapkan diri kamu. Silahkan Yah.” Ibu memberikan aba-aba untuk ayah agar mulai berbicara. Aku melemparkan tatapan curiga pada ayah dan ibu, mencoba mengirim kode pada mas Edwin ‘ada apa sih?’ Tapi yang bersangkutan sok cool dan memasang wajah lempeng hingga membuatku jengkel tak mendapat tanggapan darinya. Ayah mengambil nafas panjang dan berdehem beberapa kali sebelum bebicara, tapi kenapa ya aku kok deg-degan. Apa aku salah ya sering keluar main sama teman-temanku dan jarang di rumah? Apa aku sudah melakukan kesalahan besar kah? Banyak pertanyaan muncul dalam benakku. “ Rajingga putriku, saat ini ayah ini semakin tua, kondisi kesehatan ayah saat ini sedang tidak bagus. Ayah tidak tahu sampai kapan umur ayah  ini. Cuma satu keinginan ayah sebelum ajal menjemput.... “ Dia menarik nafas panjang lagi dan menghelanya. Wajahnya tampak murung, seumur-umur ayah nggak pernah menampilkan wajah seperti ini di hadapan kami anak-anaknya. Perasaanku langsung nggak enak. Ayah yang kukenal adalah lelaki pekerja keras yang periang, humoris dan selalu optimis, sehingga melihatnya seperti ini jadi nyaris tidak percaya. “ Ayah ingin di sisa umur ayah ini, ayah sempat menikahkanmu. Sebentar lagi usiamu sudah dua puluh satu tahun. Ayah pikir kamu sudah cukup umur untuk menikah.” “ Tapi Iga kan masih kuliah Yah. Iga mau selesaikan kuliah dulu baru mikir nikah.’ “ Menikah tidak akan menjadi penghalang buat kamu terus kuliah, Ga. Percaya lah sama Ayah.” “ Tapi kenapa Iga yang harus menikah? Kenapa bukan Mas Edwin saja? Dia yang lebih pantas untuk menikah dulu. Sudah jadi dokter, sudah bekerja, apalagi coba?” Ayah menarik nafas panjang kembali. “ Ada atau tidak ada ayah, Edwin bisa menikah. Beda dengan kamu. Perempuan harus ada wali yang menikahkan. Ayah ingin menjadi wali nikahmu, Ga?” Kalimat ayah yang terakhir seperti petir di siang bolong. Aku tidak percaya. “ Lha, trus Iga menikah sama siapa?” Ayah berdehem lagi. “ Dahulu, eyang kakungmu di Yogya sana pernah ditolong orang saat akan memulai usahanya yang berkembang hingga saat ini.  Tak sengaja sebetulnya. Eyang kakungmu pernah menolong seorang pria saat mudanya dulu, lalu gantian orang yang ditolongnya itu membantu eyang mendirikan usaha. Singkat cerita, mereka akhirnya bersahabat sejak saat itu. Sebelum menikah mereka sempat berencana akan menjodohkan anak-anak mereka nanti. Apa mau dikata, Alloh berkehendak lain. Dua sahabat itu memiliki anak yang semuanya laki-laki, sehingga perjodohan mereka batal. Namun persahabatan terus berlanjut dan semakin erat hingga sekarang. Sewaktu ayah ke Yogya mengunjungi eyang putrimu, putra-putri sahabat eyang kakungmu datang dan ingin melanjutkan perjodohan itu. Cucu dari pak Sahid ingin melamarmu menjadi istrinya.” Aku terperangah. “ Kami, ayah, pakde, bude, Om dan tantemu sudah berupaya  menyelidiki pria yang melamarmu kemarin di Yogya dan hasilnya dia memang anak yang akhlaknya baik,  tanggung jawab dan punya pekerjaan yang baik. Jadi tidak ada alasan ayah untuk menolaknya. Nah, tamu yang sebentar lagi hadir ini adalah calon tunanganmu dan keluarganya. Mohon kamu kenalan dulu dan terima kedatangannya dengan baik. Tunjukkan keluarga kita mampu menghormati dan melayani tamu dengan baik.” Tiga kalimat terakhir dari ayah terdengar seperti sambaran petir kembali di telingaku. Tanpa sadar aku melotot dan menganga, hingga celetukan mas Edwin yang akhirnya menyadarkan keterkejutanku. “ Mangapnya jangan lebar-lebar, Ga. Nanti kemasukkan cicak lho!”  