Meidinda Rajingga Menghabiskan waktu tiga hari di rumah sakit itu sangat membosankan. Aku merindukan rumah. Aku mulai merayu mas Edwin dan pak Alan agar mengijinkan pulang. Karena selain malaria, aku juga bermasalah dengan lambung, jadilah mereka membuat kesepakatan. Hanya jika aku sudah bisa berjalan sampai ke pintu sendiri tanpa bantuan, maka bisa dipulangkan. Aku sempat memprovokasi teman-temanku supaya membawaku kabur saja, tapi tak ada seorang pun yang mau menurutiku. Ah, sial. Hari ke lima aku mulai bertekad untuk belajar duduk. Jangankan duduk, mengangkat kepala saja sulit sekali. Kepalamu seperti ditindih palunya Thor yang bahan bakunya berasal dari batuan meteorid yang amat berat. Duduk, bukanlah pekerjaan yang mudah dalam kondisi seperti ini. Untung saja aku punya pasukan c