Aku ambil bantal dan kulemparkan keras ke arah wajahnya. Bisa-bisanya dia mengajakku bercanda di situasi genting seperti ini. Kulemparkan tatapan marah padanya. “ Kenapa harus Iga sih Yah? Kan bisa mas Edwin aja yang dijodohkan sama cucu perempuan sahabat eyang kakung itu.” “ Sembarangan kamu, aku belum ada calon. Aku masih mau melanjutkan pendidikan dokter spesialis kok!” Aku mendecak sebal ke arahnya. Aku menghadap ayah. Kutatap bola mata ayah. Siapa tahu  mereka mau mengerjaiku karena aku biasa suka usil. “ Dari mana ayah tahu kalau dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab? Kok ayah berani menyerahkan anak perempuan ayah pada orang yang baru kenal. Seperti memilih kucing dalam karung? Iya sekarang di depan ayah dan ibu baik, bagaimana kalau sudah nikah nanti? Bagaimana kalau dia pemabuk, atau orang jahat?” Serangku dengan suara serak menahan tangis. “Naudzu billahi min dzalik, ngomong jangan sembarangan kamu Ga. Ucapan itu bisa jadi doa lho!” ucap ibu sambil menepuk keras tanganku. Aku mulai kalut, panik. “ Aah...ibu, Iga nggak mau dijodohkan. Sekarang sudah zaman milenial, zaman digital, paperless, semua pakai wireless , kok masih ada perjodohan sih? Iga nggak mau ah jadi Siti Nurbaya. Nanti kalau jodohnya tua kayak Datuk Maringgi bagaimana? Pokoknya Iga nggak mau titik.” Ayah dan ibu saling berpandangan. Air mataku mulai perlahan turun. Wajah ayah tampak sedih. Ibu memelukku. “ Orangnya masih muda kok, walau umurnya lebih tua dia dari aku sih, tapi dia ganteng, dokter, dosen dan punya bisnis yang lumayan lho! Kamu tenang aja Ga, aku udah kenal dan berusaha mencari track record-nya juga. Insya Alloh orangnya baik dan amanah. Gak rugi deh kamu jadi istrinya.” Kali ini mas Edwin berbicara serius. “ Meskipun dokter, kaya, tapi kalau udah tua mah ogah deh ah. Iga nggak mau. Aku mulai terisak. Aku menghadap ibu. “  Bu... bukannya menikah itu harus dilandasi dengan cinta kasih ya? Kata ibu dulu menikah dengan ayah karena cinta dan bisa langgeng. Kalau Iga harus menikah dengan dia bukan dasar cinta kan nggak bisa langgeng Bu?” Suaraku bergetar, air mata sudah mulai deras. Rasanya pedih sekali. Tiga orang yang aku sayangi mulai menyudutkanku. Keluargaku memang bukan dari golongan yang kaya raya, tapi mereka tergolong well educated people yang semestinya sudah tercerahkan. Aku tidak percaya mereka masih melakukan praktek kampungan peninggalan zaman penjajahan. Bu memeluk dan mengelus punggungku, berusaha meredakan tangis. Ibu menhela nafas berat. “ Nduk, ada pepatah jawa yang mengatakan witing tresno jalaran soko kulino, cinta itu hadir karena terbiasa. “ “Siapa sih yang punya ide gila ini Bu? Apakah ayah pernah berhutang dengan keluarganya hingga menjodohkan aku supaya hutang ayah lunas?” “Masya Allah Iga, Ayah nggak seperti itu. Ayah tidak berhutang apapun pada keluarga mereka. Kamu, Edwin dan Paramitha adalah harta terbesar ayah dan ibu. Kami nggak akan menjualnya demi apapun,“ Suara ayah mulai keras dan membuatku takut. Tangisku makin menjadi. “Maafin Iga Yah, tapi Iga nggak mau dijodohkan, Iga nggak mau menikah. Iga mau kuliah dulu.” “ Kamu tidak harus menerimanya sekarang. Ayah dan ibu hanya ingin kamu mengenalnya dulu, kamu jajaki dulu. Kalau ke depannya kamu memang merasa tidak cocok ya, ayah dan ibu tidak akan memaksa lagi, Iga.” Aku masih sesenggukan ketika pintu kamarku terbuka kembali. Bunda Ayik muncul di balik pintu bersama eyang putriku. Aku kaget melihat kedatangan eyangku yang tiba-tiba ini didampingi Tante Nirmala dan Budeku. “ Kenapa to Nduk? Kamu nggak bakal dinikahkan sekarang. Kami hanya ingin kamu kenalan dengan calonmu itu dan keluarganya. Eyang sudah menyelidiki bibit, bebet, bobotnya Ga. Ndak ada orang tua yang mau menyesatkan anaknya. Semua ingin kamu bahagia?” Ucap Eyang pelan dan duduk di sampingku setelah ayah berdiri. “ Kenapa Iga sih yang yang harus menikah duluan? Kenapa Eyang nggak menjodohkan mas Edwin saja? Dia kan sudah tua, sudah pantas untuk menikah.” “Nduk, kita tidak pernah tahu tentang lahir, mati dan jodoh. Semua sudah Alloh tentukan.  Mungkin sudah takdirmu mendapat jodoh dengan dipertemukan oleh keluarga. Jalani saja dulu dengan ikhlas, nggak usah sewot dulu. Masih banyak waktu untuk kenal dan menyelidiki calon kamu itu. “ Aku terdiam, sehebat apapun aku berdebat,  menangkis ucapan mereka tetap saja aku kalah, lemah, tersudut. Pintu kamar kembali terbuka lebar. “ Ayah, ibu, eyang tamunya sudah datang. Eh, kenapa mbak Iga kok menangis?” Mitha berjalan pelan menghampiriku. “Mit, kamu temani Mbak mu dulu ya, Ayah turun dulu menemui tamu. “ Ayah mencium puncak kepalaku. “ Kita bicarakan masalah ini nanti ya. Ayah minta kamu turun dan berkenalan dengan mereka. Walau bagaimanapun mereka tamu kita sekarang dan kita wajib menghormatinya.” Ibu memelukku, menghapus air mataku dan mencium kedua pipiku, selanjutnya mengikuti ayah menemui tamu agung. “ Ibu turun dulu ya temani ayah. Nanti kalau ibu panggil, kamu turun ya? Ayo beresin lagi dandananmu.” Aku hanya diam. Satu per satu meninggalkan ruangan. Ayahku berdiri dan pergi meninggalkan kamar, disusul oleh ibu, mas Edwin, eyang putri dan budeku. kecuali Mitha yang gantian memelukku. “Mbak Iga kenapa menangis?” “ Nggak apa-apa Mit.” Aku menggelengkan kepala. Beberapa saat kemudian Wiwid, Rosa, Ayu dan Shinta memasuki kamarku. Mereka duduk di samping aku dan Mitha. Rosa dan Ayu memilih duduk di kursi depanku. Wiwid menggenggam tanganku erat dari samping. “Iga, sa mengerti ko pun perasaan saat ini. Kalo sa jadi ko su pasti sa juga shock.” Wiwid ikut-ikutan memelukku dari sisi ranjangku yang kosong. Aku sesak karena dihimpit pelukan Mitha dan Wiwid. “Jadi, sa harus bagaimana nih? Sa kepala macam mo picah, pusing sekali (Kepala saya seperti mau pecah, pusing sekali).” Ucapku ketika sudah terbebas dari himpitan pelukan “ Sabar Ga, Tuhan kasih ko ujian ini lengkap deng da pun kunci jawaban to (Tuhan itu memberikan kamu ujian ini, tentu saja dengan unci jawabannya).” Ayu mencoba menghiburku. Kami mendengar langkah kaki berderap lalu pintu yang terbuka lebar kembali. Dua wajah manis muncul di hadapan kami, Memey dan Shinta yang saling berpandangan dan memberikan kode apa yang terjadi. Rosa kemudian menjelaskan duduk permasalahannya pada mereka. “Iga, stop menangis sudah. Mereka su datang jadi cobalah temui mereka, trada salahnya to berkenalan dulu, jan langsung menolak  ( Iga, berhentilah menangis. Mereka sudah datang jadi cobalah menemui mereka, toh hanya berkenalan tidak ada salahnya). Kita tidak bisa menilai apa-apa yang tidak kita ketahui.” Shinta berkata bijak. “ Itu sudah, sini sa kas  rapi ko pun make up itu ampun eh...tabongkar semua ini. Lihat nih ko pun bedak su meti.” (Benar, sini saya rapikan make up-mu yang sudah rusak. Lihat nih bedakmu sudah habis). Dengan cekatan Ayu menghapus jejak air mataku dan mulai membereskan riasan wajahku. “ Ko tuh cantik Iga, tapi jan menangis ka. Tong semua babingung ini.” (Kamu tuh cantik lho Ga, tapi tolong jangan menangis ya. Kita jadi bingung  jadinya). Ucap Shinta prihatin. Dia menghapus air mataku. “ Ayolah Ga, senyum sedikit ka. Tra baik ko sedih macam begini. Cobalah ko turun ke bawah,  kas tunjuk mereka kalau ayah dan ibu su didik ko baek-baek dan bisa hargai tamu yang datang. (Tidak baik kalau kamu begini terus. Cobalah turun ke bawah temui mereka, tunjukkan kalau ayah dan ibu sudah mendidik kamu baik dan bisa menghargai tamu).” Memey mencoba menasihatiku. “ Ini kan cuma perkenalan saja. Bukan ko harus terima lamaran dan menikah sekarang. Tadi sa dengar ibu bilang kamu boleh menolak jika tidak cocok.” Wiwid yang masih menggenggam tanganku meremas punggung tangan. “ Yu, bisa kasih rapih Iga pun make up ka. Bikin dia macam bersinar gitu lho, like glowing in the dark.” Celetuk Rosa iseng. “ Ko tenang saja Ros, nan si mas dia langsung bilang... silau man...!” Ayu menirukan iklan seorang laki-laki yang oleng dan menutup pandangannya karena wajah bersinar perempuan yang menggunakan produk yang diiklankan. Semua tertawa dan aku tersenyum. “Nah, senyum begitu boleh. Baru Iga itu namanya.” (Nah, begitu dong senyum seperti Iga yang sebenarnya). Teman-temanku mulai melemparkan cerita mop bersahutan (cerita lucu khas Papua).  Cerita mop itu bukan sekedar cerita yang lucu saja tapi dibawakan dengan intonasi suara, irama dan gerak tubuh yang lucu. Kamarku mendadak ramai oleh tawa yang bersahutan. “ Ga, kamu sudah siap? Ayah minta kamu turun ke bawah untuk menemui keluarga pak Sahid.” Mas Edwin datang menjemputku. Aku mulai tegang kembali, kuedarkan tatapan pada teman-temanku. Semua tersenyum dan mengangguk.mensuportku.Wiwid menggenggam erat tangan dan merangkulku sekali lagi. “ Kitorang semua ikut turun antar ko. Ko tra sendiri, jan takut.” ( Kami akan menemanimu turun ke bawah, kamu nggak sendirian, nggak usah khawatir) “ Gak papa Ga, ini kan cuma perkenalan saja. Ayo..!” Mitha dan Wiwid  membantuku berdiri. Aku berjalan mengikuti langkah mas Edwin, Mitha di samping kananku menggenggam erat lenganku. Teman-temanku mengikuti dari belakang. Sebagian dari mereka ikut duduk di kursi belakang menyatu dengan keluarga besarku. Semakin mendekat ruang tamu dimana keluagaku dan keluarganya duduk berhadapan, suara ramai orang bercengkrama makin terdengar jelas. Setelah aku tiba di sana, suasana lantas sepi mendadak membuat kepalaku menuunduk. “ Mbak yu Indira, perkenalkan ini putri kami Iga. Ayo salim Nduk!” Ibu memberi perintah dan aku mematuhinya. “ Namanya Meidinda Rajingga Hapsari, Iga itu nama panggilannya. Kok  nunduk terus sih Nduk, coba angkat wajahmu,” sambung eyang putriku. Aku menurutinya. Di depan tampak profil wajah perempuan separuh baya yang masih menyisakan guratan-guratan kecantikan masa mudanya. Aku mencoba membuat senyum canggung padanya. “ Ayune putrimu Jeng, “ sahut ibu itu. Mata ibu itu tiba-tiba membesar seperti orang kaget dan dia menutup mulutnya. “Masya Alloh, kamu...kamu..kamu yang waktu itu menabrakku di Kepatihan kan? Masih ingat, toko kain Kings Bandung?” Aku mencoba mengingat dan berhasil terhubung dengan memori itu. “ Oh...ya Ampuunnn. Ibu ... ? Kok bisa ada di sini?” Kami tersenyum lebar. “ Jadi nama kamu Iga, Jingga ya?” “ Iya Bu, “ jawabku. “ Lho, kalian sudah saling kenal?” Ucap lelaki tua di sebelah ibu itu. “ Ya ampun Mas Pur, Mas Sur dan Dik Ratih, Saya pernah secara tidak sengaja bertemu Iga di toko kain di Bandung. Awal ketemu dia itu hati saya kok bergetar, tertarik sama anak ini, seperti “klik” gitu lho, nyambung kayak ketemu puzzle yang hilang. Makanya saat itu saya  berusaha menariknya dan berlama-lama bercakap dengannya, cari alasan minta tolong dicarikan dua stel kain kebaya dan jaritnya untuk calon menantu. Saya juga sempat minta nomor sepatunya. Dilalah kok malah tenanan dadi mantuku yo.” Ibu itu semangat sekali menceritakan asal pertemuan kami. Aku hanya tersipu malu mendengarnya. “ Saat iku kowe ngerti po ora jenenge cah ayu iki Iga? (Saat itu kamu ngerti apa nggak kalau si cantik ini namanya Iga?), njaluk nomor hape ne? (minta nomor hape nya?)” Tanya pria tua yang dipanggil Mas Pur. “ Mboten Mas (belum Mas).” “ Ealah kok kayak lakonnya cinderela minta sepatu. Lha mestinya kan minta nomor hape to, biar nggak penasaran. Ada-ada saja.” “ Yang penting sekarang kan sudah ketemu. Duh Gusti Pangeran matursembah nuwun, dunga kulo terkabul.” (terima kasih ya Tuhan, doa saya dikabulkan). Nah ini, pilihan kamu itu. Benar kan perkataan ibu waktu itu kalau memang jodoh anak saya, pasti akan sesuai dengan pilihanmu.” Aku ragu menerima bingkisan pemberian dari ibu ituhanya diam saja memandang bungkusan yang sudah ditata cantik itu. “ Ayo Nak, tolong terima pemberian Ibu ini. Ini memang milikmu. Kamu sendiri kan yang memilihnya? Aku masih diam hingga ibu dan eyang putriku menyenggolku dari belakang. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih lalu menyerahkannya pada Mitha  untuk dibawa ke dalam. Semua yang ada di ruangan itu tertawa dan bertepuk tangan. “ Ini gimana sih MC acaranya ya, belum kenalan tapi sudah main serah-serahan aja.” Eyang putri pura – pura protes yang disambut tawa seluruh yang hadir. “ Ya sudah monggo dilanjutkan, kita mulai saja perkenalannya secara resmi ya.”  Om Yuda, adik ayah memulai membuka acara.” “Kalau sudah saling kenal dan saking cocok, ya sudahlah buat apa berlama-lama? Kita segerakan saja, bagaimana?” Aku terhenyak. Maksud dari disegerakan saja itu apa? Bukankah tadi ayah dan ibu bilang kalau hanya perkenalan saja dan tidak acara menikahkan sekarang? Alarm panik di otakku mulai menyala. “Setuju” Entah siapa yang menjawab, membuatku terhenyak. Om Yuda melihat perubahan raut wajahku lalu dengan mudahnya mengalihkan pembicaran. Aku tidak bisa fokus, suara mereka seperti lebah dalam pendengaranku, hingga tangan ibuku mengguncang lenganku. “ Nak Iga, ini pakde Purnomo kakak kandung saya ─ ,” ucap ibu yang dipanggil mbakyu Indira oleh ayah dan ibu mulai mengenalkan satu per satu rombongan keluarganya. “ Sebentar, ini anggota rombongan sudah dikenalkan semua, tapi tokoh utamanya kok belum ada. Kemana dia?” Tanya Purnomo. “Sebentar Mas saya panggilkan, tadi masih menerima telepon di luar,” ucap seorang laki-laki yang lebih muda  itu.  Aku menangkap siluet pria tingi yang mengikuti pria tadi dari kejauhan, semakin lama bayangan itu makin jelas. “Iga dan bapak ibu sekalian, perkenalkan ini putra kami yang bernama Alan. Saya persilahkan menyampaikan sendiri maksud hatinya datang ke sini.” Seketika pak Purnomo bergeser dan bola mataku membesar menangkap tampilan lelaki yang ada di depanku. Mulutku ternganga tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku sekarang. Setelah sadar tanganku bergerak menutup mulutku yang terbuka. Pria itu mulai membuka mulutnya. “ Assalamu ‘alaikum warrohmatullahiwabarokatuh. Perkenalkan nama saya Alan Ghazali Wibisana ….” Kalimat lainnya seperti dengungan lebah yang ramai di telingku. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas ucapannya. Nafasku terasa sesak. Otakku dilanda gelombang panik. Gak Mungkin! Ini gak mungkin. Ini pasti mimpi buruk. Bagaimana mungkin itu Pak Alan? Untuk apa dia di sini? Aku nggak mendengar jelas apa saja yang dibicarakannya juga pembicaraan orang selanjutnya. Terlalu banyak pertanyaan di kepalaku. Yang aneh, mengapa dia melemparkan senyum dan terus menatapku? Senyum? Itu hal langka yang tidak pernah dia berikan kepadaku selama ini. Ada apa ini? Apa maksudnya? Apa aku sedang dikerjai? Pada saat seperti ini aku teringat dosaku. Aku benar-benar menyesal sering menjahili orang. Mungkinkah ini karma yang harus aku terima? Tubuhku mulai gemetar. Aku menunduk menekuri lantai.  Ibu mencubit tanganku. Ketika aku mendongakkan kepala kulihat pak Alan mengulurkan buket bunga padaku. Buat siapa buket itu? Untukku? Nggak salah nih? Ayah mengguncangku lenganku dan berbisik. “ Berdiri dan ambil bunganya Ga.” Perlahan aku bangkit memberikan tatapan menyelidik pada pak Alan. Mencoba memfokuskan pikiran, menajamkan penglihatan dan pendengaran. Dia masih tersenyum, sementara tanganku dingin lalu keringat dingin mulai mengucur.  “ Iga, bunga ini mewakili perasaan saya ke kamu yang sudah lama saya pendam. Semoga kamu mau menyukai dan menerimanya.”  Aku terdiam. Apa ini nyata? Apa bukan sandiwaranya saja? Kenapa dia bersikap manis seperti ini tapi di kampus  jelas-jelas memusuhiku? Benakku diserang seribu pertanyaan. Ibu mencubit lenganku dari belakang. Aku tersentak dan menerima buket bunga itu dengan cepat lalu duduk, menunduk. Rasanya malas melihat wajahnya. Setelah suasana hening sejenak. Suara Purnomo kembali terdengar/ “ Pak Suryono, seperti diketahui bersama kedatangan kami ke sini untuk mewujudkan impian kedua orang tua kita untuk menyambung persahabatan keluarga kita dalam ikatan yang suci yaitu pernikahan. Alan memiliki perhatian, perasaan khusus dan murni pada Jingga. Kami di sini hanya mengantarnya untuk menyampaikan maksud hatinya.” Papa Wiwid yang bertindak sebagai MC menyilakan ayah untuk memberikan sambutan. “ Pak Purnomo, Bu Indira, Alan,  Pak Darwin, Bu Ati dan Bu Dewi dan segenap rombongan yang saya hormati. Saya berterima kasih atas kesediaan panjenengan semua jauh-jauh datang dari jawa menempuh jarak ratusan mil untuk sampai ke rumah kami yang sederhana ini. Saya paham dan mengerti maksud hati serta dapat menerima penyampaian niat baik panjenengan semua. Pada dasarnya saya dan keluarga menyetujui perjodohan ini, namun rupanya anak kami masih kaget. Terus terang saja kami baru memberitahukannya beberapa menit sebelum panjenengan datang. Kami mohon diberikan waktu untuk mengatasi ini. Memang benar Alan dan Jingga sudah saling mengenal di kampus. Tapi hubungan mereka hanya sebatas hubungan profesional dosen dan mahasiswanya saja.  Nah, yang akan menjalani kehidupan rumah tangga ke depannya adalah Jingga putri kami, karenanya semua keputusan akan kami serahkan padanya. Terima kasih.” Mamanya Wiwid kemudian mengarahkan kembali pada pihak pak Alan untuk berbicara. “ Baiklah kalau begitu, apakah Iga mau menerima lamaran keluarga kami dan bersiap untuk bertunangan dulu?” Purnomo selaku ketua rombongan ini kembali mengarahkan tangannya padaku. Ibu dan ayah yang mendampingiku sibuk menggoyangkan tanganku. Aku belum siap utnutk menjawabnya. Aku  gugup dan sulit bisa bergerak. Kurasakan dadaku sesak, tanganku gemetar. Ibu yang menyadari itu meremas tanganku seolah memberi kekuatan. “Ga, mereka menanti jawaban.” Ibu berbisik kembali di telingaku. Kupaksakan mengangkat kepalaku dan langsung bersirobok dengan tatapan pak Alan yang sedang mengumbar senyum padaku. MUNAFIK. Teriakku dalam hati. “ Meidinda Rajingga Hapsari, saya telah lama jatuh cinta padamu dan saya tidak ingin berlama-lama. Maukah kamu menjadi pendamping hidup saya? Menikahlah dengan saya Mei, kita bisa mulai semuanya dari awal.” Ucapan pak Alan membuatku terperangah. Aku terdiam.  Masih tidak percaya dengan apa yang kudengar. Entahlah, aku merasakan gejolak dalam perutku, mual, mulutku terasa pahit. Kutahan semua perasaan, kepalaku mulai pusing, namun demi menjaga etika aku mecoba menjawab pertanyaan pak Alan. “ Ma.. ma...maaf sa... saya be.. belum siap Pak. Sa..saya masih ingin kuliah dulu sampai selesai baru memikirkan menikah,” balasku terbata dan takut sekali. “ Saya berjanji di hadapan keluarga kita kalau tidak akan menghalangi kamu menyelesaikan kuliah. Bahkan saya sangat mendukung kamu cepat menyelesaikannya,  melanjutkan pendidikan atau bekerja nantinya. Saya akan membantu kamu dan terus mendukung kamu.” Aku menggeleng seolah tak percaya dengan aoa yang baru aku dengar. Mengapa ucapannya manis sekali, nadanya seperti merayu? Apa dia sedang bersandiwara? Mengapa keluargaku sepakat mengatakan kalau dia baik? Aku mengenalnya, sangat tahu dengan perangainya. Ya, aku tak bisa menerimanya. Meskipun penampilannya kali ini cukup menawan  klimis dengan kemeja batik coklat muda dan celana panjang senada sangat memukau, tapi nggak cukup untuk bisa bikin aku terpana. Kilasan – kilasan kejadian yang melibatkan pak Alan mulai awal bertemu dengannya hingga pertemuan terakhir kami di kampus bagai sebuah film yang tayang ulang berputar di kepalaku. Mengapa dia seolah menjadi sosok lain? Apakah dia berkepribadian ganda? Mengapa dalam hitungan minggu aku tak bertemu dengannya, lalu sikap dan perilakunya terhadapku bisa berubah seratus delapan puluh derajat? Lakon apalagi yang ia mainkan sekarang? Apa tujuannya? Mengapa harus melibatkan aku? Kalau kesehariannya sudah menunjukkan sikap sentimen dan sinisnya selama di kampus, berani sekali dia mengatakan cinta dan perhatian sayang sekarang di depan keluargaku dan keluarganya. Ya Tuhan, menikah bukanlah hal yang main-main. Mana mungkin aku bisa mempercayakan hidupku padanya. Menghabiskan sisa hidup dengannya? Itu ide yang sangat gila dan aku nggak bisa terima, aku menolak. Wajahku pucat. Tubuhku bergetar hebat, entah mengapa rasanya kakiku seperti jeli yang tak bertulang. Jantungku berpacu sangat kencang. Detaknya bahkan bisa terdengar keras di telingaku. Perutku sangat mual dan ada yang menekan ke atas. Keringat dingin semakin deras mengalir. Pandanganku berputar, menjadi kuning, perlahan meredup dan gelap. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi.     ******      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD